Saturday, January 12, 2013

WALI ABDAL


Dalam kafilah ruhani yang berjalan menuju Tuhan, kita melihat barisan yang panjang. Mereka yang berada dalam barisan mempunyai martabat yang bermacam-macam, bergantung pada sejauh mana mereka telah berjalan. Dari tempat berangkat ke tujuan, ada sejumlah stasiun yang harus mereka lewati. Derajat mereka juga bergantung pada banyaknya stasiun yang sudah mereka singgahi. Pada setiap stasiun selalu ada pengalaman baru, keadaan baru, dan pemandangan baru. angat sulit menceritakan pengalaman pada stasiun tertentu kepada mereka yang belum mencapai stasiun itu.
 
Dalam literatur tasawuf, stasiun itu disebut manzilah atau maqam. Pengalaman ruhani yang mereka rasakan disebut hal. Ada segelintir orang yang sudah mendekati stasiun terakhir. Mereka sudah sangat dekat dengan Tuhan, tujuan terakhir perja1anan mereka. Maqam mereka sangat tinggi di sisi Tuhan. Kelompok mereka disebut awliya’, kekasih-kekasih Tuhan. Mereka telah dipenuhi cahaya Tuhan. Sekiranya kita menemukan mereka, kita akan berteriak seperti teriakan orang munafik pada Hari Akhir, “Tengoklah kami (sebentar saja) agar kami dapat memperoleh seberkas cahayamu” (QS 57:13).
 
Dalam kelompok awliya’ juga terdapat derajat yang bermacam- macam. Yang paling rendah di antara mereka (tentu saja di antara orang-orang yang tinggi) disebut awtad, tiang-tiang pancang. Disebut demikian karena merekalah tiang-tiang yang menyangga kesejahteraan manusia di bumi, kerena kehadiran merekalah Tuhan menahan murka-Nya; Tuhan tidak menjatuhkan azab yang membinasakan umat manusia. lbnu Umar meriwayatkan hadis Rasulullah Saw. yang berbunyi, “Sesungguhnya Allah menolak bencana –karena kehadiran Muslim yang saleh– dari seratus keluarga tetangganya.” Kemudian ia membaca firman Allah, “Sekiranya Allah tidak menolakkan sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya sudah hancurlah bumi ini” (QS 2: 251).
 
Penghulu para awliya’ adalah quthb rabbani. Di antara quthb dan awtad ada abdal (artinya, para pengganti). Disebut demikian, kerena bila salah seorang di antara mereka meningggal, Allah menggantikannya dengan yang baru. “Bumi tidak pernah sepi dari mereka,” ujar Rasulullah Saw., “Karena merekalah manusia mendapat curahan hujan, karena merekalah manusia ditolong” (Al-Durr Al-Mantsur, 1:765).
 
Abu Nu’aim dalam Hilyat Al-Awliya’ meriwayatkan sabda Nabi Saw., “Karena merekalah Allah menghidupkan, mematikan, menurunkan hujan, menumbuhkan tanaman, dan menolak bencana.” Sabda ini terdengar begitu berat sehingga lbnu Mas’ud bertanya, “Apa maksud karena merekalah Allah menghidupkan dan mematikan?”‘ Rasulullah Saw. bersabda, “Karena mereka berdoa kepada Allah supaya umat diperbanyak, maka Allah memperbanyak mereka. Mereka memohon agar para tiran dibinasakan, maka Allah binasakan mereka. Mereka berdoa agar turun hujan, maka Allah turunkan hujan. Karena permohonan mereka, Allah menumbuhkan tanaman di bumi. Karena doa mereka, Allah menolakkan berbagai bencana.” Allah sebarkan mereka di muka bumi. Pada setiap bagian bumi, ada mereka. Kebanyakan orang tidak mengenal mereka. Jarang manusia menyampaikan terimakasih khusus kepada mereka.
 
Kata Rasulullah Saw., “Mereka tidak mencapai kedudukan yang mulia itu karena banyak shalat atau banyak puasa.” Sangat mengherankan; bukanah untuk menjadi awliya’, kita harus menjalankan berbagai riyadhah atau suluk, yang tidak lain daripada sejumlah zikr, doa, dan ibadah-ibadah lainnya? Seperti kita semua, para sahabat heran. Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, fima adrakuha?” Beliau bersabda, “Bissakhai wan-Nashihati lil muslimin” (Dengan kedermawanan dan kecintaan yang tulus kepada kaum Muslim). Dalam hadis lain, Nabi berkata, “Bishidqil wara’, wa husnin niyyati, wa salamatil qalbi, wan-Nashihati li jami’il muslimin” (Dengan ketaatan yang tulus, kebaikan niat, kebersihan hati, dan kesetiaan yang tulus kepada seluruh kaum Muslim) (lihat Al-Durr Al-Mantsur, 1:767).
Jadi, yang mempercepat orang mencapai derajat yang tinggi di sisi Allah Swt. bukanlah frekuensi shalat dan puasa. Bukankah semua ibadah itu hanyalah ungkapan rasa syukur kita kepada Allah, yang seringkali jauh lebih sedikit dari anugerah Allah kepada kita?
 
Yang sangat cepat mendekatkan diri kepada Allah, pertama, adalah al-sakha (kedermawanan). Berjalan menuju Allah berarti meninggalkan rumah kita yang sempit –keakuan kita. Keakuan ini tampak dengan jelas pada “aku” sebagai pusat perhatian. Seluruh gerak kita ditujukan untuk “aku”. Kebahagian diukur dari sejauh mana sesuatu menjadi “milikku.” Orang yang dermawan adalah orang yang telah meninggalkan “aku.” Ia sudah bergeser ke falsafah “Untuk Dia”.
 
Karena itu Nabi Saw. bersabda, “Orang dermawan dekat dengan manusia, dekat dengan Tuhan dan dekat dengan surga. Orang bakhil jauh dari manusia, jauh dari Tuhan dan dekat dengan neraka”. Tanpa kedermawanan, shalat, shaum, haji dan ibadah apa pun tidak akan membawa orang dekat dengan Tuhan. Dengan kebakhilan, makin banyak orang melakukan ibadat makin jauh dia dari Tuhan. Orang dermawan sudah lama masuk dalam cahaya Tuhan, sebelum mereka masuk ke surganya. Kedermawanan telah membawanya dengan cepat ke stasiun-stasiun terakhir dalam perjalanannya menuju Tuhan.
 
Kedua, yang mengantarkan orang sampai kepada kedudukan abdal, adalah kesetiaan yang tulus kepada seluruh kaum Muslim. Kesetiaan yang tulus ditampakkan pada upaya untuk menjaga diri dari perbuatan yang merendahkan, menghinakan, mencemooh atau memfitnah sesama Muslim. Di depan Ka’bah yang suci, Nabi Saw. berkata, “Engkau sangat mulia. Tetapi disisi Allah lebih mulia lagi kehormatan kaum Muslim. Haram kehormatan Muslim dirusakkan. Haram darahnya ditumpahkan.”
 
Belum dinyatakan setia kepada Islam sebelum orang meninggalkan keakuannya. Banyak orang merasa berjuang untuk Islam, walaupun yang diperjuangkan adalah kepentingan akunya, kepentingan kelompoknya, kepentingan golongannya. Mereka memandang golongan yang lain harus disingkirkan, karena pahamnya tidak menyenangkan paham mereka. Mereka hanya mau menyumbang bila proyek itu dijalankan oleh golongannya. Mereka hanya mau mendengarkan pengajian bila pengajian itu diorganisasi atau dibimbing oleh orang-orang dari kelompoknya. Apa pun yang diperjuangkan tidak pernah bergeser dari keakuannya. Ia merasa Islam menang apabila kelompoknya menang. Ia merasa Islam terancam bila kepentingan golongannya terancam. Ia telah beragama, ia telah mukmin; tetapi agamanya masih berkutat dalam keakuannya.
 
An-nashihat lil muslimin (kesetiaan yang tulus kepada kaum Muslim) melepaskan keakuan seorang mukmin. Ia memberinya kejujuran dalam ketaatan, ketulusan niat, dan kebersihan hati. Ia juga yang mengantarkannya kepada kedudukan tinggi di sisi Allah. Karena kedermawanan dan kecintaan kepada kaum Muslim, Anda juga dapat menjadi kekasih Tuhan.
 
Wahai hamba-hamba Allah, berangkatlah kalian menuju Tuhanmu. Percepatlah perjalanan kalian dengan kedermawanan dan kesetiaan yang tulus kepada seluruh kaum Muslim.
(Jalaluddin Rakhmat, Renungan-Renungan Sufistik: Membuka Tirai Kegaiban, Bandung, Mizan, 1995, h. 168-171)
KENALI IDENTITI DIRI ANDA YG BERNAMA MELAYU & BERHENTI MENJADI PENGKHIANAT BANGSA
 
MELAKA...! TUAH...!
Nama Yang Cukup Menyentuh Benak Hati Ini sekian Lamanya...
Hari Menjelang Hari...
Rahsia Semakin Menunjukan Diri...
Seolah-olah Ada Sesuatu Petunjuk Yang Diberi...

Supaya Kelak Mampu Dijadikan
Ia Sebagai Tauladan...
Jangan Diulangi ia sebagai satu kealpaan..
Saudara-Saudara ku sekalian...
Melaka sejak dahulu kala cukup Terkenal sebagai sebuah kuasa besar perdagangan di Selat Melaka...
Betapa ketika itu banyaknya bahtera-
bahtera yang datang berdagang, sejauh
mata yang memandang...
Yang bermata Sepet, yang berkulit putih, yang berkulit hitam hatta apa warna sekalipun pantas Saja datang ke Melaka untuk melihat Keagungan sebuah kerajaan Melayu Islam...

Sebut Saja nama Melaka, Di Serata
Pelusuk utara selatan timur dan barat
pasti mengenalinya...
Ada yang datang berdagang rempah, ada yang datang berdagang permata dan ada pula yang datang berdagang nasib menyabung hidup menumpang keagungan sebuah kerajaan...
Aaahh...kalau Mahu Bercerita
Keagungan Melaka, Pasti 1001 lembaran
Kertas pun Belum Habis Dikarang...
Malah pasti 1001 malam pun belum tentu a Habis Diceritakan... =)

Maka Syahadan Tersebut ketika itulah
Masyhurnya Melaka dengan seorang
LAKSAMANA bernama HANG TUAH...

//////////////////////////////////////////////////////
TUAH.. JEBAT..KASTURI..LEKIR..LEKIU..
//////////////////////////////////////////////////////

Itulah nama yang masyhur ke serata
Alam, Menjadi Sebutan Segala Isi alam
yang Bertandang ke Melaka...
Dipendekkan cerita dan dengan Takdir
yang Maha Esa, Tiadalah kekal lama
Empayar Melayu Melaka Islam...

Setelah Feringgi (Portugis) datang Dengan Bala tenteranya, Maka punahlah empayar Yang teragung itu...
Serangan Demi Serangan Dilakukan...
Generasi Demi Generasi Dihancurkan...
Dihancurkan Mindanya...!
Dihancurkan Identitinya...!
Dihancurkan Maruahnya....

Yang tinggal hanyalah Sisa-sisa dari Keagungannya...
Yang tinggal hanyalah Secebis sejarah Yang Diacuankan Oleh Penjajah Untuk Saudara Sekalian...
Satu Persoalan yang seringkali Generasi Muda lontarkan...
Dan kadangkala menjadi Bahan Ketawa Generasi Terkemudian.. Kata mereka...

"PORTUGIS DATANG DENGAN MERIAM
DAN SENAPANG, ORANG MELAKA
BERJUANG DENGAN KERIS DAN
PEDANG.. BODOH BETUL, MACAM
MANA MAU MENANG KALAU
BERPERANG...? "

Tersentak Sanubari dan jiwa Ini Mendengarnya...
Betapa Dengan Mudah Generasi-generasi Terkemudian
mengatakan BODOH kepada hulubalang-hulubalang Melaka yang berjuang bermati-matian mempertahankan Empayar Islam Melaka Ketika itu...

Adakah Saudara Semua Tahu Kenapa Portugis Menyerang Melaka...???
Tahu Apa Yang Terjadi Sebelum Empayar Islam Melaka Tumbang...???

Pernah Dengar Sarjana Barat Kata Apa Terhadap Melaka...??
Apa Kaitan Empayar Islam Melaka Dengan Empayar Islam Uthmaniah...???
Kajilah Saudara...
Janganlah Kita Hanya Tahu Disuap Sahaja...

Sebelum Dipecahkan "Kod-kod" Yang Tersembunyi Tersebut...
Biar saja Diceritakan perkara
yang sebenar kepada Anda Semua... Dengar Dengan sebaiknya Kalam ini...

" MELAKA TIDAK TEWAS KERANA
SENJATA, MELAKA TEWAS KERANA
PENGKHIANATAN BANGSA SENDIRI...!
YANG KHIANAT DAN BERSENGKETA "

Kalau Anda Semua Mahu tahu, Angkatan Perang Melaka Tiada Tolok Bandingnya Andai Mahu Dibanding Antara dengan angkatan Portugis itu...

Kapal-kapal perang Alfonso Itu hanya sekecil Anak kalau mahu Dibandingkan dengan Bahtera-bahtera Perang milik Angkatan Laut Melaka...
Meriam-meriam Portugis itu hanya
Sebesar kelingking andai Mahu
dibandingkan Dengan Meriam-meriam
yang mengelilingi kubu di Kota Melaka..
Itu belum lagi andai mahu diceritakan
betapa Hebatnya Pahlawan-pahlawan
Melaka yang sering saja didendangkan
dengan Hikayat Amir Hamzah sebelum
turun berperang...

Apalah sangat mahu Dibandingkan dengan soldadu-soldadu Portugis itu....
Namun akibat pengkhianatan beberapa
orang Melaka sendiri...
Maka akhirnya Melaka jatuh ke tangan Portugis..

Siapakah Yang naik ke kapal Alfonso, dan Kemudian menceritakan segala Strategi Dan kekuatan Melaka...?
Siapa Yang naik Ke kapal Alfonso, dan Jemudian Menyerahkan Peta kedudukan meriam-meriam strategik Melaka..?
Siapakah Yang naik ke kapal Alfonso, dan kemudian membuka Rahsia kelemahan kota Melaka...?
Siapa Yang naik ke kapal Alfonso, dan kemudian Menyerahkan Kunci Pintu Khazanah perpustakaan Diraja
Melaka...?

Ya...!
Ia angkara Pengkhianatan Bangsa sendiri...
Ya...!
Orang Melayu Melaka sendiri Yang menjadi pengkhianat dan Menceritakan segala kekuatan dan Kelemahan Melaka kepada penjajah...

Pengkhianatan...!!! Pengkhianatan...!!!
Pengkhianatan...!!!

Itulah yang menyebabkan Melaka
Akhirnya Jatuh ke tangan Portugis..
Bergilir ganti ke tangan Belanda...
Berpasung pula ke tangan Inggeris..
500 tahun lamanya...

Melaka dijajah dan Musnah Akibat pengkhianatan dari bangsa sendiri..!!!

Itulah Akibatnya Apabila Sesama
Bangsa kita bersengketa...
Empayar yang Kuat pun hancur dan binasa...
Apa yang Tinggal hanyalah debu-debu sebuah Cerita, Sekadar menjadi peneman hikayat Tidur malam anak-anak bangsa...

Usahlah kita Bersengketa...
Kerna sesungguhnya Melayu itu hidupnya bersatu dan Bersaudara, Andai bersengketa maka
Rosak dan binasa...
Belajarlah dari Melaka, usahlah Diulangi kesilapan itu lagi...

Janganlah jadi petualang kepada bangsa
dan agama sendiri, Tanah Melayu ini
warisan nenek moyang kita, di tangan
Kitalah ia kan kekal Terpelihara...

Aaahh...satu lagi yang menjadi persoalan Semua sekian lama...

" Ke mana hilangnya TUAH ketika itu...? "Tuah tidak ke mana-mana...

Tuah bukanlah pengecut dan dayus untuk lari meninggalkan Melaka dalam keadaan rosak dan binasa...
Pantang sekali Pendekar berundur sebelum bertempur, inikan pula Laksamana Tuah yang termasyhur...

Namun Tuah bersedih melihat
pengkhianatan bangsanya sendiri...!Tuah membawa diri dan hilang entah ke mana Setelah jiwanya tersiksa akibat membunuh saudara sendiri...
Demi taat Dan setia kepada Sultan Melaka, adinda Jebat menjadi taruhannya...

Derhaka kepada Sultan bukan langkahannya, kerna pantang anak Melayu untuk derhaka pada
sultannya..
Itulah prinsip dan pegangan Tuah, lantas Tuah pergi membawa diri..
Meninggalkan segala kekalutan dan
kehancuran duniawi, meneruskan
hidupnya secara tersendiri.. Mengenal diri dan mencari rabbi.. =)

¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤
SUDAHKAH ANDA PECAHKAN HIDING CODE YANG DIBERIKAN...?
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤

Mengapa "Mereka Beria-Ria Mahu Menjajah Melaka...??

Itu Baru Sedikit Jika Hendak Dibandingkan Dengan Penipuan Sejarah Mereka...

Masih Ingatkah Anda Akan Filem Pirates of The Carribean...?
Filem Yang Mengambarkan Sebuah Keagungan Pelayar-pelayar Yang Digelar Lanun Oleh Mereka...
Tahukah Anda...
Oleh Disebabkan Ketakutan Mereka Pada Masa Lampau Menjadikan Ia Satu
Tragedi Yang Tak Dapat Dilupakan...
Kenalkah Anda Dengan Captain Jack Sparrow...??
Apa Kaitan Kapten Jack Sparrow Dengan Kapten Barbossa...??
Siapakah Mereka Berdua...?

Apabila disebut Barbossa, Saya yakin
ramai dalam kalangan kita akan
terbayangkan Watak Seorang Lanun
memakai penutup sebelah Matanya
seperti yang terdapat dalam filem
Pirates of The Carribean....

Namun tahukah Kita, Sebenarnya watak Hector Barbossa Adalah watak yang diadaptasikan dari Watak tokoh Islam yang popular dalam Dunia peradaban Islam dahulu kala...
Barbarossa bererti janggut merah dalam bahasa Itali...
Hanya terdapat tiga tokoh
besar dunia yang berjanggut merah, iaitu Maharaja Frederick daripada Rom
(1123-1190) dan dua orang adik-beradik
iaitu Aruj dan Khairuddin atau disebut
dengan Hayreddin, kedua-duanya dari
Turki.

Islam pernah mengangkat ketamadunan ke peringkat yang tertinggi di bumi Andalusia, kebudayaan, falsafah (sains)
dan teknologi (terutama infrastruktur dan senibina) lahir di wilayah semenanjung Iberia (Sepanyol) tersebut...

Thariq bin Ziyad yang telah membawa misi Islam ke bumi tersebut juga telah diabadikan namanya menjadi nama gunung di semenanjung tersebut, iaitu Jabal Thariq yang disebut oleh orang barat sebagai Gibraltar (kini berada di bawah kuasa Inggeris)....
Sebuah gunung berhampiran
dengan selat yang menghubungkan lautan Atlantik dengan Laut Tengah. Ketika era kegemilangan Islam, bangsa barat (Eropah) tercengang dengan kemajuan Andalusia, Cordoba, Granada dan Sevilla setelah dipimpin Dinasti Bani Umayyah pada tahun 756M. Umat Islam, Kristian dan Yahudi hidup aman penuh rukun selama dua abad lebih di saat itu...

Sebermulanya era Perang Salib, Eropah
telah melancarkan misi Reconquista iaitu misi penaklukan kembali wilayah-wilayah Eropah. Satu persatu bandar-bandar yang mempunyai peradaban yang maju mulai jatuh, Lisboa, Merida, Cordoba, Valencia, Murcia, Sevilla dan kemuncaknya dengan kejatuhan Granada pada tahun 1492M...

Manakala...
Siapakah Pula Watak Utama Didalam Filem Tersebut...?

Captain Jack Sparrow : Pelayar
Melayu...?

Kajilah Sejak Bila Empayar Melayu Islam Mula Menggunakan Senjata api...?
Adakah Melayu Hanya Tahu Berpencak Bersilat Semata-mata...?

Tahu Kapten Jack Sparrow Itu Diilhamkan Dari Mana...?
Senjatanya...?
Tahu Apa Itu Terakol...?

Terakol atau Tarkul adalah Antara senjata popular dikalangan pelaut, pedagang dan lanun-lanun Melayu...
Ia juga tergolong Diantara Senjata Api Melayu Yang Digelapkan Sejarah .

Tarkul atau Terakol ini pada awalnya menggunakan teknologi kancing roda di mana kemajuan teknologi ini
membolehkan ia membakar serbuk bedil Secara automatik tanpa memerlukan ‘fius’.
Terakol berbentuk seperti pistol dan ia
adalah perubahan bentuk dari sebuah lagi senjata silama Melayu bernama Pemuras Yang dikecilkan...
Terakol digunakan di dalam
peperangan Rajah, Datu dan Sultan-sultan di Filipina menentang Sepanyol, juga askar Brunei menentang Rajah Brooke...

Terakol juga digunakan di Patani dan
Melaka. Selain itu, dalam Perang Naning, senjata ini turut digunakan... Sekitar tahun 1530, Terakol telah menjadi maju dengan penggunaan teknologi flintlock ( kancing batu
api) dan sejak itu ia lebih dikenali sebagai pistol di Barat.

Dalam filem Pirates of Caribbean, Jack
Sparrow menggunakan Terakol jenis kancing batu api (flintlock)
Ketua Lanun, Laksamana dan Syahbandar Melayu sering bergaya menyelitkan Terakol ini di pinggang bersama-sama keris mereka.
Teknologi "flintlock" yang dicipta oleh Barat maka ketika itu bertukarlah namanya dari Terakol atau Tarkul menjadi pistol...

Mengenai Captain Jack Sparrow, dia adalah seorang Melayu. Lagenda lanun Melayu "the 19th Malay Regiments of British Royal Navy".

Kurang lebih 300 dokumen yang berkaitan kisah Captain Jack Sparrow yang berbangsa Melayu ini berada dalam simpanan kerajaan penjajah British...

Karekter Captain Jack Sparrow ini diinspirasikan daripada Raja Pelayar Dunia yang berketurunan Melayu
suatu ketika dahulu...
Manakala Nama karekter
Barbossa juga diinspirasikan
daripada seorang Pelayar asal Turki,
Hector Barbossa Dalam filem Pirates
of the Carribean : At World End (Di
Penghujung Dunia)
Semua Watak Hebat Ini...
((( Diilhamkan Dari Tokoh Islam )))

Dipenghujung Dunia...?
Masih Ingatkah Anda Ketika Ptolemy,seorang ahli geografi
Yunani melukis peta semenanjung Tanah Melayu,beliau telah menamakan
semenanjung ini 'Golden Chersonese' yang bermaksud Semenanjung Emas ketika manuskrip-manuskrip India Purba menamakan tanah ini sebagai
'Suvarnabhumi' iaitu Tanah Emas...
Sebuah manuskrip Yahudi Purba menceritakan sumber bekalan emas untuk membina negara kota Kerajaan Nabi Sulaiman diambil dari sebuah kerajaan purba di Timur Jauh yang dinamakan Ophir...
Ia Juga Mengelar Negara Dipenghujung Dunia...

Jadi Apa Kaitan Empayar Melayu Islam Melaka Dengan Empayar Islam Uthmaniah Di Turki...?
Masih Tidak Dapat...?

Cahaya Berlapis Cahaya...
Pandangan Tembus Ke Mana-mana...
Pandangan Mata Tiada Terlihat Lagi...

Wahai Melayu...
Bangsa Yang Tidak Kenal Sejarah...!
Pandanganlah Disini...
Lihatlah Disini...!
Dengar Dengan Mata HATI Mu...!

Apa Yang Menyebabkan Kau Terlalu Mengagung-agungkan Teori Sejarah Barat...?
Apa Yang Menyebabkan Kau Buta Tidak Mampu Melihat...?
Adakah Kerana Kau Tidak Beragama Atau Tidak Berbangsa...?

Apa Yang Terjadi PadaMu...?
Tanya DiriMu...!
Siapa Kamu...?
Kamu Berasal Dari Mana...?
Manakah Hilangnya SejarahMu...!
Bagaimana Sejarah Mu Boleh Hilang...!!
Siapa Yang Menghilangkan...!
Bagaimana Mereka Menghilangkan...!!
Bahasa Apa Yang Kamu Gunakan...?
Bagaimana TulisanMu Di Hilangkan...
Apa Yang Menyebabkan Kamu Hilang Identiti...
Bagaimana Identiti Mereka Boleh Meresap Dalam Diri Mu...!

LIHATLAH KEADAAN KAMU SEKARANG, LEBIH HINA DARIPADA TAHI...!

Asbab Kamu Melupakan Identiti Bangsa Mu Dan Mengambil Identiti Penjajah Kuffarlah Menyebabkan DiriMu Dijajah Juga....

Apa Perjuangan Bangsa Mu,
Kamu Tidak Mengetahui...
Apa Yang Diingginkan Hati Kamu Tidak Peduli...
Apa Yang Agama Tekanan Kamu Menjadi Buta Tuli...
Kemana Hilang Semuanya Itu...

Akhir Kalam Ku...
Tiada Yang Lebih Mengembirakan Dari Melihat Saudara Ku Memahami Apa Maksud Tersirat Dengan Ucapan :

" TAKKAN MELAYU HILANG DIDUNIA"

Wassalam...
CARA MENDAPATKAN IJAZAH ATAU PERTAULIAHAN

haruslah melalui salah satu daripada cara2 tahammul (pembawaan ilmu), iaitu:

1. Qira'ah - syeikh membaca, dan murid mendengar.

2. Sama' - murid membaca, dan syeikh pula mendengar.

3. Ijazah - syeikh berkata: "Saya ijazahkan kamu"

4. Washiyyah - syeikh mewasiatkan kepada murid.

5. Kitabah - syeikh menulis untuk murid.

6. I'lam - syeikh memberitahu kepada murid.

7. Munawalah - syeikh memberi amalan dari tangan ke tangan.

(Syeikh Muhammad Nuruddin Marbu al-Banjari al-Makki
ADAB DENGAN GURU

Jika engkau seorang penuntut hendaklah engkau punya adab dalam menuntut ilmu. Adab orang yang belajar ilmu, disebutkan pula oleh Imam Al-Ghazali (رحمه الله تعالى) di dalam Bidayatul Hidayah (sebanyak) sebelas perkara.

1. Apabila bertemu dengan gurunya, maka hendaklah (dia) mendahulukan memberi salam.

2. Jangan banyak berkata-kata di hadapan gurunya itu (terutama perkataan yang tiada kaitan dengan... pelajaran).

3. Jangan ia berkata dengan barang yang tiada diizinkan dahulu oleh gurunya.

4. Jangan ia bertanya akan gurunya melainkan meminta izin terlebih dahulu daripadanya.

5. Jangan menyangkal akan perkataan gurunya itu misalnya dengan berkata, “saya dengar ustaz lain berkata …… ( lain daripada apa yang engkau kata itu), atau sebagainya.

6. Jangan ia menyalahkan akan bicara gurunya, lalu (murid itu) merasa bahawa (dia) terlebih benar daripada (apa yang dikatakan) gurunya; atau terlebih tahu ia daripada gurunya. Maka yang demikian itu kurang adab kepada gurunya lagi kurang berkat.

7. Jangan ia berbisik-bisik dengan orang yang sama duduk (iaitu duduk bersamanya) di hadapan gurunya itu.

8. Jangan ia berpaling ke kiri dan ke kanan pada hadapan gurunya itu, (bahkan sebaliknya) hendaklah ia duduk tunduk lagi beradab seolah-olah ia di dalam sembahyang.

9. Jangan terlalu banyak pertanyaan kepada gurunya itu tatkala segan gurunya itu daripada berkata-kata (yakni kurang suka memperkatakan atau membicarakannya), atau tatkala ia lelah (yakni letih atau penat).

10. Apabila berdiri gurunya atau baharu datang gurunya itu, maka hendaklah ia berdiri pula kerana menta’dzimkan akan gurunya itu, dan jangan diikuti pada ketika bangkitnya itu dengan pertanyaan atau soalan. Dan jangan bertanya masalah pada ketika ia berjalan hingga sampai kepada tempat duduknya itu, melainkan kerana dharurat (yakni terpaksa) maka iaitu (yakni yang mana) tiada tertegah bertanya di dalamnya (yakni pada ketika itu).

11. Jangan buruk sangka akan gurunya itu pada segala perbuatannya yang dzahir menyalahi i’tiqadnya, atau bersalahan perbuatan gurunya itu (yakni melakukan sesuatu yang lain daripada) pengetahuannya, atau dengan adatnya (yakni kebiasaannya); kerana gurunya itu terlebih tahu dengan segala hukum syara’ dan segala rahsia syariat, seperti hikayat Nabi Musa (عليه السلام) dan Nabi Khidir (عليه السلام).
Renungan Buat DIRI...(BLOG MENGENAL DIRI SUNAN KALIJAGA)

Keseluruhan blog ini akan memperbincangkan tentang Teknologi Membina Insan seperti mana yang telah terkalam didalam Kitab Duril Mazlum yang telah dilenyapkan oleh penjajah dan kini berada di Muzium Lisbon dan Eropah. (Rujukan : Kitab Sejarah Melayu).Hasil Rahsia Kitab tersebut telah melahirkan kecemerlangan dan kegemilangan insan di zaman Madinah & Melaka. Bagaimana Ianya telah hilang, lenyap dari diri dan masyarakat kita yang dulunya begitu hebat?Apa yang hebat? Dimana ilmu nya? Mana "KUNCI" nya?

Memang sukar untuk membina satu kegemilangan Ummah? Namun pasti lebih sukar untuk mengekalkan kecemerlangan yang telah dibina. Apatah lagi untuk mengembalikan kecemerlangan dan kebenaran yang telah lenyap?

Sejarah perang salib yang tidak pernah dimenangi oleh musuh menyebabkan mereka tidak henti dan jemu mengkaji bagaimana untuk menghancurkan Islam. Akhirnya, mereka menemui jawapan dan menjalankan satu konspirasi besar untuk menjatuhkan Ketuanan Melayu, itu pun kerana Raja Melayu sendiri sudah Lupa diri, asyik dan mabuk dengan Kemegahan yang dimiliki, sibuk dengan Kuasa dan bertuhankan HAWA NAFSU. Semua wanita nak dijadikan bini?

Pemerintahan dan Orang-orang besar istana pun ikut sibuk dengan bertuhankan hawa nafsu,gaji, elaun, harta, wanita, kereta baru, langsir, banglo-besar, saham, projek kerajaan, saling bercakaran kerana bisnes anak menantu, itu sebab lah musuh dengan mudah menjalankan tugas dan misi mereka, apa yang mereka telah lakukan?

Hapuskan Kitab yang berkaitan dengan ilmu mengenal diri.
Hapuskan segala kitab pati rahsia termasuk ilmu tajul muluk, ilmu yang berkaitan dengan ilmu kasyaf, ilmu rasa hati, ilmu nafas, ilmu firasat.dll. kerana itu ilmu tersebut payah ditemui.

Hilangkan yakin manusia pada ilmu-ilmu tersebut dan wujudkan ilmu akal dan teknologi yang menghapuskan keyakinan mereka pada ilmu asal yang dibawa oleh Nabi dan Wali Allah.

Hilang kan segala bukti agar kita tidak kembali mencari ilmu tersebut kerana sekiranya kita kembali mengamal kan nya mereka bakal tewas dan tidak akan mampu mengatasi kita.

Hapuskan dan bunuh orang-orang yang pakar tentang ilmu tersebut. Agar yang tinggal hanya ilmu syariat sahaja.
Dalam tempoh penjajahan, hanya bersekongkol dan lantik orang-orang tidak bermaruah, boleh disogok dengan wang ringgit dan sanggup menjual maruah diri, bangsa dan ugama kerana tamak haloba dan gila pangkat. sanggup menjadi tali-barut dan anjing suruhan mereka.

Hanya melantik dan bekerjasama dengan orang yang sanggup mengikut telunjuk penjajah agar mereka dapat mengangkut hasil mahsul negara, dan tinggalkan sistem perlembagaan yang bakal memerangkap diri kita agar menjadi semakin tertekan dan buntu.Sediakan sistem pendidikan yang konon nya canggih agar kita tidak kembali mencari Sistem asal sepertimana yang telah berjaya dijalankan oleh Penguasa Madinah dan Melaka.

Faktor diatas tidak kita sedari secara langsung atau tidak langsung. Hanya kesan nya satu persatu kita lihat berlaku pada hari ini? Itulah sebab nya semakin hari manusia kian hilang ketenangan dan kebahagiaan.Masalah dadah. sosial dan segala gejala negatif, masalah penyakit berjangkit yang semakin kompleks dan menular.malapetaka, gempa bumi, rompakan, pembunuhan, turun salji kat tempat yang tak sepatutnya.panas melampau, puting beliung, ribut taufan.dan berbagai lagi senario sepertimana berlakunya pada zaman jahiliyah sebelum datang nya Nabi Muhammad s.a.w. dulu.

Tidak kah kita lihat bahawa pada hari ini yang di katakan zaman moden dan tinggi teknologi sains nya, semakin banyak doktor pakar, semakin kronik pula penyakitnya, semakin banyak pusat pengajian tinggi dan graduan, sebaliknya rendah pula nilai diri dan kemanusiaan nya? Zaman Nabi s.a.w. takda pulak banyak kitab dan Universiti, Nabi pun tak tau membaca dan menulis tapi boleh ubah semua umat manusia?

Lalu, bagaimana untuk kembali mendapat restu, pimpinan, petunjuk, kerahmatan, keredhaan, kasihsayang dan perlindungan Allah?
Hadis saw: Bertanya sahabat kepada Rasulullah, "Apa amal yang paling afdhal ya Rasulullah?" Sabda Rasulullah, "Maarifatullah". Bertanya lagi sahabat kepada Rasulullah."Amal apa yang terlebih pahalanya ya Rasulallah?'. Jawab Rasulullah, "Maarifatullah". Bertanya lagi kali ketiga oleh para sahabat, dan pada kali ini sahabat bukan lagi bertanya, tetapi membangkang. "Kami bertanya dari segi amal, kenapa engkau menjawab dari segi ilmu ya Rasulullah?'. (maarifatullah itu kaedah ilmu bukanlah kaedah amal). Menjawab Rasulullah, "Sedikit beramal dengan mengenal Allah, terlebih munafaat, banyak beramal dengan tidak mengenal Allah tiada munafaat!".
Qalbu Kaum Arifbillah (Syeikh Ahmad ar-Rifa’y)

Rasulullah Saw, bersabda: "Siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan, kemudian dilanjutkan puasa enam hari bulan syawal, maka ia seperti puasa setahun.” (Hr. Imam Muslim)

Rahasia dari hadits ini adalah melaksanakan fardlu sepenuhnya, dan melaksanakan Sunnah Muhammadiyah, karena berkahnya dalam nilai waktu. Tak ada yang lebih penting dibanding meraih berkah waktu bagi sang ‘arif. Baik ibadah fardlu maupun sunnah atau perpaduan keduanya, dan itulah puncak hasrat cita. Sunnah Nabi Saw, adalah ruh bagi sang ‘arif, disanalah ia tegak dan duduk, sekaligus menjadi menara bagi jiwa terdalam kaum ‘arifin.

Karena yang menegakkan tiang-tiangnya dan membangun bangunannya adalah Nabi Saw, yang tidak bicara karena dorongan hawa nafsu, namun karena hentakan dari ayat “Mata hati tidak pernah menyimpang dan tidak pernah khianat.” Begitu juga para pewarisnya, kaum ‘arifin yang meraih berkah dengan mengikuti jejaknya, dimana ruh kita dan ruh semesta mendapatkan sarigunanya.

Qalbu Sang Arif
Anak-anak sekalian…. Ketahuilah bahwa qalbu kaum ‘arifin adalah perbendaharaan Allah Ta’ala di muka bumi.
RahasiaNya dititipkan di dalamnya, kelembutan-kelembutan hikmahNya, hakikat cintaNYa, cahaya ilmuNya dan ayat-ayat ma’rifatNya, yang tak bisa dilihat sekalipun oleh Malaikat Muqorrobun, dan para nabi dan Rasul, dan siapa pun juga, tanpa seizin Allah Swt.

Sudah selayaknya bagi sang ‘arif mengenal baik dan buruknya, senantiasa istiqomah dalam amaliyahnya, mengenal untung dan ruginya, menjaga dari rekadaya musuh-musuhnya, dan memohon pertolongan kepada Allah Swt, secara total.

Jangan sampai meninggalkan sesuatu di hatinya selain Allah Robbul Izzah. Karena Allah Ta’ala manakala memandang qalbu hambaNya, lalu disana ada selain Dia, Allah Ta’ala membenci dan menghinakannya dan ia akan diserahkan pada musuhNya.
Amaliyah qalbu murni semata bagi Allah Ta’ala, sedang amaliyah rukun banyak ragamnya. Sedangkan amaliyah qalbu itu diterima tanpa gerak-gerik rukun, sedangkan amaliyah rukun tidak diterima tanpa amaliyah qalbu, dan tidak meraih pahala.

Bila seorang hamba mengabaikan amaliyah qalbunya, sedangkan dalam amaliyah rukun ia sempurna, ia hanya dinilai sempurnanya rukun tetapi bukan qalbunya. Namun jika amaliah qalbunya sempurna sedangkan amaliah rukunnya tidak, maka ia dihukumi ketidaksempurnaan rukunnya dengan kesempurnaan amaliah qalbunya.

Suatu hari Nabi Musa as, berjalan diantara Bani Israil menggunakan pakaian lap dan menaburi kepalanya dengan debu, sementara airmatanya menetes terus di pipinya. Lalu Nabi Musa as, menangis kasihan melihat keadaan mereka. Beliau bermunajat, “Oh Tuhanku, kenapa tidak Engkau sayangi hambaMu? Bukankah Engkau Tahu keadaan mereka?”

Allah pun menurunkan wahyu kepada Nabi Musa as, “Hai Musa! Lihatlah, apakah perbendaharaanku melimpah, bukankah Aku Maha Penyayang? Jangan begitu. Namun Aku lebih tahu apa yang ada di hati mereka. Mereka berdoa kepadaKu dengan hati yang kosong dariKu, semata-mata condong pada dunia.”

Diriwayatkan bahwa Nabi Musa as, sedang berjalan berjumpa dengan seorang yang sujud di atas batu selama 300 tahun. Ia menangis dan air matanya menetes memenuhi sebuah wadah. Nabi Musa as, turut menangis karena kasihan padanya. “Oh Tuhanku, tidakkah Engkau kasihan padanya?”
Allah Swt, menjawab, “Aku memang tidak kasihan padanya.”
“Kenapa begitu Oh Tuhanku?”
“Karena qalbunya lebih senang pada selain Aku. Ia masih punya jubah yang disayang untuk menupi rasa panas dan dingin!” Jawab Allah Ta’ala.
Nabi Saw, bersabda, “Seorang hamba tidak akan pernah teguh amaliahnya sehingga qalbunya teguh, dan qalbunya tidak akan teguh sampai ucapannya teguh.” Bila qalbu hilang, ia kehilangan Rabbnya.
Nabi Saw, bersabda:
“Ingatlah sesungguhnya dalam jasad ada segumpal daging, manakala ia baik, maka seluruh jasad baik. Dan apabila ia buruk, buruk pula seluruh jasadnya. Ingatlah bahwa itu adalah qalbu.”

Allah Swt, berfirman kepada Nabi Musa as, “Hai Musa! Katakan kepada Bani Israel, jangan sampai mereka masuk ke dalam rumahKu kecuali dengan hati yang bersih, dan mata yang khusyu’, dengan badan yang bersih dan niat yang benar.”

Yahya bin Mu’adz ra, mengatakan, “Qalbu orang beriman itu adalah gumpalan yang berlobang, isinya adalah mutiara Robbani, di sekitarnya adalah taman Fardaniyah (penunggalan Ilahi), di bawahnya ada hamparan pencahayaan. Dan Allah Ta’ala memandangnya setiap saat dengan rahmat dan kasih sayangNya, dan menghadang apa pun yang membuatnya lalai antara hamba dan DiriNya.”
Allah Ta’ala berfirman: “Dan siapakah yang lebih menepati janjinya dibanding Allah?”

Dikatakan, bahwa kinerja qalbu itu sangat pelik, namun pengukuhan qalbu itu lebih berat lagi.
Ditanyakan kepada sebagian ahli ma’rifat, “Seorang hamba yang kehilangan qalbunya, kapan bakal menemukannya kembali?”
Dijawab, “Bila dalam qalbu itu turun Kebenaran Allah.” Masih ditanya, “Kapan turunnya?” Dijawab, “Makanala ia ia pergi meninggalkan selain Allah Ta’ala.”
Amaliah Qalbu itu berkisar 10 tangga:
• Al-Khatharat (intuisi terdalam)
• Ungkapan nafsu
• Hasrat
• Tafakur
• Kehendak
• Ridho
• Ikhtiar
• Niat
• Tekad
• Meraih tujuan hingga mencapai amaliah dzohir.

Ishaq bin Ibrahim ra, mengatakan, “Bila hatimu bisa kembali kepada Allah Ta’ala sejenak saja, itu lebih baik dibanding segala hal yang dicahayai terbitnya matahari. Tak seorang pun yang bersih hatinya dari kotoran syahwat, dan membersihkan dari debu-debu kealpaan, serta menjernihkan dari keburaman penyimpangan, melainkan Allah Swt, akan menampakkan semuanya secara total.”
Bakr bin Abdullah ra, menafsiri ayat, “Dan ia datang dengan qalbu yang kembali”.

maksudnya yang berjalan dimuka bumi dengan fisiknya, sedangkan hatinya bergantung terus kepada Allah Ta’ala.
Abu Abdullah ra, ditanya, “Apakah Qalbun Salim itu?”
Beliau menjawab: “Qalbu yang putus dari kaitan-kaitan dunia, dipenuhi cinta kepada Tuhan, tidak mengeluh karena bencana, dan tidak terhalangi tirai perlindungan dan ketaqwaan.”
Disebutkan, “Siapa yang antara dirinya dengan Allah ta’ala tidak memiliki amaliah rahasia batin, maka ia tergolong buruk, walaupun kelihatannya baik. Dan siapa yang tidak melihat dunia dan akhirat adanya Kekuasaan Allah Ta’ala yang berjalan dan cepatnya takdir itu, ia tidak akan meraih amaliah qalbu.”

Abu Said al-Kharraz ra, mengatakan, “Ketahuilah bahwa alamiah qalbu adalah memperbaharui rahasia batin untuk menyendiri bersama Allah Ta’ala, dan mengaktifkan qalbu untuk menjaga dzikirnya sepanjang waktu disertai ruhani yang benar tanpa berpaling pada waktu dan kondisi ruhaninya itu sendiri.”

Abu Darda’ ra, berkata, “Allah mempunyai hamba-hamba, dimana qalbunya terbang kepada Allah Ta’ala karena rindunya, yang kecepatannya tidak bisa dilawan oleh kilat yang cepat sekalipun.”
Nabi Saw, bersabda, “Bukan karena banyaknya sholat Abu Bakr yang mendahului derajat kalian, juga bukan karena puasa, namun karena kebersamannya dengan Allah dan sejuk dalam qalbunya.”
Allah Ta’ala tidak menolak yang sedikit karena jumlah sedikitnya, juga tidak menerima yang banyak karena jumlah banyaknya. Namun Allah menerimanya dari kalangan orang yang taqwa (dengan ketaqwaannya).

Disebutkan, “Tidak benar maqom seseorang manakala masih ada gantungan qalbunya pada maqom itu. Namun orang yang benar adalah orang yang qalbunya bergantung kepada Sang Pemiliki Maqom belaka, hingga ia tidak melihat selain Allah Ta’ala ketika melihat Allah Ta’ala.”

Dikatakan, “Manakala amaliyah mengarah pada qalbu, seluruh badan istirahat.” Disebutkan pula, “Tidak akan ada aktivitas amal qalbu, kecuali bagi orang yang qalbunya bening, tidak lupa, sehat dan tidak luka, memandang tanpa cacat, sendiri tanpa kontra, mencari tanpa memburu, dekat tanpa asing, berakal sehat tanpa alpa, samawi tanpa semesta fisik, bersifat Arsy dan tanpa belantara.”
Penyendirian Qalbu hanya bagi Allah Ta’ala.

Tsabit an-Nasaj ra mengatakan, “Aku membaca Al-Qur’an bertahun-tahun penuh dengan rasa takut, namun aku tidak menemukan qalbuku. Lalu aku membacanya dengan penuh harapan, aku pun tidak menemukan qalbu. Lantas ketika aku membaca dengan qalbu yang sendiri dari segala hal selain Allah Ta’ala, pada saat itulah aku menemukan qalbuku. Dan ketika aku melihatnya, aku pun melihat adanya Wilayah Keagungan, Kebesaran Yang Agung dan Martabat yang Luhur.”

Allah Ta’ala berfirman dalam sebagian kitabNya: “Qalbu-qalbu itu di TanganKu, Cinta ada di Rahasia perbendaharanKu. Kalau bukan karena CintaKu pada hambaKu, pastilah hambaKu tak mampu mencintaiKu. Dan kalaulah bukan karena DzikirKu di zaman azali kepada hambaKu, ia tak bakal mampu berdzikir kepadaKu. Kalaulah bukan karena kehendakKu padanya di zaman Qadim dahulu, hambaKu tak akan bisa berkehendak padaKu.”

Dikatakan, “Seorang ‘arif sedang melihat seorang yang mengitari masjid, “Lalu ditanya, “Apa-apaan ini? Apa yang anda cari?”.
Ia menjawab, “Aku lagi mencari tempat yang sunyi untuk sholatku…” Sang ‘arif berkata, “Sunyikan hatimu dari segala hal selain Allah, dan sholatlah dimana pun anda berada semau anda.”

Disebutkan, “Menurut kadar menghadapmu kepada Allah Ta’ala, maka kedekatan qalbu terukur. Dan Allah Ta’ala tidak menampakkan di qalbu orang sang hamba, yang masih ada penglihatan selain Dia, melainkan justru Allah menyiksanya dan dibebankan kepada si hamba itu.” Yahya bin Mu’adz ra, berkata, “Qalbu ketika diletakkan di dunia, ia merana. Ketika diletakkan di akhirat ia hendak pergi. Ketika diletakkan di sisi Allah Swt, ia merasa baik.”
Dikatakan, “Dunia itu roboh, dan ada yang lebih roboh lagi, yaitu qalbu yang meramaikan dunia. Akhirat itu negeri keramaian, dan lebih ramai lagi adalah qalbu yang meraihnya.”

Disebutkan, “Jarak-jarak dunia bisa ditempuh dengan langkah kaki, sedangkan jarak-jarak akhirat hanya bisa ditempuh dengan qalbu.” Dikatakan, “Robohnya nafsu karena ramainya qalbu, dan ramainya nafsu merobohkan qalbu.”
Diantara pemilik qalbu sejati ditanya, “Kenapa anda tidak bicara?” Ia menjawab, “Qalbuku bicara.” Ditanya, “Dengan siapa?” , ia jawab, “Dengan Yang membolak-balik qalbu.”