Wednesday, May 29, 2013

MAKAM SUNAN KALIJAGA

KEMBARA KE KOTA PARA WALI 2

Lawatan kedua kali ke makam leluhurku ini.



                                                    Tempat pertapaan Sunan Kalijaga





MUSEUM MASJID AGUNG DEMAK

25 Mei, 2013 (Sabtu) kami singgah lagi sekali ke Masjid Agung Demak dalam rangka lawatan menziarahi makam-makam wali songo yang belum sempat diziarahi pada tahun sebelumnya dan kali ini kami dapat memasuki museum kerana sempat sampai pada waktunya.










Selepas selesai melawat museum kami sekali lagi memasuki kawasan makam dan mencari makam Sultan Trenggono yg tidak kami lawati pada tahun sebelumnya kerana nasab isteri saya belum jelas. Kini jelas bahawa jalur keturunan isteri saya melalui Sultan Trenggono dan kami akan sering datang kesini lagi kerana jelas bahawa nasab saya dan nasab isteri ada kaitan satu sama lain iaitu berketurunan Raden Fatah dan Sunan Kalijaga.

Makam Sultan Trenggono adalah di dalam rumah makam di belakang makam Raden Fatah ini.

Di dalam ini makamnya Sultan Trenggono dan ini lah anak cucunya yang hilang ke Malaysia.





Dialog Sunan Kalijaga dengan Prabu Brawijaya


Sunan Kalijaga berkata “Namun lebih baik jika Paduka berkenan berganti syariat rasul, dan mengucapkan asma Allah. Akan tetapi jika Paduka tidak berkenan itu tidak masalah. Toh hanya soal agama. Pedoman orang Islam itu syahadat, meskipun salat dingklak-dingkluk jika belum paham syahadat itu juga tetap kafir namanya.”
Sang Prabu berkata, “Syahadat itu seperti apa, aku koq belum tahu, coba ucapkan biar aku dengarkan “

Sunan Kalijaga kemudian mengucapkan syahadat, asyhadu ala ilaha ilallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, artinya aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa Kanjeng Nabi Muhammad itu utusan Allah. “
Sunan Kalijaga berkata banyak-banyak sampai Prabu Brawijaya berkenan pindah Islam, setelah itu minta potong rambut kepada Sunan Kalijaga, akan tetapi rambutnya tidak mempan digunting. Sunan Kalijaga lantas berkata, Sang Prabu dimohon Islam lahir batin, karena apabila hanya lahir saja, rambutnya tidak mempan digunting. Sang Prabu kemudian berkata kalau sudah lahir batin, maka rambutnya bisa dipotong.
Sang Prabu setelah potong rambut kemudian berkata kepada Sabdapalon dan Nayagenggong,
“Kamu berdua kuberitahu mulai hari ini aku meninggalkan agama Buddha dan memeluk agama Islam. Aku sudah menyebut nama Allah yang sejati. Kalau kalian mau, kalian berdua kuajak pindah agama rasul dan meninggalkan agama Buddha.”

Sabdo Palon Nayagenggong Ternyata Bukan Manusia atau jin Namun Hanya Sebuah Kitab

saya menambahkan mengenai Sabdo Palon Nayagenggong. Sabda : ucapan/berita/tulisan/ajaran. Palon : Semesta/alam/Dunia Macro cosmos dan Micro cosmos. Nayagenggong : untuk kesejahtearaan,kedamaian dan kesatuan.

saya tidak sependapat Sabdo Palon adalah seorang manusia, sabdopalon adalah sebuah kitab yang dibuat oleh Beliau yang berjulukan Beliau yang kesepuluh.
isi buku tersebut adalah mengupas semua kitab suci yang diturunkan Allah melalui Nabi. Jadi Kitab Sabdopalon adalah kitab tersirat dari segala kitab suci allah. jadi bukan seperti yang beredar sekarang.kita harus waspada terhadap pengadu domba/pemfitnah.

cerita mengenai dialog Prabu Brawijaya V dengan seseorang yang tidak mau masuk Islam adalah dimana Prabu Brawijaya V menerima putra mahkota Majapahit (pengganti Brawijaya V) dimana sang putra mahkota menolak mengganti ayahandanya Brawijaya V dengan alasan Putra mahkota tidak mau kerajaan yang beragama Hindu sebagai agama kerajaan diganti agama kerajaan menjadi agama Islam. sehingga Putra mahkota tersebut bergelar Raden Gugur dan beliau menjadi Pertapa di gunung Lawu .
Raden Gugur ketika meninggalkan Istana beliau bersabda bahwa agama islam diperkenankan menebarkan agama islam dengan catatan bila agama islam tersebut tidak menjadikan agama yang menjadikan umatnya,damai,sejahtera dan bersatu dan saling menghormati agama lain aku akan menagih janji kepada para ulama dan pemimpin bangsa nusantara.dengan aku memimpin rakyat kecil turun menuju kota besar untuk meminta keadilan,kesejahteraan,kedamaian. kemunculan aku dengan tandanya para sepuh akan turun gunung,gunung gunung meletus,bencana alam dan manusia dimana-mana.

Dengan kepergian Putra mahkota/raden gugur Prabu Brawijaya V menjadi gundah/bingung sehingga beliau mencari pendapat siapakah kelak pengganti dirinya,intrik istanapun berkerja.beliau mendapat berita bahwa Raden Patah sedang memimpin penyerbuan ke Madjapahit. sehingga Prabu Brawijaya pergi meninggalkan Istana menuju ke Blambangan untuk minta bantuan dari kerajaan dari Bali. sementara kedatangan raden rahmat adalah utusan raden patah yang akan menghadap Ayahnya Prabu Brawijaya tetapi dijalan dihadang oleh kelompok yang ingin merebut kekuasaan kerajaan. sehingga raden patah mendapat berita bahwa ayahnya sedang mendapat tekanan/kudeta sehingga mengirim pasukan untuk membebaskan ayahnya,sementara Prabu Brawijaya V mendapat berita bahwa anaknya akan menyerbu Kerajaan Madjapahit.
Dalam pelarian Prabu Brawijaya, Raden Said(Sunan Kalijaga) menyusul Prabu BrawijayaV. terjadilah pertemuan di Blambangan, dimana Raden Said menghentikan niat Prabu Brawijaya V meminta bantuan dari kerajaan di Bali.
dimana dialog tersebut.tersebut Raden Said mengatakan kepada Prabu Brawijaya V. bahwa yang datang ke Madjapahit adalah Putra beliau sendiri yang bernama Raden Patah. dan raden patah tidak bermaksud menguasai kerajaan tetapi ingin membebaskan Prabu dari tangan pemberontak. setelah Prabu Brawijaya V mendengar penjelasan dai Raden Said. maka beliau tidak jadi menyeberang ke Bali dan ingin kembali ke Madjapahit. kemudian Prabu Brawijaya minta pendapat kepada Raden said. siapakah yang berhak menjadi pengganti Prabu Brawijaya V, oleh Raden Said diusulkan Raden Patah(anak Prabu Brawijaya v dengan Putri Cina) kemudian disetujui oleh Prabu Brawijaya V.Raden Said(Sunan Kalijaga) kemudian meminta kesediaan untuk Prabu Brawijaya V Masuk agama islam untuk membuktikan pengakuan Raja telah menyetujui Raden Patah menjadi pengganti Prabu Brawijaya V dan agama kerajaan Madjapahit menjadi agama Islam. Prabu Brawijaya V menyetujui kemudian Raden Said men Baiat Prabu dengan 2 kalimat syahadat. Prabu Brawijaya V meminta kepada Raden Said khusus untuk Membaca 2 Kalimat Syahadat, Prabu Brawijaya V mau melakukan tetapi tanpa asyhadu(saya bersaksi).dimana intinya Prabu Brawijaya V tidak berani dan sanggup yang disebabkan faktor usia dan ketidak sanggupan Prabu Brawijaya melaksanakannya. dimana kata asyhadu(bersaksi kepada tuhan) adalah sangat berat , terjadilah dialog yang sangat panjang. yang diakhiri oleh suatu percakapan dimana Prabu Brawijaya V mengatakan kepada Raden Said(Sunan Kalijaga)bila beliau salah dalam mengucapkan 2 kalimat syahadat tanpa asyhadu maka air danau tempat saya mengucap menjadi bukti besok bila wangi maka permohonan saya dikabulkan oleh Allah SWT. dan bila besok air danau ini bau anyir maka saya mengulangi membaca 2 kalimat syahadat dengan asyhadu. ternyata keesokan harinya air danau terebut berbau wangi “Kuasa Allah amat mulia dan meliputi semuanya” dan sekarang disebut kota Banyuwangi.
dalam perjalanan pulang Sunan Kalijaga mengiringi Prabu Brawijaya V dan tiada hentinya Sunan Kalijaga dan Prabu Brawijaya V membicarakan agama Islam.sesampai kembali di Kerajaan Madjapahit Prabu Brawijaya menanyakan kepada Sunan Kalijaga tentang keberadaan Raden Patah rupanya Takdir berkata lain Raden Patah ketika ditanyakan keberadannya oleh Prabu Brawijaya V berhalangan/bersimpangan jalandan ketika terakhir kali ditanyakan oleh Prabu Brawijaya V kepada Raden Said duduk disebelah Raden Said seorang pemuda yang ditanyakan oleh Prabu Brawijaya V siapakah dia dan Raden Said menjawab ia adalah Bondan Kejawen putra Prabu juga. sehingga Prabu mengucapkan kepada Raden Said bahwa Raden Patah akan memimpin Kerajaan Islam pertama di nusantara dan kerajaan tersebut hanya satu periode(Demak) dan sebagai penerus kerajaan nusantara adalah keturunanku yang lain dari Bondan Kejawan.
Karena Usia Prabu Brawijaya V sudah Lanjut dan beliau wafat tidak dapat bertemu juga dengan Raden Patah.dan pesan Prabu Brawijaya V makam ku dinamakan “Makam Putri Cempa”

Sangatlah sayang Sadopalon yang merupakan kitab diplesetkan jadi orang dan dibuat sarana untuk mengadu domba. maka kita jangan terjebak oleh kitab2 apalagi jaman penjajahan belanda buku2 tersebut diambil dan dikembalikan dengan sudah dirubah. seperti fakta yang ada dan sangat disayangkan Candi Borobudur pada Tingkat pertama dan kedua oleh belanda dikubur/ditanam agar kita generasi penerus tidak dapat mengetahui.(Tingkat pertama dan kedua terdapat relief kehidupan manusia, dimana manusia berbuat apa yang terjadi dalam kehidupannya)jadi saya untuk mempelajari buku 2 kuno, saya berpegangan kepada budaya adi luhur pendahulu dan bila tidak cocok saya mencoba untuk mengartikan apa yang hendak dipesan lewat tulisan itu apakah simbol atau bikinan Belanda atau anteknya. sehingga kita selalu terbawa arus adu domba dan pembodohan terus.

Bersumber dari : Komentar Firman Hanny Juni 14th, 2009 at 16:35 di Wahyu Sasmita
( Sabdo Palon Naya Genggong )
http://databrita.blogdetik.com/2009/06/08/sabdo-palon-naya-genggong/comment-page-1/
Tulisan Arya Wirabumi

KEMBARA KE KOTA PARA WALI 2


SULTAN DEMAK DAN KETURUNAN RADEN FATAH

Mei 24, 2013 (Jumaat) kami mula bertolak dari LCCT jam 7 am menuju ke Semarang, Jawa Tengah dalam expedisi melawat makam-makam para wali songo yang juga merupakan leluhur kami di Pulau Jawa. Saya mulakan expedisi ini dengan pertemuan bersejarah bersama Sultan Demak pada malam 25 Mei 2013.









Gambar pertama - bersama isteri dan YM Sultan Demak.
Gambar kedua    - bersama Pangeran Shah Alam (Kesultanan Jambi) dan YM Sultan.
Gambar ketiga    - bersama Senopati YM Sultan dan Pangeran Shah Alam.




Perbincangan isteri dengan Sultan Demak berkenaan salasilah dirinya serta penyerahan nasab yang telah diserahkan oleh Ulama Nasab Indonesia kepada kami (juga nasab diri saya) yang telah didaftarkan di dalam Rabitah Azmatkhan Indonesia. YM Sultan mengakui salah satu dari jalur di dalam nasab itu tidak dapat di kesan di Indonesia.

Batu Peringatan (Pernyataan) Makam Syeikh Subakir di luar pintu makam berhadapan Balai Mengadap.


Makam Syeikh Subakir di dalam bilik ini. Dikatakan Syeikh Subakir kembali ke tempat asalnya dan meninggal di sana dan bukan di Tanah Jawa namun makam peringatan di buat untuk memperingati jasa beliau yang telah mengembangkan Islam di Tanah Jawa dan juga anak cucu keturunannya yang menyambung perjuangan dakwahnya secara rasmi atau tidak rasmi.

Makam Syeikh Siti Jenar berada di luar bilik makam Syeikh Subakir.

Balai Persidangan Wali Songo (tapak asal) yang merupakan penasihat/menteri kepada Kerajaan Islam Demak pertama di Nusantara.

Papantanda di luar kawasan makam tetapi di dalam kawasan Keraton Sultan Demak berhadapan Balai Mengadap .





Tuesday, May 14, 2013

PAHLAWAN PEDANG MENCARI GURU

19/11/12 - Selepas dikunjungi pesakit jantung berlubang ( 8 bulan) dan pesakit saraf, orang ke 3 menunggu giliran adalah seorang yg berumur 50an datang ingin berguru dan mengambil baiah serta ijazah Gerak Faqir Sunan kaliajaga.

Hamba memberi kefahaman secukupnya dalam Mengenal Allah SWT dan kaedah-kaedahnya untuk sampai kepadaNya. Cara beramal dan seterusnya membuat amalan Gerak Faqir hingga sampai tahap "melihat ALlah" (makam Ihsan)

Alhamdulillah, beliau mudah faham kerana sudah pun mempelajari tasauf dan jalan mengenal diri.

Namun sesudah membaiah dan diijazahkan amalan ini, beliau mula membuat pengakuan. Beliau sebenarnya sudah sampai kepada "tahap mengenal" kerana sudah dibimbing secara rohani oleh Nabi Zakaria. Ujian berat yg menimpa dalam perjalanannya membuatnya berdoa kepada Allah SWT agar memberi petunjuk agar dapat bertemu guru zahir sebagai pembimbing.

Maka yg ditunjukkan oleh Allah SWT adalah hamba yg hina. Beliau tak semena menjumpai blog hamba , menelitinya dan terus menelefon dan tak sabar2 nak dtg berguru. Beliau juga berkata, dibuka penglihatan mata batin dan dapat berkomunikasi dengan para Jin serta Wali Ghaib.

Kata beliau, banyak sudah jin-jin kafir dibunuhnya dengan pedang ghaib anugerah ALlah. Beliau turut didemdami dengan para musuh Allah dari kalangan jin dan syaitan. Kata beliau, masa ini (waktu beliau bersama hamba) , ramai para wali Allah hadir sama. Antara yg hadir beliau sebut adalah Sunan kalijaga. Sunan Gunung Jati dan Syeikh Abdul Qodir AL Jailani.

Hamba bertanya, "kenapa begiitu ramai para wali hadir sehingga turut dihadiri Ketua Para Wali SAQJ?" Kata beliau selepas bertafakur, dalam keadaan sedih beliau menyuarakan, "Para Wali yg hadir juga sedih dan menangis, pada siapa lagi yg mereka harapkan. Umat sekarang rosak teruk, ulama juga rosak" ."mereka berpesan kepada tuan agar teruskan perjuangan tuan dalam membawa umat kembali mengenal Allah". Sunan Kalijaga juga menyampaikan pesan agar Gerak Faqir jgn di perturunkan kepada sebarangan orang.

Alhamdulillah, perjuangan hamba mendapat dokongan dan sokongan para wali2 ghaib terutama SAQJ sendiri, itu membenarkan mengapa baginda sering dilihat bersama hamba yg hina. Hamba terfikir kenapa hamba bermimpi duduk di rumah Syeih Mahmud AL Majzub seolah berada dirumah sendiri.....
PENGALAMAN MERAWAT PESAKIT KANSER OVARI

1hb Januari - menerima panggilan dari seorang wanita mahukan dirawat kakaknya yg berada dihospital , selepas pembedahan kanser ovari.

Saya memberi syarat bhw mesti keluar hospital dahulu jika mahu dirawat.


2hb. Januari - Pesakit sudah keluar dari hospital dan wanita tadi menelefon lagi , mendesak untuk mendapatkan rawatan dari saya.


Saya menduga lagi dgn memberi syarat fidyahnya, dan wanita ini serta keluarganya bersetuju. Ini adalah sebagai perjanjian dan bila ada mutual aggrement, barulah lahir keikhlasan dari kedua belah pihak. Saya mahu lihat sejauh mana keluarga ini mempercayai kaedah rawatan Islam dan mereka mmeyakinkan saya.


5hb januari - Jam 9.45 sampai dirumah pesakit. Sebuah keluarga India Muslim dan ahli keluarganya sudah menanti, ramai sekali. Menurut ceritanya, pesakit telah 5 tahun menderita kanser ovari dan telah melakukan pembedahan "membuangnya" dan telah buat kimoterapi. Wanita tadi bercerita bhw baharu semalam pesakit bersuara, "aku kena buat dek orang".

Saya menjengok masuk kebilik, wahhh...sudah tinggal tulang, langsung tak bergerak. Tidak makan selama beberapa hari dan asyik muntah pabila disuakan apa-apa makanan.

Saya mulakan terapi, diubun-ubun dibacakan, Surah yaasin, di bahagian abdomen dibacakan Al Mulk dan dinahagian kaki yg bebgkak di zikirkan sahaja., kesemua tempat ini adalah berdasar kepada Gerakan dari Allah ke atas tanganku jua. Saya hanya berserah diri, tawakal selepas berdoa. Pesakit muntah tiba-tiba....sedikit shj kerana tidak makan apa-apa.

Sesudah selesai, kami berborak bercerita tentang tanda-tanda dan mimpi yg dialami pesakit. Tiba-tiba sianak berkata, "sudah dapat gerakkan kaki", "sudah boleh angkat tangan""mak dah senyum".

Kata maknya pula (pesakit), mak rasa ringan dan sedikit bertenaga dan melontarkan senyuman kepada saya. Mereka mengangkat pesakit membetulkan kedudukannya, :Ustaz, dah ringanla badan mak, sebelum ni kami empat orang angkat , berat giler" Semua ahli keluarga menunjukkan riak wajah yg gembira.

Wanita itu bercerita, sebelum ini ahli keluarga tidak yakin dgn Perubatan Islam, puas dia menjelaskan dan menunjukkan laman web saya. Hmmm....itu sebab saya duga dulu, saya letak syarat, dan mereka setuju.

Alhamdulillah, Allah jua tempat meminta. Yg Menyembuhkan adalah Allah jua, saya hanya meminta danberdoa padaNya. Namun usaha saya menaiki motosikal dimalam hari meredah kegelapan malam, dgn hujan renyai-renyai, sesat mencari jalan, dihargainya oleh ahli keluarga dgn fidyah yg ditetapkan.

Ya Allah, Engkau shj Yg Mengetahui hati-hati hambaMu

Sunday, March 17, 2013


Siapakah ulama ??? SIAPA ULAMA YANG DI KATAKAN PEWARIS NABI

oleh Argula Rindhu Maghfiroh pada pada 30hb Disember 2012 pukul 11.43 pagi ·

 


Siapakah yang dimaksud ulama ??

Cobalah baca tulisan-tulisan mereka yang mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh berikut ini

http://isnad.net/media/Muhammad_Sewed_di_Gugat.pdf
http://isnad.net/?dl_name=kumal-kumal-dzul-akmal.pdf
http://isnad.net/dialog-luqman-hizbi-firanda-sururi
http://isnad.net/?dl_name=dzulqornain_yayasan.rar
http://isnad.net/media/dzul-akmal-undercover.pdf

Mereka adalah para ulama namun coba perhatikan tulisan-tulisan mereka, bagaimana mereka memperlakukan firman Allah Azza wa Jalla maupun Hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam demi kepentingan atau hawa nafsu mereka masing-masing

Ulama adalah ahli ilmu agama.  Pada zaman kini dapat kita temukan ulama tetapi tidak mengenal Allah (ma’rifatullah) karena mereka bertambah ilmu tetapi tidak bertambah dekat kepada Allah.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Barangsiapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayahnya, maka dia tidak bertambah dekat kepada Allah melainkan bertambah jauh”

Ulama pada hakikatnya adalah muslim yang mengenal Allah (ma’rifatullah) atau muslim yang bermakrifat atau muslim yang ihsan (muhsin)

Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? Beliau menjawab, ‘Kamu takut (khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya (bermakrifat), maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.‘ (HR Muslim 11)

Firman Allah ta’ala yang artinya “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS Al Faathir [35]:28)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Ulama adalah pewaris para nabi.” (HR At-Tirmidzi).

Ulama pewaris Nabi artinya menerima dari ulama-ulama sebelumnya yang tersambung kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Asy-Syeikh as-Sayyid Yusuf Bakhour al-Hasani menyampaikan bahwa “maksud dari pengijazahan sanad itu adalah agar kamu menghafazh bukan sekadar untuk meriwayatkan tetapi juga untuk meneladani orang yang kamu mengambil sanad daripadanya, dan orang yang kamu ambil sanadnya itu juga meneladani orang yang di atas di mana dia mengambil sanad daripadanya dan begitulah seterusnya hingga berujung kepada kamu meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian, keterjagaan al-Qur’an itu benar-benar sempurna baik secara lafazh, makna dan pengamalan“

Pewaris Nabi artinya menerima dan mengikuti risalah Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan baik dan benar secara kaaffah meliputi aqidah (Iman) , ibadah (Islam/syariat) dan akhlaq (Ihsan/tasawuf)

Laki-laki itu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah Islam itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Islam adalah kamu tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, mendirikan shalat, membayar zakat, dan berpuasa Ramadlan.’ Dia berkata, ‘Kamu benar.’ Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah iman itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, beriman kepada kejadian pertemuan dengan-Nya, beriman kepada para Rasul-Nya, dan kamu beriman kepada hari kebangkitan serta beriman kepada takdir semuanya’. Dia berkata, ‘Kamu benar’. Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya (bermakrifat), maka jika kamu tidak melihat-Nya (bermakrifat) maka sesungguhnya Dia melihatmu. (HR Muslim 11)

Kelemahan sebagian perguruan-perguruan tinggi Islam pada masa kini adalah santri tidak mendapatkan pengamalan tasawuf (ihsan/akhlak) sehingga tidak melahirkan ulama sejati yang takut kepada Allah.

Perhatikanlah dua buah video pada
http://www.youtube.com/watch?v=hlCdzVo8Ueo
http://www.youtube.com/watch?v=DZdjU2H6hpA

Kedua video tersebut berisikan nasehat dari seorang ulama keturunan cucu Rasulullah terhadap seorang ulama yang anti tasawuf. Dalam nasehat beliau telah berulangkali disampaikan, Ittaqullah, takutlah kepada Allah.

Akhlak yang buruk adalah mereka yang tidak takut kepada Allah atau mereka yang berpaling dari Allah karena mereka memperturutkan hawa nafsu.

Akhlak yang baik adalah mereka yang takut kepada Allah atau mereka selalu memandang Allah setiap akan bersikap atau berbuat.

Imam Malik ~rahimahullah menasehatkan agar kita menjalankan perkara syariat sekaligus menjalankan tasawuf agar tidak menjadi manusia yang rusak (berakhlak tidak baik).

Imam Malik ~rahimahullah menyampaikan nasehat (yang artinya) “Dia yang sedang tasawuf tanpa mempelajari fiqih (menjalankan syariat) rusak keimanannya , sementara dia yang belajar fiqih (menjalankan syariat) tanpa mengamalkan Tasawuf rusaklah dia, hanya dia siapa memadukan keduanya terjamin benar“

Begitupula Imam Syafi’i ~rahimahullah menasehatkan kita agar mencapai ke-sholeh-an sebagaimana salaf yang sholeh adalah dengan menjalankan perkara syariat sebagaimana yang mereka sampaikan dalam kitab fiqih sekaligus menjalankan tasawuf untuk mencapai muslim yang baik, muslim yang sholeh, muslim yang berakhlakul karimah atau muslim yang Ihsan

Imam Syafi’i ~rahimahullah menyampaikan nasehat (yang artinya) ,”Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih (menjalani syariat) dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya. Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih (menjalani syariat) tapi tidak mau menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mau mempelajari ilmu fiqih (menjalani syariat), maka bagaimana bisa dia menjadi baik (ihsan)?” [Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 47]

Sebelum belajar Tasawuf, Imam Ahmad bin Hambal menegaskan kepada putranya, Abdullah ra. “Hai anakku, hendaknya engkau berpijak pada hadits. Anda harus hati-hati bersama orang-orang yang menamakan dirinya kaum Sufi. Karena kadang diantara mereka sangat bodoh dengan agama.” Namun ketika beliau berguru kepada Abu Hamzah al-Baghdady as-Shufy, dan mengenal perilaku kaum Sufi, tiba-tiba dia berkata pada putranya “Hai anakku hendaknya engkau bermajlis dengan para Sufi, karena mereka bisa memberikan tambahan bekal pada kita, melalui ilmu yang banyak, muroqobah, rasa takut kepada Allah, zuhud dan himmah yang luhur (Allah)” Beliau mengatakan, “Aku tidak pernah melihat suatu kaum yang lebih utama ketimbang kaum Sufi.” Lalu Imam Ahmad ditanya, “Bukanlah mereka sering menikmati sama’ dan ekstase ?” Imam Ahmad menjawab, “Dakwah mereka adalah bergembira bersama Allah dalam setiap saat…”

Imam Nawawi ~rahimahullah berkata : “ Pokok-pokok metode ajaran tasawwuf ada lima : Taqwa kepada Allah di dalam sepi maupun ramai, mengikuti sunnah di dalam ucapan dan perbuatan, berpaling dari makhluk di dalam penghadapan maupun saat mundur, ridha kepada Allah dari pemberian-Nya baik sedikit ataupun banyak dan selalu kembali pada Allah saat suka maupun duka “. (Risalah Al-Maqoshid fit Tauhid wal Ibadah wa Ushulut Tasawwuf halaman : 20, Imam Nawawi).

Kesimpulannya ulama adalah muslim yang ahli ilmu agama dan mengenal Allah (ma’rifatullah) atau ulama yang berma’rifat, menyaksikan Allah dengan hati (ain bashiroh)

Imam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani,
“Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”
Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”
“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.
Sayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati”

Sebuah riwayat dari Ja’far bin Muhammad beliau ditanya: “Apakah engkau melihat Tuhanmu ketika engkau menyembah-Nya?” Beliau menjawab: “Saya telah melihat Tuhan, baru saya sembah”. Bagaimana anda melihat-Nya? dia menjawab: “Tidak dilihat dengan mata yang memandang, tapi dilihat dengan hati yang penuh Iman.”

Jika belum dapat bermakrifat yakinlah bahwa Allah Azza wa Jalla melihat kita.

Rasulullah bersabda yang artinya “jika kamu tidak melihat-Nya (bermakrifat) maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR Muslim 11)

Ubadah bin as-shamit ra. berkata, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: “Seutama-utama iman seseorang, jika ia telah mengetahui (menyaksikan) bahwa Allah selalu bersamanya, di mana pun ia berada“

Rasulullah shallallahu alaihi wasallm  bersabda “Iman paling afdol ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kamu berada“. (HR. Ath Thobari)

Muslim yang yakin selalu merasa diawasi/dilihat oleh Allah Azza wa Jalla atau yang terbaik muslim yang bermakrifat (melihat Allah dengan hati) maka mereka mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya , menghindari perbuatan maksiat, menghindari perbuatan keji dan mungkar hingga terbentuklah muslim yang berakhlakul karimah sesuai dengan tujuan beragama atau sesuai dengan tujuan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diutus oleh Allah Azza wa Jalla

Rasulullah menyampaikan yang maknanya “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).

Kita kaum muslim tujuan beragama adalah merupakan upaya meneladani akhlak manusia yang paling mulia, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Firman Allah ta’ala yang artinya,

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (QS Al-Ahzab:21)

“Sungguh dalam dirimu terdapat akhlak yang mulia”. (QS Al-Qalam:4)

Jadi kalau ada seseorang dikenal telah mendalami ilmu agama namun tidak berakhlak baik maka bisa dipastikan ilmu agama yang dipahaminya telah keliru, tidak disesuai dengan apa yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Ketidak sesuaian dengan apa yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam karena mereka mendapatkan ilmu dari ulama yang tidak bersanad ilmu atau bersanad guru tersambung kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Mereka mendapatkan ilmu bersandarkan akal pikiran atau prasangka manusia semata.

Ilmu agama atau ilmuNya bukan berasal dari akal pikiran manusia namun berasal dari lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang berasal dari apa yang telah diwahyukan oleh Allah Azza wa Jalla. Kemudian dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam disampaikan melalui lisan ke lisan ulama yang sholeh sampai kepada hambaNya.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR. Ahmad)

Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)

Ibnul Mubarak berkata :”Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47 no:32 )

Dari Ibnu Abbas ra Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda…”Barangsiapa yg berkata mengenai Al-Qur’an tanpa ilmu maka ia menyediakan tempatnya sendiri di dalam neraka” (HR.Tirmidzi)

Imam Syafi’i ~rahimahullah mengatakan “tiada ilmu tanpa sanad”.

Al-Hafidh Imam Attsauri ~rahimullah mengatakan “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga”

Bahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ; “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan” Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203

Oleh karenanya dalam memahami ilmuNya atau memahami agama Islam, sebaiknya janganlah berhenti atau berpuas diri bersandar pada akal pikiran seorang manusia. Sebaiknya telusurilah terus sampai tersambung kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam karena kebenaran adalah apa yang diwahyukanNya dan disampaikan oleh Nabi kita , Sayyidina Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Telusurilah kembali apa yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melalui dua jalur utama yakni

1. Jalur ulama yang sholeh, bersanad ilmu atau bersanad guru tersambung kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

2. Jalur ulama yang sholeh, bernasab atau bersilsilah keturunan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang mendapatkan pengajaran agama dari orang tua-orang tua terdahulu tersambung kepada Imam Sayyidina Ali ra yang mendapatkan pengajaran agama langsung dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

Telusurilah terus hingga yakin bahwa yang diterima adalah benar dari lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bukan akal pikiran manusia yang didalamnya ada unsur hawa nafsu dan kepentingan.

Marilah kita menegakkan ukhuwah Islamiyah dengan mengakhiri perselisihan karena perbedaan pemahaman. Bersatulah dengan menyambungkan sanad ilmu hingga tersambung kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Cara menyambung sanad ilmu melalui dua jalur

1. Melalui sanad guru, mengikuti ulama yang bermazhab yang tersambung kepada Imam Mazhab yang empat.

Contohnya tersambung kepada sanad gurunya Imam Syafi’i ra

Sanad guru Imam Syafi’i ra
a. Baginda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam
b. Baginda Abdullah bin Umar bin Al-Khottob ra
c. Al-Imam Nafi’, Tabi’ Abdullah bin Umar ra
d. Al-Imam Malik bin Anas ra
e. Al-Imam Syafi’i Muhammad bin Idris ra

2. Melalui ahlul bait, keturunan cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

Ikuti apa yang disampaikan oleh Al Imam Al Haddad dan yang setingkat dengannya, sampai ke Al Imam Umar bin Abdurrahman Al Attos dan yang setingkat dengannya, sampai ke Asy’syeh Abubakar bin Salim, kemudian Al Imam Syihabuddin, kemudian Al Imam Al Aidrus dan Syeh Ali bin Abibakar, kemudian Al Imam Asseggaf dan orang orang yang setingkat mereka dan yang diatas mereka, sampai keguru besar Al Fagih Almugoddam Muhammad bin Ali Ba’alawi Syaikhutthorigoh dan orang orang yang setingkat dengannya, sampai ke Imam Al Muhajir Ilalloh Ahmad bin Isa dan orang orang yang setingkat dengannya

Sejak abad 7 H di Hadramaut (Yaman), dengan keluasan ilmu, akhlak yang lembut, dan keberanian Imam Ahmad Al Muhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali Al Uraidhi bin Ja’far Ash Shodiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Husain ra beliau berhasil mengajak para pengikut Khawarij untuk menganut madzhab Syafi’i dalam fiqih dan Ahlus Sunnah wal jama’ah dalam akidah. Tidak sedikit dari kaum Khawarij yang dulunya bersifat brutal, akhirnya menyatakan taubat di hadapan beliau. Dan sebelum abad 7 H berakhir, madzhab Khawarij telah terhapus secara menyeluruh dari Hadramaut, dan Madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah diterima oleh seluruh penduduknya.

Di Hadramaut kini, akidah dan madzhab Imam Al Muhajir yang adalah Sunni Syafi’i, terus berkembang sampai sekarang, dan Hadramaut menjadi kiblat kaum sunni yang “ideal” terutama bagi kaum Alawiyin, karena kemutawatiran sanad serta kemurnian agama dan aqidahnya. Ini dapat dilihat bagaimana amalan mereka dalam bidang ibadah, yang tetap berpegang pada madzhab Syafi’i, seperti pengaruh yang telah mereka tinggalkan di Nusantara ini. Dalam bidang Tasawuf, meskipun ada nuansa Ghazali, namun di Hadramaut menemukan bentuknya yang khas, yaitu Tasawuf sunni salaf Alawiyin yang sejati

Dari Hadramaut (Yaman), anak cucu Imam Al Muhajir menjadi pelopor dakwah Islam sampai ke “ufuk Timur”, seperti di daratan India, kepulauan Melayu dan Indonesia.

Saat ini negeri muslimin terbesar di dunia adalah Indonesia , dan yang membawa Islam ke Indonesia adalah penduduk Yaman (yang datang pada abad ke – 16 dari Hadramaut dan juga ada yang melalui Gujarat), dari keluarga Al Hamid, As Saggaf , Al Habsy dan As Syathiry, Assegaf dan lain lain (masih banyak lagi para keluarga dzurriyat baginda Nabi saw, yang sampai kini masih terus berdakwah membimbing ummat di bumi Indonesia seperti: Al Aydrus, Al Attas, Al Muhdhor, Al Haddad, Al Jufri, Al Basyaiban, Al Baharun, Al Jamalullail, Al Bin Syihab, Al Hadi, Al Banahsan, Al Bin Syaikh Abu Bakar, Al Haddar, Al Bin Jindan, Al Musawa, Al Maulachila, Al Mauladdawilah, Al Bin Yahya, Al Hinduan, Al Aidid (–bukan Aidit–), Al Ba’bud, Al Qadri, Al Bin Syahab, dan lain lain) termasuk juga para Wali Songo, yang menyebar ke pedalaman – pedalaman Papua , Sulawesi, Pulau Jawa , mereka rela berdakwah dengan memainkan wayang mengenalkan kalimat syahadah , mereka berjuang dan berdakwah dengan kelembutan tanpa senjata , tanpa kekerasan, tanpa pasukan , tetapi mereka datang dengan kedamaian dan kebaikan. Juga ada yang ke daerah Afrika seperti Ethopia, sampai kepulauan Madagaskar. Dalam berdakwah, mereka tidak pernah bergeser dari asas keyakinannya yang berdasar Al Qur’an, As Sunnah, Ijma dan Qiyas.

Berhati-hatilah dalam memilih dan mengikuti hasil pemahaman (ijtihad) seorang ulama. Apalagi jika hasil pemahaman (ijtihad) ulama tersebut sering dikritik atau dibantah oleh banyak ulama lainnya. Jangan menimbulkan penyesalan di akhirat kelak karena salah mengikuti ulama.

Firman Allah ta’ala yang artinya,

“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.” (QS al Baqarah [2]: 166)

“Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (QS Al Baqarah [2]: 167)
(mutiarazuhud)