Ilmu syahadah adalah suatu ilmu yang paling tinggi didalam tingkatan pelajaran ilmu Allah yang dapat dikuasi oleh manusia. Ia merupakan martabat ilmu yang tertinggi. Ilmu ini adalah suatu ilmu makrifat dan syahadah secara sebenar-benar kepada Allah swt. Ilmu ini, Tuhan sendiri akan mengajar manusia mengenai diriNya. Dengan lain perkataan bolehlah ditegaskan disini bahwa ilmu syahadah adalah ilmu untuk menyatakan diri Allah itu sendiri. Hanya orang-orang yang mencapai martabat ilmu ghaib yang paling tinggi saja yang dapat menguasai ilmu syahadah ini.
Sedangkan Ilmu Ghaib dan Ilmu Syahadah tidak mungkin bisa dikuasai oleh orang-orang yang non muslim, ilmu ini hanya bisa dikuasai oleh orang Islam tapi mengapa orang Islam di zaman ini ketinggalan sekali disemua bidang ? pastilah ada penyebabnya………….!!!!!
Hal ini tidak terlepas dari beberapa faktor penyebab kelemahan umat Islam di zaman ini untuk menguasai thecnologi dan Ilmu Allah yang tinggi ini antara lain :
1. Jatuhnya beberapa kerajaan Islam termasyur di dunia misalnya : Kerajaan
Islam di Bakdad yang diserang oleh tentara Monghul yang menyebabkan :
• Banyak beberapa ulama tasauf dibunuh dan berkorban dalam peperangan
• Banyak kitab tasauf yang dibakar
• Banyak bangunan-bangunan/ gedung-gedung yang bertechnologi Islam tinggi dibakar dan dimusnahkan.
2. Timbulnya pertentangan antara ahli syari’at dengan ahli tasauf yang
menyebabkan ;
• Banyak para ahli tasauf yang dibunuh oleh golongan syari’at antara lain ahli tasauf termasyur bernama Khalat.
• Banyak ahli-ahli tasauf yang difitnah dan dikatakan membawa ajaran sesat
• Para ahli syari’at mendakwa dan menyebarkan isu bahwa ilmu tasauf, ilmu para wali dan orang awam tidak perlu mempelajarinya, orang awam cukup belajar masalah dosa dan pahala saja.
3. Banyak dikalangan ahli tasauf bersikap pengecut, malu untuk berterus
terang dan membuka ilmunya kepada masyarakat dengan dalih rahasia sehingga masyarakat dan generasi muda banyak yang awam atau buta tentang ilmu ini
4. Kurangnya minat umat islam untuk mempelajari. Mendalami ilmu tasauf
karena dianggap sulit dan yang mempelajarinya bisa gila, karena masyarakat menganggap ilmu ini aneh.
Empat faktor inilah yang menyebabkan ilmu tasauf dizaman sekarang ini tidak dapat dikuasai oleh umat islam.
Beruntunglah orang yang dapat menguasai ilmu ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Hasyr : 22
“Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang” (Q.S. Al- Hasyr : 22)
Jika ilmu qalam diajar guru zahir dan ilmu ghaib diajar oleh guru-guru ghaib maka ilmu syahadah hanya boleh diajar oleh guru batin saja yaitu diri batin kita sendiri yang telah mencapai makrifat kepada Allah. Dengan lain perkataan Tuhan sajalah yang mengajar diri kita akan rahasia ilmu ini.
Memang hanya orang-orang pilihanNYA yang dapat mencapai tingkat penguasaan ilmu yang demikian. Sebab untuk dapat menguasai ilmu-ilmu tersebut (ilmu ghaib) seseorang perlu menyucikan jiwanya dengan mengamalkan kaedah-kaedah tarekat. Yaitu jalan menuju kepada Allah SWT dan dengan cara jalan mengenal diri mengikut kaedah-kaedah tasawuf atau jalan-jalan orang sufi.
Orang yang mencapai tingkat ilmu seperti itu terlebih dahulu telah membersihkan diri dan jiwa raganya. Makin suci hati seseorang itu dengan Allah semakin tinggilah tahap penerimaan ilmu ghaib ini.
Firman Allah dalam AlQuran, Surah Attaghaabun ayat 11 yang bermaksud: “Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan petunjuk kepada hatinya. Allah Maha Mengetahui setiap sesuatu”.
Penguasaan ilmu yang sedemikian luas dan mendalam tersebut InsyaAllah terjadi bagi siapapun yang telah sampai makrifah kepada Allah.
Sebagaimana perkataan Arifin Billah:
“Barang siapa yang telah mengenal Allah, maka tidak ada sesuatu apapun yang tersembunyi baginya”.
Allah akan memberikan anugerah kepada mereka Ilmu Ladunni, yaitu ilmu yang diilhamkan oleh Allah kedalam hati hambanya dengan tanpa perantaraan. Ilmu ini akan tetap bersemayam, tidak akan hilang dan tidak akan lupa.
Menurut Abu Yazid Al Busthami dan para masayikh lainnya, orang yang mempunyai ilmu yang demikian itu adalah orang yang alim sebenarnya. Bukannya orang yang alim itu adalah orang yang proses mendapatkan ilmunya dengan cara menghafal dari kitab-kitab, apabila yang dihafalkan lupa, maka dia bodoh dan tidak mengerti.
Sesungguhnya orang yang alim adalah orang yang mengambil ilmunya langsung dari Tuhannya, pada waktu yang dikehendaki dengan tiada sebab menghafalkan dan belajar, maka orang yang demikian itu di sebut Al-Alim Al-Robbany. Sebagaimana telah diisyaratkan didalam firman Allah dalam Al Qur’an:
“Kami telah memberikan pengetahuan (kepadanya) berupa ilmu dari sisi-Ku”
Maksudnya adalah tanpa wasitoh (perantaraan) apapun dalam mendapatkan ilmu. Apabila dalam mendapatkan ilmu dengan proses belajar kepada makhluk, maka tidak disebut ilmu ladunni. Karena ilmu ladunni itu terbuka di dalam sir hati tanpa ada sebab yang menghasilkan dalam kenyataannya.
Adapun pada maqam ini, akan melihat segala hal baik yang dlahir maupun yang batin, dan akan terbuka segala hakikat sesuatu dengan cahaya yang nyata yang telah dianugerahkan Allah, tiada terlindung seberat zarrah pun segala alam ini dengan sesuatu yang sesuai dengan keadaannya, dan sesuai anugerah Allah yang diberikan kepadanya. Yang demikian itu, tidak dapat dicari dan tidak dapat dikehendaki oleh siapapun, seperti penjelasan dalam Al Qur’an:
“Sekalian kami anugerahi mereka dan mereka mendapatkan dari pemberian Tuhanmu, dan pemberian Tuhanmu tiada terhalang”
Dan pada maqam ini, mereka mendengar akan segala perintah, baik melalui lidah batin maupun lahir, yaitu khatir di dalam hatinya, baik itu dari tempat yang jauh maupun di balik gunung qaf sekalipun, semua seruan atau perintah dapat didengarnya, karena pendengarannya meliputi alam semesta. Dan diterangkan dalam hadits bahwasanya alam semesta ini ada pada genggaman para Auliya’ seperti telapak kaki jua dengan semata-mata anugerah Allah dan Rahmat-Nya.
Sesungguhnya ilmu hakekat dan ilmu makrifat adalah ilmu rasa..
Setakat hendak rasa saja belum cukup…
Mesti nak kena ada rasa dalam rasa itu…
Dan sebenarnya manusia itu tiada rasa…
Hanya Allah lah yang memberi rasa...
Kerana DIA yang punya rasa…
Sabda Nabi saw
Sampaikan ajaranku walaupun satu ayat. (At-Termize)
“Insan adalah rahsia-Ku dan Aku rahsianya. Pengetahuan batin tentang hakikat roh adalah rahsia kepada rahsia-rahsia-Ku. Aku campakkan ke dalam hati hamba-hamba-Ku yang baik-baik dan tiada siapa tahu Keadaannya melainkan Aku.” “Aku adalah sebagaimana hamba-Ku mengenali Daku. Bila dia mencari-Ku dan ingat kepada-Ku, Aku besertanya. Jika dia mencari-Ku di dalam, Aku mendapatkannya dengan Zat-Ku. Jika dia ingat dan menyebut-Ku di dalam jemaah yang baik, Aku ingat dan menyebutnya di dalam jemaah yang lebih baik”.
Syeikh Zainal Abidin bin Muhammad al-Fatani
Telah berkata al-Allamah al-Alimah al-Fahimah Syeikh Zainal Abidin bin Muhammad al-Fatani dalam kitab Aqidatun Najin Fi Ilmi Usuluddin pada m/s 85-86,
“Faidatun, ini suatu faedah, adalah setengah daripada negeri Jawi banyak kedatangan bala’ dan fitnah amat besar pada membinasakan agama Islam dan beberapa manusia yang sudah murtad, masuk agama kafir, istimewa pula kebanyakkan orang yang jahil yang mendakwa dirinya alim lagi sufi yang mengajar ia akan manusia akan ilmu batin (keyakinan ghaib atau tauhid), maka yang benarnya tiada yang dinamakan dia sufi, hanya dinamakan dia kafir dan mulhid.
Maka murad (yang dikehendaki) daripada jahil itu orang yang tiada mengenal ia akan iktiqad yang sebenar seperti tiada dapat dibezakan akannya iktiqad Ahlusunnah dan antara iktiqad Jabariyah dan Qadariah, istimewa pula jahil ia akan barang yang wajib bagi Allah dan barang yang mustahil atas-Nya dan barang yang harus bagi-Nya.
Dan jika tiada mengenal akan sifat Ketuhanan, maka betapa boleh ia tawajjih (mengenal) kepada Tuhan yang ia tiada kenal-Nya sekali-kali. Maka setengah daripada mereka itu yang mendakwa akan sekalian makhluk ini sifat Allah, maka tiadakah ia masuk kepada kafir dan meninggalkan yang sebenarnya dan jikalau benar pada ta’wil mereka itu sekalipun, tiada sunyi daripada jatuh didalam bida’ah yang haram lagi dosa besar kerana perkataan yang demikian itu syubahat dan banyaklah pengajaran yang mengkhilaf/bersalahan dengan syariat Muhammadiyah (yakni syariat ummat Muhammad saw, bukan Muhammadiyyah Wahabi”.
Syeikh Zainal Abidin bin Muhammad al-Fatani juga menyatakan pada kitab yang sama, pada m/s 13, 14 baris daripada atas,
“Syahdan, telah berkata ulama’: “Haram belajar ilmu usuluddin daripada orang yang tiada mahir ilmunya dan tiada mengambil daripada gurunya, maka adalah pada zaman sekarang ini beberapa daripada manusia yang mendakwa dirinya alim yang mengajar ia akan manusia yang awam dengan pengajaran yang menyesatkan hamba Allah.
Dan setengah daripada mereka itu yang berpegang dengan ayat al-Quran yang mutasyabihat/samar atau sunnah yang mutasyabihat, pada hal tiada dilintangkan dengan quwati’ aqliyah (pemutus hukum akal) dan naqliyah yang muhkamat/terang, tetapi mengambil mereka itu dengan zahir ayat yang mutasyabihat.
Maka jadi jahat mereka itu pada laut kafir. Maka sesat mereka itu dan menyesatkan mereka itu akan manusia yang awam, A’uzubillah min zalik. Maka adalah mereka itu seperti dajjal atau terlebih jahat lagi daripada dajjal”.
RAWATAN PENYAKIT KRONIK & MISTERI
Thursday, February 16, 2012
TAUHID MENENTANG SYIRIK DALAM FAHAMAN DAN AMALAN
OLEH: MUHAMMAD ‘UTHMAN EL-MUHAMMADY
Insha’ Allah dalam nota ringkas ini akan dibicarakan pengertian tauhid dan ciri-cirinya, aspek-aspek fahaman dan amalan yang timbul daripadanya, samaada pada paras individu atau kolektif; demikian pula akan dibicarakan kesyirikan dengan pengertian-pengertian dan ciri-cirinya dalam fahaman dan amalan dari perspektif epistemologi Islam Sunni sebagai hakikat yang berlawanan dengan tauhid.Akan dibicarakan bagaimana ini semua memberi kesan dalam individu manusia dan kehidupannya.
Tauhid Dalam Fahaman
Tauhid berdasarkan kepada “la ilaha illa’ Llah, Muhammadur-Rasulullah”: “Tidak ada tuhan yang wajib disembah dengan sebenarnya melainkan Allah, dan Muhammad adalah Rasulullah”. Atau “asyhadu an la ilaha illa’Llah, wa asyhadu anna Muhammadar-Rasulullah”: “Aku menyaksikan bahawa tiada tuhan yang wajib disembah dengan sebenarnya melainkan Allah dan aku menyaksikan bahawa Muhammad adalah Rasulullah”. Ianya diwajibkan dalam ayat, antaranya, yang bermaksud: "Ketahuilah bahawa tiada tuhan melainkan Allah …". (Surah Muhammad: Ayat 19).
Penyaksian itu adalah hasil daripada keyakinan iman tanpa syak dan ragu tentang hakikat keTuhanan yang Maha Esa, yang merupakan paksi bagi segalanya. Keyakinan ini datang daripada ilmu dan juga kesedaran batin orang yang berkenaan yang disebutkan sebagai ilmul-yakin, atau ‘ainul-yaqin atau haqqul-yaqin. Ilmul-yaqin datang daripada tahap keyakinan yang timbul daripada ilmu berkenaan dengan kebenaran tauhid hasil daripada pengetahuannya, dengan berdasarkan bokti-bokti, samaada yang berifat nakli atau akli atau intelektuil. ‘Ainul-yaqin timbul daripada tahap tertentu dalam kesedaran batin berkenaan dengan hakikat tauhid. Haqqul-yaqin merujuk kepada pengenalan hakikat tauhid berdasarkan kepada “penyaksian batin” - musyahadah - tentang kebenaran itu yang tidak meninggalkan apa-apa keraguan lagi.
Keimanan tentang ketauhidan ini berkembang menjadi keimanan terhadap “rukun-rukun iman” yang lain- keimanan tentang para malaikat dengan tugas-tugasnya, para rasul a.s.s. dengan tugas-tugas mereka, kitab samawi dengan ajaran-ajarannya, terakhir ialah al-Qur’anul-Karim, tentang akhirat dan akhirnya qadha’ dan qadar.Semuanya dihuraikan oleh para ulama Ahlis-Sunnah dalam teks-teks usulud-din mereka, Allah memberi rahmat kepada mereka.
Keimanan terhadap Allah dan mentauhidkannya dengan huraian-huraian tentang sifat-sifatNya yang tidak terkira, dan kemudian dibicarakan sebagai kunci kepada pengenalanNya dua puluh sifat atau tiga belas, itu berdasarkan dalil-dalil akal atau dalil nakal, yang kita tidak bicarakan secara terperinci di sini. Bagaimanapun memadailah kalau kita sebutkan sifat-sifat itu - untuk memperbaharukan ingatan kita tentangnya - sebagai wujud, qidam atau sediakala, baqa’ atau kekal, menyalahi sekelian makhluk, berdiri sendiri, esa, hayat atau hidup, ilmu, qudrat atau kuasa, kehendak, mendengar, melihat, dan berkata-kata yang semuanya dirumuskan ulama berdasarkan Qur’an dan Sunnah, bukan sebagaimana dituduh oleh setengah pihak,daripada falsafah Yunani Purba; kemudian ditambah dengan perbincangan tentang sifat-sifat hal keadaanNya hidup, berilmu, berkuasa, berkehendak, mendengar, melihat dan berkata-kata.
Perbincangan tentang mentauhidkan Allah juga dilakukan dengan membicarakan nama-namaNya yang sembilan puluh sembilan itu dengan menyebut nama-namaNya: Allah, ar-Rahman, ar-Rahim, al-Malik, al-Quddus, as-Salam, al-Mu’min, al-Muhaimin, al-‘Aziz, al-Jabbar, al-Mutakabbir, dan seterusnya dengan huraian-huraian maknanya sebagaimana yang ada misalnya dalam “Tafsir al-Jamal” dalam huraiannya berkenaan dengan maksud ayat yang bererti: "Dan bagi Allah Sifat-Sifat Yang Paling Indah, maka kamu serulah Ia dengan menyebutnya …".
Mentauhidkan Allah dan beriman kepada rukun-rukun iman yang lainnya sebagai natijah daripada beriman kepada ketauhidan Allah itu menimbulkan kesan dalam kehidupan manusia yang disebut dalam setengah hadith sebagai “cawangan-cawangan iman” (‘shu’ab al-iman’).Sebagai contoh dalam “Fathul-Bari” dihuraikan hadith:
الايمان بضع وستون شعبة والحياء شعبة من الايمان
Yang bermaksud: “Iman ada enam puluh lebih cawangannya, dan malu bertempat adalah satu cawangan daripada keimanan”.
Dalam hadith sahih riwayat Bukhari yang lain dinyatakan keimanan itu lebih daripada tujuh puluh cawangan, dan yang tertingginya ialah mengucap “tiada tuhan melainkan Allah”, yang paling rendah sekali ialah membuang duri atau sesuatu yang menyakitkan dari jalan.
Dalam “Fahul-Bari” dalam memberi huraian berkenaan dengan “cawangan-cawangan” iman hasil daripada tauhid dan keyakikan iman, pengarangnya membahagikan kesan-kesan itu kepada beberapa bahagian seperti “amalan-amalan hati”. Dinyatakannya bahawa amalan-amalan hati terdiri daripada: keimanan terhadap Allah, para malaikatNya, kitab-kitabNya, para rasulNya, QadarNya, Hari Akhirat. Alam Kubur, Bangkit sesudah mati, Berhimpun di Akhirat, Hitungan amal, Neraca Timbangan Amal, Titian Sirat, Syurga, Neraka; kasih dan benci kerana Allah, kasihkan rasul, iktikad tentang keagungan Rasul dan kemuliannya, berselawat terhadapnya, mengikut sunnahnya, mengamallkan sifat ikhlas dalam amalan, tidak bersikap riya dalam amalan, meninggalkan kemunafikan, bertaubat, takut kepada Allah, berharap kepadaNya, bersyukur kepadaNya, menunaikan janji dan amanah semuanya, sabar, redha dengan ketetapan dan hukumNya, bertawakkal kepadaNya, bersikap dengan sifat kasih sayang (rahmah), tawadhu’, memuliakan orang tua, kasihkan orang muda,tidak takabur, tidak ‘ujub, tidak hasad dengki, tidak berdendam, tidak marah bukan pada tempatnya.
“Amalan lidah” terdiri daripada: berlafaz dengan kalimah tauhid, membaca Qur’an, mempelajari ilmu, mengajarkan ilmu, berdo’a, berzikir mengingat dan menyebut nama-nama Allah, beristighfar,dan menjauhi perbuatan dan percakapan yang sia-sia (ijtinab al-laghw).
“Amalan badan” disebutkan:berada dalam keadaan suci bersih dari segi lahir dan pada hukumnya, menjauhi najis-najis, menutup aurat, melakukan sembahyang yang wajib dan sunat, juga menunaikan zakat, membebaskan hamba abdi (boleh dikiaskan dengan keadaan moden dengan “hamba-hamba abdi ekonomi” dan sebagainya), mengamalkan sifat pemurah (al-jud), memberi makan kepada mereka yang memerlukannya, memuliakan para dhif, melakukan puasa yang wajib dan sunatnya, demikian pula menunaikan haji, dan umrahnya, melakukan tawaf, dan beriktikaf, berusaha untuk menghayati malam lailatul-qadar, berpindah untuk menyelamatkan agama bila itu dituntut oleh agama, berhijrah dari negeri syirik (dengan syarat-syaratnya), menunaikan nazar, bersungguh-sunguh menjaga iman dengan teguhnya, menunaikan kaffarah, mengawal diri daripada kejahatan dengan berkahwin, melaksanakan hak-hak keluarga, mentaati para ketua dan bersikap lemah lembut kepada para hamba (termasuk orang-orang bawahan).
Berkenaan dengan kehidupan dan pergaulan dengan orang ramai: mengikut jama’ah Muslimin, mentaati waliyul-amri, mendamaikan mereka yang berkelahi, berperang melawan mereka yang memberontak dan golongan Khawarij (yang menentang waliyul-amri), bertolong-bantu dalam melakukan kebaikan, menyuruh perkara-perkara yang baik dan melarang perkara-perkara yang mungkar, mengamalkan aturan-aturan jenayah berat mengikut Islam, melakukan jihad, termasuk ke dalamnya menjaga sempadan untuk menyelamatkannya daripada para seteru, menunaikan amanah-amanah, termasuk menunaikan “khumus” (dari rampasan perang), memberi orang berhutang, dan membayar hutang, memuliakan tamu, bergaul dengan akhlak yang baik (‘husn al-mu’amalah’), termasuk ke dalamnya menghimpunkan harta dari punca-punca yang halal, membelanjakan harta pada tempatnya yang hak, tidak bersikap membazir, dan tidak melampau-lampau dalam perbelanjaan (termasuk kalau sekarang “conspicuous consumerism”: berbelanja kerana menunjuk-nunjuk bukan kerana keperluan yang menasabah), menjawab orang memberi salam, mendoakan orang yang bersin, menahan diri daripada menyakiti orang lain, menjauhkan diri daripada kesia-siaan, membuang duri (atau apa-apa yang memudaratkan) dari jalan.
Beliau menyatakan mungkin cawangannya itu tujuh puluh sembilan sifat dengan mengambil kira menceraikan setengah daripada apa yang digandingkan dan tidak diasingkan.
Amalan-amalan, sifat-sifat serta sikap yang timbul itu semuanya daripada ketauhidan kepada Allah yang ada dalam diri manusia. Kesannya jelas kelihatan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat serta negara dan umat bila ketauhidan itu mantap.
Kesan Tauhid Dalam Fahaman Orang Yang Beriman:
Kalau dilihat dari segi yang berbeza, boleh disebutkan bahawa implikasi tauhid ke atas manusia dan kehidupannya boleh dilihat dari beberapa segi, antaranya ialah:
Dari segi fahamannya tauhid memaksudkan bahawa yang diyakini sebagai kebenaran tanpa tara ialah Keesaan Allah; tidak ada syak dan ragu lagi padanya. Buktinya samaada yang bersifat akli atau nakli menjadi dalil tentang kebenarannya; dalil dari pengalaman dan kesedaran batin itu merupakan bukti yang paling kuat untuk diri seseorang berpegang kepada kebenarannya. Itulah maksud tertinggi dari ayat yang bererti: "Ini adalah jalanku; aku menyeru manusia kepada Allah berdasarkan kepada 'basirah' (dalil yang nyata) ataupun pemandangan matahati, aku dan mereka yang mengikutku". (Surah Yusuf: Ayat 108). Ini memberi paksi kepada manusia, peribadi, dan hidup serta tamadunnya. Ini boleh dimisalkan sebagai adanya tempat duduki yang tetap dan teguh, tidak kucar kacir, bukan tidak stabil.
Sebagai contoh kita boleh sebutkan bagaimana kita ini tetap atas kerusi, kerusi tetap demikian kerana ada lantai bangunan, bangunan itu tetap atas asasnya, asas bangunan itu tetap kerana ada bumi yang tetap, bumi tetap kerana ianya berada dalam sistem solar yang dengan gravitinya dan lain-lainnya menyebabkan ia tetap.Demikianlah manusia merasa tetap teguh dengan keyakinannya kepada tauhid; dengannya ia merasa tetap ada tempat berpijak bagi jiwa, hati dan akalnya.
Tauhid pada fahaman juga memaksudkan bahawa yang disembah dengan sebenarnya hanyalah Allah Yang Esa sahaja, tidak ada yang lain lagi. Penyembahan dalam erti pengabdian - ‘ubudiyyah - hanyalah untuk Allah sebagaimana yangg dinyatakan dalam al-Fatihah, “Engkaulah sahaja Yang kami sembah, dan kepada Engkalah sahaja kami meminta pertolongan”. Hakikat ini ternyata dalam ayat yang bermaksud: "Tidak Aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk beribadat kepadaKu".
Fahaman tauhid yang mendalam menyebabkan tidak ada lagi kuasa-kuasa lain yang dinisbahkan Kuasa Tuhan padanya; hilang takhyul, fahaman syirik, dan sihir, hilang amalan bernujum yang disalahkan Syara’, dan hilang pemujaan yang dilarang Syara’ terhadap jin-jin dan lain-lainnya. Termasuk hilang pemujaan kepada perkara-perkara maknawi seperti akal, kecerdasan manusia, atau mana-mana aspek kepandaian atau ilmu manusia.Semuanya natijah daripada keyakinan terhadap KeEsaan Allah.
Tauhid pada fahaman ini memberi kepada insan matlamat hidup yang terakhir yang memberi makna kepada segala kegiatan. Manusia yang beriman kepada tauhid bertugas dan berusaha dalam konteks mencari keredhaan Allah di dunia ini, yang membawa kepada kebahagiaan yang kekal abadi. Ini jelas dalam pembacaan doa si mukmin selepas daripada takbir sembahyang, iaitu do’a yang bermaksud: "Sesungguhnya sembahyangku, pengorbananku, hidupku (termasuk perjuanganku, profesiku, perlaksanaan tugasku) adalah bagi Allah Tuhan Yang mentadbir sekelian alam". Dengan ini tidak ada kekosongan atau kehilangan makna - “loss of meaning” - dalam hidupnya. Semuanya mendapat makna dalam konteks mencari keredhaan Tuhan. Dalam konteks seperti inilah Nabi s.a.w. menyatakan keheranannya tentang hidup si mukmin sampaikan bila kakinya terkena duripun ada mempunyai makna. Penyakit “kehilangan makna” tidak akan berlaku atas si mukmin yang berkesan keimanannya dalam membentuk jiwa dan kablbunya.
Keimanan tentang tauhid menjadikan si mukmin tidak putus asa dalam hidupnya walau bagaimamanapun teruknya cabaran yang dihadapi dan walau bagaimana negatifnya suasana yang dihadapi, sehinggakan kalau dilihat dari segi perkiraan duniawi tidak ada apa-apa yang boleh dilakukan sekalipun, ia tidak berputus asa. Inilah antaranya yang dimaksudkan oleh ayat Qur’an yang bermaksud “Jangan kamu berputus asa daripada pertolongan Allah, sesungguhnya tidak berputus asa daripada rahmat (atau pertolongan) Allah melainkan orang-orang kafir” (Surah Yusuf: Ayat 87). Di sinilah tauhid memberi asas kepada aksiologi si mukmin, sehingga sistem nilainya lengkap dan tinggi.
Aksiologi Daripada al-Asma’-al-Husna:
Tauhid pada fahaman menjadikan insan yang yakin kepada tauhid itu mendapat "peta" pembangungan peribadinya pada “Diri Tuhan Sendiri Dengan Sifat-SifatNya Yang Maha Sempurna dan Nama-NamaNya Yang Maha Indah” (al-Kamalat wa’l-Asma’ al-Husna). Maksudnya, sebagaimana yang dihuraikan antaranya dalam “Tafsir al-Jamal” dalam hubungan dengan hadith Tirmidi yang bermaksud: “Tuhanmu mempunyai sembilan puluh sembilan Nama, maka sesiapa yang membilangnya ia masyuk ke dalam Syurga”. Maksudnya, antaranya, dihuraikan bahawa hendaklah insan yang beriman itu menjadikan peribadinya terbentuk mengikut pengajaran yang boleh didapati daripada maksud nama-nama Tuhannya.
Misalnya kalau Allah bersifat dengan sifat Kasihan Belas - dengan NamaNya al-Rahim - maka si mukmin sebagai hamba Tuhannya hendaklah bersifat dengan sifat kasihan belas pada paras manusiawinya. Dengan itu maka ia “hampir” kepada Tuhannya melalui sifat itu. Dengan itu ianya lebih hampir kepada kesempurnaannya sebagai manusia yang beriman. Kalau Tuhan bernama al-Malik - Raja dengan sifat-sifatNya sesuai dengan Nama “al-Malik” itu, maka hendaklah si hamba membentuk peribadi sesuai dengan kedudukan sebagai ”raja” yang menguasai dirinya supaya taat kepada Tuhan dan menjalankan KehendakNya, jangan membiarkan dirinya menjadi rendah dan berkhidmat kepada Setan. Kalau Allah bernama al-‘Alim - Yang Maha Mengetahui - maka manusia yang beriman hendaklah membentuk dirinya menjadi orang yang berilmu, yang mengenal Tuhannya, ajaran Tuhannya, dan mengetahui ilmu-ilmu lain dalam konteks ketauhidan Tuhannya serta mengetahui ilmu-ilmu untuk menjadikan dirinya dan hidupnya bermaruah dalam dunia ini. Dengan itu jadilah ianya hampir kepada Tuhannya melalui sifatnya berilmu itu.Kalau dikiaskan kepada bangsa, maka bangsa itu bangsa yang berilmu yang martabatnya mulia kerana ilmunya. Di sini keimanan kepada Tauhid membawa implikasi dalam bidang epistemologi atau faham ilmu dan aksiologi atau faham nilai yang sangat diperlukan kejelasannya.
Di sini kita lihat bagaimana kepentingan ilmu diberikan perhatian yang sangat pokok oleh para ulama Islam, seperti Imam al-Ghazali rd dan Ibn Khaldun rh antara yang sekian ramai itu. Dan Ibn Khaldun rh menghendaki supaya ahli ilmu itu mencapai kemahiran yang memuncak dalam bidang ilmunya sampai menjadi sebagai sepertri tabiat yang kedua bagi dirinya, seolah-olah seperti terbang burung di angkasa dan bernang ikan dalam air. Kata-kata bandingan itu bukan dari Ibn Khaldun tetapi dari penulis ini. Beliau menggunakan istilah “malakah” untuk mengungkapkan kemahiran tertinggi dalam ilmu itu.
Sebab sedemikian pentingnya ilmu ini maka Imam al-Ghazali rd menghuraikan bagaimana ahli ilmu yang berkhidmat dengan baik dalam pengembangan ilmunya berdamping diri dengan Tuhan - bertaqarrub- melalui kegiatannya itu; demikian pula pelajar yang mempalajari ilmu yang berguna - ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum kerana Tuhan dan kerana berkhidmat kepada umat dalam fardhu kifayah - bertaqarrub kepada Tuhan dalam kegiatan pembelajarannya.
Selain dari itu beliau menghuraikan bagaimana dalam konteks tauhid semuanya berkhidmat kepada Tuhan, mulai daripada ahli ibadat semata (‘abid), sampai kepada pengajar ilmu, penuntut ilmu, petugas menjaga keluarga (muhtarif), peribadi yang berkhidmat untuk masyarakat (walin), dan ahli tauhid taraf tertinggi yang tenggelam dalam pengalaman tauhidnya yang memuncak (muwahhid) semuanya berfungsi dalam menjayakan tauhid dalam hidupnya masing-masing - mulai dari orang biasa sampai kepada petugas masyarakat dan penjaga keluarga juga ahli rohaniah yang tertinmggi sekali dalam umat.Dalam konteks masyarakat moden kitra boleh kiaskan mereka yang terlibat di dalamnya dengan tugas-tugas mereka masing-masing.
Kalau Tuhan bernama dengan nama as-Sattar - Yang menutup aib hambanya, kemudian di akhirat bila ia beruntung Ia ampunkan aib itu- maka hendaklah si mukmin itu menutup aib jirannya dan kenalannya supaya dengan itu aib dirinya tidak di"buka" oleh Tuhan di hadapan sekalian makhluk di Akhirat nanti. Allahumma salimna.
Kalau Tuhan bernama al-Mutakabbir - Yang membesarkan DiriNya, Yang Takburr, kerana Ia berhak dengan perbuatan demikian - maka hendaklah si mukmin berendah diri kepada Tuhannya dan kepada sekelian mukminin, tetapi bertakabur dengan Setan supaya dengan itu ia tidak membiarkan dirinya menjadi “khadam” kepada Setan, yang meruntuhkan kemuliaan dirinya, sampai dirinya akan menjadi “yang sehina-hinanya”.
Dengan ini si hamba mempunyai sifat kemuliaan diri atau harga diri yang sebaiknya sebagai khalifah Tuhan di bumi dan hambaNya.
Bila Tuhan bernama dengan Nama an-Nafi’ - Yang Memberi Menfaat kepada sekalian akhlukNya - maka si mukmin hendaklah membentuk peribadi sebagai orang yang mendatangkan kemanafaatan kepada orang lain, bukan sebaliknya. Ini jelas pula daripada hadith Nabi s.a.w. yang bermaksud: "Manusia yang sebaik-baiknya ialah orang yang paling mendatangkan faedah kepada manusia".
Kalau Allah bernama dengan Nama al-Muhaimin - Yang Menjaga - maka para hamba hendaklah pada paras manusawinya menjadi penjaga sekalian yang mesti dijaga dirinya, keluarganya, bangsanya, umatnya, agamanya, demikian seterusnya dan janganlah ia menjadi perosak. Demikianlah apa yang disebut sebagai “bahagian hamba” - hazz al-‘abd - oleh pengarang “Tafsir al-Jamal” dalam hubungan dengan Nama-Nama Allah yang menjadi penentu dalam hidupnya dari segi metafisikanya, faham alamnya, aksiologi atau faham nilainya, epistemologi atau faham ilmunya.
Tauhid Dalam Amalan:
Bila kita menjurus kepada amalan, maka tauhid menjadikan manusia itu menunaikan ibadatnya, seperti sembahyangnya - sebab itu pengabdian kemuncak, terlambang dengan hakikat ianya dikurniakan waktu mi’raj Rasul s.a.w. - puasanya, zakatnya, hajinya, nazarnya, kafarahnya, membaca Qur’an, wirid dan zikirnya, do’anya, bahkan, sebagaimana yang diajarkan oleh Imam al-Ghazali rd dalam "Ihya’"nya, “Hendaklah semua gerak-geri hidup kamu dan diam kamu menjadi ibadat atau penolong kepada ibadat kepada Tuhan,” sampaikan Imam utama ini rd menyatakan bahawa bermainpun biarlah berlaku dalam konteks pengabdian atau ibadat kepada Tuhan!
Tauhid pada amalan menyebabkan manusia berakhlak dengan akhlak yang mulia seperti bersifat benar, amanah, ikhlas, kasihan belas, bertimbang rasa, bersaudara, berkasih sayang dalam keluarga dan masyarakat, bermaaf-maafan bukan berdendam, pemurah bukan bakhil dalam kebajikan, bukan membazir, bukan melampau dalam berbelanja,berhemat dan cermat, bukan hanya waktu ekonomi gawat sahaja, menjaga perpaduan bukan mengusahakan perpecahan, apa lagi dalam umat menghadapi ancaman, berkerjasama dalam kebajikan, iaitu berkerjasama dalam keluarga, dalam masyarakat, bangsa dan umat, antara rakyat dengan rakyat, antara rakyat dengan pihak penganjur, berkerjasama antara ulama, cendekiawan, para pemimpin, hartawan dan orang awam. Bersifat gigih dan bersungguh-sungguh dalam melakukan kebaikan dan jasa kepada manusia semuanya.
Tauhid menyebabkan berlaku perpaduan dalam keluarga dan timbulnya keluarga bahagia dan perkasa yang membantu dalam membina masyarakat yang beradab, berilmu, dan perkasa dengan amalan-amalan “budaya perkasa” atau “strong culture”. Ini boleh dikaitkan dengan kata-kata terkenal “Hidup bersendikan adat, adat bersendikan Syara’ dan Syara’ bersendikan Kitab” yang melambangkan kesepaduan hidup ketamadunan yang terbimbing oleh wahyu dan ajaran agama dengan dibantu oleh keupayaan dan akal manusiawi.
Tauhid dalam amalan ditimbulkan dalam hidup manusia dengan penuh ketaatan kepada Kehendak Tuhan yang terjelma dalam ketaatan kepada Hukum Syara’Nya dalam ibadatnya, hidup keluarganya, mu’amalahnya, hidup kenegaraannya, budayanya, ilmu pengetahuan dan sainsnya, teknologi dan penyelidikan serta maklumatnya. Ketaatan kepada Tuhan dalam semua perkara inilah merupakan manifestasi tauhid dalam tamadun manusia selain daripada tauhid yang nyata dalam hidup peribadi dan keluarga serta masyarakatnya. Adanya kederhakaan dalam masyarakat manusia - kerana dunia bukan akhirat- adalah kerana kelemahan-kelemahan manusiawi - “human failings” - bukan kerana agamaa bukan praktikal atau “above human”. Sebagaimana yang dijelaskan dalam al-Qur’an dalam ayat yang bermaksud “Tuhan tidak membebankan diri manusia melainkan setakat apa yang termampu olehnya”, dan dalam konteks yang lain Allah berfirman, maksudnya “Allah tidak membebankan sesuatu diri manusia melainkan daripada apa yang dikurniakan kepadanya (daripada Ni’matNya)”.
Tauhid pada amalan membawa manusia membina hidup ketamadunan mengikut apa yang diajarkan oleh Tuhan dalam budaya ilmunya, siasahnya, ekonominya, hidup kemasyarakatannya, keseniannya dan budayanya, perang dan damainya. Penyelewengan-penyelewengan yang berlaku adalah kerana kelemahan-kelemahan manusiawi dari segi individu dan kelompoknya. Agama datang untuk menyembuhkan manusia dan tamadun daripada “kelemahan-kelemahan manusiawinya” bukannya untuk mengazabkan manusia atau menghalangnya bersuka-suka secara rasional dan menasabah serta sejahtera dalam dunia ini.
Sebab itu dalam sejarah dan realiti kehidupan mengikut kadar yang berbeza-beza tauhid dan prinsipnya terbayang dalam hidup mereka yang beriman dalam keyakinannya kepada tauhid, ibadatnya, hidup akhlaknya, keluarganya, mayarakatnya, dan umatnya. Terbayang hakikat ini dalam sistem ilmunya - hubungan harmonis antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umumnya sebagaimana yang terbayang dalam huraian Ibn Khaldun rh dalam “al-Muqaddimahnya”, dalam persuratan Islam, seni benanya, perancangan bandarnya, serta keharmonian antara alam tabi’I dan alam binaan manusia (“human built environment”).
Al-Marhum Prof Ismail Raji al-Faruqi dalam buku terkenalnya “Tawhid: Its Implications For Thought and Life” berbicara dengan meluasnya aspek-aspek dan implikasi tauhid ini dengan menyebut tentang tauhid sebagai inti pengenalan agama, sebagai intisari Islam, sebagai prinsip sejarah, prinsip metafisika, prinsip etika, susunan sosial, prinsip ummah, prinsip keluarga, prinsip susunan siasah, prinsip susunan ekonomi, prinsip susunan hidup seluruh dunia, serta prinsip estetika.
Kesyirikan Yang Bercanggah Dengan Tauhid Pada Fahaman
Dilihat dari segi fahamannya, kesyirikan ialah menisbahkan kuasa atau Sifat-sifat Tuhan kepada makhluk-makhluk atau kuasa-kuasa selain daripada Allah Tuhan Yang Sebenarnya.
Kesyirikan bermakna menyembah yang selain daripada Allah atau kuasa-kuasa yang selain daripadanya; atau memuja yang lain selain daripadanya sebagaimana Ianya disembah dan dipuja, atau sebagaimana IaNya dimuliakan dan disanjungi. Ini disebutkan sebagai syirik yang besar dan nyata (syirik akbar atau syirik jaliy). Syirik ini kalau orang yang berkenaan tidak bertaubat daripadanya, ia akan menyebabkan azab yang berkekalan. Nau’udhu billahi min dhalik.
Syirik yang satu lagi ialah syirik kecil atau syirik yang tersembunyi (syirik asghar atau syirik khafy). Syirik kecil ialah syirik dalam erti misalnya melakukan kebaikan kerana lain daripada berniat mencari keredhaan Tuhan, seperti seseorang melakukan ibadat kerana hendak mencari pengaruh; atau memberi sedekah dengan niat supaya disanjung dan diterima sebagai peribadi yang mempunyai keutamaan; demikian seterusnya; itu syirik kecil atau syirik tersembunyi yang membatalkan pahala amalkan dan kebajikan; ianya bukan menyebabkan kekal dalam azab di Akhirat; bagaimanapun ia menyebabkan amalan menjadi sia-sia tanpa pahala, bahkan menyebabkan azab sesuai dengan keadaan berat atau ringannya kesalahan orang yang berkenaan.
Dalam hubungan dengan syirik yang sedemikian Allah menyoal dalam al-Qur’an dalam ayat yang bermaksud: "Adakah kamu melihat orang yang menjadikan keinginan nafsunya sendiri (“hawahu”) sebagai tuhan?" (Surah al-Furqan: Ayat 43).
Adapun amalan duniawi, seperti pertukangan atau sesuatu kemahiran yang dimiliki, bila seseorang itu melakukan usahanya dengan baik dan bahkan cemerlang supaya amalannya diberikan nilaian dan prestasi yang baik, dengan itu ianya menjadi popular, dengan itu ia mendapat rezeki yang halal, itu tidak termasuk ke dalam perkara keji yang disebut di atas. Bahkan orang yang berkenaan, kalau ia orang yang beriman, boleh memasang niat bahawa ia sedang melakukan kerja untuk menguatkan ekonomi umat, untuk memberi kekuatan kepadanya, sebagaimana yang dianjurkan oleh Ibn al-Hajj rh dalam kitabnya yang terkenal “al-Madkhal” itu. Bahkan ini boleh termasuk ke dalam maksud hadith nabi yang bererti: "Sesiapa yang menuntut dunia yang halal kerana hendak mengelak dirinya daripada meminta-minta dari orang lain, kerana memenuhkan keperluan keluarganya, dan kerana kasihan belas kepada jirannya (dan ia membantu mereka dengan hartanya itu), maka ia datang ke Ahirat pada Hari Kiamat dengan wajahnya gemilang seperti bulan pernama empat belas hari bulan".
Seorang ahli sains yang membuat penyelidikan membina senjata yang ampuh yang boleh mempertahankan bangsanya daripada diceroboh oleh pihak musuh, dengan itu ia menjaga agamanya dan bangsanya serta negaranya, atau ia boleh memberi kekuatan kepada saudaranya Muslimin dalam negeri lain supaya tidak dianiayai oleh pihak lain, maka itu adalah perbuatan yang paling bermakna dalam khidmat kepada umat. Boleh diingatkan pada zaman klasik bagaimana al-Baghdadi rh menyebut bahawa satu daripada golongan Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah yang berjasa kepada umat yang menentukan kedudukan umat ialah orang-orang yang menjaga sempadan negeri umat Islam supaya tidak diceroboh oleh musuh (“al-murabitun”). Maka maksudnya termasuklah golongan yang menjayakan fungsi demikian dengan mengadakan senjata yang berkesan untuk tujuan itu. Dengan itu maka terlaksanalah juga suruhan dalam al-Qur’an yang bermaksud: "Bersiap sedialah kamu bagi menghadapi para musuh dengan pelbagai jenis kekuatan" (Surah al-Anfal: Ayat 61) sesuai dengan keadaan dan zaman berkenaan; kalau pada zaman kita ini ianya merujuk kepada kekuatan senjata yang sesuai dengannya.
Dan tidaklah boleh dikatakan syirik orang yang mempertahankan negara itu, kecualilah ia menganggap negera itu seperti Tuhan baginya! Dijauhkan Allah dari yang demikian itu!
Syirik Dalam Perbuatan:
Ringkasnya syirik besar dan nyata dalam perbuatan merujuk kepada perbuatan memuja apa-apa selain dari Allah sebagaimana memuja Allah; termasuk ke dalamnya memuja makhluk-makhluk halus atau manusia melebihi batasan; adapun sifat kasihkan seseorang kerana ia melakukan kebaikan kepada orang ramai, itu adalah perkara yang baik yang termasuk ke dalam maksud hadith Nabi saw yang bererti: "Sesiapa yang tidak mengenang budi kepada manusia (yang melakukan kebaikan kepadanya), maka orang itu tidak sempurna dalam perbuatannya bersyukur kepada Allah".
Termasuk amalan yang mesti dielakkan ialah sihir sebab ia memusnahkan keimanan manusia dan boleh memnbawa kepada kesyirikan. Dalam media amalan sihir dilaporkan membawa kepada pembunuhan selain daripada akibat-akibat lain yang membahayakan serta memusnahkan hubungan baik ahli masyarakat.
Syirik kecil dan tersembunyi ialah sifat ria, iaitu melakukan kebaikan dalam agama kerana mengharapkan perhatian dan sanjungan manusia; itu membatalkan amalan dan kebajikan seseorang; adapun perbuatan yang bersifat duniawi, seperti pertukangan dan kemahiran maka itu tidak mengapa, walaupun yang lebih baiknya ialah seseorang itu menjalankan profesinya dan kemahirannya dengan niat menguatkan umat dalam rangka menjalankan fardhu kifayahnya, seperti yang tersebut dalam kitab Imam al-Ghazali rd atau kitab Ibn al-Hajj rh.
Dalam ajaran Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah bertawassul adalah harus, samaada pada orang yang hidup atau orang yang sudah meninggal dunia. Tidak perlu dijadikan masalah bila ada setengah kalangan yang menganggap itu kesyirikan; sebab yang diminta ialah dari Allah; orang yang mulia itu disebut kedudukannya yang mulia di sisi Allah. Dengan itu maka permohonan itu cepat makbulnya.
Perbuatan melawat makam mereka yang utama dan menghadiahkan pahala amalan juga perbuatan yang mulia di sisi Ahlis-Sunnah, dan berdo’a di makam orang itu, dengan barakahnya, maka do’a itu boleh dikabulkan dengan segera. Itupun amalan yang bukan dilarang dalam Ahlis-Sunnah wal-Jamaah, walaupun ada pihak-pihak yang melarangnya seperti Muhammad bin ‘Abdul Wahhab dan Ibn Taimiyyah. Itu adalah pandangan mereka, yang berlawanan dengan pandangan jumhur. Allahumma sallimna wal-Muslimin. Mereka yang mahu menganggap pandangan mereka berdua itu lebih utama dari jumhur, itu adalah pilihan masing-masing. Hendaklah diamalkan adab dalam berbeza pendapat dalkam perkara-perkara seperti ini dan jangan dijadikan isu sampai sesuatu puak melemparkan tuduhan bid’ah dan sesat kepada pihak lain. Apa lagi kalau sampai timbul sikap menghalalkan darah dan berperang sama Islam, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Muhammad ibn ‘Abdul Wahhab yang berperang menjatuhkan Turki ‘Uthmaniah yang menyebabkan sampai sekarang umat tidak mempunyai khilafah seperti anak-anak tanpa bapa. Dan pihak musuh cenderung untuk membiarkan pemikiran seperti ini supaya Islam hancur dari dalam, asalkan pihak mereka pula tidak terjejas. Lain halnya kalau sesuatu perkara itu sudah diijma’kan salahnya, maka perlulah itu dinyatakan dengan terang.
Demikian pula tidak perlu dikatakan syirik kepada mereka yang mengadakan aturan-aturan duniawi dalam mana-mana bidang kegiatan seperti komunikasi, pengangkutan, pertanian, dan yang sepertinya yang berupa aturan-aturan profesi yang menjayakan bidang yang berkenaan sesuai dengan tabiat kemahiran demikian itu. Mereka yang mengadakan aturan-aturan itu demi untuk menjaga kejayaan bidang-bidang itu – asalkan ianya tidak berlawanan dengan kehendak agama yang mahu menjaga kemaslahatan nyawa, agama, maruah, harta, keturunan manusia, keamanan dan apa juga yang diperlukan - bukannya boleh ditafsirkan sebagai “merampas” Hakimiyyatu’Llah atau Kuasa membentuk Aturan yang ada pada Allah - oleh itu perbuatan mereka itu berupa kesyirikan. Kita perlu mengelak diri daripada kecenderungan Khawarij yang sedemikian itu yang telahpun mengakibatkan kegetiran dalam sejarah da’wah di setengah negara di Asia Barat. Perkara sedemikian tidak perlu kita mengulanginya di tempat lain.
Perkara yang seperti ini disentuh dengan baiknya oleh Hasan al-Hudaibi rh dalam bukunya yang terkenal itu iaitu “Du’atun la Qudah” (Pendakwah Bukan Penghukum).
Perbincangan tentang kesyirikan tidaklah perlu terlanjur sampai timbul dakwaan-dakwaan dan tuduhan-tuduhan, antaranya seperti:
• syirik kecil itu sebahagian yang tidak terpisah daripada syirik besar, yang membawa kepada menghalalkan darah orang yang terlibat di dalamnya;
• atau tuduhan bahawa kefahaman ulama Ahlis-Sunnah tentang tauhid umumnya salah;
• atau Abu Jahal lebih mengetahui tentang la ilaha illa’Llah daripada ulama Islam;
• atau tuduhan bahawa kesyirikan di muka bumi bermula dengan perbuatan ahli ilmu dan agama, kerana mereka cinta kepada para wali;
• atau tuduhan bahawa para kufar yang mengetahui tentang kekufuran mereka adalah lebih baik terbimbing daripada orang-orang yang beriman -inna’l-kuffara ‘lladhina ya’rifuna kufran ahda sabilan minal-mu’minin
• atau tuduhan “Keadaan sedemikian merusutnya sehingga sampai, di kalangan kebanyakan manusia, menyembah orang-orang agama adalah amalan yang paling baik, disebutkan sebagai kewalian, manakala menyembah ulama fikah dikatakan sebagai ‘pengetahuan dan ilmu fikah’. Kemudian keadaan menjadi merusut lagi sampai orang-orang yang tidak auliya’ pun disembah selain dari Allah, dan pada darjah kedua pula, mereka yang jahil”
• Juga tuduhan yang menyatakan bahawa sya’ir Burdah oleh al-Busiri sebagai sesuatu yang berupa kesyirikan (kerana memuji nabi s.a.w. -p).
• atau tuduhan bahawa panggilan “qadil-qudah” - kadhi dari sekelian kadhi - sama dengan “Syahin-syah- raja sekelian raja” (yang membawa kepada menghukumkan orang yang berkenaan kafir)
• atau sampai membawa kepada fahaman bahawa Allah s.w.t. mempunyai Dua Tangan, tangan kanan memegang langit dan yang satu lagi memegang bumi.”
Kesimpulan:
Sebagai kesimpulannya kita melihat bahawa tauhid yang berasaskan kenyataan:
لا اله الا الله
atau kenyataan:
اشهد ان لا اله الا الله و اشهد ان محمدا رسول الله
“tiada tuhan yang disembah dengan sebenarnya melainkan Allah, dan Muhammad adalah Rasulullah” atau “aku menyaksikan bahawa tidak ada tuhan yang disembah dengan sebenarnya melainkan Allah, dan aku menyaksikan bahawa Muhammad adalah pesuruh Allah” itu membawa maksud dan keyakinan bahawa hakikat yang sebenar-benarnya hanya satu sahaja, iaitu Allah, dan Ia Tuhan Yang Maha Esa, yang kita sembah. Keredhaan Dia sahaja terakhirnya yang kita cari; KehendakNya sahaja yang kita ikut; hakikat ini mendatangkan kesan pada faham alam kita, faham ilmu, dan faham nilai. Ini yang menentukan konsep kita tentang kehidupan, budaya, tamadun, ilmu, dan nilai. Inilah yang menentukan ibadat, hidup rohani, akhlak, peraturan hidup, serta perjuangan dalam kehidupan individu, dan kolektif serta ketamadunan kita. Sepatutnya inilah hakikat dan prinsip yang memartabatkan dan memuliakan kita dari dunia sampai ke alam yang kekal abadi. Inilah yang menyatupadukan serta menguatkan kita dalam percaturan hidup, bukan sebaliknya. Kesyirikan ialah mempelbagaikan Tuhan yang berupa dosa dan jenayah terbesar, diikuti oleh syirik kecil memuja nafsu dan keinginan sendiri yang membawa kepada penyelewengan hidup dengan pelbagai perkara negatif dalam hidup individu, kolektif serta budaya dan ketamadunan. Pengembalian semula kepada kefahaman yang tepat dan meluas tentang tauhid serta penghayatannya yang menyeluruh dengan implikasi-implikasinya, dengan penolakan syirik dalam fahaman dan amalan sejauh-jauhnya, dalam rangka fahaman dan amalan hidup Sunni, inilah yang menjamin kejayaan dan kebahagiaan sesungguhnya; dan inilah yang menentukan nasib sebenarnya bagi diri dan umat kita.
Wallahu a’lam.
Insha’ Allah dalam nota ringkas ini akan dibicarakan pengertian tauhid dan ciri-cirinya, aspek-aspek fahaman dan amalan yang timbul daripadanya, samaada pada paras individu atau kolektif; demikian pula akan dibicarakan kesyirikan dengan pengertian-pengertian dan ciri-cirinya dalam fahaman dan amalan dari perspektif epistemologi Islam Sunni sebagai hakikat yang berlawanan dengan tauhid.Akan dibicarakan bagaimana ini semua memberi kesan dalam individu manusia dan kehidupannya.
Tauhid Dalam Fahaman
Tauhid berdasarkan kepada “la ilaha illa’ Llah, Muhammadur-Rasulullah”: “Tidak ada tuhan yang wajib disembah dengan sebenarnya melainkan Allah, dan Muhammad adalah Rasulullah”. Atau “asyhadu an la ilaha illa’Llah, wa asyhadu anna Muhammadar-Rasulullah”: “Aku menyaksikan bahawa tiada tuhan yang wajib disembah dengan sebenarnya melainkan Allah dan aku menyaksikan bahawa Muhammad adalah Rasulullah”. Ianya diwajibkan dalam ayat, antaranya, yang bermaksud: "Ketahuilah bahawa tiada tuhan melainkan Allah …". (Surah Muhammad: Ayat 19).
Penyaksian itu adalah hasil daripada keyakinan iman tanpa syak dan ragu tentang hakikat keTuhanan yang Maha Esa, yang merupakan paksi bagi segalanya. Keyakinan ini datang daripada ilmu dan juga kesedaran batin orang yang berkenaan yang disebutkan sebagai ilmul-yakin, atau ‘ainul-yaqin atau haqqul-yaqin. Ilmul-yaqin datang daripada tahap keyakinan yang timbul daripada ilmu berkenaan dengan kebenaran tauhid hasil daripada pengetahuannya, dengan berdasarkan bokti-bokti, samaada yang berifat nakli atau akli atau intelektuil. ‘Ainul-yaqin timbul daripada tahap tertentu dalam kesedaran batin berkenaan dengan hakikat tauhid. Haqqul-yaqin merujuk kepada pengenalan hakikat tauhid berdasarkan kepada “penyaksian batin” - musyahadah - tentang kebenaran itu yang tidak meninggalkan apa-apa keraguan lagi.
Keimanan tentang ketauhidan ini berkembang menjadi keimanan terhadap “rukun-rukun iman” yang lain- keimanan tentang para malaikat dengan tugas-tugasnya, para rasul a.s.s. dengan tugas-tugas mereka, kitab samawi dengan ajaran-ajarannya, terakhir ialah al-Qur’anul-Karim, tentang akhirat dan akhirnya qadha’ dan qadar.Semuanya dihuraikan oleh para ulama Ahlis-Sunnah dalam teks-teks usulud-din mereka, Allah memberi rahmat kepada mereka.
Keimanan terhadap Allah dan mentauhidkannya dengan huraian-huraian tentang sifat-sifatNya yang tidak terkira, dan kemudian dibicarakan sebagai kunci kepada pengenalanNya dua puluh sifat atau tiga belas, itu berdasarkan dalil-dalil akal atau dalil nakal, yang kita tidak bicarakan secara terperinci di sini. Bagaimanapun memadailah kalau kita sebutkan sifat-sifat itu - untuk memperbaharukan ingatan kita tentangnya - sebagai wujud, qidam atau sediakala, baqa’ atau kekal, menyalahi sekelian makhluk, berdiri sendiri, esa, hayat atau hidup, ilmu, qudrat atau kuasa, kehendak, mendengar, melihat, dan berkata-kata yang semuanya dirumuskan ulama berdasarkan Qur’an dan Sunnah, bukan sebagaimana dituduh oleh setengah pihak,daripada falsafah Yunani Purba; kemudian ditambah dengan perbincangan tentang sifat-sifat hal keadaanNya hidup, berilmu, berkuasa, berkehendak, mendengar, melihat dan berkata-kata.
Perbincangan tentang mentauhidkan Allah juga dilakukan dengan membicarakan nama-namaNya yang sembilan puluh sembilan itu dengan menyebut nama-namaNya: Allah, ar-Rahman, ar-Rahim, al-Malik, al-Quddus, as-Salam, al-Mu’min, al-Muhaimin, al-‘Aziz, al-Jabbar, al-Mutakabbir, dan seterusnya dengan huraian-huraian maknanya sebagaimana yang ada misalnya dalam “Tafsir al-Jamal” dalam huraiannya berkenaan dengan maksud ayat yang bererti: "Dan bagi Allah Sifat-Sifat Yang Paling Indah, maka kamu serulah Ia dengan menyebutnya …".
Mentauhidkan Allah dan beriman kepada rukun-rukun iman yang lainnya sebagai natijah daripada beriman kepada ketauhidan Allah itu menimbulkan kesan dalam kehidupan manusia yang disebut dalam setengah hadith sebagai “cawangan-cawangan iman” (‘shu’ab al-iman’).Sebagai contoh dalam “Fathul-Bari” dihuraikan hadith:
الايمان بضع وستون شعبة والحياء شعبة من الايمان
Yang bermaksud: “Iman ada enam puluh lebih cawangannya, dan malu bertempat adalah satu cawangan daripada keimanan”.
Dalam hadith sahih riwayat Bukhari yang lain dinyatakan keimanan itu lebih daripada tujuh puluh cawangan, dan yang tertingginya ialah mengucap “tiada tuhan melainkan Allah”, yang paling rendah sekali ialah membuang duri atau sesuatu yang menyakitkan dari jalan.
Dalam “Fahul-Bari” dalam memberi huraian berkenaan dengan “cawangan-cawangan” iman hasil daripada tauhid dan keyakikan iman, pengarangnya membahagikan kesan-kesan itu kepada beberapa bahagian seperti “amalan-amalan hati”. Dinyatakannya bahawa amalan-amalan hati terdiri daripada: keimanan terhadap Allah, para malaikatNya, kitab-kitabNya, para rasulNya, QadarNya, Hari Akhirat. Alam Kubur, Bangkit sesudah mati, Berhimpun di Akhirat, Hitungan amal, Neraca Timbangan Amal, Titian Sirat, Syurga, Neraka; kasih dan benci kerana Allah, kasihkan rasul, iktikad tentang keagungan Rasul dan kemuliannya, berselawat terhadapnya, mengikut sunnahnya, mengamallkan sifat ikhlas dalam amalan, tidak bersikap riya dalam amalan, meninggalkan kemunafikan, bertaubat, takut kepada Allah, berharap kepadaNya, bersyukur kepadaNya, menunaikan janji dan amanah semuanya, sabar, redha dengan ketetapan dan hukumNya, bertawakkal kepadaNya, bersikap dengan sifat kasih sayang (rahmah), tawadhu’, memuliakan orang tua, kasihkan orang muda,tidak takabur, tidak ‘ujub, tidak hasad dengki, tidak berdendam, tidak marah bukan pada tempatnya.
“Amalan lidah” terdiri daripada: berlafaz dengan kalimah tauhid, membaca Qur’an, mempelajari ilmu, mengajarkan ilmu, berdo’a, berzikir mengingat dan menyebut nama-nama Allah, beristighfar,dan menjauhi perbuatan dan percakapan yang sia-sia (ijtinab al-laghw).
“Amalan badan” disebutkan:berada dalam keadaan suci bersih dari segi lahir dan pada hukumnya, menjauhi najis-najis, menutup aurat, melakukan sembahyang yang wajib dan sunat, juga menunaikan zakat, membebaskan hamba abdi (boleh dikiaskan dengan keadaan moden dengan “hamba-hamba abdi ekonomi” dan sebagainya), mengamalkan sifat pemurah (al-jud), memberi makan kepada mereka yang memerlukannya, memuliakan para dhif, melakukan puasa yang wajib dan sunatnya, demikian pula menunaikan haji, dan umrahnya, melakukan tawaf, dan beriktikaf, berusaha untuk menghayati malam lailatul-qadar, berpindah untuk menyelamatkan agama bila itu dituntut oleh agama, berhijrah dari negeri syirik (dengan syarat-syaratnya), menunaikan nazar, bersungguh-sunguh menjaga iman dengan teguhnya, menunaikan kaffarah, mengawal diri daripada kejahatan dengan berkahwin, melaksanakan hak-hak keluarga, mentaati para ketua dan bersikap lemah lembut kepada para hamba (termasuk orang-orang bawahan).
Berkenaan dengan kehidupan dan pergaulan dengan orang ramai: mengikut jama’ah Muslimin, mentaati waliyul-amri, mendamaikan mereka yang berkelahi, berperang melawan mereka yang memberontak dan golongan Khawarij (yang menentang waliyul-amri), bertolong-bantu dalam melakukan kebaikan, menyuruh perkara-perkara yang baik dan melarang perkara-perkara yang mungkar, mengamalkan aturan-aturan jenayah berat mengikut Islam, melakukan jihad, termasuk ke dalamnya menjaga sempadan untuk menyelamatkannya daripada para seteru, menunaikan amanah-amanah, termasuk menunaikan “khumus” (dari rampasan perang), memberi orang berhutang, dan membayar hutang, memuliakan tamu, bergaul dengan akhlak yang baik (‘husn al-mu’amalah’), termasuk ke dalamnya menghimpunkan harta dari punca-punca yang halal, membelanjakan harta pada tempatnya yang hak, tidak bersikap membazir, dan tidak melampau-lampau dalam perbelanjaan (termasuk kalau sekarang “conspicuous consumerism”: berbelanja kerana menunjuk-nunjuk bukan kerana keperluan yang menasabah), menjawab orang memberi salam, mendoakan orang yang bersin, menahan diri daripada menyakiti orang lain, menjauhkan diri daripada kesia-siaan, membuang duri (atau apa-apa yang memudaratkan) dari jalan.
Beliau menyatakan mungkin cawangannya itu tujuh puluh sembilan sifat dengan mengambil kira menceraikan setengah daripada apa yang digandingkan dan tidak diasingkan.
Amalan-amalan, sifat-sifat serta sikap yang timbul itu semuanya daripada ketauhidan kepada Allah yang ada dalam diri manusia. Kesannya jelas kelihatan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat serta negara dan umat bila ketauhidan itu mantap.
Kesan Tauhid Dalam Fahaman Orang Yang Beriman:
Kalau dilihat dari segi yang berbeza, boleh disebutkan bahawa implikasi tauhid ke atas manusia dan kehidupannya boleh dilihat dari beberapa segi, antaranya ialah:
Dari segi fahamannya tauhid memaksudkan bahawa yang diyakini sebagai kebenaran tanpa tara ialah Keesaan Allah; tidak ada syak dan ragu lagi padanya. Buktinya samaada yang bersifat akli atau nakli menjadi dalil tentang kebenarannya; dalil dari pengalaman dan kesedaran batin itu merupakan bukti yang paling kuat untuk diri seseorang berpegang kepada kebenarannya. Itulah maksud tertinggi dari ayat yang bererti: "Ini adalah jalanku; aku menyeru manusia kepada Allah berdasarkan kepada 'basirah' (dalil yang nyata) ataupun pemandangan matahati, aku dan mereka yang mengikutku". (Surah Yusuf: Ayat 108). Ini memberi paksi kepada manusia, peribadi, dan hidup serta tamadunnya. Ini boleh dimisalkan sebagai adanya tempat duduki yang tetap dan teguh, tidak kucar kacir, bukan tidak stabil.
Sebagai contoh kita boleh sebutkan bagaimana kita ini tetap atas kerusi, kerusi tetap demikian kerana ada lantai bangunan, bangunan itu tetap atas asasnya, asas bangunan itu tetap kerana ada bumi yang tetap, bumi tetap kerana ianya berada dalam sistem solar yang dengan gravitinya dan lain-lainnya menyebabkan ia tetap.Demikianlah manusia merasa tetap teguh dengan keyakinannya kepada tauhid; dengannya ia merasa tetap ada tempat berpijak bagi jiwa, hati dan akalnya.
Tauhid pada fahaman juga memaksudkan bahawa yang disembah dengan sebenarnya hanyalah Allah Yang Esa sahaja, tidak ada yang lain lagi. Penyembahan dalam erti pengabdian - ‘ubudiyyah - hanyalah untuk Allah sebagaimana yangg dinyatakan dalam al-Fatihah, “Engkaulah sahaja Yang kami sembah, dan kepada Engkalah sahaja kami meminta pertolongan”. Hakikat ini ternyata dalam ayat yang bermaksud: "Tidak Aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk beribadat kepadaKu".
Fahaman tauhid yang mendalam menyebabkan tidak ada lagi kuasa-kuasa lain yang dinisbahkan Kuasa Tuhan padanya; hilang takhyul, fahaman syirik, dan sihir, hilang amalan bernujum yang disalahkan Syara’, dan hilang pemujaan yang dilarang Syara’ terhadap jin-jin dan lain-lainnya. Termasuk hilang pemujaan kepada perkara-perkara maknawi seperti akal, kecerdasan manusia, atau mana-mana aspek kepandaian atau ilmu manusia.Semuanya natijah daripada keyakinan terhadap KeEsaan Allah.
Tauhid pada fahaman ini memberi kepada insan matlamat hidup yang terakhir yang memberi makna kepada segala kegiatan. Manusia yang beriman kepada tauhid bertugas dan berusaha dalam konteks mencari keredhaan Allah di dunia ini, yang membawa kepada kebahagiaan yang kekal abadi. Ini jelas dalam pembacaan doa si mukmin selepas daripada takbir sembahyang, iaitu do’a yang bermaksud: "Sesungguhnya sembahyangku, pengorbananku, hidupku (termasuk perjuanganku, profesiku, perlaksanaan tugasku) adalah bagi Allah Tuhan Yang mentadbir sekelian alam". Dengan ini tidak ada kekosongan atau kehilangan makna - “loss of meaning” - dalam hidupnya. Semuanya mendapat makna dalam konteks mencari keredhaan Tuhan. Dalam konteks seperti inilah Nabi s.a.w. menyatakan keheranannya tentang hidup si mukmin sampaikan bila kakinya terkena duripun ada mempunyai makna. Penyakit “kehilangan makna” tidak akan berlaku atas si mukmin yang berkesan keimanannya dalam membentuk jiwa dan kablbunya.
Keimanan tentang tauhid menjadikan si mukmin tidak putus asa dalam hidupnya walau bagaimamanapun teruknya cabaran yang dihadapi dan walau bagaimana negatifnya suasana yang dihadapi, sehinggakan kalau dilihat dari segi perkiraan duniawi tidak ada apa-apa yang boleh dilakukan sekalipun, ia tidak berputus asa. Inilah antaranya yang dimaksudkan oleh ayat Qur’an yang bermaksud “Jangan kamu berputus asa daripada pertolongan Allah, sesungguhnya tidak berputus asa daripada rahmat (atau pertolongan) Allah melainkan orang-orang kafir” (Surah Yusuf: Ayat 87). Di sinilah tauhid memberi asas kepada aksiologi si mukmin, sehingga sistem nilainya lengkap dan tinggi.
Aksiologi Daripada al-Asma’-al-Husna:
Tauhid pada fahaman menjadikan insan yang yakin kepada tauhid itu mendapat "peta" pembangungan peribadinya pada “Diri Tuhan Sendiri Dengan Sifat-SifatNya Yang Maha Sempurna dan Nama-NamaNya Yang Maha Indah” (al-Kamalat wa’l-Asma’ al-Husna). Maksudnya, sebagaimana yang dihuraikan antaranya dalam “Tafsir al-Jamal” dalam hubungan dengan hadith Tirmidi yang bermaksud: “Tuhanmu mempunyai sembilan puluh sembilan Nama, maka sesiapa yang membilangnya ia masyuk ke dalam Syurga”. Maksudnya, antaranya, dihuraikan bahawa hendaklah insan yang beriman itu menjadikan peribadinya terbentuk mengikut pengajaran yang boleh didapati daripada maksud nama-nama Tuhannya.
Misalnya kalau Allah bersifat dengan sifat Kasihan Belas - dengan NamaNya al-Rahim - maka si mukmin sebagai hamba Tuhannya hendaklah bersifat dengan sifat kasihan belas pada paras manusiawinya. Dengan itu maka ia “hampir” kepada Tuhannya melalui sifat itu. Dengan itu ianya lebih hampir kepada kesempurnaannya sebagai manusia yang beriman. Kalau Tuhan bernama al-Malik - Raja dengan sifat-sifatNya sesuai dengan Nama “al-Malik” itu, maka hendaklah si hamba membentuk peribadi sesuai dengan kedudukan sebagai ”raja” yang menguasai dirinya supaya taat kepada Tuhan dan menjalankan KehendakNya, jangan membiarkan dirinya menjadi rendah dan berkhidmat kepada Setan. Kalau Allah bernama al-‘Alim - Yang Maha Mengetahui - maka manusia yang beriman hendaklah membentuk dirinya menjadi orang yang berilmu, yang mengenal Tuhannya, ajaran Tuhannya, dan mengetahui ilmu-ilmu lain dalam konteks ketauhidan Tuhannya serta mengetahui ilmu-ilmu untuk menjadikan dirinya dan hidupnya bermaruah dalam dunia ini. Dengan itu jadilah ianya hampir kepada Tuhannya melalui sifatnya berilmu itu.Kalau dikiaskan kepada bangsa, maka bangsa itu bangsa yang berilmu yang martabatnya mulia kerana ilmunya. Di sini keimanan kepada Tauhid membawa implikasi dalam bidang epistemologi atau faham ilmu dan aksiologi atau faham nilai yang sangat diperlukan kejelasannya.
Di sini kita lihat bagaimana kepentingan ilmu diberikan perhatian yang sangat pokok oleh para ulama Islam, seperti Imam al-Ghazali rd dan Ibn Khaldun rh antara yang sekian ramai itu. Dan Ibn Khaldun rh menghendaki supaya ahli ilmu itu mencapai kemahiran yang memuncak dalam bidang ilmunya sampai menjadi sebagai sepertri tabiat yang kedua bagi dirinya, seolah-olah seperti terbang burung di angkasa dan bernang ikan dalam air. Kata-kata bandingan itu bukan dari Ibn Khaldun tetapi dari penulis ini. Beliau menggunakan istilah “malakah” untuk mengungkapkan kemahiran tertinggi dalam ilmu itu.
Sebab sedemikian pentingnya ilmu ini maka Imam al-Ghazali rd menghuraikan bagaimana ahli ilmu yang berkhidmat dengan baik dalam pengembangan ilmunya berdamping diri dengan Tuhan - bertaqarrub- melalui kegiatannya itu; demikian pula pelajar yang mempalajari ilmu yang berguna - ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum kerana Tuhan dan kerana berkhidmat kepada umat dalam fardhu kifayah - bertaqarrub kepada Tuhan dalam kegiatan pembelajarannya.
Selain dari itu beliau menghuraikan bagaimana dalam konteks tauhid semuanya berkhidmat kepada Tuhan, mulai daripada ahli ibadat semata (‘abid), sampai kepada pengajar ilmu, penuntut ilmu, petugas menjaga keluarga (muhtarif), peribadi yang berkhidmat untuk masyarakat (walin), dan ahli tauhid taraf tertinggi yang tenggelam dalam pengalaman tauhidnya yang memuncak (muwahhid) semuanya berfungsi dalam menjayakan tauhid dalam hidupnya masing-masing - mulai dari orang biasa sampai kepada petugas masyarakat dan penjaga keluarga juga ahli rohaniah yang tertinmggi sekali dalam umat.Dalam konteks masyarakat moden kitra boleh kiaskan mereka yang terlibat di dalamnya dengan tugas-tugas mereka masing-masing.
Kalau Tuhan bernama dengan nama as-Sattar - Yang menutup aib hambanya, kemudian di akhirat bila ia beruntung Ia ampunkan aib itu- maka hendaklah si mukmin itu menutup aib jirannya dan kenalannya supaya dengan itu aib dirinya tidak di"buka" oleh Tuhan di hadapan sekalian makhluk di Akhirat nanti. Allahumma salimna.
Kalau Tuhan bernama al-Mutakabbir - Yang membesarkan DiriNya, Yang Takburr, kerana Ia berhak dengan perbuatan demikian - maka hendaklah si mukmin berendah diri kepada Tuhannya dan kepada sekelian mukminin, tetapi bertakabur dengan Setan supaya dengan itu ia tidak membiarkan dirinya menjadi “khadam” kepada Setan, yang meruntuhkan kemuliaan dirinya, sampai dirinya akan menjadi “yang sehina-hinanya”.
Dengan ini si hamba mempunyai sifat kemuliaan diri atau harga diri yang sebaiknya sebagai khalifah Tuhan di bumi dan hambaNya.
Bila Tuhan bernama dengan Nama an-Nafi’ - Yang Memberi Menfaat kepada sekalian akhlukNya - maka si mukmin hendaklah membentuk peribadi sebagai orang yang mendatangkan kemanafaatan kepada orang lain, bukan sebaliknya. Ini jelas pula daripada hadith Nabi s.a.w. yang bermaksud: "Manusia yang sebaik-baiknya ialah orang yang paling mendatangkan faedah kepada manusia".
Kalau Allah bernama dengan Nama al-Muhaimin - Yang Menjaga - maka para hamba hendaklah pada paras manusawinya menjadi penjaga sekalian yang mesti dijaga dirinya, keluarganya, bangsanya, umatnya, agamanya, demikian seterusnya dan janganlah ia menjadi perosak. Demikianlah apa yang disebut sebagai “bahagian hamba” - hazz al-‘abd - oleh pengarang “Tafsir al-Jamal” dalam hubungan dengan Nama-Nama Allah yang menjadi penentu dalam hidupnya dari segi metafisikanya, faham alamnya, aksiologi atau faham nilainya, epistemologi atau faham ilmunya.
Tauhid Dalam Amalan:
Bila kita menjurus kepada amalan, maka tauhid menjadikan manusia itu menunaikan ibadatnya, seperti sembahyangnya - sebab itu pengabdian kemuncak, terlambang dengan hakikat ianya dikurniakan waktu mi’raj Rasul s.a.w. - puasanya, zakatnya, hajinya, nazarnya, kafarahnya, membaca Qur’an, wirid dan zikirnya, do’anya, bahkan, sebagaimana yang diajarkan oleh Imam al-Ghazali rd dalam "Ihya’"nya, “Hendaklah semua gerak-geri hidup kamu dan diam kamu menjadi ibadat atau penolong kepada ibadat kepada Tuhan,” sampaikan Imam utama ini rd menyatakan bahawa bermainpun biarlah berlaku dalam konteks pengabdian atau ibadat kepada Tuhan!
Tauhid pada amalan menyebabkan manusia berakhlak dengan akhlak yang mulia seperti bersifat benar, amanah, ikhlas, kasihan belas, bertimbang rasa, bersaudara, berkasih sayang dalam keluarga dan masyarakat, bermaaf-maafan bukan berdendam, pemurah bukan bakhil dalam kebajikan, bukan membazir, bukan melampau dalam berbelanja,berhemat dan cermat, bukan hanya waktu ekonomi gawat sahaja, menjaga perpaduan bukan mengusahakan perpecahan, apa lagi dalam umat menghadapi ancaman, berkerjasama dalam kebajikan, iaitu berkerjasama dalam keluarga, dalam masyarakat, bangsa dan umat, antara rakyat dengan rakyat, antara rakyat dengan pihak penganjur, berkerjasama antara ulama, cendekiawan, para pemimpin, hartawan dan orang awam. Bersifat gigih dan bersungguh-sungguh dalam melakukan kebaikan dan jasa kepada manusia semuanya.
Tauhid menyebabkan berlaku perpaduan dalam keluarga dan timbulnya keluarga bahagia dan perkasa yang membantu dalam membina masyarakat yang beradab, berilmu, dan perkasa dengan amalan-amalan “budaya perkasa” atau “strong culture”. Ini boleh dikaitkan dengan kata-kata terkenal “Hidup bersendikan adat, adat bersendikan Syara’ dan Syara’ bersendikan Kitab” yang melambangkan kesepaduan hidup ketamadunan yang terbimbing oleh wahyu dan ajaran agama dengan dibantu oleh keupayaan dan akal manusiawi.
Tauhid dalam amalan ditimbulkan dalam hidup manusia dengan penuh ketaatan kepada Kehendak Tuhan yang terjelma dalam ketaatan kepada Hukum Syara’Nya dalam ibadatnya, hidup keluarganya, mu’amalahnya, hidup kenegaraannya, budayanya, ilmu pengetahuan dan sainsnya, teknologi dan penyelidikan serta maklumatnya. Ketaatan kepada Tuhan dalam semua perkara inilah merupakan manifestasi tauhid dalam tamadun manusia selain daripada tauhid yang nyata dalam hidup peribadi dan keluarga serta masyarakatnya. Adanya kederhakaan dalam masyarakat manusia - kerana dunia bukan akhirat- adalah kerana kelemahan-kelemahan manusiawi - “human failings” - bukan kerana agamaa bukan praktikal atau “above human”. Sebagaimana yang dijelaskan dalam al-Qur’an dalam ayat yang bermaksud “Tuhan tidak membebankan diri manusia melainkan setakat apa yang termampu olehnya”, dan dalam konteks yang lain Allah berfirman, maksudnya “Allah tidak membebankan sesuatu diri manusia melainkan daripada apa yang dikurniakan kepadanya (daripada Ni’matNya)”.
Tauhid pada amalan membawa manusia membina hidup ketamadunan mengikut apa yang diajarkan oleh Tuhan dalam budaya ilmunya, siasahnya, ekonominya, hidup kemasyarakatannya, keseniannya dan budayanya, perang dan damainya. Penyelewengan-penyelewengan yang berlaku adalah kerana kelemahan-kelemahan manusiawi dari segi individu dan kelompoknya. Agama datang untuk menyembuhkan manusia dan tamadun daripada “kelemahan-kelemahan manusiawinya” bukannya untuk mengazabkan manusia atau menghalangnya bersuka-suka secara rasional dan menasabah serta sejahtera dalam dunia ini.
Sebab itu dalam sejarah dan realiti kehidupan mengikut kadar yang berbeza-beza tauhid dan prinsipnya terbayang dalam hidup mereka yang beriman dalam keyakinannya kepada tauhid, ibadatnya, hidup akhlaknya, keluarganya, mayarakatnya, dan umatnya. Terbayang hakikat ini dalam sistem ilmunya - hubungan harmonis antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umumnya sebagaimana yang terbayang dalam huraian Ibn Khaldun rh dalam “al-Muqaddimahnya”, dalam persuratan Islam, seni benanya, perancangan bandarnya, serta keharmonian antara alam tabi’I dan alam binaan manusia (“human built environment”).
Al-Marhum Prof Ismail Raji al-Faruqi dalam buku terkenalnya “Tawhid: Its Implications For Thought and Life” berbicara dengan meluasnya aspek-aspek dan implikasi tauhid ini dengan menyebut tentang tauhid sebagai inti pengenalan agama, sebagai intisari Islam, sebagai prinsip sejarah, prinsip metafisika, prinsip etika, susunan sosial, prinsip ummah, prinsip keluarga, prinsip susunan siasah, prinsip susunan ekonomi, prinsip susunan hidup seluruh dunia, serta prinsip estetika.
Kesyirikan Yang Bercanggah Dengan Tauhid Pada Fahaman
Dilihat dari segi fahamannya, kesyirikan ialah menisbahkan kuasa atau Sifat-sifat Tuhan kepada makhluk-makhluk atau kuasa-kuasa selain daripada Allah Tuhan Yang Sebenarnya.
Kesyirikan bermakna menyembah yang selain daripada Allah atau kuasa-kuasa yang selain daripadanya; atau memuja yang lain selain daripadanya sebagaimana Ianya disembah dan dipuja, atau sebagaimana IaNya dimuliakan dan disanjungi. Ini disebutkan sebagai syirik yang besar dan nyata (syirik akbar atau syirik jaliy). Syirik ini kalau orang yang berkenaan tidak bertaubat daripadanya, ia akan menyebabkan azab yang berkekalan. Nau’udhu billahi min dhalik.
Syirik yang satu lagi ialah syirik kecil atau syirik yang tersembunyi (syirik asghar atau syirik khafy). Syirik kecil ialah syirik dalam erti misalnya melakukan kebaikan kerana lain daripada berniat mencari keredhaan Tuhan, seperti seseorang melakukan ibadat kerana hendak mencari pengaruh; atau memberi sedekah dengan niat supaya disanjung dan diterima sebagai peribadi yang mempunyai keutamaan; demikian seterusnya; itu syirik kecil atau syirik tersembunyi yang membatalkan pahala amalkan dan kebajikan; ianya bukan menyebabkan kekal dalam azab di Akhirat; bagaimanapun ia menyebabkan amalan menjadi sia-sia tanpa pahala, bahkan menyebabkan azab sesuai dengan keadaan berat atau ringannya kesalahan orang yang berkenaan.
Dalam hubungan dengan syirik yang sedemikian Allah menyoal dalam al-Qur’an dalam ayat yang bermaksud: "Adakah kamu melihat orang yang menjadikan keinginan nafsunya sendiri (“hawahu”) sebagai tuhan?" (Surah al-Furqan: Ayat 43).
Adapun amalan duniawi, seperti pertukangan atau sesuatu kemahiran yang dimiliki, bila seseorang itu melakukan usahanya dengan baik dan bahkan cemerlang supaya amalannya diberikan nilaian dan prestasi yang baik, dengan itu ianya menjadi popular, dengan itu ia mendapat rezeki yang halal, itu tidak termasuk ke dalam perkara keji yang disebut di atas. Bahkan orang yang berkenaan, kalau ia orang yang beriman, boleh memasang niat bahawa ia sedang melakukan kerja untuk menguatkan ekonomi umat, untuk memberi kekuatan kepadanya, sebagaimana yang dianjurkan oleh Ibn al-Hajj rh dalam kitabnya yang terkenal “al-Madkhal” itu. Bahkan ini boleh termasuk ke dalam maksud hadith nabi yang bererti: "Sesiapa yang menuntut dunia yang halal kerana hendak mengelak dirinya daripada meminta-minta dari orang lain, kerana memenuhkan keperluan keluarganya, dan kerana kasihan belas kepada jirannya (dan ia membantu mereka dengan hartanya itu), maka ia datang ke Ahirat pada Hari Kiamat dengan wajahnya gemilang seperti bulan pernama empat belas hari bulan".
Seorang ahli sains yang membuat penyelidikan membina senjata yang ampuh yang boleh mempertahankan bangsanya daripada diceroboh oleh pihak musuh, dengan itu ia menjaga agamanya dan bangsanya serta negaranya, atau ia boleh memberi kekuatan kepada saudaranya Muslimin dalam negeri lain supaya tidak dianiayai oleh pihak lain, maka itu adalah perbuatan yang paling bermakna dalam khidmat kepada umat. Boleh diingatkan pada zaman klasik bagaimana al-Baghdadi rh menyebut bahawa satu daripada golongan Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah yang berjasa kepada umat yang menentukan kedudukan umat ialah orang-orang yang menjaga sempadan negeri umat Islam supaya tidak diceroboh oleh musuh (“al-murabitun”). Maka maksudnya termasuklah golongan yang menjayakan fungsi demikian dengan mengadakan senjata yang berkesan untuk tujuan itu. Dengan itu maka terlaksanalah juga suruhan dalam al-Qur’an yang bermaksud: "Bersiap sedialah kamu bagi menghadapi para musuh dengan pelbagai jenis kekuatan" (Surah al-Anfal: Ayat 61) sesuai dengan keadaan dan zaman berkenaan; kalau pada zaman kita ini ianya merujuk kepada kekuatan senjata yang sesuai dengannya.
Dan tidaklah boleh dikatakan syirik orang yang mempertahankan negara itu, kecualilah ia menganggap negera itu seperti Tuhan baginya! Dijauhkan Allah dari yang demikian itu!
Syirik Dalam Perbuatan:
Ringkasnya syirik besar dan nyata dalam perbuatan merujuk kepada perbuatan memuja apa-apa selain dari Allah sebagaimana memuja Allah; termasuk ke dalamnya memuja makhluk-makhluk halus atau manusia melebihi batasan; adapun sifat kasihkan seseorang kerana ia melakukan kebaikan kepada orang ramai, itu adalah perkara yang baik yang termasuk ke dalam maksud hadith Nabi saw yang bererti: "Sesiapa yang tidak mengenang budi kepada manusia (yang melakukan kebaikan kepadanya), maka orang itu tidak sempurna dalam perbuatannya bersyukur kepada Allah".
Termasuk amalan yang mesti dielakkan ialah sihir sebab ia memusnahkan keimanan manusia dan boleh memnbawa kepada kesyirikan. Dalam media amalan sihir dilaporkan membawa kepada pembunuhan selain daripada akibat-akibat lain yang membahayakan serta memusnahkan hubungan baik ahli masyarakat.
Syirik kecil dan tersembunyi ialah sifat ria, iaitu melakukan kebaikan dalam agama kerana mengharapkan perhatian dan sanjungan manusia; itu membatalkan amalan dan kebajikan seseorang; adapun perbuatan yang bersifat duniawi, seperti pertukangan dan kemahiran maka itu tidak mengapa, walaupun yang lebih baiknya ialah seseorang itu menjalankan profesinya dan kemahirannya dengan niat menguatkan umat dalam rangka menjalankan fardhu kifayahnya, seperti yang tersebut dalam kitab Imam al-Ghazali rd atau kitab Ibn al-Hajj rh.
Dalam ajaran Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah bertawassul adalah harus, samaada pada orang yang hidup atau orang yang sudah meninggal dunia. Tidak perlu dijadikan masalah bila ada setengah kalangan yang menganggap itu kesyirikan; sebab yang diminta ialah dari Allah; orang yang mulia itu disebut kedudukannya yang mulia di sisi Allah. Dengan itu maka permohonan itu cepat makbulnya.
Perbuatan melawat makam mereka yang utama dan menghadiahkan pahala amalan juga perbuatan yang mulia di sisi Ahlis-Sunnah, dan berdo’a di makam orang itu, dengan barakahnya, maka do’a itu boleh dikabulkan dengan segera. Itupun amalan yang bukan dilarang dalam Ahlis-Sunnah wal-Jamaah, walaupun ada pihak-pihak yang melarangnya seperti Muhammad bin ‘Abdul Wahhab dan Ibn Taimiyyah. Itu adalah pandangan mereka, yang berlawanan dengan pandangan jumhur. Allahumma sallimna wal-Muslimin. Mereka yang mahu menganggap pandangan mereka berdua itu lebih utama dari jumhur, itu adalah pilihan masing-masing. Hendaklah diamalkan adab dalam berbeza pendapat dalkam perkara-perkara seperti ini dan jangan dijadikan isu sampai sesuatu puak melemparkan tuduhan bid’ah dan sesat kepada pihak lain. Apa lagi kalau sampai timbul sikap menghalalkan darah dan berperang sama Islam, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Muhammad ibn ‘Abdul Wahhab yang berperang menjatuhkan Turki ‘Uthmaniah yang menyebabkan sampai sekarang umat tidak mempunyai khilafah seperti anak-anak tanpa bapa. Dan pihak musuh cenderung untuk membiarkan pemikiran seperti ini supaya Islam hancur dari dalam, asalkan pihak mereka pula tidak terjejas. Lain halnya kalau sesuatu perkara itu sudah diijma’kan salahnya, maka perlulah itu dinyatakan dengan terang.
Demikian pula tidak perlu dikatakan syirik kepada mereka yang mengadakan aturan-aturan duniawi dalam mana-mana bidang kegiatan seperti komunikasi, pengangkutan, pertanian, dan yang sepertinya yang berupa aturan-aturan profesi yang menjayakan bidang yang berkenaan sesuai dengan tabiat kemahiran demikian itu. Mereka yang mengadakan aturan-aturan itu demi untuk menjaga kejayaan bidang-bidang itu – asalkan ianya tidak berlawanan dengan kehendak agama yang mahu menjaga kemaslahatan nyawa, agama, maruah, harta, keturunan manusia, keamanan dan apa juga yang diperlukan - bukannya boleh ditafsirkan sebagai “merampas” Hakimiyyatu’Llah atau Kuasa membentuk Aturan yang ada pada Allah - oleh itu perbuatan mereka itu berupa kesyirikan. Kita perlu mengelak diri daripada kecenderungan Khawarij yang sedemikian itu yang telahpun mengakibatkan kegetiran dalam sejarah da’wah di setengah negara di Asia Barat. Perkara sedemikian tidak perlu kita mengulanginya di tempat lain.
Perkara yang seperti ini disentuh dengan baiknya oleh Hasan al-Hudaibi rh dalam bukunya yang terkenal itu iaitu “Du’atun la Qudah” (Pendakwah Bukan Penghukum).
Perbincangan tentang kesyirikan tidaklah perlu terlanjur sampai timbul dakwaan-dakwaan dan tuduhan-tuduhan, antaranya seperti:
• syirik kecil itu sebahagian yang tidak terpisah daripada syirik besar, yang membawa kepada menghalalkan darah orang yang terlibat di dalamnya;
• atau tuduhan bahawa kefahaman ulama Ahlis-Sunnah tentang tauhid umumnya salah;
• atau Abu Jahal lebih mengetahui tentang la ilaha illa’Llah daripada ulama Islam;
• atau tuduhan bahawa kesyirikan di muka bumi bermula dengan perbuatan ahli ilmu dan agama, kerana mereka cinta kepada para wali;
• atau tuduhan bahawa para kufar yang mengetahui tentang kekufuran mereka adalah lebih baik terbimbing daripada orang-orang yang beriman -inna’l-kuffara ‘lladhina ya’rifuna kufran ahda sabilan minal-mu’minin
• atau tuduhan “Keadaan sedemikian merusutnya sehingga sampai, di kalangan kebanyakan manusia, menyembah orang-orang agama adalah amalan yang paling baik, disebutkan sebagai kewalian, manakala menyembah ulama fikah dikatakan sebagai ‘pengetahuan dan ilmu fikah’. Kemudian keadaan menjadi merusut lagi sampai orang-orang yang tidak auliya’ pun disembah selain dari Allah, dan pada darjah kedua pula, mereka yang jahil”
• Juga tuduhan yang menyatakan bahawa sya’ir Burdah oleh al-Busiri sebagai sesuatu yang berupa kesyirikan (kerana memuji nabi s.a.w. -p).
• atau tuduhan bahawa panggilan “qadil-qudah” - kadhi dari sekelian kadhi - sama dengan “Syahin-syah- raja sekelian raja” (yang membawa kepada menghukumkan orang yang berkenaan kafir)
• atau sampai membawa kepada fahaman bahawa Allah s.w.t. mempunyai Dua Tangan, tangan kanan memegang langit dan yang satu lagi memegang bumi.”
Kesimpulan:
Sebagai kesimpulannya kita melihat bahawa tauhid yang berasaskan kenyataan:
لا اله الا الله
atau kenyataan:
اشهد ان لا اله الا الله و اشهد ان محمدا رسول الله
“tiada tuhan yang disembah dengan sebenarnya melainkan Allah, dan Muhammad adalah Rasulullah” atau “aku menyaksikan bahawa tidak ada tuhan yang disembah dengan sebenarnya melainkan Allah, dan aku menyaksikan bahawa Muhammad adalah pesuruh Allah” itu membawa maksud dan keyakinan bahawa hakikat yang sebenar-benarnya hanya satu sahaja, iaitu Allah, dan Ia Tuhan Yang Maha Esa, yang kita sembah. Keredhaan Dia sahaja terakhirnya yang kita cari; KehendakNya sahaja yang kita ikut; hakikat ini mendatangkan kesan pada faham alam kita, faham ilmu, dan faham nilai. Ini yang menentukan konsep kita tentang kehidupan, budaya, tamadun, ilmu, dan nilai. Inilah yang menentukan ibadat, hidup rohani, akhlak, peraturan hidup, serta perjuangan dalam kehidupan individu, dan kolektif serta ketamadunan kita. Sepatutnya inilah hakikat dan prinsip yang memartabatkan dan memuliakan kita dari dunia sampai ke alam yang kekal abadi. Inilah yang menyatupadukan serta menguatkan kita dalam percaturan hidup, bukan sebaliknya. Kesyirikan ialah mempelbagaikan Tuhan yang berupa dosa dan jenayah terbesar, diikuti oleh syirik kecil memuja nafsu dan keinginan sendiri yang membawa kepada penyelewengan hidup dengan pelbagai perkara negatif dalam hidup individu, kolektif serta budaya dan ketamadunan. Pengembalian semula kepada kefahaman yang tepat dan meluas tentang tauhid serta penghayatannya yang menyeluruh dengan implikasi-implikasinya, dengan penolakan syirik dalam fahaman dan amalan sejauh-jauhnya, dalam rangka fahaman dan amalan hidup Sunni, inilah yang menjamin kejayaan dan kebahagiaan sesungguhnya; dan inilah yang menentukan nasib sebenarnya bagi diri dan umat kita.
Wallahu a’lam.
Friday, February 10, 2012
GURU YANG BENAR DI SISI ALLAH TAALA DGN ILMU HAQ
BISMILLAH AR RAHMAN AR RAHIM
Huraian dan penjelasan ini sedikit sebanyak memberi anda penerangan tentang “kesesatan” dan “kebenaran” di antara dakwaan Mas Reno dari Yayasan Nur Syifa Jakarta yang mendakwa saya menciplak ilmu dari blognya dan melakukan penipuan . Manakala dakwaan saya ke atas Mas Reno adalah beliau merupakan seorang guru yang sesat lagi menyesatkan kerana mendakwa Ilmu Allah (Nur Syifa) miliknya dan hanya dia sahaja yang benar di sisi Allah.
Bagi mereka yang telah mengenal Allah SWT dengan sebenar-benarnya ada tanda dan pengesahan dari Allah, Tuhan sekalian alam dan dari baginda Rasulullah sendiri yang merupakan Guru sekalian guru. Tanda mengenal Allah adalah pertemuan dengan malam Lailatul Qadar dan tanda ilmu yang benar di sisi Allah adalah pengesahan dari Baginda Rasul melalui pertemuan dengan baginda sendiri melalui mimpi. Inilah golongan yang selamat dan benar ilmunya.
Mereka yang telah mengenal Allah, kosong hatinya dari segala sesuatu selain Allah. Dia telah memulangkan kembali 7 Sifat Allah (Ma’ani) kepada Yang Empunya iaitu Sifat Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Sama’, Basar dan Kalam. Lalu dia merasa tidak berkuasa dan berkehendak melainkan dengan Qudrat dan Iradat Allah.. Dia telah merasai mati (mati sebelum mati) dan kosong dari segala sesuatu (ilmu), maka dengan Ilmu Allah lah dia mengetahui dan dengan hayat Allah lah dia hidup. Dia telah menjadi pekak, buta dan bisu lalu dengan Sama’ Allah lah dia mendengar, dengan Basar Allah lah dia melihat dan dengan Kalam Allah lah dia bercakap.
Tetapi manusia sesat lagi menyesatkan, saya boleh mencontohkan Mas Reno dari Yayasan Nur Syifa. Beliau mendakwa, Nur Syifa dia punya dan orang lain hanya menipu dan hanya tahu menciplak ilmu miliknya. Dia telah mempertuhankan dirinya sendiri , mengaku berilmu dengan Ilmu Allah. Mereka seperti inilah yang selalu di datangi syaitan jin dan iblis yang menyamar dan mengaku sebagai wali-wali serta memberikan Ilmu yang memperagakan kehebatan. Ilmu yang bersandar kepada Jin dan Iblis.
Manakala saya hanya pernah bertemu Baginda Rasul di malam Lailatul Qadar dan baginda mengijazahkan saya amalan para Ariffin ( bukankah ini pengiktirafan baginda kepada saya yang telah sampai kepada maqam orang Arif ?) Maqam orang Arif adalah di atas maqam ulama dan di bawah maqam Waliullah. Ulama menghafal pelbagai kitab (sumber yang mati) manakala orang Arif menerima Ilmu terus dari Allah (Ilmu Laduni) kerana jiwanya telah kosong dari segala sesuatu lalu bersandar kepada Sumber Yang Maha Hidup.
Di bawah ini adalah sumber-sumber yang saya petik dari pelbagai laman sebagai hujah dan keterangan yang jelas mengenai Mimpi Bertemu Rasulullah, Malam Lailatul Qadar, Anugerah Ismullah AL A’dzham dan Amalan Anak Kunci Pembuka Khazanah Langit Dan Bumi yg merupakan ANUGERAH ALLAH UNTUK HAMBA YANG HINA.
----------------------------------------------------------------------------------
Telah diriwayatkan dalam beberapa hadis berkaitan mimpi bertemu Rasulullah salah satunya ialah, berkata Abu Salamah, “Telah berkata Abu Qatadah, Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud, sesiapa yang telah melihat daku dalam mimpinya, maka sesungguhnya dia telah melihat yang benar (al-Haqq). Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim.
Tafsir Mimpi Menurut Al-Qur`an dan As-Sunnah
Ustadz Abu Sa’ad al-Wa’izh berkata, “Pada prinsipnya mimpi yang baik itu bersumber dari aneka amal yang benar dan mengingatkan akan aneka akibat dari berbagai urusan. Dari mimpi yang baik itu muncullah aneka perintah, larangan, berita gembira, dan peringatan.
Dikatakan demikian karena mimpi yang baik merupakan sisa dan bagian dari kenabian, bahkan ia merupakan satu dari dua bagian kenabian, sebab ada nabi yang wahyunya berupa mimpi. Orang yang menerima wahyu melalui mimpi disebut Nabi. Adapun orang yang menerima ucapan malaikat saat dia terjaga disebut Rasul. Inilah yang membedakan antara nabi dan rasul.”
Abu Ali Hamid bin Muhammad bin Abdullah ar-Rafa` memberitahukan kepada kami, dari
Muhammad ibnul-Mughirah, dari Makki bin Ibrahim, dari Hisyam bin Hasan, dari Muhammad bin Sirin, dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda,
“Jika masa semakin dekat, mimpi seorang muslim nyaris tidak pernah dusta. Muslim yang paling benar mimpinya adalah yang paling jujur perkataannya. Mimpi seorang mukmin merupakan satu bagian dari 46 bagian kenabian. Mimpi ada tiga macam: mimpi yang baik sebagai berita gembira dari Allah ‘azza wa jalla, mimpi seorang muslim yang dialami oleh dirinya sendiri, dan mimpi sedih yang berasal dari setan. Jika salah seorang di antara kamu mengalami mimpi yang tidak disukai, janganlah menceritakannya kepada orang lain, bangunlah, kemudian shalatlah.”
(Muttafaq ‘alaih)
Beliau bersabda,
“Aku menyukai mimpi ihwal rantai, tetapi tidak menyukai mimpi ihwal belenggu.” (Shahih al-Jami’)
Rantai ditakwilkan dengan keteguhan pada agama.
Abu Abdullah al-Mahlabi dan Muhammad bin Ya’qub bin Yusuf menceritakan kepada kami
dari al-‘Abbas ibnul-Walid bin Mazid, dari ‘Uqbah bin ‘Alqamah al-Mu’arifi, dari al-Auza’i, dari Yahya bin Abi Katsir, dari Abi Salamah bin Abdurrahman, dari ‘Ubadah ibnush-Shamit bahwa ia bertanya kepada Rasulullah tentang ayat 63-63 surah Yunus,
“Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan dalam kehidupan di akhirat.”
Maka, Rasulullah menjawab,
“Sungguh kamu telah menanyakan sesuatu kepadaku yang belum pernah ditanyakan oleh
seorang pun selainmu. Al-busyra ialah mimpi yang baik yang dialami oleh seseorang atau dianugerahkan Allah kepadanya.” (As-Silsilah ash-Shahihah)
Ustadz Abu Sa’ad berkata, “Hadits-hadits yang kami riwayatkan tersebut menunjukkan bahwa mimpi itu memang sesuatu yang benar secara substansial dan bahwa mimpi itu memiliki ketentuan dan dampak.”
Di antara dalil yang menunjukkan kebenaran mimpi ialah bahwa saat Ibrahim tidur, Allah memperlihatkan kepadanya seolah-olah dia menyembelih putranya. Setelah bangun, dia pun melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya saat tidur. Allah Ta’ala mengisahkan kejadian tersebut,
“Maka tatkala anak itu mencapai kesanggupan berusaha bersama-sama Ibrahim,Ibrahim
berkata, ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka, pikirkanlah apa pendapatmu!’ Dia menjawab, ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’” (ash-Shaaffat: 102)
Setelah Ibrahim a.s. memahami mimpinya dan berupaya melaksanakannya, lalu Allah
memberinya jalan keluar karena kasih-sayang-Nya, dia mengetahui bahwa mimpi itu merupakan hukum. Demikian pula halnya dengan mimpi yang dialami Yusuf a.s., yang dikisahkan Allah dalam Al-Qur`an sebagai kisah yang populer dan terkenal.
Abu Sa’id Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim meriwayatkan kepada kami dari Ali bin
Muhammad al-Waraq, dari Ahmad bin Muhammad bin Nashr, dari Yusuf bin Bilal, dariMuhammad bin Marwan al-Kalbi, dari Abu Shalih, dari Ibnu Abbas bahwa Aisyah berkata, “Rasulullah terkena sihir. Maka, beliau jatuh sakit, sehingga kami mengkhawatirkannya. Ketika beliau berada antara tidur dan terjaga, tiba-tiba turun dua malaikat: yang satu berada di dekat kepala Rasulullah dan yang lain
berada di dekat kaki beliau. Malaikat yang berada dekat kepala berkata kepada malaikat yang berada dekat kaki, ‘Mengapa dia sakit?’ Malaikat bertanya demikian supaya Nabi saw. memahami persoalannya.
Temannya menjawab, ‘Terkena sihir.’
‘Siapa yang melakukannya?’
‘Lubaid bin A’sham, orang Yahudi.’
‘Di mana dia melakukannya?’
‘Di sumur Dzarwan.’
‘Bagaimana mengobatinya?’
‘Kirimlah orang ke sumur itu dan keringkan airnya. Jika tampak sebuah batu besar,
singkirkanlah karena di bawahnya terdapat tali busur yang berpintal sebelas dan diletakkan di dalam kantong. Setelah itu bakarlah ia. Insya Allah dia sembuh. Jika dia menyuruh orang, hendaknya dia mengeluarkan kantong itu.’”
Ibnu Abbas melanjutkan, “Nabi pun bangun dan beliau telah memahami apa yang dikatakan kepadanya oleh malaikat. Beliau menyuruh ‘Ammar bin Yasir dan sekelompok sahabatnya ke sumur tersebut yang airnya telah berubah seperti inai. Kemudian sumur itu dikeringkan. Setelah tampak batu besar, ia pun digulingkan, dan tampaklah di bawahnya kantong yang berisikan tali busur bersimpul sebelas. Kemudian mereka membawanya kepada Rasulullah. Maka, turunlah surah al-Falaq dan surah an-Naas.
Kedua surah ini berjumlah 11 ayat dan sama dengan banyaknya buhul yang berjumlah 11
pula. Setiap kali beliau membaca satu ayat, lepaslah satu buhul. Setelah seluruh buhulnya terbuka, Rasulullah dapat bangkit dan seolah-olah terlepas dari ikatan. Buhul itu pun dibakar. Nabi menyuruh kita berlindung kepada Allah melalui kedua surah tersebut. Lubaid mengunjungi Rasulullah. Meskipun beliau menceritakan kejadian di atas, pada wajah Lubaid tidak tampak perubahan apa pun.”
Hadits di atas menunjukkan kebenaran masalah mimpi dan keberadaannya di dalam banyak
hadits, sehingga terlampau panjang untuk menceritakannya.
Ustadz Abu Sa’ad berkata, “Aku melihat bahwa ilmu itu terdiri atas beberapa jenis, di antaranya ada yang bermanfaat bagi dunia, tetapi tidak bermanfaat bagi agama; ada yang bermanfaat bagi dunia dan agama. Ilmu tentang mimpi termasuk ilmu yang bermanfaat bagi dunia dan agama.
Kemudian aku shalat istikharah sebelum mengumpulkan apa yang berasal dari Allah dan menempuh metode peringkasan seraya memohon pertolongan kepada-Nya dalam menyempurnakan apa yang diridhai dan dicintai-Nya. Juga berlindung kepada-Nya dari ujian dan fitnah-Nya. Allahlah Pemilik taufik. Cukuplah Dia bagi kami. Dia adalah sebaik-baik Pelindung.”
Ustadz Abu Sa’ad berkata, “Orang perlu menegakkan tata kesopanan agar mimpinya mendekati kebenaran. Di antara adab kesopanan itu ialah membiasakan diri berkata jujur. Nabi bersabda dalam hadits muttafaq alaih, ‘Orang yang paling benar mimpinya ialah yang paling benar perkataannya.’”
Adab lainnya ialah tidur dengan punya wudhu. Abu Dzar berkata, “Kekasihku (Muhammad
saw.) memberikan tiga pesan kepadaku yang tidak pernah aku tinggalkan hingga mati. Yaitu, puasa tiga hari pada setiap bulan, dua rakaat shalat fajar, dan tidak tidur kecuali punya wudhu.” Demikian yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim.
Adab lainnya ialah tidur dengan berbaring ke sisi kanan tubuh karena Nabi saw. menyukai bagian kanan dalam segala hal. Diriwayatkan bahwa beliau tidur pada sisi kanan tubuhnya seraya meletakkan tangan kanannya di bawah pipi kanan, lalu berdoa,
“Ya Allah, lindungilah aku dari azab-Mu pada saat Engkau mengumpulkan hamba-hamba-
Mu.” (HR Tirmidzi dan Abu Dawud)
___________________________________________________________________________
Atabah / Tafsir Mimpi / m.s 3 dari108
--------------------------------------
Mimpi terbagi dua: mimpi yang benar dan yang batil. Mimpi yang benar ialah yang dialami manusia tatkala kondisi psikologisnya seimbang dan keadaan cuaca sedang seperti ditandai oleh bergoyangnya pepohonan hingga berjatuhannya dedaunan. Mimpi yang benar tidak didahului dengan adanya pikiran dan keinginan akan sesuatu yang kemudian muncul dalam mimpi.
Kebenaran mimpi juga tidak ternodai oleh peristiwa junub dan haid.
Adapun mimpi yang batil ialah yang ditimbulkan oleh bisikan nafsu, keinginan, dan hasrat. Mimpi demikian tidak dapat ditakwilkan. Demikian pula mimpi “basah” dan mimpi lain yang mewajibkan mandi dikategorikan sebagai mimpi yang batil karena tidak mengandung makna. Sama halnya dengan mimpi yang menakutkan dan menyedihkan karena berasal dari setan. Allah Ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari setan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pembicarana itu tiadalah memberi mudharat sedikitpun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah dan kepada Allahlah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakal.”
(al-Mujaadilah: 10)
Jika seseorang mengalami mimpi yang tidak disukai, disunnahkan melakukan lima
perbuatan. Yaitu, mengubah posisi tidur, meludah ke kiri sebanyak tiga kali, memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk, bangun dan shalat, dan tidak menceritakan mimpinya kepada siapa pun.
Ustadz Abu Sa’ad berkata, “Pelaku mimpi hendaknya memelihara etika yang perlu dipegang teguh dan memiliki batasan-batasan yang selayaknya tidak dilampaui. Demikian pula halnya dengan pentakwil.”
Etika pelaku mimpi ialah, pertama, dia tidak menceritakan mimpinya kepada orang yang hasud sebagaimana dikatakan Ya’kub kepada Yusuf,
“Ayahnya berkata, ‘Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka akan membuat makar untuk membinasakanmu.’” (Yusuf: 5)
Kedua, jangan menceritakan mimpinya kepada orang yang bodoh. Nabi saw. bersabda,
“Janganlah kamu menceritakan mimpimu kecuali kepada orang yang dicintai atau kepada orang yang pandai.”
Ketiga, janganlah menceritakan mimpi kecuali secara rahasia karena dia pun melihatnya secara rahasia pula. Jangan menceritakannya kepada anak-anak dan wanita. Sebaiknya mimpi itu diceritakan menjelang awal tahun dan pada pagi hari, bukan sesudah keduanya lewat.
Adapun etika pentakwil ialah sebagai berikut.
Pertama, jika saudaranya menceritakan mimpi kepadanya, maka katakanlah, “Aku kira
mimpi itu baik.”
Kedua, hendaknya menakwilkan mimpi dengan cara yang paling baik. Diriwayatkan bahwa
Nabi saw. bersabda, “Mimpi akan terjadi sebagaimana ia ditakwilkan.” Juga diriwayatkan bahwa beliau bersabda, “Mimpi itu bagaikan kaki yang menggantung selama belum diungkapkan. Jika telah diungkapkan, maka terjadilah.” Demikian yang disebut dalam as-Silsilah ash-Shahihah.
Ketiga, menyimak mimpi dengan baik, kemudian menjawab si penanya dengan jawaban
yang mudah dipahami.
Keempat, jangan tergesa-gesa menakwilkan mimpi. Lakukanlah dengan hati-hati.
Kelima, menyembunyikan mimpi dan tidak menyebarkannya sebab ia merupakan amanat.
Jangan menakwilkan mimpi ketika matahari terbit, ketika tergelincir, dan ketika terbenam.
Keenam, memperlakukan pelaku mimpi secara berbeda. Janganlah menakwilkan mimpi raja
seperti menakwilkan mimpi rakyat, sebab mimpi itu berbeda karena perbedaan kondisi pelakunya.
Ketujuh, merenungkan mimpi yang dikemukakan kepadanya. Jika mimpi itu baik, maka
takwilkanlah dan sampaikanlah kabar gembira kepada pelakunya sebelum mimpi itu ditakwilkan. Jika mimpi itu buruk, maka janganlah menakwillkannya atau takwilkanlah bagian mimpi yang takwilnya paling baik. Jika sebagian mimpi itu merupakan kebaikan dan sebagian lagi keburukan, maka bandingkanlah keduanya, lalu ambillah mimpi yang paling tepat dan paling kuat pokoknya. Jika pentakwil mengalami kesulitan, bertanyalah kepada pelaku mimpi ihwal namanya, lalu takwilkannya
berdasarkan namanya itu.
___________________________________________________________________________
Atabah / Tafsir Mimpi / m.s 4 dari108
Paparan singkat ini cukup kaya bagi orang yang mau merenungkannya dan mencermati
maknanya. Kalaulah kami memaparkannya secara panjang lebar, niscaya menimbulkan kebosanan dan kejemuan. Kami berharap kepada Allah Ta’ala kiranya buku ini bermanfaat bagi kita dan kiranya Dia melindungi kita dari ilmu yang tidak bermanfaat, perut yang tidak pernah kenyang, nafsu yang tidak mau tunduk, doa yang tidak diterima, tabiat yang menyeret kepada ketamakan, dan ketamakan yang tidak pernah berakhir. Sesungguhnya Allah Ta’ala Mahakuasa atas segala yang dikehendaki-
Nya, serta Maha melakukan apa yang dituju-Nya. Cukuplah bagiku Allah. Dialah sebaik-baik Pelindung
------------------------------------------------------------------------------------
Lailatul Qadar Dalam Suluhan Ilmu Makrifat
(Petikan dari kitab Kasyaf al Haq oleh Tuan Guru Hj Mohd Yusoff Che WooK)
Mengikut pengertian bahasa, perkataan laila bermaksud malam manakala perkataan qadar pula bermaksud mubarakatin (keberkatan) atau saat yang diperingati. Jika kedua dua perkataan itu digabungkan, ianya membawa maksud lailatul qadar iaitu malam keberkatan atau malam yang diperingati.
Mengikut tafsiran ilmu makrifat, perkataan laila merujuk kepada jahil, manakala perkataan qadar pula merujuk kepada berilmu (alim). Jika kedua dua perkataan tersebut digabungkan, ianya membawa maksud iaitu dari bersifat seorang yang jahil kembali bertukar kepada seorang yang alim yang berilmu. Iaitu terbuka hijab pintu hatinya daripada seorang yang tidak mengenal Allah, ianya berubah kepada seorang yang mengenal Allah swt. Saat mengenal Allah itulah yang dikatakan saat keberkatan dan saat saat yang tidak akan di lupakan buat selama lamanya.
Ia juga membawa maksud, daripada suasana gelap zulmat, hitam kotor dan jahil fasiq hatinya dari ilmu makrifat, bertukar kepada suasana yang gemilang sirna cahaya keberkatan yang amat terang benderang hatinya setelah mendapat ilmu mengenal Allah. Daripada bersifat jahil bertukar kepada sifat mengenal dirinya dan bertukar kepada mengenal Allah. Dari asalnya bersifat fasik(tidak mengenal Allah), kini bertukar dan berubah kepada seorang yang bersifat alim(mengenal Allah). Inilah pengertian malam lailalatul qadar yang sebenar.
Kebanyakkan dari kita bila sebut sahaja malam lailatul qadar, yang mereka ingat hanya keajaiban pada bulan Ramadan. Seumpama air perigi kering akan menjadi penuh(melimpah). Pokok kayu kayan akan jadi tunduk(rebah) menyembah bumi dan macam-macam lagi perkara pelik-pelik dan sebagainya. Sedangkan intisari daripada maksud lailatul qadar itu, sebenarnya adalah bermaksud; “dari sifat seorang yang buta matahatinya bertukar kepada cerah mata hatinya kerana memandang dan mengenal Allah swt.” Menurut Imam Asy Syarani,menterjemahkan erti dan makna lailatul qadar itu sebagai “suasana hati”. Berkata beliau lagi:
“Apabila engkau ingin hati mu hidup, iaitu hidup yang tidak ada matinya sesudahnya lagi, maka keluarkanlah engkau dari menyandarkan harapan kepada makhluk. Matikan hawamu dan iradatmu. Di waktu itulah engkau mulai akan diberi oleh Allah hidup yang sejati, hidup yang tak ada mati sesudahnya lagi. Kaya yang tak ada miskin sesudahnya lagi. Pemberian yang tak ada henti-hentinya lagi. Lalu diangkat nilai engkau dalam hati hamba-hambaNya. Sehingga engkau tidak akan sesat untuk selama lamanya”
Apakah erti hidup yang tiada mati sesudahnya? Artinya adalah merujuk kepada ilmu mengenal Allah. Sesudah kita berjaya sampai kepada tahap ilmu mengenal Allah, ilmu itu akan hidup di dalam hati hati kita selama lamanya, yang tidak akan ada kesudahannya dan tidak akan pernah padam dan terhapus selama lamanya. Wajah Allah inilah yang akan kita bawa, sampai hari kiamat dan hari menghadap Allah swt. Apabila kita telah berjumpa dengan ilmu mengenal Allah, ingatan hati kita kepada Allah tidak akan pernah terlupus walaupun sesaat, walaupun ketika jasad sedang tidur.
Sesudah kita mengenal Allah (mendapat lailatul qadar) iktikad atau pegangan hati kita, akan berubah sepenuhnya, daripada bersifat gelap kepada terang, daripada bersifat mati bertukar kepada hati yang sentiasa hidup. Yang tetap hidup dan tiada mati itu, adalah ingatan kita kepada Allah, ianya akan tetap hidup dihati kita, yang tidak akan ada matinya, bukan bermakna tidak mati jasad, tetapi tidak mati ingatan kita kepada Allah. Bagi yang mendapat lailatul qadar, ia juga tidak akan sesat selamanya.
Apabila ingatan kita kepada Allah tidak pernah mati dan tidak pernah padam, disitulah segala kebesaran Allah akan dapat kita miliki dan menjiwainya dengan penuh pengertian. Pengertian itu nantinya akan terzahir keluar, sehingga melimpah ruah. Rasanya seumpama kita ini kaya, yang kekayaan itu, tidak akan menemui jalan kemiskinan. Kelazatan zhauq yang tidak pernah menemui jalan luntur, iaitu kaya dengan sifat sabar, taat, patuh, tawakkal, taqwa dan sebagainya. Pemberian kekayaan seumpama itu akan berterusan dan berpanjangan hidupnya di dalam hati hati kita, selagi akal bersifat waras terhadap Allah.
Inilah intisari maksud lailatul qadar yang sebenarnya. Perjalanan dari bersifat gelap menuju kepada yang bersifat terang. Dari bersifat mati ingatan bertukar kepada bersifat ingatan kepada Allah sentiasa hidup. Ingatan kepada makhluk dengan sendirinya akan mati dan terpadam. Mati hawa nafsu. Mati kehendak dan mati keinginan selain Allah. Mati harapan kepada makhluk, bertukar harapan kepada Allah. Dari bersifat sayangkan makhluk, menuju bersifat sayangkan Allah. Menurut Ar Rumi pula, menterjemahkan lailatul qadar itu sebagai; “Diri yang telah terjual” Berkata lagi beliau; “Allah telah membeli jiwa kita,untuk Dia. Bayarannya adalah syurga. Sebab itu tidak seorang pun yang dapat membelinya dan menawarnya sampai akhir zaman. Suatu barang yang tidak boleh di jual dua kali”
Bagi yang mendapat lailatul qadar, diumpamakan dirinya telah terjual dan telah tergadai kepada Allah. Setelah kita serahkan dan mengembalikan diri kita kepada Allah, ianya tidak lagi boleh diambil balik. Setelah pertama kali dijual, ia tidak boleh dijual buat kali kedua. Inilah kedudukan iktikad atau pegangan hati orang makrifat, yang tidak ada duanya berbanding Allah. Sekali kita berserah diri kepada Allah, jangan hendaknya berpatah balik. Pupuklah hati supaya buah tawakkal dan buah berserah boleh bertambah dengan subur.
Bagi yang mengenal Allah (yang mendapat anugerah lailatul qadar)mereka tidak akan berpaling lagi dari Allah. Walaupun didatangi musibah, penyakit, kemiskinan, dan kepayahan hidup, mereka tidak akan berpaling dari berserah diri dan bertawakkal kepada Allah. Tidak ada lagi erti kecewa dan erti penyesalan dihati mereka yang mengenal Allah. Hatinya kepada Allah tetap utuh dan tidak mudah terpesong dengan kekayaan dan kemewahan. Mereka sedar yang diri mereka telah dibeli oleh Allah dan kita telah menjualkannya kepada Allah. Akad jualbeli, antara kita dengan Allah telah dikira selesai. Segala sifat, kelakuan, asma dan zat yang mendatang di atas diri kita ini, dianggap telah terjual dan bukan lagi menjadi milik kita. Semua sifat yang mendatang, telah dianggap seumpama anugerah dari Allah kepada kita, kita ini tidak ubah seperti pelakon yang cuma sekadar melakonkan saja dari apa yang dianugerahkan oleh Allah kepada kita.
Oleh itu terimalah segalanya dengan ucapan terima kasih atau syukur. Inilah pengertian lailatul qadar menurut kacamata ilmu makrifat. Kita sebenarnya telah mati dan telah menjual sifat perangai, sifat jasad, sifat nama dan sifat zat kita kepada Allah. Jual sifat ego, sifat marah, tinggi diri, dengki, tamak harta dunia, putus asa dan sebagainya. Kita serahkan segala galanya ke atas kebijaksanaan Allah, Allahlah yang menentu dan mengatur kehidupan kita.
Firman Allah;
“Turun malaikat dan roh padanya, dengan izin Tuhan mereka membawa dari tiap-tiap perintah.”(Al qadar :4)
Roh kita telah ditugaskan bagi membawa perintah Allah. Di antara perintah itu, adalah supaya roh membawa segala sifat anggota pancaindera, perangai yang dilakukan oleh anggota. Nama yang di panggil anggota dan zat roh itu sendiri supaya dapat dikembalikan semula hak Allah kepadaNya. Bermula lailatul qadar itu, adalah disaat diri kita di jual dan diserahkan kembali kepada Allah. Dengan ini jugalah bermulanya sejarah diri(roh)kita telah dibeli dan terjual kepada Allah. Iaitu disaat kita mengenal roh dan mengenal Allah.
Malam lailatul qadar juga, lebih dikenali sebagai malam seribu bulan(1000 bulan). Seribu bulan itu bermaksud terang benderang, seumpama malam yang gelap gelita telah diterangi, disuluh dan telah ditemani oleh seribu biji bulan, cuba bayangkan betapa terangnya bumi ini, apabila ianya diterangi dan disuluh oleh seribu biji bulan. Begitulah terangnya hati mereka yang mendapat cahaya lailatul qadar Allah dengan hanya membaca sepotong ayat dari ayat-ayat Allah, barakahnya seumpama hati kita telah diterangi dan disuluh oleh seribu bulan. Cuba bayangkan nilaian kematangan akal semasa berumur satu tahun, dibandingkan akal mereka yang berumur seribu tahun. Inilah kelebihan dan kematangan akal bagi yang mendapat malam lailatul qadar (malam seribu bulan). Secara tiba-tiba boleh mengubah akal yang jahil dalam sekelip mata kepada akal yang berilmu, Mengenal Allah.
Begitulah nilai terangnya hati mereka yang mendapat anugerah lailatul qadar. Dari bersifat lalai bertukar kepada yang bersifat ingat kepada Allah. Dari berilmu syariat ,akan bertukar kepada hati yang berilmu makrifat. Bagi mereka yang buta mati hatinya, walaupun dengan kehadiran seribu bulan dan sejuta bintang sekalipun, akal dan hati mereka akan tetap berada dalam kegelapan. Manakala bagi mereka yang mengenal Allah(mendapat anugerah lailatul qadar), walau alam tidak diterangi bulan dan tidak diterangi sekalipun, hati mereka sudah cukup terang oleh cahaya Allah (cahaya makrifat kepada Allah). Inilah pengertian lailatul qadar mengikut suluhan makrifat.
Kisah bagaimana Saidina Umar Al Khatab memeluk Islam. Pada zaman Rasulullah, ada seorang hamba Allah, yang terkenal dengan ganas dan bengisnya, telah pergi untuk membunuh Baginda Rasulullah. Di dapati adik perempuan kandungnya dan suaminya sendiri telah memeluk islam secara diam-diam, bertambah marah dan lebih membakar hatinya untuk membunuh Baginda Rasulullah. Beliau telah mendatangi rumah adiknya dengan tujuan mencari Baginda Rasulullah, bila tiba ke rumah adik perempuannya, didapati adik dan suaminya sedang membaca sesuatu. Beliau cuba merampasnya dengan tujuan ingin membuang potongan bacaan itu, tetapi dihalang oleh adiknya, sehingga beliau terpaksa bersikap kasar dengan menampar pipi adiknya sehingga terjatuh. Dengan terjatuh adiknya tadi, sehingga terlepas cebisan potongan ayat dari gengamannya. Lalu dirampas dan dicubanya untuk membacanya. Setelah membaca, beliau pun menangis, bergenang air mata, bercucuran jatuh membasahi pipinya. Secara tiba tiba didatangi suasana yang luar biasa, dari bengis bertukar baik, dari panas bertukar sejuk dan dari jahil bertukar alim. Dalam masa sesaat, suasananya telah berubah dan mengubah hatinya yang gelap itu, seumpama diterangi oleh seribu bulan. Dengan hanya sepotong ayat sahaja, telah membuka pintu hatinya secara mendadak, dari hatinya bersifat panas, kini kembali bertukar menjadi sejuk.
Ayat itu telah meresap ke dalam lubuk dada yang membuatkan hatinya berubah secara tiba-tiba. Lalu beliau bertanya “di mana Muhammad sekarang? Bawa aku kepadanya!Aku akan masuk Islam”. Itulah kisah Umar bin Al khattab (Panglima Islam yang tersohor) Saidina Umar merasa hatinya telah di pukul oleh ayat berkenaan. Inilah hakikat lailatul qadar yang membawa perubahan yang mendadak, kenikmatan dan keberkatan secara tiba tiba bagi menggambarkan dan menunjukkan maksud lailatu qadar yang sebenar.
Dengan hanya sekelip mata, beliau sudah dapat merasai dan menikmati keberkatan lailatul qadar, sudah dapat mengubah sifat kerohaniannya. Inilah yang dikatakan hari lailatul qadar, iaitu hari yang di peringati. Hari yang indah dan saat-saat yang paling bersejarah dan yang paling diingati dalam kehidupan seseorang insan menuju Allah swt.
----------------------------------------------------------------------------------
Ismullah Al-A’dzham
Asmaul Husna dan Ismullah al-a’zam
Asmaul Husna
Al-Hashr [24] Dialah Allah, Yang Menciptakan sekalian makhluk; Yang Mengadakan (dari tiada kepada ada); Yang Membentuk rupa (makhluk-makhlukNya menurut yang dikehendakiNya); bagiNyalah nama-nama yang sebaik-baiknya dan semulia-mulianya
Taha [8] Allah! Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia, bagiNyalah segala nama yang baik.
Tuhan kita ini mempunyai 1,000 nama. 300 nama terdapat dalam Taurat, 300 dalam Zabur, 300 dalam Injil, 99 dalam Al-Quran dan 1 nama yang tersembunyi. Dari Abu Hurairah r.a bahawa nabi s.a.w bersabda:
”Sesungguhnya Allah mempunyai sembilan puluh sembilan nama iaitu seratus kurang satu. Siapa menghafalnya masuk syurga.” (Muslim)
Al-A’raf [180] Dan Allah mempunyai nama-nama yang baik (yang mulia), maka serulah (dan berdoalah) kepadaNya dengan menyebut nama-nama itu…
Al-Isra [110] Katakanlah (wahai Muhammad): Serulah nama “Allah” atau nama “Ar-Rahman”, yang mana sahaja kamu serukan (dari kedua-dua nama itu adalah baik belaka); kerana Allah mempunyai banyak nama-nama yang baik serta mulia…
Ismullah Al-A’zam
Diantara nama-nama itu terdapat 1 nama yang teragung dikenali sebagai ismullah al-a’zam”, yang bila diucapkan dalam doa, Allah akan mengabulkannya (disebut di dalam hadith).
Daripada Abdullah ibn Buraidah dari¬pada bapanya, bahawa Rasulullah s.a.w. telah mendengar seorang lelaki berkata di dalam doanya yang bermaksud: “Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan bersaksi bahawa sesungguhnya Engkau adalah Allah. Tiada Tuhan selain Engkau Yang Maha Esa, yang menjadi tempat bergantungnya segala sesuatu, yang tidak melahirkan dan tidak pula dilahirkan dan tidak ada yang menandingi-Nya.”
Maka Rasulullah s.a.w. bersabda maksudnya: “Demi zat yang aku ada dalam kekuasaannya, Sesungguhnya anda telah meminta kepada Allah dengan nama-Nya yang paling Agung yang bilamana Dia dimintai dengan nama (asma)-Nya itu, Dia pasti akan memberi dan jika dimintai dengannya pasti akan dikabulkan“.
Cuma cara untuk berdoa dengan nama itu tidak diketahui. Ulama nahu (grammar) mengatakan nama itu ialah Allah kerana ia adalah satu perkataan tunggal, perkataan yang merdeka iaitu tidak berasal dari perkataan lain. Ada juga ahli tarikat dan sufi seperti Muinuddin Chisti yang mengatakan nama itu ialah “Ya Hayyu Ya Qayyum“. Oleh itu disyorkan agar berdoa dan berzikir dengan menggabungkan keduanya iaitu “Allahu Lailaha illa Huwal Hayyul Qayyum“.
Dari Asma Binti Yazid, bahawasanya Rasulullah s.a.w. telah bersabda: Nama Allah yang paling agung adalah yang ada pada dua ayat berikut. Baqarah [163]Dan tuhan kamu ialah tuhan Yang maha Esa; tiada tuhan (Yang berhak disembah) selain dari Allah Yang maha Pemurah, lagi maha Mengasihani. Ali-Imran [1-2] Alif, Laam, Miim. Allah tiada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Tetap Hidup, Yang Kekal selama-lamanya mentadbirkan sekalian makhlukNya
Sentiasalah sebut nama Allah, sepertimana orang yang menyayangi sesuatu atau seseorang selalu menyebut namanya.
“Tidaklah duduk suatu kaum berzikir (menyebut) nama Allah ‘Azza wa Jalla melainkan dinaungilah mereka oleh para malaikat, dipenuhi mereka oleh rahmat Allah dan diberikan ketenangan kepada mereka, juga Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan malaikat yang ada di sisi-Nya.” (Hadith Riwayat Imam Muslim, Imam Tirmizi dan Imam Ibn Majah dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khudri r.a.)
-----------------------------------------------------------------------------------
ANAK KUNCI GEDUNG KHAZANAH LANGIT DAN BUMI
" Jika kamu hitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya "
(Al-Quran : Ibrahim ; 14:34)
Meskipun ada beribu-ribu doa, bacaan dan amalan oleh orang-orang Sufi, namun ada beberapa formula yang tertentu yang lebih darjat dan manfaatnya, seperti yang dikemukakan disini, yang digelar "Maqalad as-Samawi wal-Ard" yang bererti "Kunci Pembuka Khazanah Langit dan Bumi". Meskipun khas untuk menyembuhkan penyakit - mengelakkan penyakit pada sehari bacaan itu diamalkan - faedah dari sebutan itu bukan terhad kepada penyakit badan sahaja tetapi juga penyakit yang lain, seperti tersebut dalam hadith.
Adalah dikhabarkan bahawa Uthman ibn Afan r.a. telah meminta penjelasan lanjut tentang firman Allah berkaitan dengan Kunci Pembuka Khazanah langit dan bumi ( yang tersebut beberapa kali dalam al-Quran), Nabi Muhammad s.a.w berkata kepadanya : ” Kamu bertanya kepada saya , yang orang lain belum bertanya, kunci pembuka khazanah Langit dan Bumi itu adalah sebagai berikut:-
Lailaha illa llahu wa-llahu akbar
Wa subhan Allahi wal-hamdulillahi
Wastaghfirullah alladhi la illaha illa hu
Wal awwalu, wal-akhiru, waz-zahiru wal batinu
Yuhyi wa yumit Wa Hua Hayyun la yumutu
Bi-yadihil-khayr wa huwa ala kulli shay’in Qadir
Ertinya :
Tiada yang disembah melainkan Allah, Allah Maha Besar,Maha Suci engkau segala puji bagi Allah. Aku mohon ampun kepada Allah, tiada Tuhan yang patut disembah melainkan dia. Dia yang awal, dia yang akhir, dia yang zahir,dia yang bathin, yang menghidupkan, yang mematikan. Dia yang hidup tanpa mati, padanya segala kebaikan dan ia berkuasa atas segala sesuatu.
Nabi Muhammad s.a.w bersabda. ” Wahai Uthman ! – Barang siapa membacanya 100 kali sehari akan dikurnia 10 faedah:-
PERTAMA : Segala dosanya yang lalu akan diampun.
KEDUA : Terlepas dari siksaan neraka.
KETIGA : Dua orang Malaikat dilantik untuk memeliharanya siang dan malam daripada penyakit dan kesiksaan.
KEEMPAT : Dia dikurniakan perbendaharaan rahmat dan berkat.
KELIMA: Dia mendapat pahala seperti orang yang membebaskan 100 orang hamba abdi daripada keturunan Nabi Ismail r.a.
KEENAM : Dia diberi pahala seperti membaca seluruh al-Quran, Zabur, Taurat dan Injil.
KETUJUH : Sebuah rumah akan didirikan untuknya disyurga.
KELAPAN : Dia akan berkahwin dengan seorang bidadari syurga.
KESEMBILAN : Dia akan dipermuliakan dengan mahkota kemuliaan.
KESEPULUH : Permohonan keampunannya bagi 70 orang saudaranya akan dimakbulkan.
Wahai Uthman !, kalau kamu mampu, janganlah lupa membacanya setiap hari, kamu akan termasuk dalam golongan orang-orang yang berjaya dan melampaui orang-orang yang sebelum kamu dan selepas kamu.
===================================================================================
Seruan saya kepada mereka-mereka yang pernah menuntut ilmu dari Mas Reno, bertaubatlah dan buangkalah segala ilmu yang telah anda pelajari dari Guru sesat ini. Segala ilmu yang tidak membawa kepada mengenal Allah SWT adalah ilmu yang tidak bermanafaat, melalaikan malah menjauhkan anda dari Allah SWT. Malah ilmu ini menjadi hijab kepada anda untuk mengenal Allah kerana tiada keberkatan di dalamnya.
BAGAIMANA PULA DENGAN GURU-GURU LAIN , DI MALAYSIA TERUTAMANYA?
Huraian dan penjelasan ini sedikit sebanyak memberi anda penerangan tentang “kesesatan” dan “kebenaran” di antara dakwaan Mas Reno dari Yayasan Nur Syifa Jakarta yang mendakwa saya menciplak ilmu dari blognya dan melakukan penipuan . Manakala dakwaan saya ke atas Mas Reno adalah beliau merupakan seorang guru yang sesat lagi menyesatkan kerana mendakwa Ilmu Allah (Nur Syifa) miliknya dan hanya dia sahaja yang benar di sisi Allah.
Bagi mereka yang telah mengenal Allah SWT dengan sebenar-benarnya ada tanda dan pengesahan dari Allah, Tuhan sekalian alam dan dari baginda Rasulullah sendiri yang merupakan Guru sekalian guru. Tanda mengenal Allah adalah pertemuan dengan malam Lailatul Qadar dan tanda ilmu yang benar di sisi Allah adalah pengesahan dari Baginda Rasul melalui pertemuan dengan baginda sendiri melalui mimpi. Inilah golongan yang selamat dan benar ilmunya.
Mereka yang telah mengenal Allah, kosong hatinya dari segala sesuatu selain Allah. Dia telah memulangkan kembali 7 Sifat Allah (Ma’ani) kepada Yang Empunya iaitu Sifat Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Sama’, Basar dan Kalam. Lalu dia merasa tidak berkuasa dan berkehendak melainkan dengan Qudrat dan Iradat Allah.. Dia telah merasai mati (mati sebelum mati) dan kosong dari segala sesuatu (ilmu), maka dengan Ilmu Allah lah dia mengetahui dan dengan hayat Allah lah dia hidup. Dia telah menjadi pekak, buta dan bisu lalu dengan Sama’ Allah lah dia mendengar, dengan Basar Allah lah dia melihat dan dengan Kalam Allah lah dia bercakap.
Tetapi manusia sesat lagi menyesatkan, saya boleh mencontohkan Mas Reno dari Yayasan Nur Syifa. Beliau mendakwa, Nur Syifa dia punya dan orang lain hanya menipu dan hanya tahu menciplak ilmu miliknya. Dia telah mempertuhankan dirinya sendiri , mengaku berilmu dengan Ilmu Allah. Mereka seperti inilah yang selalu di datangi syaitan jin dan iblis yang menyamar dan mengaku sebagai wali-wali serta memberikan Ilmu yang memperagakan kehebatan. Ilmu yang bersandar kepada Jin dan Iblis.
Manakala saya hanya pernah bertemu Baginda Rasul di malam Lailatul Qadar dan baginda mengijazahkan saya amalan para Ariffin ( bukankah ini pengiktirafan baginda kepada saya yang telah sampai kepada maqam orang Arif ?) Maqam orang Arif adalah di atas maqam ulama dan di bawah maqam Waliullah. Ulama menghafal pelbagai kitab (sumber yang mati) manakala orang Arif menerima Ilmu terus dari Allah (Ilmu Laduni) kerana jiwanya telah kosong dari segala sesuatu lalu bersandar kepada Sumber Yang Maha Hidup.
Di bawah ini adalah sumber-sumber yang saya petik dari pelbagai laman sebagai hujah dan keterangan yang jelas mengenai Mimpi Bertemu Rasulullah, Malam Lailatul Qadar, Anugerah Ismullah AL A’dzham dan Amalan Anak Kunci Pembuka Khazanah Langit Dan Bumi yg merupakan ANUGERAH ALLAH UNTUK HAMBA YANG HINA.
----------------------------------------------------------------------------------
Telah diriwayatkan dalam beberapa hadis berkaitan mimpi bertemu Rasulullah salah satunya ialah, berkata Abu Salamah, “Telah berkata Abu Qatadah, Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud, sesiapa yang telah melihat daku dalam mimpinya, maka sesungguhnya dia telah melihat yang benar (al-Haqq). Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim.
Tafsir Mimpi Menurut Al-Qur`an dan As-Sunnah
Ustadz Abu Sa’ad al-Wa’izh berkata, “Pada prinsipnya mimpi yang baik itu bersumber dari aneka amal yang benar dan mengingatkan akan aneka akibat dari berbagai urusan. Dari mimpi yang baik itu muncullah aneka perintah, larangan, berita gembira, dan peringatan.
Dikatakan demikian karena mimpi yang baik merupakan sisa dan bagian dari kenabian, bahkan ia merupakan satu dari dua bagian kenabian, sebab ada nabi yang wahyunya berupa mimpi. Orang yang menerima wahyu melalui mimpi disebut Nabi. Adapun orang yang menerima ucapan malaikat saat dia terjaga disebut Rasul. Inilah yang membedakan antara nabi dan rasul.”
Abu Ali Hamid bin Muhammad bin Abdullah ar-Rafa` memberitahukan kepada kami, dari
Muhammad ibnul-Mughirah, dari Makki bin Ibrahim, dari Hisyam bin Hasan, dari Muhammad bin Sirin, dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda,
“Jika masa semakin dekat, mimpi seorang muslim nyaris tidak pernah dusta. Muslim yang paling benar mimpinya adalah yang paling jujur perkataannya. Mimpi seorang mukmin merupakan satu bagian dari 46 bagian kenabian. Mimpi ada tiga macam: mimpi yang baik sebagai berita gembira dari Allah ‘azza wa jalla, mimpi seorang muslim yang dialami oleh dirinya sendiri, dan mimpi sedih yang berasal dari setan. Jika salah seorang di antara kamu mengalami mimpi yang tidak disukai, janganlah menceritakannya kepada orang lain, bangunlah, kemudian shalatlah.”
(Muttafaq ‘alaih)
Beliau bersabda,
“Aku menyukai mimpi ihwal rantai, tetapi tidak menyukai mimpi ihwal belenggu.” (Shahih al-Jami’)
Rantai ditakwilkan dengan keteguhan pada agama.
Abu Abdullah al-Mahlabi dan Muhammad bin Ya’qub bin Yusuf menceritakan kepada kami
dari al-‘Abbas ibnul-Walid bin Mazid, dari ‘Uqbah bin ‘Alqamah al-Mu’arifi, dari al-Auza’i, dari Yahya bin Abi Katsir, dari Abi Salamah bin Abdurrahman, dari ‘Ubadah ibnush-Shamit bahwa ia bertanya kepada Rasulullah tentang ayat 63-63 surah Yunus,
“Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan dalam kehidupan di akhirat.”
Maka, Rasulullah menjawab,
“Sungguh kamu telah menanyakan sesuatu kepadaku yang belum pernah ditanyakan oleh
seorang pun selainmu. Al-busyra ialah mimpi yang baik yang dialami oleh seseorang atau dianugerahkan Allah kepadanya.” (As-Silsilah ash-Shahihah)
Ustadz Abu Sa’ad berkata, “Hadits-hadits yang kami riwayatkan tersebut menunjukkan bahwa mimpi itu memang sesuatu yang benar secara substansial dan bahwa mimpi itu memiliki ketentuan dan dampak.”
Di antara dalil yang menunjukkan kebenaran mimpi ialah bahwa saat Ibrahim tidur, Allah memperlihatkan kepadanya seolah-olah dia menyembelih putranya. Setelah bangun, dia pun melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya saat tidur. Allah Ta’ala mengisahkan kejadian tersebut,
“Maka tatkala anak itu mencapai kesanggupan berusaha bersama-sama Ibrahim,Ibrahim
berkata, ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka, pikirkanlah apa pendapatmu!’ Dia menjawab, ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’” (ash-Shaaffat: 102)
Setelah Ibrahim a.s. memahami mimpinya dan berupaya melaksanakannya, lalu Allah
memberinya jalan keluar karena kasih-sayang-Nya, dia mengetahui bahwa mimpi itu merupakan hukum. Demikian pula halnya dengan mimpi yang dialami Yusuf a.s., yang dikisahkan Allah dalam Al-Qur`an sebagai kisah yang populer dan terkenal.
Abu Sa’id Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim meriwayatkan kepada kami dari Ali bin
Muhammad al-Waraq, dari Ahmad bin Muhammad bin Nashr, dari Yusuf bin Bilal, dariMuhammad bin Marwan al-Kalbi, dari Abu Shalih, dari Ibnu Abbas bahwa Aisyah berkata, “Rasulullah terkena sihir. Maka, beliau jatuh sakit, sehingga kami mengkhawatirkannya. Ketika beliau berada antara tidur dan terjaga, tiba-tiba turun dua malaikat: yang satu berada di dekat kepala Rasulullah dan yang lain
berada di dekat kaki beliau. Malaikat yang berada dekat kepala berkata kepada malaikat yang berada dekat kaki, ‘Mengapa dia sakit?’ Malaikat bertanya demikian supaya Nabi saw. memahami persoalannya.
Temannya menjawab, ‘Terkena sihir.’
‘Siapa yang melakukannya?’
‘Lubaid bin A’sham, orang Yahudi.’
‘Di mana dia melakukannya?’
‘Di sumur Dzarwan.’
‘Bagaimana mengobatinya?’
‘Kirimlah orang ke sumur itu dan keringkan airnya. Jika tampak sebuah batu besar,
singkirkanlah karena di bawahnya terdapat tali busur yang berpintal sebelas dan diletakkan di dalam kantong. Setelah itu bakarlah ia. Insya Allah dia sembuh. Jika dia menyuruh orang, hendaknya dia mengeluarkan kantong itu.’”
Ibnu Abbas melanjutkan, “Nabi pun bangun dan beliau telah memahami apa yang dikatakan kepadanya oleh malaikat. Beliau menyuruh ‘Ammar bin Yasir dan sekelompok sahabatnya ke sumur tersebut yang airnya telah berubah seperti inai. Kemudian sumur itu dikeringkan. Setelah tampak batu besar, ia pun digulingkan, dan tampaklah di bawahnya kantong yang berisikan tali busur bersimpul sebelas. Kemudian mereka membawanya kepada Rasulullah. Maka, turunlah surah al-Falaq dan surah an-Naas.
Kedua surah ini berjumlah 11 ayat dan sama dengan banyaknya buhul yang berjumlah 11
pula. Setiap kali beliau membaca satu ayat, lepaslah satu buhul. Setelah seluruh buhulnya terbuka, Rasulullah dapat bangkit dan seolah-olah terlepas dari ikatan. Buhul itu pun dibakar. Nabi menyuruh kita berlindung kepada Allah melalui kedua surah tersebut. Lubaid mengunjungi Rasulullah. Meskipun beliau menceritakan kejadian di atas, pada wajah Lubaid tidak tampak perubahan apa pun.”
Hadits di atas menunjukkan kebenaran masalah mimpi dan keberadaannya di dalam banyak
hadits, sehingga terlampau panjang untuk menceritakannya.
Ustadz Abu Sa’ad berkata, “Aku melihat bahwa ilmu itu terdiri atas beberapa jenis, di antaranya ada yang bermanfaat bagi dunia, tetapi tidak bermanfaat bagi agama; ada yang bermanfaat bagi dunia dan agama. Ilmu tentang mimpi termasuk ilmu yang bermanfaat bagi dunia dan agama.
Kemudian aku shalat istikharah sebelum mengumpulkan apa yang berasal dari Allah dan menempuh metode peringkasan seraya memohon pertolongan kepada-Nya dalam menyempurnakan apa yang diridhai dan dicintai-Nya. Juga berlindung kepada-Nya dari ujian dan fitnah-Nya. Allahlah Pemilik taufik. Cukuplah Dia bagi kami. Dia adalah sebaik-baik Pelindung.”
Ustadz Abu Sa’ad berkata, “Orang perlu menegakkan tata kesopanan agar mimpinya mendekati kebenaran. Di antara adab kesopanan itu ialah membiasakan diri berkata jujur. Nabi bersabda dalam hadits muttafaq alaih, ‘Orang yang paling benar mimpinya ialah yang paling benar perkataannya.’”
Adab lainnya ialah tidur dengan punya wudhu. Abu Dzar berkata, “Kekasihku (Muhammad
saw.) memberikan tiga pesan kepadaku yang tidak pernah aku tinggalkan hingga mati. Yaitu, puasa tiga hari pada setiap bulan, dua rakaat shalat fajar, dan tidak tidur kecuali punya wudhu.” Demikian yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim.
Adab lainnya ialah tidur dengan berbaring ke sisi kanan tubuh karena Nabi saw. menyukai bagian kanan dalam segala hal. Diriwayatkan bahwa beliau tidur pada sisi kanan tubuhnya seraya meletakkan tangan kanannya di bawah pipi kanan, lalu berdoa,
“Ya Allah, lindungilah aku dari azab-Mu pada saat Engkau mengumpulkan hamba-hamba-
Mu.” (HR Tirmidzi dan Abu Dawud)
___________________________________________________________________________
Atabah / Tafsir Mimpi / m.s 3 dari108
--------------------------------------
Mimpi terbagi dua: mimpi yang benar dan yang batil. Mimpi yang benar ialah yang dialami manusia tatkala kondisi psikologisnya seimbang dan keadaan cuaca sedang seperti ditandai oleh bergoyangnya pepohonan hingga berjatuhannya dedaunan. Mimpi yang benar tidak didahului dengan adanya pikiran dan keinginan akan sesuatu yang kemudian muncul dalam mimpi.
Kebenaran mimpi juga tidak ternodai oleh peristiwa junub dan haid.
Adapun mimpi yang batil ialah yang ditimbulkan oleh bisikan nafsu, keinginan, dan hasrat. Mimpi demikian tidak dapat ditakwilkan. Demikian pula mimpi “basah” dan mimpi lain yang mewajibkan mandi dikategorikan sebagai mimpi yang batil karena tidak mengandung makna. Sama halnya dengan mimpi yang menakutkan dan menyedihkan karena berasal dari setan. Allah Ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari setan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pembicarana itu tiadalah memberi mudharat sedikitpun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah dan kepada Allahlah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakal.”
(al-Mujaadilah: 10)
Jika seseorang mengalami mimpi yang tidak disukai, disunnahkan melakukan lima
perbuatan. Yaitu, mengubah posisi tidur, meludah ke kiri sebanyak tiga kali, memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk, bangun dan shalat, dan tidak menceritakan mimpinya kepada siapa pun.
Ustadz Abu Sa’ad berkata, “Pelaku mimpi hendaknya memelihara etika yang perlu dipegang teguh dan memiliki batasan-batasan yang selayaknya tidak dilampaui. Demikian pula halnya dengan pentakwil.”
Etika pelaku mimpi ialah, pertama, dia tidak menceritakan mimpinya kepada orang yang hasud sebagaimana dikatakan Ya’kub kepada Yusuf,
“Ayahnya berkata, ‘Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka akan membuat makar untuk membinasakanmu.’” (Yusuf: 5)
Kedua, jangan menceritakan mimpinya kepada orang yang bodoh. Nabi saw. bersabda,
“Janganlah kamu menceritakan mimpimu kecuali kepada orang yang dicintai atau kepada orang yang pandai.”
Ketiga, janganlah menceritakan mimpi kecuali secara rahasia karena dia pun melihatnya secara rahasia pula. Jangan menceritakannya kepada anak-anak dan wanita. Sebaiknya mimpi itu diceritakan menjelang awal tahun dan pada pagi hari, bukan sesudah keduanya lewat.
Adapun etika pentakwil ialah sebagai berikut.
Pertama, jika saudaranya menceritakan mimpi kepadanya, maka katakanlah, “Aku kira
mimpi itu baik.”
Kedua, hendaknya menakwilkan mimpi dengan cara yang paling baik. Diriwayatkan bahwa
Nabi saw. bersabda, “Mimpi akan terjadi sebagaimana ia ditakwilkan.” Juga diriwayatkan bahwa beliau bersabda, “Mimpi itu bagaikan kaki yang menggantung selama belum diungkapkan. Jika telah diungkapkan, maka terjadilah.” Demikian yang disebut dalam as-Silsilah ash-Shahihah.
Ketiga, menyimak mimpi dengan baik, kemudian menjawab si penanya dengan jawaban
yang mudah dipahami.
Keempat, jangan tergesa-gesa menakwilkan mimpi. Lakukanlah dengan hati-hati.
Kelima, menyembunyikan mimpi dan tidak menyebarkannya sebab ia merupakan amanat.
Jangan menakwilkan mimpi ketika matahari terbit, ketika tergelincir, dan ketika terbenam.
Keenam, memperlakukan pelaku mimpi secara berbeda. Janganlah menakwilkan mimpi raja
seperti menakwilkan mimpi rakyat, sebab mimpi itu berbeda karena perbedaan kondisi pelakunya.
Ketujuh, merenungkan mimpi yang dikemukakan kepadanya. Jika mimpi itu baik, maka
takwilkanlah dan sampaikanlah kabar gembira kepada pelakunya sebelum mimpi itu ditakwilkan. Jika mimpi itu buruk, maka janganlah menakwillkannya atau takwilkanlah bagian mimpi yang takwilnya paling baik. Jika sebagian mimpi itu merupakan kebaikan dan sebagian lagi keburukan, maka bandingkanlah keduanya, lalu ambillah mimpi yang paling tepat dan paling kuat pokoknya. Jika pentakwil mengalami kesulitan, bertanyalah kepada pelaku mimpi ihwal namanya, lalu takwilkannya
berdasarkan namanya itu.
___________________________________________________________________________
Atabah / Tafsir Mimpi / m.s 4 dari108
Paparan singkat ini cukup kaya bagi orang yang mau merenungkannya dan mencermati
maknanya. Kalaulah kami memaparkannya secara panjang lebar, niscaya menimbulkan kebosanan dan kejemuan. Kami berharap kepada Allah Ta’ala kiranya buku ini bermanfaat bagi kita dan kiranya Dia melindungi kita dari ilmu yang tidak bermanfaat, perut yang tidak pernah kenyang, nafsu yang tidak mau tunduk, doa yang tidak diterima, tabiat yang menyeret kepada ketamakan, dan ketamakan yang tidak pernah berakhir. Sesungguhnya Allah Ta’ala Mahakuasa atas segala yang dikehendaki-
Nya, serta Maha melakukan apa yang dituju-Nya. Cukuplah bagiku Allah. Dialah sebaik-baik Pelindung
------------------------------------------------------------------------------------
Lailatul Qadar Dalam Suluhan Ilmu Makrifat
(Petikan dari kitab Kasyaf al Haq oleh Tuan Guru Hj Mohd Yusoff Che WooK)
Mengikut pengertian bahasa, perkataan laila bermaksud malam manakala perkataan qadar pula bermaksud mubarakatin (keberkatan) atau saat yang diperingati. Jika kedua dua perkataan itu digabungkan, ianya membawa maksud lailatul qadar iaitu malam keberkatan atau malam yang diperingati.
Mengikut tafsiran ilmu makrifat, perkataan laila merujuk kepada jahil, manakala perkataan qadar pula merujuk kepada berilmu (alim). Jika kedua dua perkataan tersebut digabungkan, ianya membawa maksud iaitu dari bersifat seorang yang jahil kembali bertukar kepada seorang yang alim yang berilmu. Iaitu terbuka hijab pintu hatinya daripada seorang yang tidak mengenal Allah, ianya berubah kepada seorang yang mengenal Allah swt. Saat mengenal Allah itulah yang dikatakan saat keberkatan dan saat saat yang tidak akan di lupakan buat selama lamanya.
Ia juga membawa maksud, daripada suasana gelap zulmat, hitam kotor dan jahil fasiq hatinya dari ilmu makrifat, bertukar kepada suasana yang gemilang sirna cahaya keberkatan yang amat terang benderang hatinya setelah mendapat ilmu mengenal Allah. Daripada bersifat jahil bertukar kepada sifat mengenal dirinya dan bertukar kepada mengenal Allah. Dari asalnya bersifat fasik(tidak mengenal Allah), kini bertukar dan berubah kepada seorang yang bersifat alim(mengenal Allah). Inilah pengertian malam lailalatul qadar yang sebenar.
Kebanyakkan dari kita bila sebut sahaja malam lailatul qadar, yang mereka ingat hanya keajaiban pada bulan Ramadan. Seumpama air perigi kering akan menjadi penuh(melimpah). Pokok kayu kayan akan jadi tunduk(rebah) menyembah bumi dan macam-macam lagi perkara pelik-pelik dan sebagainya. Sedangkan intisari daripada maksud lailatul qadar itu, sebenarnya adalah bermaksud; “dari sifat seorang yang buta matahatinya bertukar kepada cerah mata hatinya kerana memandang dan mengenal Allah swt.” Menurut Imam Asy Syarani,menterjemahkan erti dan makna lailatul qadar itu sebagai “suasana hati”. Berkata beliau lagi:
“Apabila engkau ingin hati mu hidup, iaitu hidup yang tidak ada matinya sesudahnya lagi, maka keluarkanlah engkau dari menyandarkan harapan kepada makhluk. Matikan hawamu dan iradatmu. Di waktu itulah engkau mulai akan diberi oleh Allah hidup yang sejati, hidup yang tak ada mati sesudahnya lagi. Kaya yang tak ada miskin sesudahnya lagi. Pemberian yang tak ada henti-hentinya lagi. Lalu diangkat nilai engkau dalam hati hamba-hambaNya. Sehingga engkau tidak akan sesat untuk selama lamanya”
Apakah erti hidup yang tiada mati sesudahnya? Artinya adalah merujuk kepada ilmu mengenal Allah. Sesudah kita berjaya sampai kepada tahap ilmu mengenal Allah, ilmu itu akan hidup di dalam hati hati kita selama lamanya, yang tidak akan ada kesudahannya dan tidak akan pernah padam dan terhapus selama lamanya. Wajah Allah inilah yang akan kita bawa, sampai hari kiamat dan hari menghadap Allah swt. Apabila kita telah berjumpa dengan ilmu mengenal Allah, ingatan hati kita kepada Allah tidak akan pernah terlupus walaupun sesaat, walaupun ketika jasad sedang tidur.
Sesudah kita mengenal Allah (mendapat lailatul qadar) iktikad atau pegangan hati kita, akan berubah sepenuhnya, daripada bersifat gelap kepada terang, daripada bersifat mati bertukar kepada hati yang sentiasa hidup. Yang tetap hidup dan tiada mati itu, adalah ingatan kita kepada Allah, ianya akan tetap hidup dihati kita, yang tidak akan ada matinya, bukan bermakna tidak mati jasad, tetapi tidak mati ingatan kita kepada Allah. Bagi yang mendapat lailatul qadar, ia juga tidak akan sesat selamanya.
Apabila ingatan kita kepada Allah tidak pernah mati dan tidak pernah padam, disitulah segala kebesaran Allah akan dapat kita miliki dan menjiwainya dengan penuh pengertian. Pengertian itu nantinya akan terzahir keluar, sehingga melimpah ruah. Rasanya seumpama kita ini kaya, yang kekayaan itu, tidak akan menemui jalan kemiskinan. Kelazatan zhauq yang tidak pernah menemui jalan luntur, iaitu kaya dengan sifat sabar, taat, patuh, tawakkal, taqwa dan sebagainya. Pemberian kekayaan seumpama itu akan berterusan dan berpanjangan hidupnya di dalam hati hati kita, selagi akal bersifat waras terhadap Allah.
Inilah intisari maksud lailatul qadar yang sebenarnya. Perjalanan dari bersifat gelap menuju kepada yang bersifat terang. Dari bersifat mati ingatan bertukar kepada bersifat ingatan kepada Allah sentiasa hidup. Ingatan kepada makhluk dengan sendirinya akan mati dan terpadam. Mati hawa nafsu. Mati kehendak dan mati keinginan selain Allah. Mati harapan kepada makhluk, bertukar harapan kepada Allah. Dari bersifat sayangkan makhluk, menuju bersifat sayangkan Allah. Menurut Ar Rumi pula, menterjemahkan lailatul qadar itu sebagai; “Diri yang telah terjual” Berkata lagi beliau; “Allah telah membeli jiwa kita,untuk Dia. Bayarannya adalah syurga. Sebab itu tidak seorang pun yang dapat membelinya dan menawarnya sampai akhir zaman. Suatu barang yang tidak boleh di jual dua kali”
Bagi yang mendapat lailatul qadar, diumpamakan dirinya telah terjual dan telah tergadai kepada Allah. Setelah kita serahkan dan mengembalikan diri kita kepada Allah, ianya tidak lagi boleh diambil balik. Setelah pertama kali dijual, ia tidak boleh dijual buat kali kedua. Inilah kedudukan iktikad atau pegangan hati orang makrifat, yang tidak ada duanya berbanding Allah. Sekali kita berserah diri kepada Allah, jangan hendaknya berpatah balik. Pupuklah hati supaya buah tawakkal dan buah berserah boleh bertambah dengan subur.
Bagi yang mengenal Allah (yang mendapat anugerah lailatul qadar)mereka tidak akan berpaling lagi dari Allah. Walaupun didatangi musibah, penyakit, kemiskinan, dan kepayahan hidup, mereka tidak akan berpaling dari berserah diri dan bertawakkal kepada Allah. Tidak ada lagi erti kecewa dan erti penyesalan dihati mereka yang mengenal Allah. Hatinya kepada Allah tetap utuh dan tidak mudah terpesong dengan kekayaan dan kemewahan. Mereka sedar yang diri mereka telah dibeli oleh Allah dan kita telah menjualkannya kepada Allah. Akad jualbeli, antara kita dengan Allah telah dikira selesai. Segala sifat, kelakuan, asma dan zat yang mendatang di atas diri kita ini, dianggap telah terjual dan bukan lagi menjadi milik kita. Semua sifat yang mendatang, telah dianggap seumpama anugerah dari Allah kepada kita, kita ini tidak ubah seperti pelakon yang cuma sekadar melakonkan saja dari apa yang dianugerahkan oleh Allah kepada kita.
Oleh itu terimalah segalanya dengan ucapan terima kasih atau syukur. Inilah pengertian lailatul qadar menurut kacamata ilmu makrifat. Kita sebenarnya telah mati dan telah menjual sifat perangai, sifat jasad, sifat nama dan sifat zat kita kepada Allah. Jual sifat ego, sifat marah, tinggi diri, dengki, tamak harta dunia, putus asa dan sebagainya. Kita serahkan segala galanya ke atas kebijaksanaan Allah, Allahlah yang menentu dan mengatur kehidupan kita.
Firman Allah;
“Turun malaikat dan roh padanya, dengan izin Tuhan mereka membawa dari tiap-tiap perintah.”(Al qadar :4)
Roh kita telah ditugaskan bagi membawa perintah Allah. Di antara perintah itu, adalah supaya roh membawa segala sifat anggota pancaindera, perangai yang dilakukan oleh anggota. Nama yang di panggil anggota dan zat roh itu sendiri supaya dapat dikembalikan semula hak Allah kepadaNya. Bermula lailatul qadar itu, adalah disaat diri kita di jual dan diserahkan kembali kepada Allah. Dengan ini jugalah bermulanya sejarah diri(roh)kita telah dibeli dan terjual kepada Allah. Iaitu disaat kita mengenal roh dan mengenal Allah.
Malam lailatul qadar juga, lebih dikenali sebagai malam seribu bulan(1000 bulan). Seribu bulan itu bermaksud terang benderang, seumpama malam yang gelap gelita telah diterangi, disuluh dan telah ditemani oleh seribu biji bulan, cuba bayangkan betapa terangnya bumi ini, apabila ianya diterangi dan disuluh oleh seribu biji bulan. Begitulah terangnya hati mereka yang mendapat cahaya lailatul qadar Allah dengan hanya membaca sepotong ayat dari ayat-ayat Allah, barakahnya seumpama hati kita telah diterangi dan disuluh oleh seribu bulan. Cuba bayangkan nilaian kematangan akal semasa berumur satu tahun, dibandingkan akal mereka yang berumur seribu tahun. Inilah kelebihan dan kematangan akal bagi yang mendapat malam lailatul qadar (malam seribu bulan). Secara tiba-tiba boleh mengubah akal yang jahil dalam sekelip mata kepada akal yang berilmu, Mengenal Allah.
Begitulah nilai terangnya hati mereka yang mendapat anugerah lailatul qadar. Dari bersifat lalai bertukar kepada yang bersifat ingat kepada Allah. Dari berilmu syariat ,akan bertukar kepada hati yang berilmu makrifat. Bagi mereka yang buta mati hatinya, walaupun dengan kehadiran seribu bulan dan sejuta bintang sekalipun, akal dan hati mereka akan tetap berada dalam kegelapan. Manakala bagi mereka yang mengenal Allah(mendapat anugerah lailatul qadar), walau alam tidak diterangi bulan dan tidak diterangi sekalipun, hati mereka sudah cukup terang oleh cahaya Allah (cahaya makrifat kepada Allah). Inilah pengertian lailatul qadar mengikut suluhan makrifat.
Kisah bagaimana Saidina Umar Al Khatab memeluk Islam. Pada zaman Rasulullah, ada seorang hamba Allah, yang terkenal dengan ganas dan bengisnya, telah pergi untuk membunuh Baginda Rasulullah. Di dapati adik perempuan kandungnya dan suaminya sendiri telah memeluk islam secara diam-diam, bertambah marah dan lebih membakar hatinya untuk membunuh Baginda Rasulullah. Beliau telah mendatangi rumah adiknya dengan tujuan mencari Baginda Rasulullah, bila tiba ke rumah adik perempuannya, didapati adik dan suaminya sedang membaca sesuatu. Beliau cuba merampasnya dengan tujuan ingin membuang potongan bacaan itu, tetapi dihalang oleh adiknya, sehingga beliau terpaksa bersikap kasar dengan menampar pipi adiknya sehingga terjatuh. Dengan terjatuh adiknya tadi, sehingga terlepas cebisan potongan ayat dari gengamannya. Lalu dirampas dan dicubanya untuk membacanya. Setelah membaca, beliau pun menangis, bergenang air mata, bercucuran jatuh membasahi pipinya. Secara tiba tiba didatangi suasana yang luar biasa, dari bengis bertukar baik, dari panas bertukar sejuk dan dari jahil bertukar alim. Dalam masa sesaat, suasananya telah berubah dan mengubah hatinya yang gelap itu, seumpama diterangi oleh seribu bulan. Dengan hanya sepotong ayat sahaja, telah membuka pintu hatinya secara mendadak, dari hatinya bersifat panas, kini kembali bertukar menjadi sejuk.
Ayat itu telah meresap ke dalam lubuk dada yang membuatkan hatinya berubah secara tiba-tiba. Lalu beliau bertanya “di mana Muhammad sekarang? Bawa aku kepadanya!Aku akan masuk Islam”. Itulah kisah Umar bin Al khattab (Panglima Islam yang tersohor) Saidina Umar merasa hatinya telah di pukul oleh ayat berkenaan. Inilah hakikat lailatul qadar yang membawa perubahan yang mendadak, kenikmatan dan keberkatan secara tiba tiba bagi menggambarkan dan menunjukkan maksud lailatu qadar yang sebenar.
Dengan hanya sekelip mata, beliau sudah dapat merasai dan menikmati keberkatan lailatul qadar, sudah dapat mengubah sifat kerohaniannya. Inilah yang dikatakan hari lailatul qadar, iaitu hari yang di peringati. Hari yang indah dan saat-saat yang paling bersejarah dan yang paling diingati dalam kehidupan seseorang insan menuju Allah swt.
----------------------------------------------------------------------------------
Ismullah Al-A’dzham
Asmaul Husna dan Ismullah al-a’zam
Asmaul Husna
Al-Hashr [24] Dialah Allah, Yang Menciptakan sekalian makhluk; Yang Mengadakan (dari tiada kepada ada); Yang Membentuk rupa (makhluk-makhlukNya menurut yang dikehendakiNya); bagiNyalah nama-nama yang sebaik-baiknya dan semulia-mulianya
Taha [8] Allah! Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia, bagiNyalah segala nama yang baik.
Tuhan kita ini mempunyai 1,000 nama. 300 nama terdapat dalam Taurat, 300 dalam Zabur, 300 dalam Injil, 99 dalam Al-Quran dan 1 nama yang tersembunyi. Dari Abu Hurairah r.a bahawa nabi s.a.w bersabda:
”Sesungguhnya Allah mempunyai sembilan puluh sembilan nama iaitu seratus kurang satu. Siapa menghafalnya masuk syurga.” (Muslim)
Al-A’raf [180] Dan Allah mempunyai nama-nama yang baik (yang mulia), maka serulah (dan berdoalah) kepadaNya dengan menyebut nama-nama itu…
Al-Isra [110] Katakanlah (wahai Muhammad): Serulah nama “Allah” atau nama “Ar-Rahman”, yang mana sahaja kamu serukan (dari kedua-dua nama itu adalah baik belaka); kerana Allah mempunyai banyak nama-nama yang baik serta mulia…
Ismullah Al-A’zam
Diantara nama-nama itu terdapat 1 nama yang teragung dikenali sebagai ismullah al-a’zam”, yang bila diucapkan dalam doa, Allah akan mengabulkannya (disebut di dalam hadith).
Daripada Abdullah ibn Buraidah dari¬pada bapanya, bahawa Rasulullah s.a.w. telah mendengar seorang lelaki berkata di dalam doanya yang bermaksud: “Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan bersaksi bahawa sesungguhnya Engkau adalah Allah. Tiada Tuhan selain Engkau Yang Maha Esa, yang menjadi tempat bergantungnya segala sesuatu, yang tidak melahirkan dan tidak pula dilahirkan dan tidak ada yang menandingi-Nya.”
Maka Rasulullah s.a.w. bersabda maksudnya: “Demi zat yang aku ada dalam kekuasaannya, Sesungguhnya anda telah meminta kepada Allah dengan nama-Nya yang paling Agung yang bilamana Dia dimintai dengan nama (asma)-Nya itu, Dia pasti akan memberi dan jika dimintai dengannya pasti akan dikabulkan“.
Cuma cara untuk berdoa dengan nama itu tidak diketahui. Ulama nahu (grammar) mengatakan nama itu ialah Allah kerana ia adalah satu perkataan tunggal, perkataan yang merdeka iaitu tidak berasal dari perkataan lain. Ada juga ahli tarikat dan sufi seperti Muinuddin Chisti yang mengatakan nama itu ialah “Ya Hayyu Ya Qayyum“. Oleh itu disyorkan agar berdoa dan berzikir dengan menggabungkan keduanya iaitu “Allahu Lailaha illa Huwal Hayyul Qayyum“.
Dari Asma Binti Yazid, bahawasanya Rasulullah s.a.w. telah bersabda: Nama Allah yang paling agung adalah yang ada pada dua ayat berikut. Baqarah [163]Dan tuhan kamu ialah tuhan Yang maha Esa; tiada tuhan (Yang berhak disembah) selain dari Allah Yang maha Pemurah, lagi maha Mengasihani. Ali-Imran [1-2] Alif, Laam, Miim. Allah tiada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Tetap Hidup, Yang Kekal selama-lamanya mentadbirkan sekalian makhlukNya
Sentiasalah sebut nama Allah, sepertimana orang yang menyayangi sesuatu atau seseorang selalu menyebut namanya.
“Tidaklah duduk suatu kaum berzikir (menyebut) nama Allah ‘Azza wa Jalla melainkan dinaungilah mereka oleh para malaikat, dipenuhi mereka oleh rahmat Allah dan diberikan ketenangan kepada mereka, juga Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan malaikat yang ada di sisi-Nya.” (Hadith Riwayat Imam Muslim, Imam Tirmizi dan Imam Ibn Majah dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khudri r.a.)
-----------------------------------------------------------------------------------
ANAK KUNCI GEDUNG KHAZANAH LANGIT DAN BUMI
" Jika kamu hitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya "
(Al-Quran : Ibrahim ; 14:34)
Meskipun ada beribu-ribu doa, bacaan dan amalan oleh orang-orang Sufi, namun ada beberapa formula yang tertentu yang lebih darjat dan manfaatnya, seperti yang dikemukakan disini, yang digelar "Maqalad as-Samawi wal-Ard" yang bererti "Kunci Pembuka Khazanah Langit dan Bumi". Meskipun khas untuk menyembuhkan penyakit - mengelakkan penyakit pada sehari bacaan itu diamalkan - faedah dari sebutan itu bukan terhad kepada penyakit badan sahaja tetapi juga penyakit yang lain, seperti tersebut dalam hadith.
Adalah dikhabarkan bahawa Uthman ibn Afan r.a. telah meminta penjelasan lanjut tentang firman Allah berkaitan dengan Kunci Pembuka Khazanah langit dan bumi ( yang tersebut beberapa kali dalam al-Quran), Nabi Muhammad s.a.w berkata kepadanya : ” Kamu bertanya kepada saya , yang orang lain belum bertanya, kunci pembuka khazanah Langit dan Bumi itu adalah sebagai berikut:-
Lailaha illa llahu wa-llahu akbar
Wa subhan Allahi wal-hamdulillahi
Wastaghfirullah alladhi la illaha illa hu
Wal awwalu, wal-akhiru, waz-zahiru wal batinu
Yuhyi wa yumit Wa Hua Hayyun la yumutu
Bi-yadihil-khayr wa huwa ala kulli shay’in Qadir
Ertinya :
Tiada yang disembah melainkan Allah, Allah Maha Besar,Maha Suci engkau segala puji bagi Allah. Aku mohon ampun kepada Allah, tiada Tuhan yang patut disembah melainkan dia. Dia yang awal, dia yang akhir, dia yang zahir,dia yang bathin, yang menghidupkan, yang mematikan. Dia yang hidup tanpa mati, padanya segala kebaikan dan ia berkuasa atas segala sesuatu.
Nabi Muhammad s.a.w bersabda. ” Wahai Uthman ! – Barang siapa membacanya 100 kali sehari akan dikurnia 10 faedah:-
PERTAMA : Segala dosanya yang lalu akan diampun.
KEDUA : Terlepas dari siksaan neraka.
KETIGA : Dua orang Malaikat dilantik untuk memeliharanya siang dan malam daripada penyakit dan kesiksaan.
KEEMPAT : Dia dikurniakan perbendaharaan rahmat dan berkat.
KELIMA: Dia mendapat pahala seperti orang yang membebaskan 100 orang hamba abdi daripada keturunan Nabi Ismail r.a.
KEENAM : Dia diberi pahala seperti membaca seluruh al-Quran, Zabur, Taurat dan Injil.
KETUJUH : Sebuah rumah akan didirikan untuknya disyurga.
KELAPAN : Dia akan berkahwin dengan seorang bidadari syurga.
KESEMBILAN : Dia akan dipermuliakan dengan mahkota kemuliaan.
KESEPULUH : Permohonan keampunannya bagi 70 orang saudaranya akan dimakbulkan.
Wahai Uthman !, kalau kamu mampu, janganlah lupa membacanya setiap hari, kamu akan termasuk dalam golongan orang-orang yang berjaya dan melampaui orang-orang yang sebelum kamu dan selepas kamu.
===================================================================================
Seruan saya kepada mereka-mereka yang pernah menuntut ilmu dari Mas Reno, bertaubatlah dan buangkalah segala ilmu yang telah anda pelajari dari Guru sesat ini. Segala ilmu yang tidak membawa kepada mengenal Allah SWT adalah ilmu yang tidak bermanafaat, melalaikan malah menjauhkan anda dari Allah SWT. Malah ilmu ini menjadi hijab kepada anda untuk mengenal Allah kerana tiada keberkatan di dalamnya.
BAGAIMANA PULA DENGAN GURU-GURU LAIN , DI MALAYSIA TERUTAMANYA?
YAYASAN NUR SYIFA (JAKARTA) SESAT LAGI MENYESATKAN
PERHATIAN : Laman yang menyesatkan umat Islam http://auranursyifa.blogspot.com
Kenapa demikian? Cuba perhatikan setiap posting di dalam blog tersebut , di manakah guru sesat Mas Reno ini mengajak anda untuk Mengenal Tuhan? Setiap Ilmu Allah yang hendak di sebarkan atau di dakwahkan mesti lah terlebih dahulu di ajar atau di perkenalkan akan Tuhan Yang Maha Esa, pemilik segala ILMU dan Tuhan sekalian alam.
“ AWWALUDDIN MAKRIFATULLAH”
Orang-orang yang berilmu dengan Allah (Al-A’limuna Billah) itu ialah orang-orang yang mengenal Zat Allah, sifat-sifat-Nya, nama-nama-Nya dan segala perbuatan-Nya malah ilmu mereka beserta dengan Allah Taala dan mengamalkan apa yang diketahuinya tanpa mencederakannya walau sedikitpun.
Perkara-perkara yang menghalang si Salik sampai kepada Allah Taala,antaranya ialah :
1. Syirik khafi - iaitu syirik yang tersembunyi, dengan mengatakan semua perbuatan makhluk itu adalah terbit daripada makhluk tanpa daripada Allah Taala. Sedangkan pada hakikatnya segala perbuatan itu semuanya terbit daripada Allah Taala. Semua perbuatan makhluk itu seolah-olah alat perbuatan Alalah Taala. Maha suci Allah Taala mengadakan sesuatu dengan alat.
2. Riak - ertinya menunjuk-nunjuk ibadatnya kepada orang lain atau ada udang di sebalik batu selain daripada Allah Taala meskipun syurga.
3. Sum’ah - ertinya memberitahu ibadahnya yang ikhlas kerana Allah Taala kepada orang lain untuk mendapatkan sanjungan dan kemuliaan.
4. Ujub - ertinya memperbesar dan memperbanyakkan ibadahnya, padahal ia lupa bahawa perbuatannya itu adalah nikmat daripada Allah Taala.
5. Suqud - oleh sebab wukuf maal ibadah ertinya terdinding dan terhenti kerana memandang ibadat yang di lakukannya itu daripada dirinya tanpa melihat bahawa perbuatannya itu adalah nikmat daripada Allah Taala.
6. Hujub - ertinya terdinding kepada cahaya, perhiasan, dan keelukan ibadatnya kerana setiap amal ibadat mempunyai cahaya perhiasan, dan keelukkannya. Maka si Salik hanya berhenti setakat itu sahaja kerana memandang perhiasan dan keelukan amal ibadatnya. Malahan ia berasa gembira dengan amal ibadatnya itu sehingga lupa kepada Allah Taala.
Tegasnya, si Salik tidak akan terlepas daripada perkara-perkara yang berbahaya itu melainkan dengan syuhud dan memandang bahawa semua perbuatan itu terbit daripada Allah Taala.
--------------------------------------------------------------------------------
Cuba perhatikan pula keangkuhan Mas Reno dalam mempertuhankan dirinya sepertimana Firaun dan menafikan keilmuan dari Perubatan Islam Nur Syifa malah menyatakan serta mewar-warkan bahawa ianya suatu penipuan dan hanya menciplak tulisan dari Yayasan Nur Syifa Jakarta.
Perhatikan kesemua 6 perkara di atas yang menghalang si Salik (anda semua) untuk sampai kepada Allah Taala. Sikap beliau menunjukkan beliau (Mas Reno) mmemiliki kesemua cirri-ciri di atas dan ini menunjukkan beliau lah guru sesat yang hanya tahu menciplak Ilmu Allah tanpa memahaminya barang sedikit pun. Beliau sendiri belum kenal akan Tuhan yang di sembahnya, namun berani-berani mendakwa dan mengajar umat akan Ilmu Islam yang tidak di fahaminya.
Beliau tidak lain membawa anda jauh dari Tuhan malah sesiapa yang berguru dengannya akan terlebih sesat dalam terang kerana mempertuhankan diri dengan Ilmu Allah. Mensyirikkan Allah secara terang-terangan dengan mengajar anda segala kehebatan ilmu tanpa bersandar sedikit pun kepada Allah Yang Esa.
Kenapa demikian? Cuba perhatikan setiap posting di dalam blog tersebut , di manakah guru sesat Mas Reno ini mengajak anda untuk Mengenal Tuhan? Setiap Ilmu Allah yang hendak di sebarkan atau di dakwahkan mesti lah terlebih dahulu di ajar atau di perkenalkan akan Tuhan Yang Maha Esa, pemilik segala ILMU dan Tuhan sekalian alam.
“ AWWALUDDIN MAKRIFATULLAH”
Orang-orang yang berilmu dengan Allah (Al-A’limuna Billah) itu ialah orang-orang yang mengenal Zat Allah, sifat-sifat-Nya, nama-nama-Nya dan segala perbuatan-Nya malah ilmu mereka beserta dengan Allah Taala dan mengamalkan apa yang diketahuinya tanpa mencederakannya walau sedikitpun.
Perkara-perkara yang menghalang si Salik sampai kepada Allah Taala,antaranya ialah :
1. Syirik khafi - iaitu syirik yang tersembunyi, dengan mengatakan semua perbuatan makhluk itu adalah terbit daripada makhluk tanpa daripada Allah Taala. Sedangkan pada hakikatnya segala perbuatan itu semuanya terbit daripada Allah Taala. Semua perbuatan makhluk itu seolah-olah alat perbuatan Alalah Taala. Maha suci Allah Taala mengadakan sesuatu dengan alat.
2. Riak - ertinya menunjuk-nunjuk ibadatnya kepada orang lain atau ada udang di sebalik batu selain daripada Allah Taala meskipun syurga.
3. Sum’ah - ertinya memberitahu ibadahnya yang ikhlas kerana Allah Taala kepada orang lain untuk mendapatkan sanjungan dan kemuliaan.
4. Ujub - ertinya memperbesar dan memperbanyakkan ibadahnya, padahal ia lupa bahawa perbuatannya itu adalah nikmat daripada Allah Taala.
5. Suqud - oleh sebab wukuf maal ibadah ertinya terdinding dan terhenti kerana memandang ibadat yang di lakukannya itu daripada dirinya tanpa melihat bahawa perbuatannya itu adalah nikmat daripada Allah Taala.
6. Hujub - ertinya terdinding kepada cahaya, perhiasan, dan keelukan ibadatnya kerana setiap amal ibadat mempunyai cahaya perhiasan, dan keelukkannya. Maka si Salik hanya berhenti setakat itu sahaja kerana memandang perhiasan dan keelukan amal ibadatnya. Malahan ia berasa gembira dengan amal ibadatnya itu sehingga lupa kepada Allah Taala.
Tegasnya, si Salik tidak akan terlepas daripada perkara-perkara yang berbahaya itu melainkan dengan syuhud dan memandang bahawa semua perbuatan itu terbit daripada Allah Taala.
--------------------------------------------------------------------------------
Cuba perhatikan pula keangkuhan Mas Reno dalam mempertuhankan dirinya sepertimana Firaun dan menafikan keilmuan dari Perubatan Islam Nur Syifa malah menyatakan serta mewar-warkan bahawa ianya suatu penipuan dan hanya menciplak tulisan dari Yayasan Nur Syifa Jakarta.
Perhatikan kesemua 6 perkara di atas yang menghalang si Salik (anda semua) untuk sampai kepada Allah Taala. Sikap beliau menunjukkan beliau (Mas Reno) mmemiliki kesemua cirri-ciri di atas dan ini menunjukkan beliau lah guru sesat yang hanya tahu menciplak Ilmu Allah tanpa memahaminya barang sedikit pun. Beliau sendiri belum kenal akan Tuhan yang di sembahnya, namun berani-berani mendakwa dan mengajar umat akan Ilmu Islam yang tidak di fahaminya.
Beliau tidak lain membawa anda jauh dari Tuhan malah sesiapa yang berguru dengannya akan terlebih sesat dalam terang kerana mempertuhankan diri dengan Ilmu Allah. Mensyirikkan Allah secara terang-terangan dengan mengajar anda segala kehebatan ilmu tanpa bersandar sedikit pun kepada Allah Yang Esa.
SIAPA GURU YANG SESAT LAGI MENYESATKAN?
GOLONGAN SESAT LAGI MENYESATKAN?
Perkara-perkara yang menghalang si Salik sampai kepada Allah Taala, antaranya ialah :
1. Syirik khafi - iaitu syirik yang tersembunyi, dengan mengatakan semua perbuatan makhluk itu adalah terbit daripada makhluk tanpa daripada Allah Taala. Sedangkan pada hakikatnya segala perbuatan itu semuanya terbit daripada Allah Taala. Semua perbuatan makhluk itu seolah-olah alat perbuatan Alalah Taala. Maha suci Allah Taala mengadakan sesuatu dengan alat.
2. Riak - ertinya menunjuk-nunjuk ibadatnya kepada orang lain atau ada udang di sebalik batu selain daripada Allah Taala meskipun syurga.
3. Sum’ah - ertinya memberitahu ibadahnya yang ikhlas kerana Allah Taala kepada orang lain untuk mendapatkan sanjungan dan kemuliaan.
4. Ujub - ertinya memperbesar dan memperbanyakkan ibadahnya, padahal ia lupa bahawa perbuatannya itu adalah nikmat daripada Allah Taala.
5. Suqud - oleh sebab wukuf maal ibadah ertinya terdinding dan terhenti kerana memandang ibadat yang di lakukannya itu daripada dirinya tanpa melihat bahawa perbuatannya itu adalah nikmat daripada Allah Taala.
6. Hujub - ertinya terdinding kepada cahaya, perhiasan, dan keelukan ibadatnya kerana setiap amal ibadat mempunyai cahaya perhiasan, dan keelukkannya. Maka si Salik hanya berhenti setakat itu sahaja kerana memandang perhiasan dan keelukan amal ibadatnya. Malahan ia berasa gembira dengan amal ibadatnya itu sehingga lupa kepada Allah Taala.
Tegasnya, si Salik tidak akan terlepas daripada perkara-perkara yang berbahaya itu melainkan dengan syuhud dan memandang bahawa semua perbuatan itu terbit daripada Allah Taala.
MARTABAT SAMPAI KEPADA ALLAH TAALA
Berkata Syeikh Ibnu Ibad (rh) dalam Kitabnya, Syarah Hikam Ibnu A’thaillah, “Orang-orang yang mempunyai jalan yang menyampaikannya kepada Allah Taala diberi isyarat untuk sampai kepada ilmu hakiki Allah Taala. Kearah ilmu hakiki Allah Taala inilah kesudahan orang-orang Salik dan perjalanan orang-orang yang sampai ke arah-Nya. Maha Tinggi Allah Taala daripada sampai kepada mafhum antara segala Zat-Nya.”
Berkata Hadhrat Junaid ra):”Bagaimanakah boleh sampai kepada yang tidak ada padanya sebab (jalan) dan nazar (perasaan hati) maka jauh sekali. Inilah sangkaan, yang menghairankan kecuali apa yang dianugerahkan oleh Tuhan yang Latif sekira-kira tidak ada pendapat, tidak ada kesamaran dalam hati dan tidak tersekat fikiran, melainkan isyarat yakin dan tahkik iman juga.”
Berkata Siddik Al-Akhbar (ra) : “Lemah daripada mendapatkan pendapat , itulah pendapat Tuhannya.”
Berkata Saiyidul A’riffin (Penghulu Orang-Orang A’rif), Hadhrat Ali bin Abi Talib Karramallahu Wajhahu : “ Tiap-tiap apa yang terlintas dan tercita-cita dalam khayalanmu dan tergambar dalam hatimu itu binasa, maka Allah Taala itu bersalahan dengan yang demikian itu.”
Berkata pula Syeikh Abu Ja’far bin Muhammad bin Abdullah As-Suhrawardi (rh), “Ketahuilah sesungguhnya sampai dan bersampai-sampaian itu mempunyai beberapa martabat sebagaimana yang telah diisyaratkan oleh beberapa orang Syeikh terhadap kedua-duanya itu. Setiap orang yang sampai kepada ketenangan yang meyakinkan dengan jalan zauq dan wijdan(cara kekuatan batin) itu mempunyai satu martabat, daripada martabat-martabat sampai. Kemudian bersalah-salahan martabat mereka itu.”
Ada di antara martabat orang yang mendapatkan Allah Taala dengan cara mengikut jalan afa’al iaitu satu martabat yang ada pada tajalli af’al. Maka ia fana’kan perbuatannya dan perbuatan yang lain kerana berhenti bersama perbuatan Allah Taala dan terkeluarlah ia pada ketika itu daripada berurusan dan berikhtiar. Inilah salah satu martabat daripada martabat-martabat sampai.
Ada pula di antara mereka diberhentikan pada maqam haibah (gerun), dibukakan hati mereka untuk menilik Jalal dan Jamal Allah. Inilah tajalli dengan jalan sifat iaitu salah satu martabat daripada martabat-martabat sampai.
Sesetengah mereka ada yang naik kepada maqam fana yang mengandungkan maqam fana’dalam batinya dengan beberapa nurul yaqin dan musyahadah. Oleh itu wujudnya terpilih dalam syuhudnya dan inilah salah satu bahagian daripada tajalli zat yang ada pada segala orang Khawas (segala Wali Allah) yang terdiri daripada orang-orang Muqarrabin. Inilah salah satu martabat daripada martabat-martabat sampai , dan yang teratas daripada martabat haqqul yaqin. Di dunia ini perkara sedemikian sekejap mata sahaja oleh sebab mesra Nur Musyahadah pada anggota badan hamba termasuklah roh, hati, nafsu dan sehingga seluruh tubuh badannya. Inilah martabat-martabat sampai yang paling tinggi.
Kesimpulannya martabat-martabat sampai kepada Allah Taala itu ada empat martabat :
Pertama : Sampai kepada martabat menjadi hamba Allah Taala yang sebenarnya iaitu orang yang ikhlas mengerjakan ibadat untuk Allah Taala dengan kehendak sendiri tanpa sebab yang lain, seperti diperolehnya yaqin dan zauq.
Kedua : Martabat sampai kepada af’al Allah Taala iaitu orang yang menilik sesungguhnya segala perbuatan itu terbit daripada Allah Taala dan hamba itu memfana’kan perbuatan dirinya dan yang lain.
Ketiga : Martabat sampai kepada sifat Allah Taala iaitu orang yang melihat sesungguhnya tidak ada yang hidup, hanya Allah Taala sahaja.
Keempat : Martabat sampai kepada Zat Allah Taala iaitu orang yang memusyahadahkan, sesungguhnya tidak ada yang maujud itu hanya Allah Taala sahaja.
RAHSIA ILMU ALLAH TAALA, DILARANG MEMBUKANYA
Ketahuilah sesungguhnya segala Ilmu Faqir yang tersebut dalam risalah ini adalah rahsia yang amat halus dan perkataan yang digunakan pun amat dalam. Tidak ada sesiapapun yang dapat memahaminya kecuali ulamak yang rasikh (yang dalam dan teguh ilmunya) atau pengertian lain yang tetap terdahulu cahayanya daripada perkataannya kerana ilmu yang Faqir ini adalah rahsia Nabi-nabi dan wali-wali Allah yang diwarisi oleh mereka yang mengamalkan apa yang di amalkan oleh nabi-nabi yang lain yang teristimewa serta mengerjakan perkara yang diketahuinya. Seperti firman Allah Taala :
Ertinya “Segala misalan itu kami misalkan kepada seluruh manusia dan tidak ada yang memahaminya melainkan orang-orang yang alim. (Surah Al-Ankabut : ayat 43).
Tidak dibenarkan oleh undang-undang syara’ menyatakan, membukakan, dan menzahirkannya kepada orang yang bukan ahlinya kerana akal mereka itu tidak sampai kea rah pengetahuan tersebut. Sebagaimana sabda Nabi (saw) :
Ertinya, “ Kami golongan Nabi-nabi diperintahkan oleh Allah Taala kepada kami semua supaya berkata kepada semua manusia mengikut keupayaan penerimaan akal mereka. Lagi pun kalau akal mereka tidak sampai ke arah memahaminya, maka sudah tentu mereka akan menimbulkan fitnah ke atas kami.”
Sabda Nabi (saw) lagi :
Ertinya, “ Sesetengah ilmu itu keadaannya seperti mutiara yang tersimpan dalam hidangan perut ibunya, tidak ada sesiapa yang mengetahuinya melainkan orang-orang yang berilmu dengan Allah.”
Orang-orang yang berilmu dengan Allah (Al-A’limuna Billah) itu ialah orang-orang yang mengenal Zat Allah, sifat-sifat-Nya, nama-nama-Nya dan segala perbuatan-Nya malah ilmu mereka beserta dengan Allah Taala dan mengamalkan apa yang diketahuinya tanpa mencederakannya walau sedikitpun.
OLEH : SYEIKH MUHAMMAD NAFIS IDRIS AL – BANJARI
Di petik dari Kitab “Mutiara Yang Indah”, siri ilmu tasawuf Ad-Darun Nafis. Kupasan tentang keesaan af’al, keesaan asma’, sifat-sifat dan Zat Allah Taala yang maha Suci
Perkara-perkara yang menghalang si Salik sampai kepada Allah Taala, antaranya ialah :
1. Syirik khafi - iaitu syirik yang tersembunyi, dengan mengatakan semua perbuatan makhluk itu adalah terbit daripada makhluk tanpa daripada Allah Taala. Sedangkan pada hakikatnya segala perbuatan itu semuanya terbit daripada Allah Taala. Semua perbuatan makhluk itu seolah-olah alat perbuatan Alalah Taala. Maha suci Allah Taala mengadakan sesuatu dengan alat.
2. Riak - ertinya menunjuk-nunjuk ibadatnya kepada orang lain atau ada udang di sebalik batu selain daripada Allah Taala meskipun syurga.
3. Sum’ah - ertinya memberitahu ibadahnya yang ikhlas kerana Allah Taala kepada orang lain untuk mendapatkan sanjungan dan kemuliaan.
4. Ujub - ertinya memperbesar dan memperbanyakkan ibadahnya, padahal ia lupa bahawa perbuatannya itu adalah nikmat daripada Allah Taala.
5. Suqud - oleh sebab wukuf maal ibadah ertinya terdinding dan terhenti kerana memandang ibadat yang di lakukannya itu daripada dirinya tanpa melihat bahawa perbuatannya itu adalah nikmat daripada Allah Taala.
6. Hujub - ertinya terdinding kepada cahaya, perhiasan, dan keelukan ibadatnya kerana setiap amal ibadat mempunyai cahaya perhiasan, dan keelukkannya. Maka si Salik hanya berhenti setakat itu sahaja kerana memandang perhiasan dan keelukan amal ibadatnya. Malahan ia berasa gembira dengan amal ibadatnya itu sehingga lupa kepada Allah Taala.
Tegasnya, si Salik tidak akan terlepas daripada perkara-perkara yang berbahaya itu melainkan dengan syuhud dan memandang bahawa semua perbuatan itu terbit daripada Allah Taala.
MARTABAT SAMPAI KEPADA ALLAH TAALA
Berkata Syeikh Ibnu Ibad (rh) dalam Kitabnya, Syarah Hikam Ibnu A’thaillah, “Orang-orang yang mempunyai jalan yang menyampaikannya kepada Allah Taala diberi isyarat untuk sampai kepada ilmu hakiki Allah Taala. Kearah ilmu hakiki Allah Taala inilah kesudahan orang-orang Salik dan perjalanan orang-orang yang sampai ke arah-Nya. Maha Tinggi Allah Taala daripada sampai kepada mafhum antara segala Zat-Nya.”
Berkata Hadhrat Junaid ra):”Bagaimanakah boleh sampai kepada yang tidak ada padanya sebab (jalan) dan nazar (perasaan hati) maka jauh sekali. Inilah sangkaan, yang menghairankan kecuali apa yang dianugerahkan oleh Tuhan yang Latif sekira-kira tidak ada pendapat, tidak ada kesamaran dalam hati dan tidak tersekat fikiran, melainkan isyarat yakin dan tahkik iman juga.”
Berkata Siddik Al-Akhbar (ra) : “Lemah daripada mendapatkan pendapat , itulah pendapat Tuhannya.”
Berkata Saiyidul A’riffin (Penghulu Orang-Orang A’rif), Hadhrat Ali bin Abi Talib Karramallahu Wajhahu : “ Tiap-tiap apa yang terlintas dan tercita-cita dalam khayalanmu dan tergambar dalam hatimu itu binasa, maka Allah Taala itu bersalahan dengan yang demikian itu.”
Berkata pula Syeikh Abu Ja’far bin Muhammad bin Abdullah As-Suhrawardi (rh), “Ketahuilah sesungguhnya sampai dan bersampai-sampaian itu mempunyai beberapa martabat sebagaimana yang telah diisyaratkan oleh beberapa orang Syeikh terhadap kedua-duanya itu. Setiap orang yang sampai kepada ketenangan yang meyakinkan dengan jalan zauq dan wijdan(cara kekuatan batin) itu mempunyai satu martabat, daripada martabat-martabat sampai. Kemudian bersalah-salahan martabat mereka itu.”
Ada di antara martabat orang yang mendapatkan Allah Taala dengan cara mengikut jalan afa’al iaitu satu martabat yang ada pada tajalli af’al. Maka ia fana’kan perbuatannya dan perbuatan yang lain kerana berhenti bersama perbuatan Allah Taala dan terkeluarlah ia pada ketika itu daripada berurusan dan berikhtiar. Inilah salah satu martabat daripada martabat-martabat sampai.
Ada pula di antara mereka diberhentikan pada maqam haibah (gerun), dibukakan hati mereka untuk menilik Jalal dan Jamal Allah. Inilah tajalli dengan jalan sifat iaitu salah satu martabat daripada martabat-martabat sampai.
Sesetengah mereka ada yang naik kepada maqam fana yang mengandungkan maqam fana’dalam batinya dengan beberapa nurul yaqin dan musyahadah. Oleh itu wujudnya terpilih dalam syuhudnya dan inilah salah satu bahagian daripada tajalli zat yang ada pada segala orang Khawas (segala Wali Allah) yang terdiri daripada orang-orang Muqarrabin. Inilah salah satu martabat daripada martabat-martabat sampai , dan yang teratas daripada martabat haqqul yaqin. Di dunia ini perkara sedemikian sekejap mata sahaja oleh sebab mesra Nur Musyahadah pada anggota badan hamba termasuklah roh, hati, nafsu dan sehingga seluruh tubuh badannya. Inilah martabat-martabat sampai yang paling tinggi.
Kesimpulannya martabat-martabat sampai kepada Allah Taala itu ada empat martabat :
Pertama : Sampai kepada martabat menjadi hamba Allah Taala yang sebenarnya iaitu orang yang ikhlas mengerjakan ibadat untuk Allah Taala dengan kehendak sendiri tanpa sebab yang lain, seperti diperolehnya yaqin dan zauq.
Kedua : Martabat sampai kepada af’al Allah Taala iaitu orang yang menilik sesungguhnya segala perbuatan itu terbit daripada Allah Taala dan hamba itu memfana’kan perbuatan dirinya dan yang lain.
Ketiga : Martabat sampai kepada sifat Allah Taala iaitu orang yang melihat sesungguhnya tidak ada yang hidup, hanya Allah Taala sahaja.
Keempat : Martabat sampai kepada Zat Allah Taala iaitu orang yang memusyahadahkan, sesungguhnya tidak ada yang maujud itu hanya Allah Taala sahaja.
RAHSIA ILMU ALLAH TAALA, DILARANG MEMBUKANYA
Ketahuilah sesungguhnya segala Ilmu Faqir yang tersebut dalam risalah ini adalah rahsia yang amat halus dan perkataan yang digunakan pun amat dalam. Tidak ada sesiapapun yang dapat memahaminya kecuali ulamak yang rasikh (yang dalam dan teguh ilmunya) atau pengertian lain yang tetap terdahulu cahayanya daripada perkataannya kerana ilmu yang Faqir ini adalah rahsia Nabi-nabi dan wali-wali Allah yang diwarisi oleh mereka yang mengamalkan apa yang di amalkan oleh nabi-nabi yang lain yang teristimewa serta mengerjakan perkara yang diketahuinya. Seperti firman Allah Taala :
Ertinya “Segala misalan itu kami misalkan kepada seluruh manusia dan tidak ada yang memahaminya melainkan orang-orang yang alim. (Surah Al-Ankabut : ayat 43).
Tidak dibenarkan oleh undang-undang syara’ menyatakan, membukakan, dan menzahirkannya kepada orang yang bukan ahlinya kerana akal mereka itu tidak sampai kea rah pengetahuan tersebut. Sebagaimana sabda Nabi (saw) :
Ertinya, “ Kami golongan Nabi-nabi diperintahkan oleh Allah Taala kepada kami semua supaya berkata kepada semua manusia mengikut keupayaan penerimaan akal mereka. Lagi pun kalau akal mereka tidak sampai ke arah memahaminya, maka sudah tentu mereka akan menimbulkan fitnah ke atas kami.”
Sabda Nabi (saw) lagi :
Ertinya, “ Sesetengah ilmu itu keadaannya seperti mutiara yang tersimpan dalam hidangan perut ibunya, tidak ada sesiapa yang mengetahuinya melainkan orang-orang yang berilmu dengan Allah.”
Orang-orang yang berilmu dengan Allah (Al-A’limuna Billah) itu ialah orang-orang yang mengenal Zat Allah, sifat-sifat-Nya, nama-nama-Nya dan segala perbuatan-Nya malah ilmu mereka beserta dengan Allah Taala dan mengamalkan apa yang diketahuinya tanpa mencederakannya walau sedikitpun.
OLEH : SYEIKH MUHAMMAD NAFIS IDRIS AL – BANJARI
Di petik dari Kitab “Mutiara Yang Indah”, siri ilmu tasawuf Ad-Darun Nafis. Kupasan tentang keesaan af’al, keesaan asma’, sifat-sifat dan Zat Allah Taala yang maha Suci
Thursday, February 9, 2012
ADAKAH POPULARITI MENJAMIN KETINGGIAN & KEHEBATAN ILMU ALLAH ?
ADAKAH BILA POPULAR TANDANYA ILMUNYA TINGGI & HEBAT?
Ini yang menjadi kegilaan masyarakat sekarang. Asal sahaja orang itu sudah terkenal dan punya Pusat Rawatan yang sudah di kenali , maka masyarakat sudah menganggap ilmu mereka TERAMAT tinggi dan amat hebat .
Bila mendengar seseorang punya masalah seperti di sihir, masalah saka, hysteria, kediaman atau pejabat diganggu makhluk halus, maka sudah pasti anda akan di tanya, sudah pergi ke Darus Salam atau Darul Syifa atau juga Sinar Zamdurrani? Seolah-olah pendapat dan kaedah mereka sahaja yang terbaik dan boleh di percayai.
Siapa Big Boss di dalam ketiga-tiga Pusat Rawatan ini??? Mereka ini sudah amat di kenali dan tersohor . Seringkali keluar di Media Massa dan Media ELektronik malah di anggap Ulama Hebat. Ye ke? Hebat tara mana tuuuuuu???
Orang-orang yang jahil amat mudah di perbodohkan tetapi bagi orang Arif sebenarnya mereka telah memperbodohkan diri sendiri. Segala ilmu rawatan mereka telah di paparkan samada secara demonstrasi rawatan atau di bukukan segala ayat-ayat amalan yang di digunakan. ILMU YANG BOLEH DI PERTONTONKAN DAN DIBUKUKAN BUKAN LAH ILMU TAHAP TINGGI DAN HEBAT, IA SEKADAR SEPERTI PERMAINAN SILAP MATA DAN DI PERTONTONKAN UNTUK MEMBUAT ORANG KAGUM DENGAN KEBOLEHAN DIRI MEREKA. AWAS, itu bukan dari Allah Taala. Ia merupakan permainan dan persembahan menggunakan khadam.
TIDAK BERSETUJU?????
Anda tentu pernah dan mungkin selalu melihat pertunjukan atau demonstrasi Silat, bukan? Anda juga pernah memasuki pertandingan Silat bukan? Adakah ilmu yang di buat demo itu , ilmu tahap Gurulatih? Atau anda yang pernah memasuki Pertandingan Silat, anda sudah melepasi tahap Gurulatih dan dibenarkan bertanding? TENTU SAHAJA ILMU YANG DI PERTONTONKAN DI BAWAH TAHAP ASAS SAHAJA DAN YANG DI BENARKAN BERTANDING HANYA TAHAP MURID SAHAJA.
Sepertimana kita di gambarkan dengan watak-watak pelakon Silat handalan seperti Eman Manan dan Aaron Aziz, adakah mereka sehebat yang di gambarkan di dalam filem? Di luar sana, lebih ramai yang berilmu lebih tinggi dan lebih hebat namun mereka mengikut resmi padi, makin berisi makin tunduk. Malu nak mengangkat muka dan menepuk dada mengatakan aku hebat. TETAPI YANG SERING KELUAR DI MEDIA TELEVISION DAN AKHBAR ADALAH MEREKA YANG MENGAMBIL KESEMPATAN DI ATAS KEJAHILAN MASYARAKAT, MENEMPA NAMA UNTUK MENEMPA UPAH YANG LUMAYAN.
Kareografer yang melatih Aaron Aziz dan Eman Manan (sebagai contoh sahaja, di harap kedua artis ini tidak tersinggung) tentu sahaja tidak menerima bayaran setinggi bayaran yang di terima kedua pelakon tadi yang telah melakonkan aksi yang hebat di skrin TV( sedangkan yang diajar hanya setitis dari air selautan). Malah kalau ada promosi filem di mana-mana dimana kareografer ini turut serta, mereka tidak akan di cari malah mungkin di langgar bahu tetapi kedua artis yang melakonkan watak hebat tadi yang akan di kejar kesana-sini.
INI LAH DUNIA KINI, DUNIA PENUH KEPURA-PURAAN. Yang menjadi mangsa adalah mereka yang datang dari jauh , penuh pengharapan bahawa Tuan Guru ini mampu melakukan keajaiban. Menyembuhkan penyakit mereka, menamatkan penderitaan yang sekian lama. Mempercayai apa sahaja kata-kata tuan guru ini seolah-olah itulah fatwa yang harus dipegang.
AKHIRNYA, mereka sedar hanya INDAH KHABAR DARI RUPA. Masa dan tenaga terbuang sia-sia malah ribuan ringgit hangus begitu sahaja. Bila sudah tiada harapan lagi, mereka kembali kehospital. Menyerahkan diri dan tubuh untuk di robek dan di sumbat dengan dadah. Dosa syirik berganda-ganda, murka Tuhan menimpa-nimpa, akhirnya mati Suul khotimah.
Bagi mereka yang benar-benar menyerahkan diri pada Allah, sentiasa yakin pasti ada dari mereka ini (perawat Islam) mempunyai Ilmu yang benar Ilmu Haq dan Ilmu Tulen, tidak berputus asa. Akhirnya mendapat hidayah dan petunjuk Allah, maka temuilah mereka hamba-hamba Allah yang tidak di kenali namun mempunyai kehebatan Ilmu Anugerah Allah. Mereka dengan izin Allah dapat melahirkan perkara mencarik adat seperti kesembuhan yang tidak dapat di rungkai jawpanannya secara saintifik. AL Maunnah dengan izin Allah bagi mereka-mereka yang ikhlas memperjuangkan Ilmu Allah dengan tujuan DAKWAH.
Walau tidak di iktiraf, di pandang rendah, tidak di hargai dan sering di perlekehkan oleh tuan-tuan guru ternama ini sehingga mendapat jolokan pembawa ajaran sesat, namun dakwah tetap kena di laksanakan. ITU AMANAH DARI ALLAH BILA SUDAH DI KURNIAKAN ANUGERAH ILMU DARI NYA. Bukankah ini jalan para Nabi-nabi terdahulu???
Bila sudah menemui orang yang benar di sisi Allah, wang sudah habis, harta sudah tergadai. Hanya mampu menyumbang seikhlas hati kepada Perawat Islam ini. Dengan redho mereka terima juga seikhlas hati, sedikit tiada rasa tidak puashati dan merungut. Hanya itu rezeki dari Allah untuk mereka yang ikhlas.
MAKA BAGAIMANA MUNGKIN MEREKA-MEREKA YANG MEMPUNYAI KEHEBATAN ILMU INI MAHU MENYEBARKAN DAKWAH MELALUI CARA PENUBUHAN KLINIK PERUBATAN ISLAM DAN JUGA GELANGGANG ILMU PERSILATAN SEKIRANYA TIADA MODAL MENCUKUPI SEBAGAI BEKAL MULA? SEGALA-GALANYA KINI MEMERLUKAN WANG NAMUN BILA SAHAJA MELIBATKAN PERUBATAN ISLAM, ORANG RAMAI BERPENDAPAT KENA IKHLAS , TIDAK BOLEH MELETAKKAN HARGA DALAM KHIDMAT RAWATANNYA. TETAPI BILA PERAWAT TERSOHOR ATAU TUAN GURU DI ATAS MELETAKKAN HARGA RIBU-RIBU UNTUK BERCAKAP HANYA SEJAM, TIADA SIAPA PERTIKAIKAN. BILA PERAWAT TERSOHOR ITU MELETAKKAN BAYAR AN TAK KURANG DARI 400 UNTUK KHIDMATNYA , SEDANG KESEMBUHAN BELUM PASTI, TIADA SIAPA PULA MEMBICARAKANNYA SEOLAH-OLAH POPULARITI ADALAH SUATU LESEN UNTUK LETAK HARGA.
Sampai bila-bila Ilmu Allah yg benar ini tidak dapat dikembangkan secara meluas dan tersusun kerana guru-gurunya tidak mahu menggadaikan akidah dan akhlaknya demi populariti. Tambahan pula hanya mereka-mereka yang telah di tunjuki oleh Allah SWT sahaja akan menemui mereka-mereka yang ikhlas ini. Kesembuhan milik Allah, jadi berkemungkinan setelah karma atau kifarah di atas dosa-dosa mereka telah selesai, maka Allah SWT ilhamkan mereka untuk bertemu Perawat ikhlas ini untuk mendoakan kesembuhan bagi mereka.
Bagi yang mendapat musibah atau penyakit kronik yang sukar sembuh, tidak menyedari sebenarnya bahawa tidak semua penyakit itu akibat diet tidak seimbang atau permainan sihir. Adakalanya akibat olah atau perbuatannya sendiri yang menzalimi orang lain dan mensyirikkan Tuhan. Tidak akan ada kesembuhan walau sehebat mana ilmu perawat itu kalau penyakitnya adalah akibat perbuatan dosanya sendiri, sebagai contoh penyakit AIDS .
Jadi sebaiknya, bertaubat lah dahulu dalam mencari kesembuhan agar dosa-dosa anda di ampunkan Tuhan, kemudian mohon petunjuk agar di tunjukkan mereka yang benar ilmunya agar mendapat kesembuhan.SIAPA PULA MEREKA YANG BENAR ILMU NYA DI SISI TUHAN???
Mereka adalah orang-orang yang telah mengenal diri dan mengenal Tuhan dengan sebenar-benarnya dan bukan lagi hanya sekadar ucapan di bibir mulut sahaja. Perawat yang telah mengenal Tuhan tidak akan bersandar kepada benda-benda maujud (ciptaan) untuk merawat pesakitnya. Dia telah kenal Tuhannya, Dia tahu Tuhannya Maha Penyembuh dan tidak memerlukan pengantara untuk menyembuhkan. Hanya Kun FAYAKUN.
Dia tidak menjual ubat apatah lagi dadah ciptaan manusia. Dia tidak juga menggunakan herba-herba sebagai ubat walau ubat itu memang di ciptakan mempunyai khasiat tersendiri kerana dia telah mendapat izin Tuhan untuk merawat dan mendapatkan kesembuhan terus dari Tuhan………..TIADA PENGANTARA MELALUI UBATAN ATAU TEKNOLOGI MODEN MAHU PUN BAHAN-BAHAN TRADISIONAL.
Ini lah yang di kenali sebagai Teknologi Rohku. Kemampuan teknologi ini adalah di luar batas pemikiran manusia kerana Rohku adalah dari Zat Tuhan . Maka kemampuannya adalah kemampuan KUN FAYAKUN yang di kurniakan Allah SWT terhadap IHSAN.
Mereka juga tidak menggunakan garam, lada hitam atau kayu untuk menghalau Jin yang merasuk dan sihir. Kekuatan Nur Teknologi Rohku sudah amat menakutkan syaitan-syaitan Jin ini dan terlebih dahulu LARI sebelum berdepan dengan perawat ini. Kalau masih menunggu di dalam tubuh pesakit pun, kaedah membuangnya pun tak lah lama. Dengan mengalirkan arus Nur Syifa kedalam tubuh pesakit melalui ubun-ubun dan meresap masuk kedalam urat saraf di mana syaitan-syaitan jin ini berkeliaran dan berdiam di dalam aliran darah manusia tidak akan dapat lari ke mana-mana, tidak perlu di cari-cari dimana syaitan tu duduk. Duduknya Ruh manusia pun di dalam darah dan darah itu lah roh manusia. Tiada orang mati yang mempunyai darah kerana Rohnya telah keluar dari jasad bukan???
Begitu juga dalam kes menghalau “hantu-hantu” atau Jin yang mengganggu kediaman. Tidak perlu membazir menggunakan garam atau biji kacang berguni-guni. Kekuaatan Cahaya Aura Rohku sudah cukup kuat untuk di pancarkan dan mengusir kewujudan makhluk halus ini di mana-mana. Tangan perawat ini ibarat senapang, halakan dan pancarkan Aura Nur itu kesetiap penjuru dan pastinya tiada syaitan jin dan hantu yang berani mendekati kerana kepanasan Aura Nur ini cukup panas, membakar Jin dan Roh dengan hanya “kena” sahaja dan memindahkan mereka ke mana sahaja “Cuma dengan niat sahaja. Pernah tengok movie “JUMPER”? Dengan berniat sahaja hero filem ini bergerak kemana sahaja dengan sekelip mata walau ribuan batu jauh jaraknya.
INI LAH ILMU YANG JARANG DI TEMUI DAN TIDAK AKAN DI PERTONTONKAN. GURUNYA PUN TIDAK DI KENALI DI ATAS MUKABUMI TETAPI AMAT TERSOHOR DI LANGIT (DIKENALI OLEH SEKALIAN MALAIKAT KERANA MEREKA TELAH MENJADI KRONI TUHAN). Lalu bila anak muridnya mendapat limpahan ilmu dari orang seperti ini maka adakah dia akan mempamerkannya dan mempertontonkannya????????
TIDAK SEKALI-KALI. BIARLAH ALLAH SWT SAHAJA YANG TUNJUKKAN KEPADA MEREKA-MEREKA YANG JUGA IKHLAS DALAM MENCARI KESEMBUHAN DENGAN TIDAK MENSYIRIKKAN ALLAH DAN MENGHINDARI PARA DUKUN-DUKUN WAHABI DAN DUKUN-DUKUN YAHUDI DAN NASRANI.
HJ.WAN ZUL AL KUBRA SENTIASA MENCARI PELUANG UNTUK MEMBANTU ANDA NAMUN KHIDMATNYA BUKAN UNTUK TONTONAN. ILMU WARISAN KETUA WALIY TUJUH DARI SAYYID HUSSIN JAMADIL KUBRA KINI DI WARISINYA SEBAGAI PEWARIS TERAKHIR.HUBUNGI HJ.WAN ZUL UNTUK MENDAPATKAN KHIDMATNYA DI MANA-MANA SAHAJA.
Ini yang menjadi kegilaan masyarakat sekarang. Asal sahaja orang itu sudah terkenal dan punya Pusat Rawatan yang sudah di kenali , maka masyarakat sudah menganggap ilmu mereka TERAMAT tinggi dan amat hebat .
Bila mendengar seseorang punya masalah seperti di sihir, masalah saka, hysteria, kediaman atau pejabat diganggu makhluk halus, maka sudah pasti anda akan di tanya, sudah pergi ke Darus Salam atau Darul Syifa atau juga Sinar Zamdurrani? Seolah-olah pendapat dan kaedah mereka sahaja yang terbaik dan boleh di percayai.
Siapa Big Boss di dalam ketiga-tiga Pusat Rawatan ini??? Mereka ini sudah amat di kenali dan tersohor . Seringkali keluar di Media Massa dan Media ELektronik malah di anggap Ulama Hebat. Ye ke? Hebat tara mana tuuuuuu???
Orang-orang yang jahil amat mudah di perbodohkan tetapi bagi orang Arif sebenarnya mereka telah memperbodohkan diri sendiri. Segala ilmu rawatan mereka telah di paparkan samada secara demonstrasi rawatan atau di bukukan segala ayat-ayat amalan yang di digunakan. ILMU YANG BOLEH DI PERTONTONKAN DAN DIBUKUKAN BUKAN LAH ILMU TAHAP TINGGI DAN HEBAT, IA SEKADAR SEPERTI PERMAINAN SILAP MATA DAN DI PERTONTONKAN UNTUK MEMBUAT ORANG KAGUM DENGAN KEBOLEHAN DIRI MEREKA. AWAS, itu bukan dari Allah Taala. Ia merupakan permainan dan persembahan menggunakan khadam.
TIDAK BERSETUJU?????
Anda tentu pernah dan mungkin selalu melihat pertunjukan atau demonstrasi Silat, bukan? Anda juga pernah memasuki pertandingan Silat bukan? Adakah ilmu yang di buat demo itu , ilmu tahap Gurulatih? Atau anda yang pernah memasuki Pertandingan Silat, anda sudah melepasi tahap Gurulatih dan dibenarkan bertanding? TENTU SAHAJA ILMU YANG DI PERTONTONKAN DI BAWAH TAHAP ASAS SAHAJA DAN YANG DI BENARKAN BERTANDING HANYA TAHAP MURID SAHAJA.
Sepertimana kita di gambarkan dengan watak-watak pelakon Silat handalan seperti Eman Manan dan Aaron Aziz, adakah mereka sehebat yang di gambarkan di dalam filem? Di luar sana, lebih ramai yang berilmu lebih tinggi dan lebih hebat namun mereka mengikut resmi padi, makin berisi makin tunduk. Malu nak mengangkat muka dan menepuk dada mengatakan aku hebat. TETAPI YANG SERING KELUAR DI MEDIA TELEVISION DAN AKHBAR ADALAH MEREKA YANG MENGAMBIL KESEMPATAN DI ATAS KEJAHILAN MASYARAKAT, MENEMPA NAMA UNTUK MENEMPA UPAH YANG LUMAYAN.
Kareografer yang melatih Aaron Aziz dan Eman Manan (sebagai contoh sahaja, di harap kedua artis ini tidak tersinggung) tentu sahaja tidak menerima bayaran setinggi bayaran yang di terima kedua pelakon tadi yang telah melakonkan aksi yang hebat di skrin TV( sedangkan yang diajar hanya setitis dari air selautan). Malah kalau ada promosi filem di mana-mana dimana kareografer ini turut serta, mereka tidak akan di cari malah mungkin di langgar bahu tetapi kedua artis yang melakonkan watak hebat tadi yang akan di kejar kesana-sini.
INI LAH DUNIA KINI, DUNIA PENUH KEPURA-PURAAN. Yang menjadi mangsa adalah mereka yang datang dari jauh , penuh pengharapan bahawa Tuan Guru ini mampu melakukan keajaiban. Menyembuhkan penyakit mereka, menamatkan penderitaan yang sekian lama. Mempercayai apa sahaja kata-kata tuan guru ini seolah-olah itulah fatwa yang harus dipegang.
AKHIRNYA, mereka sedar hanya INDAH KHABAR DARI RUPA. Masa dan tenaga terbuang sia-sia malah ribuan ringgit hangus begitu sahaja. Bila sudah tiada harapan lagi, mereka kembali kehospital. Menyerahkan diri dan tubuh untuk di robek dan di sumbat dengan dadah. Dosa syirik berganda-ganda, murka Tuhan menimpa-nimpa, akhirnya mati Suul khotimah.
Bagi mereka yang benar-benar menyerahkan diri pada Allah, sentiasa yakin pasti ada dari mereka ini (perawat Islam) mempunyai Ilmu yang benar Ilmu Haq dan Ilmu Tulen, tidak berputus asa. Akhirnya mendapat hidayah dan petunjuk Allah, maka temuilah mereka hamba-hamba Allah yang tidak di kenali namun mempunyai kehebatan Ilmu Anugerah Allah. Mereka dengan izin Allah dapat melahirkan perkara mencarik adat seperti kesembuhan yang tidak dapat di rungkai jawpanannya secara saintifik. AL Maunnah dengan izin Allah bagi mereka-mereka yang ikhlas memperjuangkan Ilmu Allah dengan tujuan DAKWAH.
Walau tidak di iktiraf, di pandang rendah, tidak di hargai dan sering di perlekehkan oleh tuan-tuan guru ternama ini sehingga mendapat jolokan pembawa ajaran sesat, namun dakwah tetap kena di laksanakan. ITU AMANAH DARI ALLAH BILA SUDAH DI KURNIAKAN ANUGERAH ILMU DARI NYA. Bukankah ini jalan para Nabi-nabi terdahulu???
Bila sudah menemui orang yang benar di sisi Allah, wang sudah habis, harta sudah tergadai. Hanya mampu menyumbang seikhlas hati kepada Perawat Islam ini. Dengan redho mereka terima juga seikhlas hati, sedikit tiada rasa tidak puashati dan merungut. Hanya itu rezeki dari Allah untuk mereka yang ikhlas.
MAKA BAGAIMANA MUNGKIN MEREKA-MEREKA YANG MEMPUNYAI KEHEBATAN ILMU INI MAHU MENYEBARKAN DAKWAH MELALUI CARA PENUBUHAN KLINIK PERUBATAN ISLAM DAN JUGA GELANGGANG ILMU PERSILATAN SEKIRANYA TIADA MODAL MENCUKUPI SEBAGAI BEKAL MULA? SEGALA-GALANYA KINI MEMERLUKAN WANG NAMUN BILA SAHAJA MELIBATKAN PERUBATAN ISLAM, ORANG RAMAI BERPENDAPAT KENA IKHLAS , TIDAK BOLEH MELETAKKAN HARGA DALAM KHIDMAT RAWATANNYA. TETAPI BILA PERAWAT TERSOHOR ATAU TUAN GURU DI ATAS MELETAKKAN HARGA RIBU-RIBU UNTUK BERCAKAP HANYA SEJAM, TIADA SIAPA PERTIKAIKAN. BILA PERAWAT TERSOHOR ITU MELETAKKAN BAYAR AN TAK KURANG DARI 400 UNTUK KHIDMATNYA , SEDANG KESEMBUHAN BELUM PASTI, TIADA SIAPA PULA MEMBICARAKANNYA SEOLAH-OLAH POPULARITI ADALAH SUATU LESEN UNTUK LETAK HARGA.
Sampai bila-bila Ilmu Allah yg benar ini tidak dapat dikembangkan secara meluas dan tersusun kerana guru-gurunya tidak mahu menggadaikan akidah dan akhlaknya demi populariti. Tambahan pula hanya mereka-mereka yang telah di tunjuki oleh Allah SWT sahaja akan menemui mereka-mereka yang ikhlas ini. Kesembuhan milik Allah, jadi berkemungkinan setelah karma atau kifarah di atas dosa-dosa mereka telah selesai, maka Allah SWT ilhamkan mereka untuk bertemu Perawat ikhlas ini untuk mendoakan kesembuhan bagi mereka.
Bagi yang mendapat musibah atau penyakit kronik yang sukar sembuh, tidak menyedari sebenarnya bahawa tidak semua penyakit itu akibat diet tidak seimbang atau permainan sihir. Adakalanya akibat olah atau perbuatannya sendiri yang menzalimi orang lain dan mensyirikkan Tuhan. Tidak akan ada kesembuhan walau sehebat mana ilmu perawat itu kalau penyakitnya adalah akibat perbuatan dosanya sendiri, sebagai contoh penyakit AIDS .
Jadi sebaiknya, bertaubat lah dahulu dalam mencari kesembuhan agar dosa-dosa anda di ampunkan Tuhan, kemudian mohon petunjuk agar di tunjukkan mereka yang benar ilmunya agar mendapat kesembuhan.SIAPA PULA MEREKA YANG BENAR ILMU NYA DI SISI TUHAN???
Mereka adalah orang-orang yang telah mengenal diri dan mengenal Tuhan dengan sebenar-benarnya dan bukan lagi hanya sekadar ucapan di bibir mulut sahaja. Perawat yang telah mengenal Tuhan tidak akan bersandar kepada benda-benda maujud (ciptaan) untuk merawat pesakitnya. Dia telah kenal Tuhannya, Dia tahu Tuhannya Maha Penyembuh dan tidak memerlukan pengantara untuk menyembuhkan. Hanya Kun FAYAKUN.
Dia tidak menjual ubat apatah lagi dadah ciptaan manusia. Dia tidak juga menggunakan herba-herba sebagai ubat walau ubat itu memang di ciptakan mempunyai khasiat tersendiri kerana dia telah mendapat izin Tuhan untuk merawat dan mendapatkan kesembuhan terus dari Tuhan………..TIADA PENGANTARA MELALUI UBATAN ATAU TEKNOLOGI MODEN MAHU PUN BAHAN-BAHAN TRADISIONAL.
Ini lah yang di kenali sebagai Teknologi Rohku. Kemampuan teknologi ini adalah di luar batas pemikiran manusia kerana Rohku adalah dari Zat Tuhan . Maka kemampuannya adalah kemampuan KUN FAYAKUN yang di kurniakan Allah SWT terhadap IHSAN.
Mereka juga tidak menggunakan garam, lada hitam atau kayu untuk menghalau Jin yang merasuk dan sihir. Kekuatan Nur Teknologi Rohku sudah amat menakutkan syaitan-syaitan Jin ini dan terlebih dahulu LARI sebelum berdepan dengan perawat ini. Kalau masih menunggu di dalam tubuh pesakit pun, kaedah membuangnya pun tak lah lama. Dengan mengalirkan arus Nur Syifa kedalam tubuh pesakit melalui ubun-ubun dan meresap masuk kedalam urat saraf di mana syaitan-syaitan jin ini berkeliaran dan berdiam di dalam aliran darah manusia tidak akan dapat lari ke mana-mana, tidak perlu di cari-cari dimana syaitan tu duduk. Duduknya Ruh manusia pun di dalam darah dan darah itu lah roh manusia. Tiada orang mati yang mempunyai darah kerana Rohnya telah keluar dari jasad bukan???
Begitu juga dalam kes menghalau “hantu-hantu” atau Jin yang mengganggu kediaman. Tidak perlu membazir menggunakan garam atau biji kacang berguni-guni. Kekuaatan Cahaya Aura Rohku sudah cukup kuat untuk di pancarkan dan mengusir kewujudan makhluk halus ini di mana-mana. Tangan perawat ini ibarat senapang, halakan dan pancarkan Aura Nur itu kesetiap penjuru dan pastinya tiada syaitan jin dan hantu yang berani mendekati kerana kepanasan Aura Nur ini cukup panas, membakar Jin dan Roh dengan hanya “kena” sahaja dan memindahkan mereka ke mana sahaja “Cuma dengan niat sahaja. Pernah tengok movie “JUMPER”? Dengan berniat sahaja hero filem ini bergerak kemana sahaja dengan sekelip mata walau ribuan batu jauh jaraknya.
INI LAH ILMU YANG JARANG DI TEMUI DAN TIDAK AKAN DI PERTONTONKAN. GURUNYA PUN TIDAK DI KENALI DI ATAS MUKABUMI TETAPI AMAT TERSOHOR DI LANGIT (DIKENALI OLEH SEKALIAN MALAIKAT KERANA MEREKA TELAH MENJADI KRONI TUHAN). Lalu bila anak muridnya mendapat limpahan ilmu dari orang seperti ini maka adakah dia akan mempamerkannya dan mempertontonkannya????????
TIDAK SEKALI-KALI. BIARLAH ALLAH SWT SAHAJA YANG TUNJUKKAN KEPADA MEREKA-MEREKA YANG JUGA IKHLAS DALAM MENCARI KESEMBUHAN DENGAN TIDAK MENSYIRIKKAN ALLAH DAN MENGHINDARI PARA DUKUN-DUKUN WAHABI DAN DUKUN-DUKUN YAHUDI DAN NASRANI.
HJ.WAN ZUL AL KUBRA SENTIASA MENCARI PELUANG UNTUK MEMBANTU ANDA NAMUN KHIDMATNYA BUKAN UNTUK TONTONAN. ILMU WARISAN KETUA WALIY TUJUH DARI SAYYID HUSSIN JAMADIL KUBRA KINI DI WARISINYA SEBAGAI PEWARIS TERAKHIR.HUBUNGI HJ.WAN ZUL UNTUK MENDAPATKAN KHIDMATNYA DI MANA-MANA SAHAJA.
Subscribe to:
Posts (Atom)