Sunday, May 1, 2011

ISLAM DAN AQIDAH

Islam dan aqidah sudah lama ada sejak manusia pertama Adam AS. Hingga sampai hari ini yaitu lebih kurang 21 abad yang telah dilalui manusia.

Islam merupakan syariat hidup manusia yang dikaruniakan Allah untuk kesempurnaan hidup umat manusia.

Islam juga merupakan satu-satunya alternatif pilihan cara hidup yang terbaik di alam dunia dan juga di alam akhirat nanti. Islam telah lama berkembang dari satu zaman ke zaman yang lain dari seorang Nabi ke seorang Nabi dan sampai pada tahap kesempurnaan Islam yaitu di zaman Rasulullah SAW.

Syari’at hidup Islam, Teknologi Islam dan Ilmu-ilmu Allah turut berkembang seiring dengan kemajuan zaman.

Keagungan islam dalam bidang ilmu dan pencapaian teknologi telah terbukti di zaman silam sebagai contoh :

Di zaman Nabi sulaiman AS, manusia mampu membangun istana di atas air berdagang dengan jin, menggunakan tenaga buruh yaitu bangsa jin untuk membangun jalan raya, berbicara dengan binatang serta manusia bisa berjalan di atas air, terbang di udara tanpa menggunakan alat.

Dizaman Nabi Yusuf AS manusia bisa menguasai ilmu teknologi tinggi yaitu penafsiran mimpi dan hanya dengan tafsir mimpi Nabi Yusuf dapat menerangkan dasar ekonomi negara mesir didalam usaha untuk menghadapi kemarau panjang, sehingga dengan ilmu mimpi ini selamatlah negara mesir dari penderitaan kemarau panjang.

Di zaman Nabi Musa AS yang terkenal dengan tongkatnya yang sanggup membuat air laut menjadi beku dan manusia bisa berjalan diatasnya.

Di Zaman Nabi Daud AS manusia dapat mencairkan logam dengan tangan tanpa menggunakan api, sehingga sanggup membuat senjata pedang hanya dengan tangan

Di zaman Nabi Ilyas AS, manusia dapat menguasai ilmu kedokteran dan Farmasi sehingga mampu membuat beranekaragam obat dan menyembuhkan berbagai penyakit.

Di zaman Nabi Isa AS. Manusia dapat menguasai ilmu menghidupkan orang mati dan ilmu membaca bisikan hati manusia serta ilmu menyembuhkan orang buta.

Dan ilmu-ilmu tersebut di atas pernah juga dikuasai oleh para wali-wali Allah seperti Syeikh Abdul Kadir Al Jailani, Wali Songo dan lain-lain.

Persoalannya mengapa ilmu-ilmu ini tidak dapat dikuasai oleh manusia di zaman sekarang ? dan dimana letak kelemahannya ? untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita lihat dulu pembagian ilmu yang ada dapat/ boleh/ bisa dikuasai oleh manusia :

1. Ilmu Qalam

Ilmu Qalam ialah ilmu yang paling sederhana yang dapat dikuasai oleh manusia contoh : ilmu kedokteran, ilmu farmasi, ilmu ekonomi, ilmu antrofologi, ilmu hukum dan lain-lain. Ilmu yang demikian bisa dikuasai siapa saja yang mau belajar tidak terkecuali dia orang Islam, Kristen, Yahudi maupun Nasrani.

2. Ilmu Ghaib

3. Ilmu Syahadah

Sedangkan Ilmu Ghaib dan Ilmu Syahadah tidak mungkin bisa dikuasai oleh orang-orang yang non muslim, ilmu ini hanya bisa dikuasai oleh orang Islam tapi mengapa orang Islam di zaman ini ketinggalan sekali disemua bidang ? pastilah ada penyebabnya………….!!!!!

Hal ini tidak terlepas dari beberapa faktor penyebab kelemahan umat Islam di zaman ini untuk menguasai teknologi dan Ilmu Allah yang tinggi ini antara lain :

1. Jatuhnya beberapa kerajaan Islam termasyur di dunia misalnya : Kerajaan Islam
di Baghdad yang diserang oleh tentera Monghul yang menyebabkan :

Banyak beberapa ulama tasauf dibunuh dan berkorban dalam peperangan

Banyak kitab tasauf yang dibakar

Banyak bangunan-bangunan/ gedung-gedung yang bertechnologi Islam tinggi
dibakar dan dimusnahkan.

2. Timbulnya pertentangan antara ahli syari’at dengan ahli tasauf yang
menyebabkan ;

Banyak para ahli tasauf yang dibunuh oleh golongan syari’at antara lain ahli
tasauf termasyur bernama Khalat.

Banyak ahli-ahli tasauf yang difitnah dan dikatakan membawa ajaran sesat

Para ahli syari’at membuat fatwa dan menyebarkan isu bahwa ilmu tasauf, ilmu
para wali dan orang awam tidak perlu mempelajarinya, orang awam cukup belajar
masalah dosa dan pahala saja.

3. Banyak dikalangan ahli tasauf bersikap pengecut, malu untuk berterus terang
dan membuka ilmunya kepada masyarakat dengan dalih rahasia sehingga masyarakat
dan generasi muda banyak yang awam atau buta tentang ilmu ini

4. Kurangnya minat umat islam untuk mempelajari. Mendalami ilmu tasauf karena
dianggap sulit dan yang mempelajarinya bisa jadi gila, karena masyarakat
menganggap ilmu ini aneh.

Empat faktor inilah yang menyebabkan ilmu tasauf dizaman sekarang ini tidak dapat dikuasai oleh umat islam.

Beruntunglah orang yang dapat menguasai ilmu ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Hasyr : 22

"Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang." (Q.S. Al- Hasyr : 22)


Perguruan Thoriqat Haq Naqsyabandi

HAQIQAT TAKBIR

Bermula haqiqat takbir itu,hendaklah kita hadirkan mata hati dengan Musyahadah kepada zat Allah terlebih dahulu/sebelum mengangkat takbiratul ihram,maka hendaklah kita tetapkan segala kehendak hati,Ruh,dan perasaan kita untuk tawajuh (menghadap) dan liqa’ (menemui) Allah SWT.

Bila sudah demikian,baru kita kata usalli…dan sudah mengembalikan/menyerahkan amanat Allah Ta’ala yang ada pada kita,yakni ujud kita yang kasar ini (baharu) dan yang menanggung amanat yaitu diri kita yang bathin.Adapun amanat itu kita serahkan kepada pemilik amanah yakni Allah SWT.itulah sebabnya kita disebut Ummat Muhammad SAW yang ditanyai mengenai amanat Allah Ta’ala itu seperti firmannya :

Artinya : Bahwasanya Allah Ta’ala memerintah kepadamu sekalian untuk mengembalikan amanat itu kepada pemiliknya

Dengan dikembalikan/diserahkannya amanat Allah itu kepada pemiliknya yaitu Allah ta’ala itu sendiri,maka jadilah fana/lebur/hilang/karam sekalian sifat tubuh kita didalam laut “Ruh Bahrul Qadim”adapun yang tinggal ketika itu hanya sifat Ruh semata-mata,dan itulah Ruh ilmu Allah,kemudian,kita katakan Allahhu Akbar. Itulah yang dinamakan lebur/karam kehambaan diri kita (Fana Fillah) kedalam ke-Baqaan Allah,dimana nyata keadaan zat Allah semata-mata.

Inilah yang harus kita syuhudkan sampai kepada salam.

Maka janganlah kita lalai dari paenjelasan ini-yang artinya syuhud itu,dipancang dengan mata hati itulah pengetahuan zat dan ilmunya dan sebenar-benar ilmunya itu,iman kepada kita dan sebenar-benar Sir-Allah itu,cahaya kalam Allah yang tidak berhuruf,tidak bersuara yaitu ujud zat yang mutlak,seperti yang tersebut dalam Hadits Qudsi :

Artinya : tidak bersuara,tidak berhuruf dan tiada bertempat/berbekas.

Firman Allah dalam Al-qur’an :

Artinya :Apakah mereka itu dijadikan bukan dari sesuatu atau mereka yang menjdikan mereka,dan bukanlah Aku yang menjadikan mereka.

Hendaklah takbir kita itu,dengan sah lagi jazam yakni yaqin.Hati kita hadir dengan Allah Ta’ala,yakni ingat kepada Allah maka takbir kita serta membesarkan Allah Ta’ala.Pada waktu mengangkat takbir itu,menjadi tempat perhimpunan pada kalimah La Ilaha Illa Allah : yang kita pandang hanya Allah semata-mata artinya kita fana sekali-kali tidak ada,yang ada hanya Ujud Allah semata.

Caranya adalah,sebelum mengangkat takbiratul ihram kita tarik nafas dengan Hu haqiqatnya Aku Allah Akbar yang lain semua kecil.sesudah itu di angkat takbiratul ihram “Allahu Akbar” dengan qasat,ta’aradh,ta’ayyin (tubuh hati Ruh).



ARTI SURAH AL-FATEHA :


Bismilah : Allah menamai akan dirinya

Arrahman : Ya Muhammad aku menciptakan engkau.

Arrahim : Ya Muhammad aku menhatakan Rahasiaku
kepadamu

Alhamdulillahi : Ya Muhammad,sembahyangku itu ganti
sembahyangmu untuk memuji diriku.

Rabbil Alamin : Ya Muhammad,aku tau yang lahir dan yang
bathin.

Arrahmannirrahim : Ya Muhammad,Yang membaca fateha itu aku
dan sembahyang itu aku memuji diriku.

Maliki Yaumiddin : Ya Muhammad,Aku Tuhan yang maha besar pada
isi sekalian alam,kamu ganti kerajaanku.

Iyya Kana’ Budu : Ya Muhammad,tiada lain yang sembahyang itu
melainkan aku memuji diriku.

Waiyyakanas Ta’in : Ya Muhammad,yang ghaib aku jua tiada aku
engkau ganti kerajaanku.

Ihdinasshirathal Mustaqim : Ya Muhammad,tiada yang tau………engkau jua
yang mengetahui aku.

Shiratallazi Na’an Amta’Alaihim : Ya Muhammad,tiada murka aku kepadamu,tiada
nyata aku jika tiada engkau.

Waladdhallin : Ya Muhammad,jika tiada kasihku tidak ada
engkau dan tiada Rahasiaku sekaliannya.

Amin : Ya Muhammad,adamu itu ganti rahasiaku.


ARTI SURAH AL-IKHLAS :

Qul Huwallahu Ahad : Aku nyata dengan dirimu.

Allahus shamad : Aku jadi penolong dunia dan akhirat

Lam Yalid Walam Yulad : Aku Esa Ghaib kepadamu.

Walam Yakul Lahu Kupuan Ahad : Aku nyata dengan dirimu


Pengajian Thoriqat Haq Naqsyabandi

SEMBAHYANG

HAKEKAT SEMBAHYANG :

Berdiri menyaksikan diri sendiri, kita bersaksi dengan diri kita sendiri, bahwa tiada yang nyata pada diri kita… hanya diri bathin (Allah) dan diri zahir kita (Muhammad) adalah yang membawa dan menanggung rahasia Allah SWT.

Hal ini terkandung dalam surat Al-Fatehah yaitu :

Alhamdu (Alif, Lam, Ha, Mim, Dal)

Kalimat alhamdu ini diterima ketika rasulullah isra’ dan mi’raj dan mengambil pengertian akan hakekat manusia pertama yang diciptakan Allah SWT. Yaitu : Adam AS. Tatkala Roh (diri bathin) Adam AS. Sampai ketahap dada, Adam AS pun bersin dan berkata alhamdulillah artinya : segala puji bagi Allah

Apa yang di puji…. Adalah : zat (Allah) , Sifat (Muhammad), Asma’ (Adam) dan Af’al (Manusia):

Jadi sembahyang itu bukan sekali-kali berarti :

Menyembah, tapi suatu istiadat penyaksian diri sendiri dan sesungguhnya tiada diri kita itu adalah diri Allah semata.Kita menyaksikan bahwa diri kitalah yang membawa dan menanggung rahasia Allah SWT. Dan tiada sesuatu pada diri kita hanya rahasia Allah semata serta.. tiada sesuatu yang kita punya : kecuali Hak Allah semata.

Sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Ahzab 72 Inna ‘aradnal amanata ‘alas samawati wal ardi wal jibal. Fa abaina anyah milnaha wa’asfakna minha wahamalahal insanu.

Artinya :
“sesungguhnya kami telah menawarkan suatu amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung tapi mereka enggan menerimannya (memikulnya) karena merasa tidak akan sanggup, lantas hanya manusia yang sanggup menerimanya”

Dan karena firman Allah inilah kita mengucap :

“Asyahadualla Ilaaha Illallah Wa Asyahadu Anna Muhammadar Rasulullah”
Yang berarti :

Kita bersaksi dengan diri kita sendiri bahwa tiada yang nyata pada diri kita sendiri hanya Allah Semata dengan tubuh zahir kita sebagai tempat menanggung rahasia Allah dan akan menjaganya sampai dengan tanggal yang telah ditentukan.

Manusia akan berguna disisi Allah jika ia dapat menjaga amanah Rahasia Allah dan berusaha mengenal dirinya sendiri.

Karena bila manusia dapat mengenal dirinya, maka dengan itu pulalah ia dapat mengenal Allah.

Hadits Qudsi….
“MAN ARAFA NAFSAHU FAKAT ARAFA RABBAHU”

Artinya : Barang siapa mengenal dirinya maka ia akan mengenal Allah

ALIF ITU ARTINYA : NIAT SEMBAHYANG
LAM ITU ARTINYA : BERDIRI
HA ITU ARTINYA : RUKU’
MIM ITU ARTINYA : DUDUK

Perkataan pertama dalam sembahyang itu adalah : Allahu Akbar (Allah Maha Besar) Perkata ini diambil dari peringatan ketika sempurnanya roh diri Rahasia Allah itu dimasukkan kedalam tubuh Adam AS. Adam AS. Pun berusaha berdiri sambil menyaksikan keindahan tubuhnya dan berkata : Allahu Akbar (Allah Maha Besar).

Dalam sembahyang harus memenuhi 3 syarat :

1. Fiqli (perbuatan)
2. Qauli (bacaan)
3. Qalbi (Hati atau roh atau qalbu)

Mengapa kita sembahyang sehari semalam 17 rakaat ?

Adalah mengambil pengertian sebagai berikut :

Hawa, Adam, Muhammad, Allah dan Ah

1. Ah Itu Menandakan Sembahyang Subuh:
2 Rakaat Yaitu Zat Dan Sifat

2. Allah Itu Menandakan Sembahyang Zohor
4 Rakaat Yaitu : Wujud, Alam, Nur Dan Shahadat.

3. Muhammad Itu Menandakan Sembahyang Asar
4 Rakaat Yaitu : Tanah, Air, Api, Dan Angin

4. Adam Itu Menandakan Sembahyang Maghrib
3 Rakaat Yaitu : Ahda, Wahda, Dan Wahdia

5. Hawa Itu Menandakan Sembahyang Isya
4 Rakaat Yaitu : Mani’, Manikam, Madi, Dan Di


MENGAPA KITA MENGUCAP DUA KALIMAH SYAHADAT 9 KALI DALAM 5 WAKTU SEMBAHYANG ?
Sebab diri bathin manusia mempunyai 9 wajah.

Dua kalimah syahadat pada :

1. Sembahyang SUBUH 1 kali itu memberi kesaksian pada wajah kita pada martabat
SIRUSIR (Rahasia didalam Rahasia)
2. Sembahyang ZOHOR 2 kali memberi kesaksian pada wajah kita pada martabat SIR
dan AHDAH
3. Sembahyang ASAR 2 kali memberi kesaksian pada wajah kita pada martabat WAHDA
dan WAHDIA
4. Sembahyang MAGHRIB 2 kali memberi kesaksian pada wajah kita pada martabat
AHAD dan MUHAMMAD
5. Sembahyang ISYA 2 kali memberi kesaksian pada wajah kita pada martabat
MUSTAFA dan MUHAMMAD

MENGAPA KITA HARUS BERNIAT DALAM SEMBAHYANG ?

Karena : niat itu merupakan kepala sembahyang.
Hakekat niat letaknya pada martabat alif dan ataupun kalbu manusia didalam sembahyang itu kita lapazkan didalam hati :

Niat sbb :
“aku hendak sembahyang menyaksikan diriku karena Allah semata-mata.”

Dalilnya :

1. LA SHALATAN ILLA BI HUDURIL QALBI
Artinya : Tidak Sah Shalat Nya Kalau Tidak Hadir Hatinya (Qalbunya)

2. LAYASUL SHALAT ILLA BIN MA’RIFATULLAH
Artinya : Tidak Syah Sholat Tanpa Mengenal Allah

3. WAKALBUL MU’MININ BAITULLAH
Artinya : Jiwa Orang Mu’min Itu Rumahnya Allah

4. WANAHNU AKRABI MIN HABIL WARIZ
Artinya : Aku (Allah) Lebih Dekat Dari Urat Nadi Lehermu

5. IN NAMAS SHALATU TAMAS KUNU TAWADU’U
Artinya : Hubungan Antara Manusia Dengan Tuhannya Adalah Cinta. Cintailah
Allah Yang Karena Allah Engkau Hidup Dan Kepada Allah Engkau Kembali. (H.R.
Tarmizi)

6. AKI MIS SHALATA LI ZIKRI
Artinya : Dirikan Shalat Untuk Mengingat Allah (QS. Taha : 145)

Sedangkan :

1. Al-Fatehah ialah merupakan tubuh sembahyang
2. Tahayat ialah merupakan hati sembahyang
3. Salam ialah merupakan kaki tangan sembahyang

HAKEKAT AL-FATEHA DALAM SHALAT

1. Membersihkan hati dari syirik kepada Allah SWT
2. Mengingat kita bahwa tubuh manusia itu mempunyai 7 lapis susunan jasad
yaitu :

i. Bulu
ii. Kulit
iii. Daging
iv. Darah
v. Tulang
vi. Lemak
vii. Lendir

3. 7 ayat dalam Al-Fatehah merupakan tawaf 7 kali keliling ka’bah.

HAKEKAT ALLAHU AKBAR DALAM SHALAT IALAH :

“Mengambil makna ucapan Nabi Adam AS. Ketika berdiri menyaksikan dirinya sendiri dan Nabi Adam AS mengucap kalimah Allahu Akbar.
Peristiwa ini merupakan tajali (perpindahan) diri rahasia Allah sehingga dapat di tanggung oleh manusia dengan 4 perkara yaitu :

1. Wujud 2. Ilmu 3. Nur 4. Syahadat

Perkataan Allah pada Allahu Akbar mengandung makna atau martabat zat sedangkan perkataan “Akbar” pada Allahu Akbar mengandung makna atau martabat sifat.
Jadi zat dan sifat itu tidak boleh berpisah, zat dan sifat sama-sama saling puji memuji

DALAM SHALAT ITU JUGA MENGANDUNG HAKEKAT ZAKAT.

Hakekat zakat dalam shalat ialah :

Mengandung makna “ Pembersih hati “ dari pada syirik kepada Allah SWT.

“ Iiya Kanak Budu Wa Iiya Kanasta’in”
Hanya kepada Allah lah aku menyembah dan hanya kepada Allah lah aku mohon pertolongan

HAKEKAT PUASA DALAM SHALAT :

1. Tidak Boleh Makan Dan Minum
2. Mata Berpuasa
3. Telinga Berpuasa
4. Kulit Berpuasa
5. Hati Berpuasa


Pengajian Thoriqat Haq Naqsyabandi

PENGKAJIAN MAKRIFAT

Petunjuk mengerjakan solat berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits
Sah solat tergantung rukun solat

Rukun Solat ada 13 perkara :

Harus memenuhi ketentuan seperti berikut :

I. Qalbi / Qalbu (Hati)
II. Qauli (ucapan/Bacaan)
III. Fikli (perbuatan)

Yang dikerjakan Qalbi / Qalbu (Hati) ada dua macam :

1. Niat Buka Hakekat.
2. Tertib Berurutan,tidak boleh dibolak-balik
Pengertian Niat secara hakekat ialah :
Tetap yaitu Buka Hakekat,menghadirkan Qalbu.
Pengertian Tertib secara hakekat ialah : Berhadapan

Yang dikerjakan oleh Qauli ada 5 Yaitu :

1. Takbiratul ihram (Allahu Akbar)
2. Membaca Alfatihah
3. Membaca Tasyahud Akhir
4. Membaca Solawat Nabi
5. Salam

Yang dikerjakan oleh Fikli ada 6 Yaitu :

1. Berdiri (bagi yang mampu)
2. Ruku’
3. I’tidal
4. Sujud
5. Duduk diantara dua sujud/salam
6. Duduk pada tasyahud akhir

Urut-Urutan Rukun Solat sebagai berikut :

1. Niat Buka Hakekat
2. Berdiri (bagi yang mampu)
3. Takbiratul Ikhram (membaca Allahu Akbar)
Allah = Asma’
Akbar = Maha Besar
4. Membaca Al’fatihah
5. Ruku’
6. I’tidal
7. Sujud
8. Duduk diantara dau sujud/salam
9. Duduk pada Tasyahud akhir
10. Membaca Tasyahud akhir
11. Membaca shalawat Nabi
12. Salam
13. Tertib

Niat Dengan membaca usalli itu perbuatan Ulama Muthahirin (Ulama sekarang) ,dan tidak ada dasar hukumnya.Di Arab (Mekkah / Madinah) tidak dikenal kata Usalli.
Dan apabila usalli ini dilakukan berarti :
Berdiri dulu baru Niat, jelas hal ini melanggar Rukun Shalat karena tidak tertib. Jika Usalli ini merupakan Lafas Niat berarti menambah Rukun.

Menurut Imam Syafi’I Awal shalat itu ialah Zikri.
Yang dimaksud Zikri ialah : Allau Akbar bukan Usalli
Dan pengertian Mazhab dalam Islam sebenarnya tidak ada.
Hal ini diperkuat oleh : DR. Muatofa Muhammad ASY. Syak’ah (seorang pakar Muslim).
Dalam bukunya : “ISLAM TIDAK BERMAHZAB”
PENERBIT : GEMA INSANI JAKARTA 1994.

Kesimpulan :

1. Sahnya solat itu letaknya di Niat (hadirnya Qalbu / hati),Rukunnya benar (sesuai
dengan Rukun)
2. Kunci Solat di Takbiratul Ikhram yaitu menyatukan syariat,Tharekat,hakekat
dan Ma’rifat habisnya di Allahu Akbar (Takbiratul Ikhram).
3. Kekuatan Solat di Al Fatihah
4. Tulang / tiangnya Solat itu di Ilmu

Firman Allah :
“WAS TA’INU BIS SABRI WAS SHALATI WAINNAHU LAKABIRATUN ILLA ALAL HASIRIN,”
Artinya : Jadikanlah sabar dan solat sebagai penolongmu dan sesungguhnya yang demikian itu sangat berat kecuali bagi orang-orang yang khusuk."
(QS.AL-BAQARAH : 45).

Sehingga Nabi / Rasul bersabda :
‘ ASHALATU MIFTAHU KULLI HAIRIN “
Artinya : Solat adalah kunci dari segala kebaikan.

Jadi bila ada orang yang solat masih berbuat maksiat,berarti solatnya perlu diperbaikkan !
Orang-orang seperti inilah dikategorikan perusak Islam,yaitu.

1. Melakukan sesuatu tanpa diketahuinya (tanpa dimengerti) maknanya.
2. Diketahuinya yang benar tapi tidak dikerjakannya.
3. Tidak diketahuinya (tidak di mengerti) tapi tidak mau belajar dan bertanya.
4. Mencela orang yang berbuat baik (ibadah kepada Allah),orang berzikir atau solat
kerana tidak sama dengan dia malah difitnah padahalkan dia tidak punya ilmu alias
tidak mengerti,tidak paham bagaimana caranya beribadah dengan benar sesuai Rukun.

Yang membatalkan solat ada 12 Perkara :

1. Sengaja berbicara
2. Bergerak yang bukan gerakan solat berturut-turut 3 kali.
3. Berhadas kecil atau besar
4. Terkena najis
5. Terbukanya aurat dengan sengaja
6. Berubah niat
7. Membelakangi Kiblat
8. Makan atau minum dengan sengaja walaupun sedikit
9. Tertawa terbahak-bahak
10. Murtad
11. Meninggalkan salah satu rukun dengan sengaja
12. Mendahului Imam sebanyak 2 Rukun

HAKEKAT RUKUN SEMBAHYANG (13 PERKARA) IALAH :

Mengandung makna hakikat sendi-sendi besar yang bergerak pada tubuh manusia, yaitu :

1. Sendi Tengkuk
2. Sendi bahu kanan
3. Sendi lengan kanan
4. Sendi tangan kanan
5. Sendi bahu kiri
6. Sendi lengan kiri
7. Sendi tangan kiri
8. Sendi paha kanan
9. Sendi paha kiri
10. Sendi lutut kanan
11. Sendi kaki kanan
12. Sendi kaki kiri
13. Sendi lutut kiri

Bergeraknya 13 sendi-sendi besar didalam tubuh,membuat badan menjadi sehat.

Niat solat dibagi empat :

1. Niat Basitah
2. Niat Tauzi’iyah
3. Niat Hurupiah
4. Niat Kamaliyah

DUA (2) Niat yang batal tidak ada dasar hukumnya, hanya kesepakatan
Ulama.

i. Niat Basitah artinya terhampar,mulai dari usalli lalu diartikan didalam hati.
ii. Niat Tauzi’iyah ialah mengartikan dalam satu kalimat
Contoh : Usalli fardal zuhri arba’araka atin lillahi ta’ala
(tidak diartikan didalam hati).

DUA (2) Niat Yang Sah :

i. Niat hurupiah ialah :
Menghandirkan zat solat dulu sedikit sebelum takbiratl ikhram. Zat solat ialah
Qalbu atau hati.

Dasar hukumnya hadits Nabi
“LA SHALATAN ILLA BIHUDURIL QALBI”
Artinya : Tidak sah solat kalau tidak hadir Qalbu / hatinya.

Niat Hurupiah ini ada 3 yaitu :

1. Dani yaitu Roh Tabi’i
2. Usto’ yaitu Roh ‘Idafi
3. Kasui yaitu Roh Rohani yang lebih tinggi dari Dani dan Usto’

ii. Niat Kamalia yaitu :
Niat para Nabi / Wali artinya mulailah Niat yang sah itu dari huruf Alif Allah
dan diakhiri dengan Allahu Akbar. Roh Rabbani.Alif Allah ialah Qalbu.
Jadi berdasarkan Niat tersebut diatas yang solat itu sebenarnya Roh kita,maka
Niatnya juga harus Niat Roh yaitu Buka hakekat,Menyamakan alam.

Roh / nyawa berasal dari Allah,kembali kepada Allah
Badan / Jasad berasal dari tanah kembali ketanah.
Pertanyaannya : Bagaimana caranya buka hakekat ?
Belajar pada orang yang ahli dibidangnya.

Dalil yang mendukung 2 Niat yang sah :

1. Awwaluddin Ma’rifatullah artinya : Awal agama mengenal Allah (Hadits Qudsi)

2. Layasul shalat illa bin ma’rifat artinya :Tidak sah solat tanpa mengenal Allah
(Hadits Qudsi)

3. La shalatan Bi Huduril Qalbi artinya :Tidak sah solatnya kalau tidak hadir
hatinya atau Qalbunya.(Hadits Qudsi)

4. W Qalbi Mu’minin Baitullah artinya : Jiwa (hati) orang Mu’min itu rumah Allah
(Hadits Qudsi)

5. Wafi ampusikum afala tubsirun artinya : Aku ada didalam jiwamu (hatimu) mengapa
kamu tidak melihat (QS.ZARIAT 21).

6. Man Arafa Nafsahu Faqad Arafa Rabbahu artinya : Barang siapa mengenal dirinya dia
akan mengenal Tuhan-nya.(Hadits Qudsi)

7. La tak budu Rabbana lam yarah artinya : Aku (Saidina Ali) tidak menyembah Allah
bila aku tidak melihatnya. (Hadits Qudsi)

8. Wakulu man Birairi Ilmin Ya’malu akmaluhu Mardudatun Latak balu artinya : Setiap
orang dengan tanpa ilmu dia beramal, maka amal-amalnya ditolak,tidak diterima
(Hadits Qudsi)

9. Fas’alu ahlaz zikri inkuntum la tak lamun artinya : Bertanyalah kepada orang
mempunyai pengetahuan (ilmu) atau pada ahlinya jika kamu tidak mengerti/tidak
mengetahui.(QS.AN-Nahl 43)

10. Dan seterusnya………banyak lagi dalil-dalil yang mendukung 2 Niat yang sah tersebut
diatas.

Nabi Bersabda :

Bismillahirahman Nirrahim
“INNA AURAMA YANJURU MIN AKMALIHIS SHALAT PA’IN ZAJAT LAHU NUJIRA FISA IRI AKHMALIHI WAINLAM TAJUD LAHU YANJURU FISAI IN MIN AKHMALIHI BAKDA”

Artinya : Sesungguhnya yang mula-mula dilihat oleh Allah dari amal perbuatan dari anak manusia adalah solatnya.

Apabila solatnya sempurna maka diterimalah solatnya itu dengan amal-amal yang lain.
Jika solatnya tidak sempurna maka ditolaklah solatnya itu dengan amal-amal yang lain. (HR,Al-Hakim).

“YAKTI ALANNAASI ZAMANU YUSALLUUNA WAYA TUSALLUUN “

Artinya : Akan datang kepada manusia suatu zaman ,banyak yang solat padahal sebenarnya mereka tidak Soat (HR.Ahmad).

"PAWAILUL LIL MUSALLIN……..Maka celakalah bagi orang-orang yang solat.
ALLAZINAHUM AN SHALATIHIM SAHUN
…….(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. (QS.Al-Maun 4,5)

"QAD AFLAHA MAN TAZAKKA, WAZA KARAS MARABBIHI FASHALLAH"

Artinya :Sesungguhnya berbahagialah orang-orang yang selalu mensucikan dirinya (jiwanya).

Dan ia ingat nama Tuhannya lalu ia shalat.(AL-A’LQA 14,15).

MANUSIA

Tatkala manusia dilahirkan kedunia, Bayi itu menangis dan tangisan tersebut mengandung makna sebagai berikut :

1. Tangisan pertama manusia itu merasa berat bebannya karena harus menanggung
Rahasia Allah (Nyawa/ Roh).
2. Tangisan kedua manusia merasa gembira karena telah dilahirkan kedunia dan menjadi
mahluk yang termulia.

Bayi yang berumur satu hari membawa kalimah pikun ( ) dan ketika Bayi mulai ketawa Ahmad Namanya.

Kemudian masa genggaman tangan mulai terbuka Muhammad Namanya ( ) sampai akil Baliqh,namanya muhammad

Dan pada masa akil Baliqh inilah segala perintah Allah wajib baginya.

Manusia atau Insan terdiri dari :

1. Jasmani atau Jasad Kasar
2. Rohani atau Jasad Halus

Jasmani atau Jasad kasar ini dinamakan Muhammad.
Sedangkan Rohani atau Jasad Halus dinamakan diri Bhatin atau Roh atau diri Rahasia Allah.

Tanpa diri bhatin atau Roh manusia itu disebut mayat.

Jadi yang dinamakan manusia itu karena dia menanggung Rahasia Allah (nyawa/Roh).
Karena manusia menanggung Rahasia Allah (diri Bhatin/Nyawa/Roh)maka manusia harus berusaha mengenal dirinya yaitu diri yang sebenar-benarnya diri dan dengan mengenal dirinya manusia akan mengenal Tuhannya,sehingga lebih mudah kembali menyerahkan dirinya kepada yang punya diri pada waktu dipanggil oleh Allah SWT yaitu tatkala berpisah antara Roh/Nyawa dengan Jasadnya.

Manusia akan berguna disisi Allah jika ia dapat menjaga Rahasia Allah (Nyawa/Roh) yaitu diri yang sebenar-benarnya diri.

Sehingga solat itu bukan berarti menyembah,tapi suatu istiadat penyaksian diri sendiri dan sesungguhnya tiada diri kita hanyalah diri Allah semata .

Kita menyaksikan bahwa diri kitalah yang membawa dan menanggung Rahasia Allah SWT dan tiada sesuatu pada diri kita hanya Rahasia Allah semata,serta tiada sesuatu yang kita punya kecuali Hak Allah semata.

Firman Allah Dalam Al-Qur’an Surat AL-AHZAB 72

“INNA ‘ARADNAL AMANATA ‘ALAS SAMAWATI WAL ARDI WAL JIBAL. FA ABAINA ANYAH MIL NAHA WA’ASFAKNA MINHA WAHAMALAHAL INSANU”

Artinya : “Sesungguhnya kami (Allah) telah menawarkan suatu amanat kepada langit, Bumi, dan Gunung-gunung tapi mereka enggan menerimanya (memikulnya) karena merasa tidak akan sanggup, lantas hanya manusia yang sanggup menerimanya”.

Dan karena Firman Allah inilah kita mengucap
“ASHADU ALLAA ILAA HA ILALLAH, WA ASHADU ANNA MUHAMMAD DARRASULULLAH”.

Artinya : Kita bersaksi dengan diri kita sendiri,bahwa tiada yang nyata pada diri kita hanya Allah SWT semata, dan tubuh zahir kita (Muhammad) sebagai tempat menangggung Rahasia Allah.

ALLAHUMMA SHALLI ‘ALA SYAIDINA MUHAMMAD WA’ALA ALI SYIDINA MUHAMMAD. KAMA SALAITA ‘ALA SYAIDINA IBRAHIM,WA’ALA SYAIDINA IBRAHIM,WABARIK ‘ALA SYAIDINA MUHAMMAD,WA’ALA SYAIDINA MUHAMMAD,KAMA BARAKTA ‘ALA SYAIDINA IBRAHIM,WA’ALA SYAIDINA IBRAHIM.FIL ALAMIN INNAKA HAMIDUN MAJID.

Dasar Hukumnya.
AL-QUR’AN Surat AL-ZARIYAT 21.
"WA FII ANFUSIKUM AFA LAA TUBSHIRUUN."
Artinya : “Aku (Allah) ada pada dirimu (Jiwamu) mengapa kamu tidak memperhatikan.(tidak melihat).

"WALIL LAHIL ASMA’UL HUSNA FAD ‘UHU BIHA."
Artinya : “Hanya milik Allah Asma’ul Husna,maka mohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma’ul Husna itu (QS.AL-ARAF 180).

"INNAMA YATAZAK KARU ULUL-ALBAB"
Artinya : “ Hanya orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran ini.
(QS.AR-RADU 19).

"ALLAZINA YUFUNA BI’AHDILLAHI WALA YAN QUDUNAL MISAQ"
Artinya : “(yaitu) orang-orang yang memenuhi janji.(QS.AR-RADU 20).


Perguruan Thoriqat Haq Naqsyabandi

TAUHID

Kita bergantung kepada Allah secara mutlak tanpa ada sedikitpun rasa syak wasangka dan was-was terhadap Allah

Artinya : Kita bertauhid kepada Zat, Pada Sifat, Pada Asma’ dan pada Af’al Allah Semata

Tauhid pada Zat ialah :

Kita mutlak yakin bahwa zat Allah lah yang memerintah alam maya ini (dunia dan isinya) dan tidak menyekutukan- Nya dengan yang lain,

"Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan di bumi; dan kepada Allahlah dikembalikan segala urusan." (Ali-Imran : 109)

Tauhid pada Sifat ialah :

Kita bergantung sepenuhnya pada Allah. Manusia tidak berhak atas segala sesuatu kecuali dengan izin Allah
Artinya : kita menafikan diri jahir kita dan mengisbatkan diri kita hanya kepada Allah semata

Tauhid pada Asma’ ialah :

Kita memandang bahwa setiap yang ada dan wujud kita adalah membawa nama Allah dimanapun kita berada disitu ada Allah.

Tauhid pada Af’al ialah :

Kelakuan kita adalah kelakuan Allah SWT semata.
Artinya : kita menafikan kelakuan diri jahir kita dengan mengisbatkan diri bathin kita itu ialah kelakuan zat Allah semata.

1. Suhudul Kasra fil wahda
Artinya : saksikanlah pada yang banyak itu, kepada yang satu
2. Suhudul wahda fil Kasra
Artinya : saksikanlah pada yang satu itu, kepada yang banyak

Ma’rifatullah ialah :

Mengenal Allah SWT. Pada Zat-Nya, pada Sifat-Nya, pada Asma’-Nya dan pada Af’al-Nya.

1.AWALUDIN MA’RIFATULLAH
AWAL AGAMA MENGENAL ALLAH

2.LAYASUL SHALAT ILLA BIN MA’RIFATULLAH
TIDAK SYAH SHOLAT TANPA MENGENAL ALLAH

3.MAN ARAFA NAFSAHU FAKAT ARAFA RABBAHU
BARANG SIAPA MENGENAL DIRINYA DIA AKAN MENGENAL TUHANNYA

4.ALASTUBIRAFBIKUM QOLU BALA SYAHIDENA
BUKANKAH AKU INI TUHANMU ? BETUL ENGKAU TUHAN KAMI, KAMI MENJADI SAKSI (Q.S AL-‘ARAF 172)

5.AL INSAANU SIRRI WA ANNA SIRRUHU
MANUSIA ITU RAHASIAKU DAN AKULAH RAHASIANYA

6.WAFI AMFUSIKUM AFALA TUB SIRUUN
AKU ADA DI DALAM JIWAMU MENGAPA KAMU TIDAK MEMPERHATIKAN

7.WANAHNU AKRABI MIN HABIL WARIZ
AKU LEBIH DEKAT DARI URAT NADI LEHERMU

8.LAA TAK BUDU RABBANA LAM YARAH
AKU TIDAK AKAN MENYEMBAH ALLAH BILA AKU TIDAK MELIHATNYA LEBIH DAHULU
HUBUNGAN MANUSIA DENGAN ALLAH

Pada alam Raibul Ruyub yaitu dalam keadaan antah berantah pada zat semata-mata yaitu pada belum ada awal dan belum ada akhir, belum ada bulan, belum ada matahari, belum ada bintang belum ada sesuatu. Malahan belum ada tuhan yang bernama Allah, maka dalam keadaan ini, diri yang empunya zat tersebut ialah mentajalikan diri-Nya untuk memuji diri-Nya

Lantas ditajali-Nya-lah Nur Allah dan kemudian ditajali-Nya pula Nur Muhammad yaitu insan kamil, yang pada peringkat ini dinamakan anta ana, ana anta. Maka yang empunya zat bertanya kepada Nur Muhammad dan sekalian roh untuk menentukan kedudukan dan taraf hamba.

Lantas ditanyakannya kepada Nur Muhammad, apakah Aku ini Tuhanmu? Maka menjawablah Nur Muhammad yang mewakili seluruh roh, ya Engkau Tuhanku. Persaksian ini dengan jelas diterangkan dalam Al-Qur’an surat Al-‘Araf 172.


"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",


Selepas pengakuan atau persumpahan Roh ini dilaksanakan maka bermulalah era baru di dalam perwujudan Allah SWT. Seperti firman Allah dalam hadits qudsi yang artinya : “Aku suka mengenal diriku, lalu aku jadikan makhluk ini dan perkenalkan diriku kepada mereka lalu merekapun mengenal diriku."

Apa yang dimaksud dengan makhluk ini ialah : Nur Muhammad sebab seluruh kejadian alam maya ini dijadikan dari pada Nur Muhammad. Tuhan yang empunya zat mentajalikan Nur Muhammad adalah untuk memperkenalkan diri-Nya sendiri dengan diri Rahasianya sendiri, maka diri rahasianya itu adalah ditanggung dan diakui amanahnya oleh suatu kejadian yang bernama :

Insan yang bertubuh diri bathin (Roh) dan diri bathin itulah diri manusia atau rohani.
Firman Allah dalam hadits qudsi :

Al-Insaanu Sirri wa Ana Sirruhu
Artinya : Manusia itu adalah Rahasiku dan akulah yang menjadi rahasianya.

Jadi yang dinamakan manusia itu ialah : karena Ia mengandung Rahasia
Dengan perkataan lain manusia itu menanggung Rahasia Allah maka manusia harus berusaha mengenal dirinya manusia akan dapat mengenal Tuhan-Nya, sehingga lebih mudah kembali menyerahkan dirinya kepada yang empunya diri pada waktu dipanggil oleh Allah SWT. Yaitu Tatkala berpisah Roh dengan jasad.

Firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 58 sbb:

"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

Hal tersebut di atas dipertegas lagi oleh Allah dalam hadits qudsi :
Man arafa nafsahu, paqat arafa rabbahu.
Artinya : barang siapa mengenal dirinya maka ia mengenal Tuhannya

Dalam menawarkan tugas yang sangat berat ini, pernah ditawarkan rahasia-Nya itu kepada langit, bumi dan gunung-gunung tetapi semuanya tidak sanggup menerimanya.
Seperti firman Allah SWT. Dalam Al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 72.

"Inna ‘araf nal amanata, alas samawati wal ardi wal jibal fa abaina anyah milnaha wa as fakna minha, wahama lahal insannu."
Artinya : sesungguhnya kami telah menawarkan suatu amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung tapi mereka enggan memikulnya dan mereasa tidak akan sanggup, lantas hanya manusia yang sanggup menerimanya.

Oleh karena amanat (rahasia Allah) telah diterima, maka adalah menjadi tanggung jawab manusia untuk menunaikan janjinya. Dengan kata lain tugas manusia adalah menjaga hubungannya dengan yang empunya Rahasia

Setelah amanat (Rahasia Allah) diterima oleh manusia (diri bathin/Roh) untuk tujuan inilah maka Adam dilahirkan untuk memperbanyak diri, diri penanggung rahasia dan berkembang dari satu dekade ke satu dekade, dari satu generasi ke generasi yang lain sampai alam ini mengalami kiamat dan rahasia dikumpulkan kembali.

Inna lillahi wa inna ilaihi raajiun.
Artinya : kita berasal dari Allah , kembali kepada Allah.


Hubungan Hamba dengan Tuhan-Nya dapat di tempuh dengan 4 jalan (cara) :

Empat Cabang Ilmu :-

1.SYARIAT ------------------ 1. FIQAH

2.TARIQAT ------------------ 2. TAUHID

3.HAKIKAT ------------------ 3. USUL

4.MAKRIFAT ------------------ 4. TASAUF


TINGKATAN iLMU :

1. Ilmu Qalam

2. Ilmu Ghoib

3. Ilmu Syahadah



Ilmu Qalam ialah ilmu yang paling rendah tingkatannya yaitu Dunia. Namun demikian dengan ilmu ini manusia sudah sampai pergi ke bulan.

Ilmu ghaib ialah ilmu yang diterima manusia melalui jalan laduni yaitu dengan petunjuk guru ghaib yang mursyid. Melalui 5 cara :

1. Nur yaitu petunjuk ghaib yang diterima melalui mimpi-mimpi yang bisa diterjemahkan oleh guru ghaib.

2. Tajali yaitu ilmu ghaib yang diterima melalui penjelmaan buah pikiran dari pada perasaan zuk semasa mereka menjalani latihan tarekat tasauf, sehingga muncul dari akalnya suatu pengetahuan baru yang tidak pernah diketahui sebelumnya.

Misalnya : terbacalah olehnya sepotong do’a sedangkan do’a tersebut belum pernah di bacanya atau diketahuinya.

i .Cara Sir ialah : suatu jalan penyampaian ilmu ghaib secara rahasia, ia hanya dapat dirasakan dan didengar oleh seseorang itu secara mutlak dimana seseorang itu akan mendengar suatu suara yang datang kepadanya. Suara tersebut akan memberi tahu sesuatu dan mengajarkan ilmu ghaib dengan terang dan jelas berupa bisikan dan disertai dengan satu kelejatan yang sulit untuk diceritakan

ii .Cara Sirusir ialah suatu cara penyampaian ilmu dengan cara rahasia . seseorang yang menerima ilmu ghaib dengan cara ini mereka dapat melihat dengan mata basir dan mendengar dengan telinga bathin.

iii .Cara Tawasul ialah penjelmaan seorang guru atau wali-wali Allah yang Ghaib dan mereka menjelma untuk bertemu dengan orang-orang tertentu yang sedang menjalankan ilmu tasauf, mereka ketemu dalam keadaan nyata (hidup) bukan dalam mimpi, dia datang sama seperti kedatangan tamu biasa atau kawan kita. Kadang-kadang penjelmaan mereka bisa dilihat oleh orang ramai, bila kebetulan penjelmaan itu terdapat banyak orang.
Perlu diingat kedatangan mereka merupakan suatu penghormatan yang besar kepada Ahli tasauf atau murid yang sedang mendalami ilmu tasauf. Bagi mereka yang dapat menguasai dan mengalami sendiri ilmu ini maka sudah pasti mereka dapat menjelajahi seluruh alam maya

Mereka diberi peluang untuk menjelajahi alam lain termasuk alam barzah, syurga dan neraka, arash dan qursyi Allah SWT,. Bagi mereka yang sudah sampai keperingkat ini jiwanya akan tenang disamping tuhannya, semasa hidupnya didunia ini dan juga dalam akhirat nanti, mereka adalah termasuk dikalangan manusia yang baik dan beruntung.

Ilmu Syahadah ialah merupakan Martabat ilmu yang tertinggi, karena ilmu ini Tuhan sendiri yang akan mengajarkan kepada manusia

Manusia diajarkan untuk mengenali dirinya (jasmani) dan diri bathinnya (rohani). Hanya orang yang mempunyai maratabat tinggi disisi Allah yang dapat menguasai ilmu ini. Ilmu ini. Ilmu ini sangat luar biasa karena hanya dimiliki oleh para rasul, Nabi dan wali-wali Allah yang teragung. Maka beruntunglah manusia yang termasuk wali-wali Allah.

……..Man Arafa Nafsahu, Fakat Arafa Rabbahu……
(“Barang Siapa Mengenal Dirinya Maka IA akan Mengenal Tuhan-nya”)

Nyawa :

1.Nafas
Berada dimulut yaitu keadaan keluar masuk dari pada tubuh manusia

2.Ampas
Berada dihidung yaitu keadaan keluar masuk dari pada tubuh manusia

3.Tanapas
Berada ditengah-tengah antara telinga kanan dan telinga kiri

4.Nupus
Berada dijantung yaitu keadaan kedalam jua, tidak keluar tidak kekanan, maupun kekiri, keatas maupun kebawah, kehadapan maupun kebelakang, yaitu Alif pada insan yang meliputi sekalian tubuh manusia.

Hidup Nafas Karena Ampas
Hidup Ampas Karena Tanapas
Hidup Tanapas Karena Nupus
Hidup Nupus Dengan Rahasia Dan Rahasia Itu Adalah Diri Rahasia Allah SWT, Yaitu Diri Bathin Manusia

TINGKAT ILMU

TINGKAT ILMU :

1. ILMU QALAM
2. ILMU GHAIB
3. ILMU SYAHADA

ILMU QALAM ialah yang paling rendah tingkatannya yaitu Ilmu dunia. Namun demikian dengan ilmu ini manusia sudah sampai pergi ke Bulan.

ILMU GHAIB ialah Ilmu yang diterima manusia melalui jalan laduni yaitu dengan petunjuk guru Ghaib yang Mursyid.melalui 5 cara :

1. NUR yaitu petunjuk ghaib yang diterima melalui mimpi-mimpi yang bisa diterjemahkan oleh guru ghaib.

2. TAJALI yaitu ilmu ghaib yang diterima melalui penjelmaan buah pikiran dari pada perasaan ZUK sesama mereka menjalani latihan tareqat tasauf,sehingga muncul dari akalnya suatu pengetahuan baru yang tidak pernah diketahui sebelumnya.
Misalnya : Terbacalah olehnya sepotong do’a sedangkan do’a tersebut belum pernah dibacanya atau diketahuinya.

3. cara sir ialah : suatu jalan penyampaian ilmu ghaib secara Rahasia, ia hanya dapat dirasai dan didengar oleh seseorang itu secara Mutlak. Dimana seseorang itu akan mendengar suatu suara yang data ng kepadanya. Suara tersebut akan memberi tahu sesuatu dan mengajarkan ilmu ghaib dengan terang dan jelas berupa bisikan dan disertai dengan satu Kelejatan yang sulit untuk diceritakan.

4. CARA SIRUSIR ialah : Suaut cara penyampaian ilmu ghaibdengan cara rahasia.seseorang yang menerima ilmu ghaib dengan cara ini mereka dapat meliat dengan mata Bathin dan mendengar dengn telinga bathin.

5. CARA TAWASSUL ialah penjelmaan seorang guru atau wali-wali Allah yang ghaib dan mereka menjelma untuk bertemu dengan orang-orang tertentu yang sedang menjalankan ilmu tasauf. Mereka ketemu dengan keadaan nyata (hidup) bukan dalam mimpi, dia datang sama seperti kedatangan tamu biasa atau kawan kita. Kadang-kadang penjelmaan mereka bisa dilihat oleh orang ramai, bila kebetulan penjelmaan itu terdapat banyak orang.

Perlu diingat kedatangan mereka merupakan suatu penghomatan yang besar kepada ahli tasauf atau murid yang sedang mendalami ilmu tasauf. Bagi mereka yang dapat mengusai dan mengalami sendiri ilmu ini maka sudah pasti mereka dapat menjelajahi seluruh Alam Maya.

Mereka diberi peluang untuk menjelajahi alam lain termasuk alam Barzah,Surga dan Neraka.Arash dan Qursi Allah SWT. Bagi mereka yang sudah sampai ketahap ini sulit diterima oeh tahap-tahap pemikiran manusia. Mereka yang sudah sampai keperingkat ini jiwanya akan tenang disamping Tuhannya, semasa hidupnya didunia ini dan juga dialam akhirat nanti, mereka adalah termasuk dikalangan manusia yang baik dan beruntung.

ILMU SYAHADAH : Ialah merupakan martabat ilmu yang tertinggi,karena ilmu ini Tuhan sendiri yang akan mengajarkannya kepada manusia.

Manusia diajarkan untuk mengenali dirinya (Jasmani) dan diri bathinya (Rohani). Hanya orang-orang yang mempunyai martabat tinggi disisi Allah yang dapat menguasai ilmu ini. Ilmu ini sangat luar biasa karena hanya dimiliki oleh para Rasul, Nabi dan wali-wali Allah yang teragung.maka beruntunglah manusia yang termasuk wali-wali Allah.

……MAN ARAFA NAFSAHU,FAKAT ARAFA RABBAHU………………………..
(“ Barang siapa mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya “).


Perguruan Thoriqat Haq Naqsyabandi

KEPENTINGAN SANAD DALAM ILMU-ILMU AGAMA

Allah s.w.t. memuliakan umat Islam dengan beberapa keistimewaan yang besar yang tidak diberi kepada umat manusia selain mereka. Antara keistimewaan umat Islam akhir zaman ini adalah, Allah s.w.t. memberi jaminan untuk menjaga mereka (umat Islam) daripada “berhimpun” dalam kesesatan.

Namun, Allah s.w.t. memelihara umat Islam daripada kesesatan dengan memelihara institusi ulama’ mereka yang terlibat dalam menjaga sumber ajaran Islam dan kefahaman-kefahamannya yang sahih. Oleh yang demikian, dapat disimpulkan bahawa, Allah s.w.t. menjaga ajaran Islam samada dari sudut sumbernya, cara memahami sumber secara sahih dan kefahaman sahih terhadap sumber-sumber tersebut melalui para ulama’ yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai Ahl Az-Zikr yang perlu dirujuk oleh orang-orang awam.

Keistimewaan ini bertolak daripada suatu keistimewaan asas lain iaitulah konsep “Isnad” atau sandaran dalam bidang ilmu-ilmu agama. Sesuai dengan maksud hadith Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- yang menyebut bahawa: “Para ulama’ adalah pewaris para Nabi…”, maka sudah tentulah ilmu Nabawi itu diterima oleh para ulama’ secara “pewarisan”. Dalam konsep “pewarisan” dalam tradisi pembelajaran ilmu agama inilah wujudnya konsep atau tradisi “sanad” atau sandaran.

Kita sudah jelaskan dalam siri tulisan yang lebih luas berjudul: “Ilmu Warisan Nabawi” (sebanyak empat siri) tentang kedudukan dan tradisi perkembangan Ilmu Warisan Nabawi ini sejak zaman berzaman khususnya berkaitan dengan amalan para ulama’ salaf. Antara konsep yang sangat penting dalam tradisi pembelajaran ilmu agama tersebut sudah tentulah kaedah talaqqi bersanad dalam pengajian ilmu-ilmu agama tersebut.

Kita dapat simpulkan bahawa konsep Sanad dalam sistem pengajian ilmu agama amalan para ulama’ sejak zaman salaf sehinggalah hari ini mempunyai kefahaman yang lebih luas daripada penggunaan istilah tersebut dalam ilmu hadith semata-mata, walaupun penggunaannya dalam ilmu hadith tersebut adalah salah satu cabangnya yang terpenting.

Manhaj Islami dalam Ilmu-ilmu Agama

Dr. Yusuf Abdul Rahman berkata dalam muqoddimah tahqiq kepada kitab Al-Majma’ Al-Mua’assis karangan Imam Ibn Hajar:

“Adapun antara sudut terpenting dalam kitab ini adalah berkenaan dengan Manhaj Islami dalam ilmu-ilmu yang mengikut manhaj As-Salaf As-Sholeh, yang terzahir dalam bentuk talaqqi ilmu-ilmu dari para ulama’, membaca kitab-kitab di hadapan mereka, mendapatkan ilmu daripada mereka dan mengembara kepada mereka untuk tujuan tersebut, untuk mendapatkan ketinggian sanad, kejernihan minuman (ilmu), kesejahteraan daripada salah, kepincangan dan hawa.”

“Hendaklah bagi penuntut ilmu memilih seorang guru yang boleh dia membaca kepadanya, yang mana guru tersebut perlu dinilai berdasarkan dia pernah membaca ilmu tersebut daripada guru-gurunya dengan syarat yang muktabar di sisi para ulama’. Begitu juga, para gurunya perlu membaca ilmu tersebut daripada guru-guru mereka. Begitulah seterusnya, bersambung sanad tersebut sampai kepada sumber cahaya dan ilmu dan petunjuk kemanusiaan iaitu Rasulullah s.a.w..”

“Inilah cara sebenar dalam menuntut ilmu. Ini kerana, ilmu itu dengan belajar dan tidak diambil itu melainkan dengan bertalaqqi daripada mulut para ulama’ dengan menghadiri majlis-majlis ilmu, bersahabat dengan para ulama’ dan sebagainya”. [Muqoddimah Tahqiq bagi Al-Majma’ Al-Mu’assis m/s 10]

Beza Antara Para Ulama’ dengan Ahli Akedemik

Tradisi “Sanad” ini adalah suatu intipati terutama dalam sistem pembelajaran ilmu agama sejak generasi awal Islam lagi. Iaitu, setiap guru yang mengajar ilmu agama kepada murid-muridnya mempunyai latar belakang keilmuan yang jelas terutamanya senarai guru-gurunya yang mengajarnya ilmu agama tersebut. Begitu juga, guru-gurunya (kepada guru tersebut) juga mempunyai latar belakang keilmuan yang jelas iaitu mempunyai guru-guru yang mengajar mereka ilmu agama kepada mereka juga. Para guru kepada guru-guru tersebut juga begitu. Begitulah bersambung silsilah “berguru” itu sampai kepada para sahabat r.a., yang mana para sahabat r.a. mengambil ilmu agama daripada Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-.

Inilah gambaran umum konsep “Sanad” dalam tradisi pembelajaran ilmu agama. Mereka yang mempelajari ilmu-ilmu agama melalui sistem dan tradisi yang asal ini tidak terpisah daripada konsp “Sanad” ini. Ianya tidak terpisah daripada tradisi pembelajaran ilmu agama secara asal yang diambil daripada generasi salaf.

Cuma, setelah muncul sistem pembelajaran acuan Barat, ilmu-ilmu agama diajar dalam bentuk dan acuan Barat di institusi-intitusi pengajian yang tidak mempunyai sanad keilmuan dalam bidang agama secara jelas. Maksudnya, para guru (atau pensyarah) yang mengajar ilmu-ilmu agama dalam institusi-institusi tersebut tidak mempunyai latar belakang keilmuan yang jelas daripada para ulama’ dan tidak mempunyai sanad keilmuan. Maka, mereka yang mengajar ilmu-ilmu agama dalam institusi-institusi tersebut tidak mempunyai sanad keilmuan akhirnya menyebabkan murid-murid yang belajar ilmu-ilmu agama di institusi tersebut juga tidak mempunyai sanad keilmuan.

Bahkan, lebih malang lagi jika seseorang itu mengambil ilmu-ilmu agama, kefahaman tentang Islam dan pengakuan keahlian dalam bidang ilmu agama daripada orang-orang kafir (Orientalis) yang mengajar ilmu-ilmu agama di institusi-institusi tersebut. Dalam ukuran tradisi Islam sebenar, ianya tidak sah dan tidak diakui kelayakannya dalam bidang ilmu keagamaan.

Inilah yang membezakan seorang ulama’ (alim) yang lahir dari tradisi pengajian Islam asal (bersanad) dengan seorang ahli akedemik yang lahir dari tradisi pengajian Islam versi baru (terutamanya dengan acuan Barat). Dari sudut penguasaan juga, seorang alim yang lahir dari tradisi pengajian Islam asal menguasai ilmu-ilmu agama secara menyeluruh sedangkan seorang ahli akedemik yang lahir dari tradisi pengajian Islam tanpa bersanad menguasai ilmu-ilmu agama secara terpisah-pisah atau menjurus semata-mata.

Mungkin seorang ahli akedemik itu boleh membicarakan bab Takhrij Hadith sebab mendalami bidang tersebut di institusi pengajian moden, namun tidak boleh menjawab persoalan-persoalan asas dalam ilmu bahasa Arab, atau dalam bidang Ulum Al-Qur’an dan sebagainya. Inilah yang dimaksudkan oleh Sheikhna (guru kami) Al-Mufti Dr. Ali Jum’ah dalam kitab Al-Madkhal iaitu apabila ilmu agama dikuasai secara terpisah-pisah menyebabkan ianya menjadi sekadar maklumat, bukan ilmu menurut ukuran sebenar.

Dr. Yusuf bin Abdul Rahman berkata dalam Muqoddimah Tahqiq bagi Al-Mu’jam Al-Mu’assis:

“Tatkala ilmu diambil daripada pemegang sijil-sijil (syahadah) bukan daripada pemegang ijazah-ijazah (sanad keilmuan dan Ijazah Tadris), maka rendahlah darjatnya, terpesonglah penuntutnya daripada kualiti sebenar dan terpesong daripada jalan (tradisi) sebenar. Maka kembalilah kepada halaqah ilmu dan para ulama’ yang memiliki ijazah (sanad) sebelum kita mencari mereka lalu sudah tidak menemui mereka lagi (para ulama’ yang memegang sanad ilmu dan ijazah). Kembalilah kepada membaca kitab-kitab di hadapan para ulama’ yang mempunyai sanad yang bersambung agar kita menjadi pemikul ilmu yang berkualiti, lalu menyampaikannya kepada generasi kemudian setelah kita. Kalau tidak, maka terputuslah sanad-sanad, sedangkan kita sudah mensia-siakan ilmu-ilmu kita, dan dengan demikian (terputusnya sanad ilmu) kita (para penuntut ilmu yang menjadi ulama’) bertanggung jawab di hadapan Allah s.w.t.”. [m/s: 9-10]

Konsep Sanad Tidak Terbatas kepada Ilmu Mustolah Hadith Semata-mata

Memang benar, istilah Sanad digunapakai secara meluas dalam bidang Mustolah Hadith terutamanya melibatkan Jarh wa Ta’dil atau Takhrij Hadith. Namun, tidak semestinya konsep Sanad tidak meluas dalam bidang-bidang ilmu agama yang lain tanpa penggunaan istilahnya yang meluas dalam ilmu-ilmu tersebut.

Oleh sebab itulah, hanya orang-orang yang jahil (samada sedar atau tidak) sahaja yang tidak melihat kepentingan Sanad setelah terbukunya hadith-hadith sahih oleh para ulama’ hadith kurun kedua sehingga kurun keempat hijrah. Mereka menganggap Sanad sudah tidak releven atau sudah tidak lagi diperlukan secara jelas setelah hadith-hadith dibukukan oleh para ulama’ hadith kerana membatasi konsep Sanad kepada ilmu hadith dari sudut Riwayah semata-mata. Hatta dalam ilmu hadith pun, ada sudut Dirayah yang masih memerlukan Sanad atau sandaran keilmuan khususnya cara untuk memahami hadith dan kefahaman sahih terhadap hadith-hadith tersebut.

Ilmu-ilmu agama khususnya melibatkan sudut Dirayah juga sangat memerlukan kepada latar belakang keilmuan atau sandaran keilmuan bagi seseorang yang berbicara tentang agama kerana tanpa berguru dengan guru, seseorang tidak layak mengaku sebagai ahli ilmu atau ulama’ walaupun sudah membaca banyak kitab kerana para ulama’ Salaf sendiri mencela orang-orang berguru dengan lembaran-lembaran semata-mata untuk berbicara tentang agama di hadapan manusia.

Persepsi tentang Sanad yang sempit hanya lahir daripada mereka yang terpisah daripada tradisi pembelajaran ilmu-ilmu agama yang asal sebagaimana ianya diamalkan oleh para ulama’ Salaf dan Khalaf sepanjang zaman. Ketika membincangkan penggunaan istilah Sanad dalam Mustolah Hadith maka ianya hanya satu bahagian daripada konsep Sanad dalam ilmu-ilmu agama secara lebih luas kerana penggunaan konsep Sanad atau “sandaran” sememangnya suatu praktik dalam sistem pembelajaran ilmu-ilmu agama secara keseluruhan.

Sheikhu Sheikhna Al-Muhaqqiq Abdul Fattah Abu Ghuddah r.a. berkata:

“Sesungguhnya para ulama’ kita terdahulu -r.a.- memindahkan agama ini dan ilmu-ilmunya dengan penuh teliti…”. [Al-Isnad min Ad-Din: 49]

Untuk menjelaskan kedudukan dan kepentingan “Sanad” dalam tradisi pembelajaran atau pengajian ilmu-ilmu agama ini, kita perlu bahagikan kedudukan konsep “Sanad” secara umum iaitu dari sudut Dirayah dan dari sudut Riwayah.

Penulis menukilkan sedikit penjelasan tentang pembahagian ilmu-ilmu agama kepada Dirayah dan Riwayah secara ringkas dahulu yang dinukil daripada tulisan sebelum ini yang berjudul “Ilmu Warisan Nabawi: Suatu Sorotan Ringkas Terhadap Tradisi Pewarisan Ilmu Agama Dalam Amalan Majoriti Ulama’ Islam”:-

“Ilmu Agama dari Sudut Riwayah (Kesahihan Sumber) dan Dirayah (Kesahihan Kefahaman berdasarkan Kesahihan Manhaj)

Kita perlu memahami ilmu agama itu ada dua jenis yang utama iaitulah dari sudut riwayat dan dari sudut dirayah. Adapun ilmu-ilmu dari sudut riwayah adalah ilmu yang berkaitan dengan menjaga sumber ilmu agama iaitulah meriwayatkan Al-Qur’an dan As-Sunnah dan memastikan keaslian kedua-dua sumber tersebut dari sudut periwayatannya.

Berbeza dengan ilmu agama dari sudut Dirayah di mana ianya berkaitan dengan kefahaman sahih terhadap nas-nas Al-Qur’an dan As-Sunnah yang dipelihara dari sudut riwayah tersebut, melalui manhaj sahih dalam berinteraksi dengan kedua-duanya. Maka, ilmu agama dari sudut Dirayah menekankan tentang manhaj sahih dalam memahami kedua-dua sumber tersebut. Oleh sebab itu, sebahagian ahli hadith (Muhaddithin) yang terlibat dalam menjaga hadith-hadith dari sudut riwayat tidak membahaskan hadith-hadith dari sudut kefahamannya secara terperinci seperti Imam Al-Bukhari, Imam Muslim dan sebagainya di mana dalam memahami nas-nas tersebut, mereka tetap bergantung kepada kefahaman para ulama’ fiqh (Fuhaqa’).

Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- menyebut tentang dua jenis ilmu agama ini dengan maksudnya:-

“Allah s.w.t. memperindahkan (mencerahkan wajah) seseorang yang mendengar dari kami sesuatu hadith lalu menyampaikannya kepada orang lain. Boleh jadi, orang yang meriwayatkan Fiqh (nas hadith) sebenarnya bukan seorang yang faham (terhadap apa yang diriwayatkan) dan boleh jadi orang yang meriwayatkan fiqh (kefahaman atau hadith) menyampaikannya kepada orang yang lebih memahaminya”.

[Hadith riwayat Imam Ibn Hibban, Imam Ibn Majah, Imam Al-Baihaqi, Imam Ibn Abdil Barr, Al-Muhaddith Ramahramzi dan sebagainya].

Ini menunjukkan kepentingan kerjasama golongan Fuqaha’ dengan golongan Muhaddithin di mana golongan Fuqaha’ menumpukan sudut Dirayah sedangkan golongan Muhaddithin menumpukan sudut Riwayah. Namun, tidak dapat dinafikan ada sebahagian ulama’ hadith juga dalam masa yang sama adalah ulama’ fiqh (Faqih) seperti Imam Malik r.a. dan Imam Ahmad r.a..

Oleh itu, kita boleh dapati ramai orang jahil mengaku mengikut Al-Qur’an dan As-Sunnah namun salah faham terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah sehingga melahirkan kelompok-kelompok syaz (golongan pinggiran dan sesat lagi terkeluar daripada kelompok majoriti ulama’ Islam) kerana tidak memiliki manhaj Sahih dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah. Antara kelompok tersebut adalah seperti Mu’tazilah, Jabbariyyah, Qadariyyah, Syiah, Mujassimah, Hasyawiyyah dan sebagainya.

Jadi, bukan semua orang yang mengaku mengikut Al-Qur’an dan As-Sunnah sebenarnya memahami kedua-duanya dengan kefahaman yang sahih menerusi manhaj yang sahih. Ini perlu difahami agar kita tidak tertipu dengan sebahagian Zahiriyyah yang mengaku mengikut nas-nas Al-Qur’an dan Hadith secara zahir sedangkan kefahaman mereka telah tersasar dari kefahaman sebenar.

“Hubungan Antara Riwayah (Periwayatan Nas) dengan Dirayah (Kefahaman Nas)

Kita perlu fahami sebagaimana dijelaskan pada awalnya, tentang perbezaan antara mereka yang menguasai ilmu-ilmu berkaitan sumber agama seperti Ilmu Rijal, sanad-sanad hadith, Takhrij dan penilaian hadith yang berkaitan dengan Riwayah, dengan mereka yang membahaskan makna-makna Al-Qur’an dan Hadith dengan manhaj yang sahih. Oleh kerana itu, kita dapati bukan semua ulama’ yang mahir dalam ilmu Riwayah terlibat dalam bidang ilmu Dirayah (menjelaskan kefahaman hadith) secara langsung dan sebahagian ulama’ yang terlibat dalam Dirayah pula tidak semahir ulama’ bidang Riwayah (Ahl Al-Hadith), iaitu dari sudut kedudukan sesuatu hadith, malah merujuk mereka (Ahl Al-Hadith) dalam menilai kedudukan sesuatu sumber agama (hadith).

Diriwayatkan daripada Nu’aim bin Hammad bahawasanya beliau bertanya kepada Abdul Rahman bin Mahdi:

“Di mana bezanya antara Sufiyan bin ‘Uyainah dengan Sufiyan At-Thauri?”

Beliau menjawab: “Imam Ibn Uyainah memiliki pengetahuan tentang (makna) Al-Qur’an dan penjelasan tentang hadith…yang tiada di sisi Imam At-Thauri”. [Al-Muhaddith Al-Fashil: 241]

Sheikhul Muhaddithin Imam Yahya bin Sa’id Al-Qatthan yang terkenal sebagai seorang ulama’ hadith yang mashyur, ketika membaca kitab Ar-Risalah, maka beliau memuji Imam As-Syafi’e r.a. berkenaan penulisan beliau tersebut dengan berkata:

“Aku tidak melihat seseorang yang lebih faham dan lebih cerdas akalnya berbanding beliau”. [Tahzib Al-Asma’ wa Al-Lughat 1/59]

Ini menunjukkan dua sudut dalam bidang agama yang berbeza tetapi tidak terpisah iaitulah sudut

Imam As-Syafi’e r.a. pernah berkata kepada Abu Ali bin Miqlas:

“Kamu ingin menghafal hadith (semata-mata) lalu menjadi seorang faqih? Tidak sama sekali. Sangat tidak realistik.” [Manaqib Imam As-Syafi’e oleh Imam Al-Baihaqi 2/152]

Imam Al-Baihaqi menjelaskan tentang perkataan ini bahawasanya manfaat menghafal hadith-hadith adalah pada mempelajari maknanya yang dikenali sebagai At-Tafaqquh. Kesibukan dalam menghafal hadith sehingga tidak mendalami kefahaman hadith (Tafaqquh) tidak membuatkan seseorang itu menjadi faqih sama sekali.

Imam Ahmad r.a. juga berkata:

“Mengetahui (makna) hadith itu dan menjadi faqih dalam hadith lebih aku sukai daripada menghafalnya (tanpa memahaminya).” [Minhaj As-Sunnah oleh Sheikh Ibn Taimiyyah 4/115]

Imam Al-A’masyh r.a. berkata:

“Hadith yang disebutkan oleh para fuqaha’ (dengan kefahamannya) lebih baik daripada hadith yang disebut oleh para sheikh (tanpa kefahaman)” [Tadrib Ar-Rawi oleh Imam As-Suyuti m/s 8]…”

-Tamat Nukilan-

Konsep Sanad dalam Pewarisan Ilmu-ilmu Agama dari Sudut Dirayah

Ilmu agama dari sudut Dirayah berbentuk cara memahami sumber agama secara sahih dan kefahaman-kefahaman sahih terhadap sumber agama tersebut. Ia melibatkan ilmu-ilmu seperti ilmu Fiqh, Tafsir, Fiqh Al-Hadith, Aqidah (Tauhid) dan sebagainya yang berkaitan dengan ilmu-ilmu kefahaman terhadap sumber agama, sebagaimana juga melibatkan ilmu-ilmu seperti Usul Fiqh, Qawa’id Fiqhiyyah, Ulum Al-Qur’an, Mustolah Hadith yang berkait rapat dengan cara memahami sumber agama.

Jadi, ianya adalah suatu bentuk penguasaan ilmu agama yang paling utama kerana sumber agama itu diwariskan oleh Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- kepada para ulama’ pada setiap generasi beserta dengan kefahaman yang sahih dan cara memahaminya yang betul. Biarpun sesuatu sumber agama itu samada hadith atau ayat Al-Qur’an, sahih dari sudut Riwayah, namun bukan semua orang berinteraksi dengan sumber agama yang sahih, secara sahih, lalu memahaminya dengan kefahaman yang sahih. Sesetengah ahli ilmu salah memahami nas-nas agama yang sahih lalu melahirkan pelbagai kefahaman yang sesat daripada nas-nas tersebut.

Di sinilah letaknya kepentingan menguasai ilmu-ilmu agama dari sudut Dirayah yang meliputi:

•Kefahaman Sumber Agama yang Sahih•Manhaj Memahami Sumber Secara Sahih
Dalam menguasai ilmu-ilmu agama dari sudut Dirayah, kaedah mewarisi ilmu daripada para ulama’ yang “ahli” adalah suatu kaedah asal yang tidak dapat dipisahkan. Ini kerana, ilmu-ilmu agama itu diperolehi secara Ta’allum atau belajar daripada para ulama’ yang mempunyai “keahlian” keilmuan berdasarkan neraca yang diamalkan dalam tradisi pembelajaran ilmu agama sejak zaman salaf, iaitulah menilai “sanad keilmuan” mereka.

Maka, konsep “pewarisan” ini perlu difahami kerana ianya adalah asas dalam pembelajaran ilmu-ilmu agama. Ia berdasarkan hadith Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- yang bermaksud:

“…Para ulama’ adalah pewaris para Nabi…”

[hadith diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, Imam At-Tirmizi, Imam Ibn Majah, Imam Ibn Hibban dan sebagainya dalam hadith yang panjang].

Sebagaimana konsep pewarisan harta, konsep pewarisan ilmu juga mempunyai “ikatan hubungan” antara yang mewariskan dan yang mewarisi dan ikatan tersebut tidak boleh dipisahkan. Maka, “ikatan hubungan keilmuan” inilah dipanggil sebagai Sanad Ilmi atau sandaran keilmuan seseorang ulama’.

Konsep pembelajaran dalam bidang agama sebagaimana disebutkan oleh Sheikhna (guru kami) Shohib As-Samahah Al-Mufti Dr. Ali Jum’ah: “At-Ta’allum (proses pembelajaran) dengan At-Talaqqi (bertemu dengan guru dan mengambil ilmu daripadanya) dan At-Ta’lim (proses pengajaran) dengan At-Talqin (guru menyampaikan ilmu daripada mulutnya sendiri).

Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda lagi yang bermaksud:

“Sesungguhnya ilmu ini dengan belajar dan kefahaman itu dengan bertafaqquh (mendalami ilmu agama)…” [Hadith riwayat Al-Khatib dalam Al-Faqih wa Al-Mutafaqqih dengan sanadnya].

Jadi, “Sanad Keilmuan” ini secara umumnya bermaksud latar belakang pengajian ilmu agama seseorang yang bersambung dengan para ulama’ setiap generasi sampai kepada generasi sahabat r.a. yang mengambil kefahaman agama yang sahih daripada Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-.

Oleh sebab itulah, hatta pembukuan sumber-sumber agama sudah selesai oleh para ulama’ hadith seperti Imam Al-Bukhari, Imam Muslim dan sebagainya, namun untuk memahami sumber-sumber agama juga perlu merujuk kepada para ulama’ (Ahl Az-Zikr) yang mempunyai sanad keilmuan yang jelas. Iaitu, para ulama’ yang dirujuk juga perlulah pernah mempelajari kefahaman agama yang sahih berteraskan sumber agama yang sahih, daripada para ulama’ yang juga mempunyai sanad keilmuan yang jelas. Begitulah bersambungnya silsilah ini sampai kepada para ulama’ dari kalangan para sahabat r.a..

Saidina Ibn Umar r.a. turut berkata:

“Ilmu itu adalah agama dan solat itu adalah agama. Maka, lihatlah dari mana kamu mengambil ilmu ini dan bagaimana kamu solat dengan solat ini kerana kamu akan dipertanyakan di hari Akhirat” [riwayat Imam Ad-Dailami]

Perkataan Saidina Ibn Umar r.a. ini menunjukkan kepentingan Sanad keilmuan secara umum samada dari sudut Riwayah mahupun Dirayah.

Adapun budaya mendalami ilmu-ilmu agama dengan bergurukan buku semata-mata, tanpa bertalaqqi (bertemu) dengan para ulama’ muktabar untuk mengambil kefahaman ilmu-ilmu agama, atau sekadar merujuk beberapa individu yang berbicara tentang agama tanpa latar belakang keilmuan (Sanad keilmuan) yang jelas (apatah lagi memiliki Ijazah Tadris/izin mengajar daripada mana-mana ulama’ muktabar), maka mereka akan terpisah daripada tradisi keilmuan Islam yang asal.

Mereka yang cuba memahami agama sekadar memperbanyakkan bahan bacaan tanpa memperbanyakkan rujukan dari kalangan para ulama’ tidak dinilai sebagai penuntut ilmu atau ahli ilmu sebagaimana dalam tradisi As-Salaf terdahulu.

Sheikh Ibn Jama’ah berkata:

“Sebesar-besar musibah adalah dengan bergurukan sahifah (lembaran-lembaran atau buku)”

[Ibn Al-Jama’ah: 87 dan dinukilkan dalam Muqoddimah Syarh Al-Maqawif 1/90]

Imam Malik r.a. berkata:

ويجب ان يكون حفظه مأخوذا عن العلماء لا عن الصحف

Maksudnya: “Hendaklah seseorang penuntut itu hafazannya (matan hadith dan ilmu) daripada ulama, bukan daripada Suhuf (lembaran)”. [Al-Kifayah oleh Imam Al-Khatib m/s 108]

Imam As-Syafi’e r.a. juga berkata:

“Sesiapa yang bertafaqquh (cuba memahami agama) melalui isi kandungan buku-buku, maka dia akan mensia-siakan hukum (kefahaman sebenar)”. [Tazkirah As-Sami’e: 87]

Imam Badruddin ibn Jama’ah menyimpulkan hal ini dengan berkata:

وليجتهد على أن يكون الشيخ ممن له على العلوم الشرعية تمام الإطلاع، وله مع من يوثق به من مشايخ عصره كثرة بحث وطول اجتماع، لا ممن أخذ عن بطون الأوراق ولم يعرف بصحبة المشايخ الحذاق.

Maksudnya:

“Hendaklah seseorang penuntut ilmu itu berusaha mendapatkan Sheikh yang mana dia seorang yang menguasai ilmu-ilmu Syariah secara sempurna, yang mana dia melazimi para sheikh yang terpercaya di zamannya yang banyak mengkaji dan dia lama bersahabat dengan para ulama’, bukan berguru dengan orang yang mengambil ilmu hanya dari dada-dada kertas dan tidak pula bersahabat dengan para sheikh (ulama’) yang agung.” [Tazkirah As-Sami’ wa Al-Mutakallim 1/38]

Di sinilah secara jelas para ulama’ mengingatkan kita agar mempelajari ilmu-ilmu agama daripada para ulama’ yang mempunyai Sanad keilmuan atau sandaran keilmuan yang jelas yang berbentuk catatan proses pembelajaran mereka dan senarai para ulama’ yang telah mereka bersahabat dengan mereka untuk mengambil ilmu. Kita tidak boleh mempelajari ilmu-ilmu agama daripada orang yang tidak mempunyai Sanad keilmuan yang jelas walaupun orang itu terkenal kerana banyaknya pengikut dari kalangan orang-orang jahil bukanlah ukuran keilmuan seseorang guru yang mengajar, tetapi Sanad keilmuannyalah yang menjadi ukuran terutamanya dari sudut Dirayah.

Imam Ibn Abi Hatim Al-Razi meriwayatkan dengan sanadnya kepada Abdullah bin 'Aun bahawasanya beliau berkata:

لا يؤخذ هذا العلم إلا عمن شهد له بالطلب

Maksudnya:”Tidak boleh diambil ilmu ini (ilmu hadith dan ilmu agama) melainkan daripada orang yang telah diakui pernah menuntut sebelum itu (pernah meriwayatkan ilmu dari gurunya secara bersanad juga)”. [Al-Jarh Wa At-Ta'dil 1/ 28]

Maka, ilmu-ilmu agama dikembangkan melalui para ulama’ (Ar-Rijal) bukan melalui lembaran-lembaran tanpa mempelajarinya daripada para ulama’ yang mempunyai sanad keilmuan yang jelas. Kita lihat para ulama’ mempunyai sanad-sanad keilmuan dari sudut Dirayah dalam pelbagai lapangan dan bidang ilmu-ilmu agama.

Kita letak satu contoh Sanad Keilmuan atau sanad Talaqqi dalam bidang ilmu fiqh (secara Dirayah) khususnya melalui Sanad keilmuan Fiqh Syafi’e Imam An-Nawawi r.a.. Imam An-Nawawi r.a. menyebut dalam kitab Tahzib Al-Asma’ wa As-Shifat [1/18] (diadaptasi semula secara ringkas):

“Maka saya mengambil ilmu fiqh secara bacaan (murid membaca sesuatu kitab di hadapan guru yang mendengar), tashihan (pembetulan atau penelitian semula), secara mendengar (guru membaca dan murid mendengar), secara syarah (guru menyampaikan manhaj At-Tafahhum As-Sahih) dan secara catatan (jenis mengajar manhaj At-Tafahhum As-Sahih juga) daripada banyak kelompok ulama’ iaitu:

•Sheikhi (guruku) Imam Abu Ibrahim Ishaq bin Ahmad bin Uthman Al-Maghribi r.a.•Sheikhna (guru kami) Imam Abu Abdil Rahman bin Nuh bin Muhammad Al-Maqdisi Ad-Dimasyqi r.a. (mufti Dimasyq)•Sheikhna Abu Hafsh Umar bin As’ad bin Abi Thalib Al-Rab’ie Al-Arbili r.a.
Mereka semua berguru daripada Imam Abu ‘Amr Ibn As-Sholah yang mana beliau bertafaqquh daripada ayahnda beliau iaitu Imam As-Sholah r.a.. Imam As-Sholah r.a. meriwayatkan fiqh daripad dua jalan (Sanad Ulama’ Iraq dan sanad Ulama’ Khurasan):-

- Adapun jalan ulama’ Iraq adalah:

Imam As-Sholah meriwayatkan daripada Imam Abu Sa’id Abdullah bin Muhammad bin Hibbatullah Al-Musawi. Beliau (Abu Sa’id) belajar ilmu fiqh daripada Al-Qadhi Imam Abu Ali Al-Faruqi daripada Imam Abu Ishaq As-Syirazi r.a. daripada Al-Qadhi Imam Abu At-ThayyibThahir bin Abdillah At-Thabari r.a. daripada Imam Abu Al-Hasan Muhammad bin Ali bin Sahl bin Mushlih r.a. Al-Masarjasi daripada Imam Abu Ishaq Ibrahim bin Ahmad Al-Maruzi r.a. daripada Imam Abu Al-‘Abbas Ahmad bin Umar bin Suraij daripada Imam Abu Al-Qashim Uthman bin Basyir Al-Anmathi r.a. daripada Imam Abu Ibrahim Isma’il bin Yahya Al-Muzani r.a. daripada Imam Muhammad bin Idris As-Syafi’e r.a..

Adapun Imam As-Syafi’e r.a. (sebagaimana disebutkan di fasal awal tadi) berguru dengan beberapa ulama’ antaranya:

•Imam Malik bin Anas r.a.•Imam Sufiyan bin ‘Uyainah r.a.•Imam Abu Khalid Muslim bin Khalid Al-Zanji r.a.
Adapun Imam Malik r.a. mempelajari ilmu agama daripada:-

•Imam Rabi’ah Ar-Ra’y daripada Saidina Anas r.a.•Imam Nafi’e r.a. daripada Imam Ibn Umar r.a.
Adapun Imam Sufiyan bin ‘Uyainah r.a. mempelajari ilmu agama daripada: Imam ‘Amr bin Dinar r.a. daripada Saidina Ibn Umar r.a. dan Saidina Ibn Abbas r.a.

Adapun Imam Abu Khalid Muslim bin Khalid Al-Zanji r.a. mempelajari ilmu agama daripada: Imam Abdul Malik bin Abdil Aziz Ibn Juraij daripada Imam ‘Atha’ bin Abi Rabah daripada Saidina Ibn Abbas r.a..

Saidina Ibn Abbas r.a. mempelajari ilmu agama daripada Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dan daripada ramai para sahabat r.a. antaranya Saidina Umar r.a., Saidina Ali r.a., Saidina Zaid bin Thabit r.a. dan sebagainya yang mana mereka semua mempelajari ilmu agama daripada Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-.

- Adapun jalan ulama’ Khurasan adalah: Imam As-Sholah mempelajari ilmu agama daripada Imam Abu Al-Qashim bin Al-Bazri Al-Jazari r.a. daripada Imam Ilkiya Al-Harrasi r.a. daripada Imamul Haramain Abu Al-Ma’ali Abdul Malik bin Abdillah Al-Juwaini r.a. daripada Ayahnda beliau Imam Abdullah bin Yusuf Al-Juwaini r.a. daripada Imam Al-Qaffal Al-Maruzi As-Shaghir daripada Imam Abu Zaid Muhammad bin Ahmad Al-Maruzi daripada Imam Abu Ishaq Al-Maruzi r.a. sebagaimana telah disebutkan sanad beliau dalam jalan ulama’ Iraq tadi”.

Begitu juga, Sanad keilmuan ilmu Aqidah khususnya mazhab Al-Asy’ari yang bersambung kepada Imam Al-Asy’ari terutamanya melalui riwayat Imam Fakhruddin Al-Razi r.a..

Imam Fakhruddin Al-Razi mendalami ilmu-ilmu agama termasuk ilmu aqidah daripada ayahnda beliau (Imam Dhiya’uddin) yang meriwayatkannya daripada Abi Al-Qasim Al-Isfarayini daripada Imam Abi Ishaq Al-Isfarayini daripada Abi Al-Hasan Al-Bahili daripada Imam Abu Al-Hasan Al-Asy’ari r.a.

Ayahnda beliau Dhiya’uddin Al-Razi juga meriwayatkan mazhab Al-Asya’irah daripada Imam Al-Haramain daripada ayahnda beliau daripada Imam Abu Thayyib An-Naisaburi daripada ayahnda beliau Imam Abu Sahl An-Naisaburi daripada Imam Abu Al-Hasan Al-Asy’ari.

Imam Al-Asy’ari pula mempelajari ilmu agama khususnya fiqh mazhab As-Syafi’e daripada Imam Abu Ishaq Al-Maruzi dan Imam Zakaria bin Yahya As-Saji (sezaman dengan Imam Al-Asy’ari) dan mendalami ilmu aqidah Ahlus-Sunnah daripada Sheikh Ibn Kullab As-Syafi’e. Adapun Imam Zakaria bin Yahya As-Saji mendalami ilmu agama daripada Imam Al-Muzani dan Imam Rabi’e sedangkan kedua-duanya pula mempelajari ilmu agama khususnya fiqh daripada Imam Al-Muzani dan Imam Ar-Rabi’e yang mana kedua-duanya berguru kepada Imam As-Syafi’e r.a..

Dalam bidang tafsir juga tidak terlepas daripada tradisi sandaran keilmuan atau sanad ini.

Imam Ibn Hajar Al-Asqollani r.a. menyebut sanad ilmu tafsir beliau khususnya Tafsir At-Tabari yang beliau riwayatkan, dengan berkata:

“Abu ‘Ali Muhammad bin Ahmad bin Abdil Aziz Al-Mahdawi telah mengkhabarkan kepada kami daripada Yunus bin Abi Ishaq daripada Abi Al-Hasan Ali bin Mahmud Ibn As-Shobuni dan Abi Al-Qasim Abdil Rahman bin Makki, mereka berkata bahawasanya Abu Thahir Ahmad bin Muhammad As-Silafi telah menyebut kepada kami secara ijazah musyafahah bahawasanya Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Ibrahim ibn Al-Katthab Al-Razi telah menyebut kepada kami daripada Abi Al-Fadhl Muhammad bin Ahmad As-Sa’di daripada Al-Khashib bin Abdillah bin Al-Khasib secara sama’an daripada Abi Muhammad Abdillah bin Muhammah Al-Fargani daripada Abu Ja’far At-Thabari r.a..” [rujuk Al-Munjam oleh Imam Ibn Hajar m/s: 108]

Imam Ibn Hajar r.a. juga menyebut sanad Tafsir beliau yang bersambung kepada Imam Sufiyan bin ‘Uyainah r.a.:-

“Abu Al-Abbas Ahmad bin Abi Bakr bin Abdil Hamid mengkhabarkan kepadaku secara ijazah bertulis yang mana saya membaca kebanyakannya daripada tafsir tersebut daripada Fathimah binti Muhammad Ibn Al-Manja yang mana kedua-duanya (Abu Al-Abbas dan Fathimah) meriwayatkan daripada Taqiyuddin Sulaiman bin Hamzah secara ijazah sebagaimana yang pertama berkata (Abu Al-Abbas) jika tidak mendengarnya secara Sama’an (guru membaca kepada murid), bahawa Al-Hafiz Abu Abdillah Muhammad bin Abdil Wahid Al-Maqdisi telah memberitahu kepada kami bahawa Abu Al-Majd Zhahir bin Abi Thohir Ahmad At-Thaqafi telah memberitahu kepada kami bahawa Al-Husein bin Abdil Malik Al-Khallal telah memberitahu kepada kami bahawa Abdul Rahman bin Ahmad bin Al-Hasan Al-Razi telah memberitahu kepada kami (Anba’ana) bahawa Ahmad bin Ibrahim bin Firras telah memberitahu kepada kami bahawa Abu Ja’far Muhammad bin Ibrahim Ad-Dibali telah memberitahu kepada kami bahawa Sa’id bin Abdil Rahman Al-Makhzumi telah memberitahu kepada kami daripada Imam Sufiyan bin ‘Uyainah r.a.” [ibid]

Adapun Imam Sufiyan bin ‘Uyainah r.a. mempelajari ilmu agama daripada: Imam ‘Amr bin Dinar r.a. daripada Saidina Ibn Umar r.a. dan Saidina Ibn Abbas r.a. yang mana kedua-dua sahabat tersebut mempelajari ilmu-ilmu agama termasuk tafsir daripada Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-.

Begitulah dalam ilmu-ilmu yang lain yang tidak sempat disebutkan di sini termasuklah ilmu Tasawwuf yang sangat mementingkan konsep sanad ini. Apapun, sebagaimana menurut Sheikhu Sheikhna Abdul Fattah Abu Ghuddah dalam kitab beliau Al-Isnad min Ad-Din bahawa para ulama’ dahulu sangat teliti dalam mengambil ilmu-ilmu agama hatta satu kalimah pun mereka meriwayatkannya dengan sanad.

Konsep Sanad dalam Pewarisan Ilmu-ilmu Agama dari Sudut Riwayah

Sebagaimana pentingnya sanad dalam mengambil ilmu-ilmu agama secara Dirayah, begitu juga pentingnya Sanad dalam periwayatan ilmu-ilmu agama secara Riwayah (nas). Bahkan, pada dasarnya, penggunaan konsep Sanad ini diguna secara meluas dalam ilmu agama dari sudut Riwayah ini, kerana ianya bagi mengukur keaslian atau ketulenan sesuatu nas tersebut.

Oleh sebab itulah, ilmu Qiraat yang membincangkan tentang Sanad bacaan Al-Qur’an dipelihara oleh para ulama’ Islam sejak zaman berzaman. Begitu juga dengan ilmu Rijal atau ilmu Isnad dalam bidang hadith juga sangat dipelihara oleh para ulama’ hadith. Ia bagi menjaga kedua-dua sumber agama (Al-Qur’an dan As-Sunnah) dari sudut ketulenan dan kesahihannya.

Dalam bidang riwayah hadith inilah berkembangnya penggunaan istilah Sanad sebagaimana disebut dalam kitab-kitab Mustolah Hadith.

Sebagai contoh:

Imam Ibn Hajar Al-Asqollani berkata:

(( الإسناد : حكاية طريق المتن))

“Al-Isnad: penceritaan tentang kedudukan jalan matan” (Nuzhatu An-Nazhor: 19)

Penggunaan istilah Isnad dan Sanad meluas dalam bidang hadith kerana dalam bidang tersebut sangat memberi fokus terhadap sandaran sesuatu matan hadith dan jalan periwayatannya dalam rangka untuk menilai kesahihan sesuatu matan hadith berdasarkan jalan periwayatannya tersebut.

Asal bagi konsep Sanad ini adalah sebagaimana sabda Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- yang bermaksud:

“Kamu (para sahabat) mendengar (hadith-hadithku), lalu akan didengari daripada kamu, dan orang yang mendengar daripada kamu pula akan didengari…”

[Hadith riwayat Imam Ahmad, Khatib Al-Baghadi, Ramahramzi dan sebagainya]

Namun, Sanad dari sudut Riwayah ini semakin tidak ditekankan sangat oleh para ulama’ muktakhir kerana kitab-kitab hadith yang menghimpunkan matan-matan hadith serta sanad-sanadnya sudah siap di tangan para ulama’ hadith yang besar seperti Imam Malik, Imam Ahmad, Imam Al-Bukhari, Imam Muslim, Imam At-Tirmizi, Imam An-Nasa’ie, Imam Abu Daud, Imam Ibn Majah, Imam Al-Hakim, Imam Ad-Darqutni, Imam Ibn Khuzaimah, Imam Ibn Abdil Bar, Imam Al-Baihaqi, Imam Abdul Razzak dan sebagainya.

Kitab-kitab yang telah mereka susun sudah dianggap lengkap oleh para ulama’ hadith selepas mereka, dalam menghimpunkan hadith-hadith dari sudut matan dan sanadnya yang mana penilaian-penilaian sanad hanya boleh dilihat daripada apa yang telah termuat dalam kitab-kitab tersebut. Maka, setelah pembukuan kitab-kitab hadith tersebut, sesetengah pihak menilai kepentingan sanad dari sudut riwayah sudah tidak seperti dahulu.

Pun begitu, kedudukan kitab-kitab hadith itu sendiri jika tidak diriwayatkan daripada para penulisnya secara riwayat sama’ie (guru membaca kepada murid), ‘ardhi (murid membaca di hadapan guru) atau secara ijazah, maka kedudukan kitab-kitab tersebut tetap dinilai sebagai Wijadah di sisi mereka yang membacanya tanpa sambungan sanad kepada para ulama’ yang menulis kitab-kitab tersebut.

Oleh sebab itulah, majoriti ulama’ hadith dan sebagainya masih meneruskan tradisi periwayatan kitab-kitab hadith secara bersanad kerana mempertahankan tradisi riwayah bersanad yang termaktub dalam Ilmu Riwayah dalam Mustolah Hadith dan menjaga ketelitian dalam periwayatan kitab-kitab tersebut.

Maka, kita dapati para ulama’ membaca kitab Sahih Al-Bukhari misalnya, dari awal sehingga khatam, daripada para ulama’ sebelum mereka yang mana pembacaan tersebut bersambung silsilahnya kepada Imam Al-Bukhari r.a.. Ini dikenali juga sebagai Sanad Talaqqi di mana setiap murid membaca kitab susunan para ulama’ daripada guru-guru yang juga telah membacanya daripada para ulama’ sebelum mereka sehinggalah bersambung Sanad Talaqqi tersebut kepada penulis kitab tersebut.

Kita boleh rujuk misalnya sanad talaqqi kitab Sahih Al-Bukhari oleh Sheikh Muhammad Ali bin Hasan Al-Maliki sebagaimana dalam Maslak Al-Jali:-

“Saya meriwayatkannya daripada Al-Allamah Sayyid Abu Bakr bin Muhammad Syatho Al-Makki yang dikenali sebagai As-Sayyid Al-Bakri telah mengkhabarkan kepada kami daripada Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan Al-Makki (mufti Syafi’iyyah di Makkah) daripada Sheikh Uthman bin Hassan Ad-Dimyathi daripada Al-Allamah Abdullah bin Hijazi As-Syarqowi (bekas Sheikhul Azhar) daripada Al-Allamah Sheikh Syamsuddin Muhammad bin Salim Al-Hanafi daripada Sheikh Abdul Aziz Az-Ziyadi daripada Sheikh Muhammad bin Al-‘Ala’ Al-Babili daripada Sheikh Salim As-Sanhuri daripada Sheikh Muhammad bin Ahmad Al-Ghaithi daripada Sheikhul Islam Zakaria Al-Anshari daripada Sheikh Ahmad bin Ali bin Hajar Al-Asqollani daripada Sheikh Abi Ishaq Ibrahim bin Ahmad At-Tanukhi daripada Sheikh Abi Al-Abbas Ahmad bin Abi Thalib Al-Hajjar daripada Sheikh Al-Husein bin Al-Mubarak Az-Zabidi daripada Sheikh Abdul Awwal As-Sijzi daripada Sheikh Abdul Rahman Ad-Dawudi daripada Sheikh Muhammad bin Yusuf Al-Firabri daripada Al-Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari r.a..” [Maslak Al-Jali susunan Sheikhu Sheikhna Muhammad Yasiin Al-Fadani]

Begitu juga sebagai contoh, Sanad Talaqqi kitab Sahih Muslim oleh Sheikhu Sheikhna Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki. Beliau meriwayatkannya daripada ayahnda beliau Sheikh Sayyid Alawi bin Sayyid Abbas Al-Maliki daripada ayahndanya Sheikh Sayyid Abbas bin Abdil Aziz Al-Maliki daripada Sheikh Muhammad Abid daripada Sheikh Ahmad Zaini Dahlan daripada Sheikh Uthman Ad-Dimyathi daripada Sheikh Al-Amir Al-Kabir daripada Sheikh Ali bin Muhammad As-Saqqat daripada Sheikh Ibrahim Al-Fayumi daripada Sheikh Ahmad Al-Farqawi Al-Maliki daripada Sheikh Ali Al-Ajhuri daripada Sheikh Ali bin Abi Bakr Al-Qarafi daripada Al-Hafiz As-Suyuti daripada Sheikh Al-Bulqini daripada Sheikh At-Tanukhi daripada Sulaiman bin Hamzah daripada Sheikh Ali bin Al-Husein Al-Hasyimi dan Sheikh As-Sullami daripada Sheikh Al-Hafiz Abi Al-Qashim Abdil Rahman bin Muhammad bin Ishaq daripada Al-Hafiz Abi Bakr Muhammad bin Abdillah As-Syaibani daripada Sheikh Makki bin Abdan An-Naisaburi dan Sheikh Abi Hamid As-Syarqi daripada Imam Muslim r.a.. [Al-Awa’il Az-Zamzamiyyah oleh Sheikhna Ahmad Fahmi Zamzam Al-Banjari An-Nadwi Al-Maliki]

Begitu pula dengan Sanad Talaqqi Al-Qur’an khususnya dengan qiraat Hafsh daripada Imam Al-Ashim r.a.. Sebagai contoh, sebagaimana sanad Sheikhu Sheikhna Hasan Al-Masyath r.a.. Beliau meriwayatkan qiraat Hafs daripada Al-Allamah Sheikh Muhammad Habibullah As-Syanqithi Al-Makki Al-Bashri daripada Al-Allamah Sheikh Muhammad Kamil bin Muhammad Al-Bahrawi daripada Sheikh Burhanuddin Ibrahim bin Ali As-Saqa daripada Al-Allamah Muhammad Al-Amir As-Shaghir daripada ayahndanya Al-Allamah Al-Amir Al-Kabir daripada Al-Allamah Abi Abdillah bin Al-Hasan As-Sammanudi daripada Sheikh Nuruddin Ar-Ramli daripada Sheikh Muhammad Al-Baqri Al-Kabir daripada Sheikh Abdil Rahim Al-Yamani daripada ayahndanya Sheikh Syahazah Al-Yamani daripada Sheikh Ahmad At-Tablawi daripada Sheikhul Islam Zakaria Al-Anshari daripada Sheikh Abi Al-Abbas Ahmad An-Nuwairi daripada Al-Hafiz Ima Al-Jazari daripada Sheikh Syamsuddin Muhammad bin Al-Kayyan daripada Sheikh Al-Labban daripada Sheikh Abi Al-Hasan Ali bin Syuja’ Al-Abbasi Al-Mishri daripada Imam Abi Muhammad Al-Qashim bin Fayyurah As-Syathibi daripada Al-Allamah Imam Ali bin Huzail daripada Sheikh Ahmad Daud Sulaiman Al-Qurtubi daripada Al-Hafiz Abi Amr Uthman bin Sa’id Ad-Dani daripada Abu Al-Hasan Thohir bin Glabun Al-Muqri’ dariadap Sheikh Abu Al-Hasan Ali bin Sholeh Al-Hasyimi Al-Muqri’ daripada Sheikh Abu Abbas Ahmad bin Sahl Al-Asynani daripada Imam Hafsh bin Sulaiman Al-Bazzar daripada Imam Ashim daripada Sheikh Abi Abdil Rahman Abdillah Habib As-Sulami daripada Saidina Abi Amru, Saidina Uthman bin Affan, Saidina Ali bin Abi Thalib, Saidina Ka’ab, Saidina Zaid bin Thabit dan Saidina Abdillah bin Mas’ud yang mana mereka meriwayatkan bacaan Al-Qur’an daripada Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- daripada Al-Amin Jibril a.s. daripada Luh Mahfuz daripada Allah s.w.t..

Begitulah secara ringkas contoh di mana ilmu-ilmu agama diwarisi dari satu generasi ke generasi seterusnya secara bersanad, hasil daripada proses Talaqqi (bertemu dengan guru) dalam sistem pembelajaran ilmu agama yang asal.

Memang benar, kepentingan Sanad dari sudut Riwayah tidak sepenting dahulu untuk menilai kesahihan sesuatu nas, namun tidak menafikan kepentingan sandaran keilmuan dari sudut Dirayah. Malah, kemuliaan menyambung diri kepada sanad para ulama’ dari sudut Riwayah juga adalah suatu kemuliaan yang kekal sepanjang ianya diamalkan.

Kemuliaan periwayatkan kitab-kitab secara bersanad (dari sudut Riwayah) terutamanya kitab-kitab hadith tetap tinggi nilainya walaupun setelah pembukuan kitab-kitab hadith tersebut kerana para ulama’ salaf sentiasa menggalakkan kita mencari Sanad yang ‘Ali antara kita (penuntut ilmu) dengan Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-.

Kemuliaan menyambungkan diri dalam Sanad para ulama’ dari sudut Riwayah tetap wujud dalam tradisi ilmu-ilmu agama terutamanya dalam tradisi mencari sanad yang ‘ali (tinggi) yang sangat digalakkan oleh para ulama’ salaf, sebagai tradisi yang mempunyai kemuliaan tersendiri. Ianya disebutkan oleh Imam Al-Khatib Al-Baghdadi pada banyak kitab beliau antaranya kitab “Al-Jami’e Li Akhlaq Ar-Rawi wa Adab As-Sami’e” pada jilid kedua.

Konsep Sanad Secara Menyeluruh (Dirayah dan Riwayah)

Sheikh Ibn Khaldun membuat kesimpulan tentang tradisi sanad yang meluas yang merangkumi pelbagai bidang ilmu agama ketika membuat ulasan tentang Sheikh Abu Muhammad bin Abdil Muhaimin Al-Hadrami (w: 749 H):

“…Beliau mempunyai sebuah tempat simpanan kitab-kitab melebihi tiga ribu lembaran dalam bidang hadith, fiqh, bahasa Arab, Adab, ilmu-ilmu logik dan ilmu-ilmu yag lain yang tersusun semuanya secara teliti, yang mana tidak sunyi tulisan-tulisan tersebut daripada thabat dengan tulisan sebahagian guru-gurunya yang terkenal pada sanadnya yang bersambung kepada penulis asalnya (sesuatu kitab tersebut) sehinggakan dalam ilmu fiqh, bahasa Arab dan sebagainya…”

[rujuk buku At-Ta’rif bi Ibn Khaldun wa Rihlatihi Syarqan wa Gharban m/s 20, diteliti oleh Muhammad bin Tawit Al-Tanji, Mesir, 1951]

Imam Ibn Sirin berkata:

إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم “

Maksudnya: “Ilmu itu adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kamu mengambil agamamu (ilmu agama tersebut)”.

Ibn Abdil Bar meriwayatkan daripada Imam Al-Auza'ie r.a. bahawasanya beliau berkata:

ما ذهاب العلم إلا ذهاب الإسناد

Maksudnya: “Tidaklah hilang ilmu (agama) melainkan dengan hilangnya sanad-sanad (ilmu agama tersebut)”. [At-Tamhid 1/314]

Mengapa ilmu akan lenyap jika tradisi sanad ini tidak dipelihara? Antara sebabnya, akan muncul golongan yang tidak mempunyai latar belakang keilmuan dalam bidang agama yang sempurna, berdiri di hadapan masyarakat umum, lalu berbicara dalam urusan agama, tanpa kelayakan yang jelas. Mereka mendakwa, atas alasan semua orang berhak beragama, jadi semua orang berhak berbicara dalam urusan agama. Dasar liberal sebegini jelas tertolak dalam ukuran keilmuan Islam yang menilai latar belakang keilmuan seseorang khususnya melalui tradisi sanad ini.

Oleh sebab itulah, dalam Muqoddimah Sahih Muslim [1/15], Imam Muslim meriwayatkan dari Imam Abdullah bin Mubarak r.a. yang berkata:

“Isnad itu sebahagian dari agama, jika tidak kerana isnad, maka sesiapa akan berkata apa saja yang dikehendaki (dalam urusan agama tanpa ilmu mendalam tentangnya)”

Pembukuan Nama-nama Para Syuyukh

Berdasarkan kepentingan sanad keilmuan inilah, para ulama’ menghimpunkan Sanad-sanad keilmuan mereka tersebut yang merangkumi ilmu-ilmu agama dari sudut Riwayah mahupun Dirayah, dari sudut Manqul mahupun Ma’qul dan sebagainya, dalam kitab-kitab mereka. Sebahagian para ulama’ menyusun latar belakang keilmuan mereka iaitulah Sanad keilmuan dalam bentuk Mu’jam As-Syuyukh yang menyenaraikan riwayat hidup dan latar belakang keilmuan para guru mereka. Sebahagian mereka menyusun kitab berbentuk Fihris dalam menyenaraikan guru-guru mereka serta sanad-sanad mereka yang diambil daripada para guru mereka. Begitu juga sebahagian mereka menyusun kitab berbentuk Barnamij sebagaimana yang masyhur di sisi para ulama’ Andalus dan Maghribi. Sebahagian menggunakan istilah Masyikhah atau dalam riwayat yang lain disebut sebagai Mashyakhah [rujuk Fihris Al-Faharis: 1/67-68]. Sebahagian para ulama’ yang lain menyusun kitab berbentuk Thabat yang hampir sama maksudnya.

Sejarah penyusunan nama-nama guru atau sheikh boleh didapati pada kurun ketiga hijrah lagi, seperti Al-Mu’jam As-Shaghir oleh Imam At-Tabrani kemudian terus berkembang seperti Mu’jam Syuyukh Abi Ya’la Al-Mushili, Mashyakhah Ibn Al-Jauzi dan sebagainya. Pada kurun kelima, banyak berkembang bentuk-bentuk yang lain seperti Fihris, Baramij dan sebagainya.

Kemudian, sudah menjadi kebiasaan bagi amalan para ulama’ silam di mana kitab Mu’jam adalah kitab yang menghimpunkan nama-nama guru, kitab Fihris adalah kitab yang menghimpunkan nama-nama kitab (dengan sanad-sanadnya) dan Baramij adalah kitab yang membahagikan dua bahagian iaitu bahagian pertama yang menyenaraikan nama-nama guru dan bahagian kedua yang menyenaraikan nama-nama kitab yang telah ditalaqqi dari para ulama’. Kemudian, ia berkembang kepada Athbat yang menghimpunkan nama-nama guru dan kitab-kitab yang dibaca kepada mereka.

Antara kitab-kitab terawal dalam bentuk ini yang masyhur adalah:

Kurun ke-6 Hijrah:

•Fihris Ibn Athiyyah Al-Andalusi (w: 541 H)•Al-Ghunyah Fihris Shuyukh Qadhi Iyadh (w: 544 H) •At-Tahbir fi Al-Mu’jam Al-Kabir oleh Abi Sa’ad As-Sam’ani (w: 562 H)•Fihrisah Ibn Khair Al-Isybili (w: 575 H) •Al-Wajiz fi Zikr Al-Mujaz wa Al-Mujiz oleh Sheikh Abi Thohir As-Silafi (w: 577 H)•Mashyakhah Ibn Al-Jauzi (w: 597 H) •Barnamij Ibn Basykawal oleh Imam Abu Al-Qasim Ibn Basykawal Al-Andalusi (w: 578 H) •Mu’jam As-Syuyukh oleh Imam Ibn Basykawal
Kurun ke-7 Hijrah:

•Mu’jam As-Syuyukh oleh Imam At-Tajibi (w: 610 H)•Taj Al-Ma’ajim oleh Imam Ismail ibn Hamid Al-Anshari Ad-Dimasyqi (w: 653 H)•Al-Mu’jam fi Ashaab Al-Qadhi Abi Ali As-Shadafi yang disusun oleh Ibn Al-Abar Al-Qadha’ie (w: 658 H)
Kurun ke-8 Hijrah:
•Barnamij At-Tajibi oleh Sheikh At-Tajibi (w: 730 H)•Mashyakhah Qadhi Al-Qudhah Ibn Jama’ah yang dikeluarkan oleh Al-Barzali (w: 739 H)•Mu’jam Al-Barzali oleh Imam Al-Barzali (w: 739 H)•Fihrisah Abu Al-Hayyan oleh Imam Abu Al-Hayyan (w: 745 H)•Mu’jam As-Syuyukh oleh Al-Hafiz Az-Zahabi (w: 748 H)•Barnamij Al-Wadi Asyi (w: 749 H)•Al-Mu’jam Al-Kabir bagi Imam Burhanuddin At-Tanukhi (w: 800H) yang disusun oleh murid beliau Imam Ibn Hajar Al-Asqollani r.a..
Kurun ke-9 Hijrah:

•Al-Majma' Al-Mu'asss oleh Imam Ibn Hajar (w: 852 H)•Al-Mu'jam Al-Fihris juga oleh Imam Ibn Hajar (w: 852 H) •Mu’jam Syuyukh Ibn Fahd Al-Makki (w: 885 H)
Kurun ke-10 Hijrah:

•Al-Juz' Al-Latif fi At-Tahkim As-Syarif oleh Al-Habib Abi Al-'Adni bin Abi Bakr Al-Aidarus (914 H)•At-Ta’allul bi Rusum Al-Isnad Ba’d Zhihab Ahl Al-Manzil wa Al-Nad oleh Imam Muhammad bin Ahmad Al-Uthmani Al-Maghribi Al-Fasi (w: 919 H)•Fihris Imam Abdul Wahab As-Sya’rani (w: 973 H)•Al-Fihris Al-Ausath oleh Sheikh Muhammad bin Ali bin Thulun (w: 953 H)•At-Thiraz Al-Mu'allim oleh Al-Habib Sheikh bin Abdillah Al-'Aidarus (w: 990 H)
Kurun ke-11 Hijrah:

•Fihrisah Ayyub Al-Khalwati oleh Sheikh Ayyub Al-Khalwati (w: 1071 H)•Muntakhob Al-Asanid oleh Al-Musnid Muhammad bin Alauddin Al-Bahili (w: 1077 H)•Al-Minah Al-Badiyyah fi Al-Asanid Al-'Aliyah oleh Al-Musnid Ibu Mahdi Isa nin Muhammad At-Tha'alabi (w: 1080 H)•Sillatu Al-Kholaf bi Mausul As-Salaf oleh Al-Muhaddith Sheikh Muhammad bin Sulaiman Al-Rudani (w: 1094 H)
Kurun ke-12 Hijrah:

•Al-Umam li Iqazh Al-Himam oleh Sheikh Abu Thohir Ibrahim bin Hasan Al-Kurani (w: 1101 H)•Kifayah Al-Muttholie' oleh Sheikh Hasani bin Ali Al-'Ujaimi Al-Makki (w: 1113 H)•Al-Imdad bi Ma'rifati 'Uluwi Al-Isnad oleh Imam Abdullah bin Salim Al-Bashri (w: 1134 H) Miftah Al-Asrar fi Tanazuli Al-Asrar wa Ijazah Al-Akhyar oleh Al-Habib Abdul Rahman bin Abdullah bin Ahmad Bal Faqih (w: 1164 H)•Al-Muqtathif min Ittihaf Al-Akabir bi Asanid Al-Mufti Abdil Qadir oleh Muhammad Hasyim As-Sindi (w:1174 H) •Al-Irsyad ila Muhimmat Ilm Al-Isnad oleh Sheikh Waliyullah Ad-Dihlawi (w: 1176 H)•Fihrisah As-Sindi As-Shaghir oleh Imam Abu Al-Hasan As-Sindi As-Shaghir (w: 1187 H)
Kurun ke-13 Hijrah:

•Qathf As-Samar fi Raf'ie Asanid Al-Musannafat fi Al-funun wa Al-Athar oleh Imam Al-Fullani (1218 H)•Fihris Ibn Ajibah oleh Imam Ibn Ajibah Al-Hasani (w: 1224 H)•Al-Jami’ Al-Hawi fi Marwiyaat Al-Syarqowy oleh Imam Abdullah As-Syarqowi ( w: 1227 H) Sadd Al-Arab min 'Ulum Al-Isnad wal Adab oleh Sheikh Muhammad Al-Amir Al-Kabir Al-Misri (1232 H) •Al-Durar Al-Saniyyah li ma 'Ala Min Al-Asanid As-Syanwaniyyah oleh Sheikh Muhammad bin Ali As-Syanwani (m: 1233 H)•Al-Nafas Al-Yamani oleh Sheikh Al-Habib Abdul Rahman bin Sulaiman Al-Ahdal (w:1250 H)•Syifa' As-Saqim bi Idhoh Al-Asnad oleh Al-Habib Abdullah bin Husein Bal Faqih (w: 1266 H)•Bazl Al-Nahlah oleh Al-Habib Abdullah bin Husein Bal Faqih •Al-Manhal Al-Rawi Ar-Ra'if fi Asanid Al-'Ulum wa Usul At-Thoro'if oleh Imam Muhammad Ali As-Sanusi (w: 1276 H)
Kurun ke-14 Hijrah:

•Ma’dan Al-La’ie fi Al-Asanid Al-‘Awali oleh Sheikh Abu Al-Mahasin Al-Qauquji (w: 1305 H)•Minhah Al-Fattah Al-Fathir fi Asanid As-Saadah Al-Akabir oleh Al-Habib 'Aidarus bin Umar Al-Habsyi (w: 1314 H)•'Uqud Al-Aal fi Asanid Ar-Rijal oleh Al-Habib Al-Musnid 'Aidarus bin Umar Al-Habsyi •'Aqd Al-Yawaqit Al-Jauhariyyah wa Samth Al-'Ain Az-Zahabiyyah oleh Al-Habib 'Aidarus bin Umar Al-Habsyi juga. •Husn Al-Wafa’ oleh Sheikh Abu Al-Yusr Falih Az-Zahiri (w: 1328 H)•Fath Al-Qawiy (thabat Al-Habib Abi Bakr bin Ahmad Al-Habsyi (w: 1330 H) •Thabat Al-Habib Uthman bin Abdillah bin Aqil bin Yahya (w: 1333H)•Tuhfah Al-Abrar fi Ta’rif bi As-Syuyukh wa As-Sadaat Al-Akhyar oleh Imam Abu Al-Abbas Ahmad bin Abdil Salam As-Safshafi (w: 1344 H)•Thabat Al-'Allamah Al-Habib Abdullah bin Hadi Al-Haddar •Thabat Al-Habib As-Sirri oleh Al-Habib Al-Musnid Muhammad bin Salim As-Sirri (w: 1346 H)•Hadi Al-Murid fi Thuruq Al-Asanid oleh Sheikh Yusuf An-Nabhani (w: 1350 H)•Tuhfah Al-Mustafid fi man 'akhoza 'anhum Muhammad bin Hasan 'Aidid oleh Al-Habib Muhammad bin Hasan 'Aidid (w: 1361 H) •Al-Is’ad bi Al-Isnad oleh Sheikh Muhammad Abdul Baqi Al-Anshari (w: 1364 H)•Al-Tahrir Al-Wajiz fima yabtaghihi Al-Mustajiz oleh Al-Muhaqqiq Sheikh Muhammad Zahid Al-Kauthari (w: 1371 H)•Mu’jam As-Syuyukh oleh Sheikh Abdul Hafiz Al-Fasi (w: 1383 H)•Minhah Al-Ilah fi Al-Ittisol bi ba'dhi Auliya' oleh Al-Habib Salim bin Hafiz Aal Sheikh Abi Bakr bin Salim (w: 1378 H)•Khulasoh Al-Syafiyah fi Al-Asanid Al-'Aliyyah oleh Al-Habib 'Alawi bin Thohir Al-Haddad (w:1382 H), bekas Mufti Negeri Johor•Mu'jam Al-Khulasoh Al-Kafiyyah oleh Al-Habib Salim bin Ahmad bin Jindan (w: 1389 H)•Ittihaf Al-Akabir bi Isnad Ad-Dafatir oleh Imam As-Syaukani•Kifayah Al-Mustafid oleh Sheikh Muhammad Mahfuz At-Tarmasi (w: 1338 H)•Fihris Al-Faharis oleh Sheikh Muhammad Abdul Hayy Al-Kattani (w: 1382 H) •Minah Al-Minnah fi Silsilah Ba'dhi Kutubi As-Sunnah oleh Sheikh Muhammad Abdul Hayy Al-Kattani•Al-Irsyad bi Zikr Ba’dhi ma li min Al-Ijazah wa Al-Isnad oleh Sheikhu Sheikhna Hasan Al-Masyath (w: 1399 H)
Kurun ke-15 Hijrah

•Maslakul Jali (thabat Sheikh Muhammad Ali Al-Maliki oleh Sheikh Yasiin Al-Fadani)•Al-Asanid Al-Makkiyah li Kutub Al-Hadith wa Siyar wa As-Syama'il Al-Muhammadiyah oleh Sheikh Yasiin Al-Fadani (w: 1410 H)•Ittihaf Al-Mustafid bi Gharrar Al-Asanid oleh Sheikh Muhammad Yasiin Al-Fadani (w: 1410 H)•Al-Faidh Al-Rahmani bi Ijazah Fadhilah As-Sheikh Muhammad Taqi Al-Uthmani oleh Sheikh Muhammad Yasiin Al-Fadani (w: 1410 H)•Ittihaf Al-Ikhwan (thabat Sheikh Umar Hamdan) oleh Sheikh Muhammad Yasiin Al-Fadani (w: 1410 H)•Al-Qaul Al-Jamil bi Ijazah Samahah As-Sayyid Ibrahim bin Umar Ba' Aqil oleh Sheikh Al-Fadani (w: 1410 H)•Al-'Ujalah oleh Sheikh Muhammad Yasiin Al-Fadani (w: 1410 H)•Imdad Al-Fattah bi Asanid wa Marwiyyat Abdul Fattah, sanad Sheikhu Sheikhna Al-Muhaqqiq Abdul Fattah Abu Ghuddah (w: 1417 H) yang disusun oleh Sheikh Muhammad bin Abdillah Aal Rasyid•At-Tholie As-Sa'id oleh Sheikh As-Sayyid Muhammad bin As-Sayyid Alawi Al-Maliki•Al-'Aqd Al-Farid oleh Sheikh As-Sayyid Muhammad bin As-Sayyid Alawi Al-Maliki (w: 1425 H)•Al-‘Uqud Al-Lu’lu’iyyah fi Al-Asanid Al-‘Alawiyyah, himpunan sanad-sanad Sheikh Sayyid Alawi Al-Maliki yang disusun oleh anakndanya Sheikh Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki•Fathul Aziz fi Asanid As-Sayyid Abdul Aziz oleh Sheikh Mahmud Sa'id Mamduh•Mu’jam As-Syuyukh oleh Sheikhna Al-Ustaz Usamah Sayyid Al-Azhari•Subul As-Sa’adah Bi Asanid Sheikh Muhaqqiq Abdullah (Tuan Guru Abdullah Lubuk Tapah) oleh Sheikhna Al-Ustaz Muhammad Zaidi Abdullah•Al-Awa’il Az-Zamzamiyyah oleh Sheikhna Sayyidi Ahmad Fahmi Zamzam Al-Banjari An-Nadwi Al-Maliki•Al-Awa’il wa Al-Awakhir oleh Sheikh Nuruddin Al-Banjari Al-Makki
Dan sebagainya.

Maka, jelaslah bahawasanya, tradisi menyusun sanad-sanad keilmuan serta ijazah keilmuan samada secara umum atau secara khusus, ijazah riwayah atau kedua-duanya (Dirayah dan Riwayah), Ijazah Tadris wa Nasyr (keizinan untuk mengajar dan sebagainya) atau sebagainya, adalah untuk menjaga tradisi amalan para ulama’ As-Salaf As-Sholeh terdahulu dan dalam masa yang sama menjelaskan latar belakang keilmuan mereka. Bahkan, tradisi tersebut adalah tradisi amalan para ulama’ muktabar yang tidak dapat dipertikaikan lagi kerana ianya terpelihara sejak zaman-berzaman.

Ukuran kelayakan keilmuan sebenar dalam neraca pembelajaran dan pengajaran ilmu-ilmu agama yang asal bukanlah pada ukuran akedemik moden seperti Sarjana atau Ijazah Kedoktoran yang merupakan acuan dan ukuran tradisi Barat, tetapi ukuran sebenar adalah pada sandaran keilmuan seseorang yang mengajar ilmu agama samada berbentuk Sanad Ilmiy, Ijazah Tadris, Ijazah Ammah yang disertai Ijazah Tadris dan sebagainya yang menjadi asal rujukan.

Kesimpulan

Perbahasan mengenai ini perlu kepada ruang yang lebih besar. Namun, secara kesimpulannya, kita cuba menjelaskan kepada mereka yang kurang jelas, bahawa kedudukan konsep Sanad itu lebih luas daripada apa yang mereka sangka, iaitu sekadar mengambil berkat (Tabarruk) dan sebagai bahan sejarah semata-mata. Ia mencakupi ukuran kelayakan seseorang untuk berbicara dalam urusan agama di khayalak umum (At-Tasaddur li At-Tadris) dan menjelaskan kedudukan latar belakang keilmuan seseorang dalam bidang ilmu agama. Ia bukan sekadar berkaitan dengan periwayatan hadith, malah merangkumi seluruh tradisi pembelajaran ilmu-ilmu agama samada dari sudut Dirayah mahupun Riwayah sekaligus.

Ketika ilmu-ilmu agama bukan lagi dikembangkan secara tradisi asal oleh kebanyakan tempat, lalu mereka yang membawanya bukan lagi dinilai dengan ukuran tradisi dan manhaj As-Salaf, maka jadilah konsep Talaqqi bi As-Sanad ini sebagai tradisi yang kurang mendapat perhatian melainkan di sisi mereka yang masih memelihara kemurniannya, yang menyambung hubungan keilmuan mereka kepada para ulama’ generasi terdahulu.

Konsep Talaqqi bersanad ini bukan suatu konsep yang ganjil melainkan di sisi mereka yang ganjil dari tradisi asal para ulama’ yang agung. Konsep sanad keilmuan ini bukan sekadar catatan sejarah, tetapi ianya merangkumi sudut ukuran “keahlian” dari sudut keilmuan dalam bidang agama lagi, yang justeru lebih agung daripada ukuran kesarjanaan moden yang dibentuk oleh barat. Di sinilah kita dapat fahami keagungan para ulama’ pondok (tok-tok guru) di Malaysia khususnya, yang mempunyai sanad keilmuan khususnya bersambung kepada para ulama’ muktabar seperti berbanding mereka yang lahir dari sistem pengajian moden yang tidak berteraskan kaedah talaqqi bersanad sama sekali, jika dilihat konteks khususnya di Malaysia. Begitu juga di peringkat antarabangsa.

Para ulama’ yang masih mempertahankan dan mengembangkan tradisi ini masih lagi wujud dan masih mempunyai majlis ilmu yang meluas di serata dunia. Mereka ini biarpun terlindung oleh sistem pembelajaran versi moden, namun para penuntut ilmu yang menyedari nilai sebenar yang mereka wariskan terus berguru dengan para ulama’ ini. Ini kerana, manhaj As-Salaf yang sebenar dikembangkan melalui tradisi talaqqi bersanad ini, bukan hanya pada slogan dan dakwaan sebagaimana dilakukan oleh sesetengah pihak, namun terpinggir dari tradisi asal ini. Ilmu-ilmu agama ini adalah ilmu warisan Nabawi yang mempunyai manhajnya yang asli dan tersendiri. Sistem inilah sebenarnya yang terus menjaga ilmu-ilmu agama dari sudut Riwayah dan Dirayah sehingga hari ini. Untunglah bagi para penuntut ilmu yang mengambil ilmu-ilmu agama daripada tradisi pembelajaran sebenar ini, dan rugilah mereka yang terpisah daripada tradisi ini sehingga bila ditanyakan kepada mereka tentang sanad keilmuan, maka mereka akan terpinga-pinga tanpa mengetahuinya.

Wallahu a’lam…

Disusun dengan bantuan Allah oleh:

Khadim Al-Ulama’ wa Thullab Al-Ilm

Al-Faqir Al-Haqir ila RabbiHi Al-Jalil

Raja Ahmad Mukhlis bin Raja Jamaludin Al-Azhari

‘AmalahuLlahu bi LutfiHi Al-Khafiy
Ulasan : Sistem pengajian ulumuddin adalah dengan merujuk keadap guru mursyid (wali mursyid ) sebagaimana dituntut oleh Quran dan sunnah dan merupakan aulawiyyat dan kesahihan fahaman yang hakiki. namun manhaj kedua adalah sebagaimana artikel diatas yang merupakan sistem teras dalam pengajian ulumuddin dalam tradisi sunni ASWJ. Iaitu suatu kefahaman yang hakiki sebagaimana yang dituntut dan kaedah keduamerupakan tuntutan bagi sesiapa tidak menjumpai guru mursyid. Sanad dan salsilah adalah penting dalam sistem tradisi Islam dan melahirkan suatu barakah dan peradaban Islam yang hakiki kepada umat Islam mengikut acuan yang sejati dan hakiki. wallahua'lam....

Rodi@Rizhan) http://hanputra.blogspot.com / putrabistari@gmail.com / tokjelapang@yahoo.com / e_rizhan@yahoo.com