Sunday, July 26, 2015

TAREKAT




ANTARA ALIRAN DAN AMALAN,ANTARA RITUAL DAN IBADAH
“WANITA BERSUAMI YANG MASIH MENGEMBAN FUNGSI TANGGUNGJAWAB RUMAH TANGGANYA,SEBAIKNYA JANGAN IKUT ORGANISASI TAREKAT”
Pernah mendengar kata-kata tersebut diatas? Atau justru anda adalah pelaku/pengamal Tarekat fanatik dari salah satu organisasi Tarekat? Atau masih samar-samar akan pengetahuan tentang Tarekat ?

Maka bagi anda yang benar-benar belum mengetahui tentang ilmu Tarekat,semoga tulisan ini dapat mengawali pengetahuan tentang hal itu.Dan bagi yang telah familier serta rajin menjalankan amalan-amalan Tarekat,bahkan aktif dalam organisasi ketarekatan ,maka semoga paparan berikut dapat semakin mengisi cakrawala ilmu pengetahuan ketarekatan.Sementara bagi yang masih samar-samar atau setengah-setengah dalam pengetahuan tentang Tarekat,maka semoga penjabaran berikut ini dapat menambah pengetahuan serta dapat menjadikan inspirasi,alternatif dan memperbanyak amalan shalihan dalam rangka beribadah mengabdi kepada Tuhannya.

ANTARA REALITA DAN PROBLEMATIKA
Sepertinya telah sering kita saksikan disekitar kehidupan kita,baik melalui media maupun menyaksikan langsung ,banyak sekelompok umat tampak menjalankan ritual keagamaan tertentu secara berjama’ah dengan khidmat berdzikir menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat,ke kanan ke kiri,ke atas ke bawah,kemudian seluruh badan dan kepala terselubung rapat oleh kerudung/kain putih seraya tak lepas jari-jemarinya menghitung bulir-bulir tasbih diiringi gemuruh gumam do’a dan sholawat hingga ribuan kali.Begitu khusyu’ dan berkonsentrasi tinggi tanpa peduli dengan urusan lain.Sementara sering kita lihat di media ketika pemerintah mengumumkan penentuan hari Raya Iedul Fitri ataupun Hari Raya Qurban,maka ada jama’ah Tarekat tertentu di wilayah Aceh,Sumatera Barat,Sulawesi dan wilayah lainnya ada yang merayakannya dua hari sebelum maupun ada yang merayakan dua hari setelah penentuan yang ditetapkan oleh pemerintah.Begitulah berbagai ragam cara-cara manusia berlomba-lomba mereguk amal,menyembah,mengabdi dan mencari jalan menuju kepada Sang Khalik.

Saat-saat hari tertentu jama’ah tarekat mengadakan pengajian yang dibimbing oleh seorang guru atau syeikh.Kesan execlusive tampak kental mewarnai jama’ah ini dengan berpakaian/gamis serba hitam,kelompok lainnya ada yang putih-putih,dan sebagainya.Di Indonesia kelompok jama’ah tarekat terbilang berciri moderat atau lebih tampak menampilkan acara-acara ritual yang damai dan cenderung berkonsentrasi di tempat-tempat yang jauh dari hiruk pikuk kota.Namun di sebagian wilayah negara di Timur Tengah,kelompok jama’ah tarekat banyak yang melaksanakan ritual ekstrim di keramaian orang banyak,seperti ritual mencambuk-cambuk/melukai badannya sendiri hingga berdarah.

“WANITA BERSUAMI YANG MASIH MENGEMBAN FUNGSI TANGGUNGJAWAB RUMAH TANGGANYA,SEBAIKNYA JANGAN IKUT ORGANISASI TAREKAT”
Bagi sebagian kelompok umat,pelaksanaan Tarekat telah menjadi amalan baku dan dapat menjalani dengan lancar tanpa masalah.Hal tersebut terutama bagi insan-insan berkeluarga yang benar-benar telah memahami ilmu pengetahuan bertarekat.Namun bagi kelompok keluarga yang diantara anggota keluarga tersebut ada yang tidak setara ilmu pengetahuan Tarekatnya,maka akan banyak menimbulkan masalah,apalagi bagi yang hanya sekedar ikut-ikutan atau hanya karena faktor diajak pengajian oleh rekannya namun tidak tahu kalau kelompok pengajian yang diikutinya tersebut adalah pengajian dari salah satu organisasi Tarekat.Hal ini lazim terjadi ditengah-tengah keluarga kita dan di sekitar lingkungan kita,biasanya ibu-ibu/istri kita begitu antusias mengikuti ajakan rekan tetangga atau teman maya mengikuti pengajian pada seorang guru/Syeikh ke suatu tempat jauh kadang diluar kota hingga harus menginap,meninggalkan anak/suami.Begitu pulang langsung hari-hari disibukkan dengan bacaan-bacaan wirid sekian ribu kali,puasa ini,puasa itu hingga sering terjadi problem rumah tangga karena suami kesal sang istrinya banyak lalai/meninggalkan tanggung jawab fungsi sebagai ibu rumah tangga yang semestinya.Keluarga,Anak tak diperhatikan/terurus namun sibuk dengan ritual-ritual yang diperintahkan oleh sang guru/Syeikhnya tersebut,yang harus diamalkan setiap hari.Demikian juga sebaliknya ada suami yang meninggalkan keluarganya berhari-hari terlantar tanpa back up dan kompromi yang jelas dalam perkara yang sama.
Maka sebaiknya bagi wanita bersuami/ibu rumah tangga yang kapasitas dan tanggung jawabnya sangat dibutuhkan untuk keluarga,semestinya janganlah larut sibuk atau ikut menjadi anggota jama’ah Tarekat dengan sibuk mengamalkan ritual-ritual setiap harinya tanpa ijin dan kompromi dengan keluarga/ suami.Sebab jika hal demikian tetap dilakukan dengan alasan keyakinan/keimanan menurut prasangka pribadi sendiri,maka sungguh akan banyak mendapatkan mudharat daripada manfaat yang lebih besar.Ibarat menangguk air dengan keranjang bolong.

Sementara disisi lain sangat disayangkan beberapa guru/Syeikh (tidak semua-red.), yang berorganisasi dan menjalankan/memimpin Tarekat,dengan banyak anggota/jama’ahnya namun tidak melakukan evaluasi atau seleksi ter-metodis kepada anggotanya apakah kondisinya sedang memikul tanggung jawab dalam keluarganya atau tidak ,malah kadang langsung main “Bai’at” saja,tanpa memberikan informasi yang jelas dan terstruktur akan organisasi tarekat yang dipimpinnya.Kadang tak ditanya apakah hanya ikut-ikutan atau karena telah berpengetahuan.Atau setidaknya ditolak secara edukatif pada calon jama’ahnya dengan mengatakan,

“Ibu,Jika ibu masih banyak tugas dan tanggung jawab dalam keluarga,masih menyusui,masih ngurusi pekerjaan rumah tangga,masih ngurusi anak/ suami,silahkan ibu pulang kembali dan amalkan tarekat bersama keluarga saja dirumah,sebab melaksanakan tugas dan kewajiban seorang istri,taat dan mematuhi suami adalah sama dengan bertarekat juga.”

Ini baru guru/Syeikh mursyid yang bijak.Cobalah renungkan perkara ini.
Baik sobat budiman Nusantara,
Mari kita dalami pengetahuan tentang TAREKAT ini.Tulisan ini aku persembahkan kepada ikhwan fillah sebangsa setanah air dalam maksud menambah cakrawala pengetahuan dan pemahaman akan nlai-nilai agama agar dapat menjadikan referensi,inspirasi,penambah keimanan dan kecerdasan pikir dalam menjalani kehidupan,beribadah mengabdi kepada Sang Maha Pencipta.Dan tulisan ini tersusun dan terangkum berdasarkan pengamatan,pengalaman,pengelanaan.mengaji langsung ,serta digali dari berbagai sumber.


MAKNA TAREKAT
TINGKATAN KEILMUAN AGAMA (Maqam Al-Ilm Al-Islam)

Dalam Islam telah dikenal adanya jenjang derajat keilmuan agama yakni :

-Syareat – Tareqat – Haqeqat


(sedang Ma’rifat adalah bukan jenjang keilmuan agama seseorang secara standar, melainkan merupakan pangkat (maqam) execlusive pemberian Tuhan kepada hamba-Nya tertentu yang dikehendaki-Nya).
Syareat adalah dimensi perundang-undangan dasar,(S.O.P),sedangkan Tareqat adalah dimensi pengamalannya,sementara Haqeqat (kebenaran) adalah dimensi titik tujuan yang dapat membuka kesadaran pemahaman secara global,atau tingkatan yang dapat mejadikan orang memahami makna kehidupan dan agama.Syariat laksana baju sedangkan hakikat ibarat badan.

Jika dianalogikan ke dalam tataran bahasa disiplin ilmu,maka Syareat merupakan ilmu Praktis,Tarekat adalah Metodologis,Haqeqat adalah Teoritis,sedangkan maqam Ma’rifat adalah dimensi Filosofis.
Imam Malik mengatakan bahwa seorang mukmin sejati adalah orang yang mengamalkan syariat dan hakikat secara bersamaan tanpa meninggalkan salah satunya.Adagium populer : “Hakikat tanpa syariat adalah kepalsuan, sedang syariat tanpa hakikat adalah sia-sia.” Imam Malik berkata, “Barangsiapa bersyariat tanpa berhakikat, niscaya ia akan menjadi fasik. Sedang yang berhakikat tanpa bersyariat, niscaya ia akan menjadi zindik.Barangsiapa menghimpun keduanya [syariat dan hakikat], ia benar-benar telah berhakikat.”


*Syariat adalah hukum-hukum atau aturan-aturan dari Allah yang disampaikan oleh Nabi untuk dijadikan pedoman kepada manusia, baik aturan ibadah maupun yang lainnya. Apa yang tertulis dalam Al-Qur’an hanya berupa pokok ajaran dan bersifat universal, karenanya Nabi yang merupakan orang paling dekat dengan Allah dan paling memahami Al-Qur’an menjelaskan aturan pokok tersebut lewat ucapan dan tindakan Beliau, para sahabat menjadikan sebagai pedoman kedua yang dikenal sebagai hadist. Ucapan Nabi bernilai tinggi dan masih sarat dengan simbol-simbol yang memerlukan keahlian untuk menafsirkannya.
Tarekat berasal dari kata “Toro – Thariqah” yang berarti jalan.Tarekat adalah jalan-jalan yang ditempuh para sufi sebagai jalan yang berpangkal dari syariat sebab jalan utama disebut syar’, sedangkan anak jalan tersebut thariq. Kata turun ini menunjukkan bahwa bagi para sufi, dimensi keruhanian merupakan cabang dari jalan utama yang terdiri dari hukum ilahi, tempat berpijak bagi setiap muslim. Tidak mungkin jika ada anak jalan /gang,bila tidak ada jalan utama tempat berpangkal.Dimensi kebatinan seseorang tidak mungkin diraih bila perintah syariat yang mengikat itu tidak ditaati.

Jika seorang yang mengaku muslim namun hanya sekedar menjalankan perintah agama secara standar saja,(asal memenuhi kewajiban),maka ia dalam katagori bersyareat saja.Sedangkan bagi seseorang yang telah berpengetahuan syareat kemudian ingin meningkatkan qualitas ibadahnya serta berniat ingin mencari jalan mendapatkan ridho Tuhan maka ia telah memasuki tahapan kedua dalam agama yakni ber-TAREKAT.Inilah jalan yang harus ditempuh oleh seorang calon sufi agar ia berada sedekat mungkin dengan Allah.


Namun jika seseorang yang mengaku muslim hanya menjalankan tarekat saja dengan mengabaikan Syareat,maka itu sebuah kefasikan.Dan jika seseorang hanya mengamalkan Hakekat tanpa belajar/mengetahui dan mengamalkan syareat serta tarekat,maka itu sebuah kesesatan.


HUBUNGAN ANTARA TAREKAT DAN TASAWUF :
Tasawuf adalah usaha mendekatkan diri kepada Allah, sedangkan tarekat itu adalah cara dan jalan yang ditempuh seseorang dalam usahanya mendekatkan diri kepada Allah.Dengan demikian ,Tarekat dan tasawuf adalah jalan atau cara yang ditempuh oleh para salik (pelaku tarekat dan tasawuf) untuk mendekatkan diri pada Allah, dalam rangka melaksanakan perintah Allah.Seperti dalam surat Al-maidah : 35 ,
“ Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (Al Maidah: 35).
Maka Tarekat ada dua katagori :
1.TAREKAT AMALIAH (Praksis)
2.TAREKAT BAI’AT (LEMBAGA/ORGANISASI)

Tarekat Amaliah adalah tarekat yang tidak berkaitan dengan kelembagaan yang sengaja dibentuk/diikuti dengan mengamalkan suatu ritual-ritual yang diajarkan oleh seorang Guru/Syeikh tertentu, melainkan amalan-amalan baku yang seseorang menjalankannya dengan khusyu dan ikhlas setiap harinya mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW yang bersumber/berpedoman pada syareat dan as sunnah (Al-Quran dan Al-Hadits),yang cara-cara menjalankan dan pengamalan ibadahnya didapat dari mengaji /diajarkan oleh para guru ngaji/Ustadz,dari pesantren,dari sekolah,dan umum lainnya.
Sedangkan Tarekat Bai’at adalah menjalankan amalan-amalan ibadah dengan cara-cara tertentu berdasar bimbingan seorang guru/Syeikh yang tergabung ke dalam suatu lembaga/organisasi ketarekatan yang eksklusif.Kemudian tiap tarikat mempunyai syaikh, upacara ritual, dan bentuk ziir sendiri. Di timur tengah,dikenal dengan “ta’ifdah” .Ada juga dikenal kelompok muslim kebatinan dengan nama Ikhwan Al-Safa*.Anggotanya cenderung para pemuda.

Kemudian setiap anggota dilakukan upacara “pengambilan sumpah” / Bai’at,yang menandakan telah resmi bergabung ke dalam organisasi sebagai anggota dan merupakan deklair kepatuhan serta ketaatan terhadap ritual-ritual yang diamalkan jama’ah organisasi serta fatwa sang guru.
Sumber dalil untuk menjalankan amalan tarekat berasal dari ayat-ayat Al-Qur’an diantaranya dalam surat : Al- Ahzab 41-43 , An- Nur 36-37 , Al- A’raaf 205 , An -Naziat 37-41.

SEJARAH TAREKAT
Pada masa Nabi Muhammad SAW tidak dikenal adanya tarekat lembaga atau terdengar adanya istilah “Tarekat Muhammad Rasulullah”,tidak ada itu,sebab Rasulullah SAW saat itu bertindak sebagai Nabi berdakwah membimbing umat agar manusia menyembah hanya kepada Allah Yang Esa.Kemudian setelah mendapatkan risalah baku yakni Al-Qur’an,yang kemudian dijadikan sebagai Syareat/pedoman baku (S.O.P),bagi seluruh umat manusia dan bagi yang mengikuti millah Beliau,maka barulah Rasulullah mengajarkan Tarekat Amaliah (praksis langsung),bukan tarekat organisasi yang eksklusif,yakni mengajarkan laku perbuatan nilai-nilai Islam secara langsung maupun secara perkataan (As-Sunnah), bersama para sahabatnya,pengikutnya dengan cara melaksanakan sholat,Zakat,Puasa,berhaji serta berbuat kebaikan,bersedekah,berkasih sayang,berbuat manfaat,menyerukan persatuan dan beramar ma’ruf nahi munkar.Itulah Tarekat yang lebih besar tingkatannya.Sedangkan Tarekat organisasi cenderung eksklusif,kebanyakan berorientasi mengumpulkan amal untuk kepentingan pahala pribadi/jama’ahnya.
Setelah Nabi Muhammad SAW,maka seolah umat Islam bagai “anak ayam kehilangan induk semang”,tiada sosok panutan yang kharismatik,agung dan utama.Saat zaman itulah umat-umat Islam mencari jati diri masing-masing dalam mencari jalan mendekatkan diri pada Tuhannya.Kemudian berkembanglah ilmu tasawuf,bermunculanlah tokoh-tokoh sufi bersifat personal.Kemudian tokoh-tokoh sufi yang telah dalam ilmu pengetahuannya memiliki kharisma,kemudian memiliki banyak murid/pengikut yang sejak masa itulah mulai dikenal adanya Tarekat lembaga atau cabang tasawuf yang berorganisasi.Metamorfosa ini tidak terlepas dari perkembangan dan pengaruh ajaran tarekat para pelaku tasawuf itu sendiri yang seolah sangat didambakan umat Islam saat itu.Semakin luas pengaruh tokoh tasawufnya,semakin banyak umat berhasrat menjadi pengikutnya.Maka berkembanglah aliran tarekat yang dibimbing oleh seorang guru/Syeikh dengan berbagai corak dan cirinya.

*Sulit menentukan kapan aliran tarekat dijalankan sebagai suatu lembaga dimulai.Menurut Harun Nasution , bahwa setalah Al Ghozali menghalalkan tasawuf yang sebelumnya dikatakan sesat, tasawuf berkembang dari dunia islam, tetapi perkembangannya melalui tarekat. Tarekat adalah organisasi dari pengikut sufi-sufi besar yang bertujuan untuk melestarikan ajaran-ajaran tasawuf gurunya. Tarekat ini memakai suatu tempat pusat kegiatan yang disebut ribat – organisasi serupa mulai timbul pada abad XII M, tetapi baru Nampak perkembangannya pada abad-abad berikutnya.Tarekat diartikan sebagai jalan yang khusus di peruntukkan bagi mereka para pencari Tuhan yang merupakan perpaduan antara iman dan islam dalam bentuk ihsan.
Secara amaliyah (praksis) tarekat personal timbul dan berkembang semenjak abad-abad pertama hijriah dalam bentuk pelaku zuhud dengan berdasarkan pada Al Qur’an dan Al Sunnah. Zuhud bertujuan agar manusia dapat mengendalikan kecenderungan-kecenderungan terhadap kenikmatan duniawiyah secara berlebihan.

 
Sejak abad VI dan VII hijriyah (XII dan XIII M) tarekat-tarekat lembaga telah memulai jaringannya di seluruh dunia islam, taraf organisasinya beraneka ragam. Perbedaannya yang pertama dari semua itu terletak pada upacara dan dzikir, keanggotaannya sangat heterogen. Kemudian sejak abad VIII H (XIV M) menyebar dari sinegal ke cina. Semenjak itu cabang-cabang tarekat berkembang dengan ciri masing-masing yang berbeda satu dengan yang lainnya.


*BERBAGAI CABANG ORGANISASI TAREKAT
(Silahkan dijadikan referensi bagi sobat yang berminat masuk Tarekat)
1. Tarekat Qodariyah
Tarekat ini didirikan oleh Muhyi al-Din Abu Muhamad ‘Adb al Qodir bin Musa bin ‘Abdullah bin Musa (470-561 H 1077/1166 M) pengikutnya menyebar ke berbagai pelosok dunia islam sampai ke Asia barat dan Mesir. Pada abad XIX M bercabang sampai ke Maroko dan Indonesia. Tarekat ini dinilai sebagai tarekat paling progresif tapi tidak jauh dari faham salf. Tarekat ini lebih berkonsentrasi kepada pemurnian Tauhidullah dan zduhur dalam ibadah. Ia memiliki keunggulan dalam ihwal kedermawanan, kesalehan dan kerendahan hati serta ketidaksetujuan terhadap fanatisme agama dan politik.
Diantara ajaran pokoknya ialah : bercita-cita tinggi (“Aluw al Himmah) menghindari segala yang haram, memelihara hikmah, merealisasikan maksud dan mengagungkan nikmat Allah, beberapa sebab keberhasilan tarekat ini dalam rekkrutmen murid dan calon murid adalah ketaatan yang teguh dalam syariat dan realisasi ajaran salaf, kencamannya yang gencar terhadap paham yang menyandarkan keimanan semata sebagai alat untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan dalam kecamannya terhadap paham reinkarnasi /(tanasukh al ruh). Ajaran-ajarannya dilandaskn secara kuat kepada AL Qur’an dan AL Sunnah.
2. Tarekat Rifa’iyah
Tarekat Rifa’iyah didirikan oleh Ahmad al Rifa’i (570 H / 1173 M) didorong oleh kondisi mengendornya hubungan antara cabang-cabang Qodiriyah dan lahirnya ranting ranting baru yang independen. Tarekat ini dinilai lebih fanatik, memiliki tradisi yang sangat ketat dalam mematikan hawa nafsu dan ketat dengan protokol-protokol seremoni pelantikan/Bai’at yang luar biasa. Pengikutnya yang melakukan dzikir secara baik akan dapat terbawa ke alam fana (dimensi ruhani),dalam keadaan fana’ itu bisa melakukan hal-hal yang menakjubkan seperti sihir(metafisika).
3. Tarekat Suhrowardiyah
Didirikan oleh Syihab al Din al Suhbowardi inspirasi seorang ahli dari Maghrib, Nur al Din Ahmad bin ‘Abdullah al Syadzali. Pengikutnya tersebar di Tunis- karena pemerintah mencemaskannya, sang imam cenderung menyingkir ke Alexandria di mesir keberhasilannya sangat cepat juga di afrika.
4. Tarekat Ahmadiyah / Badawiyah
Tarekat ini disebut juga tarekat badawiyah karena pendirinya bernama Ahmad bi ‘Aly al Husainy al Badawy
Tarekat ini sangat konsisten dengan Al Qur’an dan As Sunnah, ia sangat diminati karena antara lain : mendorong para pengikut / muridnya untuk pandai, kaya dan dermawan, saling mengasihi dan juga karena doktrin-doktrin sifistiknya yang menarik.
5. Tarekat Maulawiyah / Al Rumiyah
Maulana Jalaludin Rumi Muhammad bin Hasain al Khattabi al Kbakri (Jalaludin Rumi) atau sering juga disebut Rumi adalah seorang penyair sufi yang lahir di balk (sekarang Afganistan).Kesufian Rumidi mulai ketika beliau sudah berumur lepas dewasa, 48 tahun.
Rumi memang bukan sekedar penyair, tapi ia juga tokoh sufi ayng berpengaruh pada zamannya. Rumi adalah guru nomor satu pada tarekat maulawiyah. Sebuah tarekat yang berpusat di Turki dan berkembang disekitarnya. Sebagai tokoh sufi, Rumi sangat menentang pendewaan-pendewaan akal dan indera dalam menentukan kebenaran.
Dalam sistem pengajarannya, Rumi mempergunakan penjelasan dan latihan mental, pemikiran dan meditasi, kerja dan bermain. Tindakan dan diam. Gerakan-gerakan tubuh pikiran dari pra darwis berputar dibarengi dengan musik toup untuk mengiringi gerakan-gerakan tersebut merupakan hasil dri metode khusus yang dirancang untuk membawa seseorang salik mencapai afinitas dengan arus mistis untuk ditransformasikan melalui cara ini.
6. Tarekat Syadzaliyah
Abu Hasan al Syadzali mendirikan tarekat ini setelah beliau mendapatkan khirqoh / ijazah dari gurunya Abu ‘Abdullah bin Ali bin Hazam dari Abdullah ‘abd. Al Salam bin Majisy. Kelebihan dari tarekat ini terletak pada lima (5) ajaran pokoknya yaitu :
1.Takwa kepada Allah dalam segala keadaan.
2.Konsisten dalam mengikuti Al-Sunnah,
3.Ridho dalam ketentuan dan pemberian Allah SWT,
4.Saling menghormati,menghargai sesama manusia, dan
5.Suka kembali kepada Allah (taubat) dalam susah/senang.
Sedangkan tiga hal pokok yang menjadi landasan/ azas tarekat ini adalah :
1.Terus mencari ilmu (belajar tak berhenti),
2.Memperbanyak Dzikrulah dan
3.Duhur Ilaallah.
Ketiga hal pokok ini selalu menjadi penekanan kepada murid-murid Al Syadzali, beliau tidak menganjurkan mujahadah seperti tarekat-tarekat lain. Kebenaran baginya, didalam diri manusia itu ada nur ashli/ nur potensial yang akan menjadi kuat, berkembang dan subur bila diperkuat dengan nur ilmu yang lahir akibat dzikrullah.
Tarekat ini menjauhi ramalan-ramalan /anti memprediksi pada hal hal yang belum ataupun bakal terjadi termasuk mengartikan segala kemungkinan dan akibat yang mungkin terjadi pada masa yang akan datang,(Hari-hari dijalani cukup dengan aktifberkarya,beribadah,memprogram langkah,tak berandai-andai hari ini ya hari ini,nanti ya apa kata nanti).
Doktrin ini diperdalam oleh Ibn Atho’illah dan menjadi doktrin utamanya.Komunitas Syadzaliyah terutama mereka di kalangan kelas menengah, pengusaha, pejabat dan pegawai pemerintah. Oleh karenanya, ciri khas yang kemudian menonjol dari anggota tarekat ini adalah kerapihan mereka dalam berpakaian, ketenangan yang terpancar dari tulisan-tulisan para tokohnya.
Tarekat Syadzaliyah ini tidak menentukan syarat-syarat yang erat kepada syaikh tariqoh, kecuali mereka harus meninggalkan segala perbuatan maksiat, memelihara segala ibadah-ibadah sunnah semampunya, zikir kepada Allah sebanyak mungkin, sekurang-kurangnya seribu kali sehari semalam dan beberapa zikir yang lain.
7. Tarekat Tijaniyah
Didirikan oleh Abul Abbas Ahmad Bin Muhammad Bin Al Mukhtar At Tijani (1733-1815 M) salah seorang tokoh dari gerakan neosufisme. Ciri dari garakan ini ialah penolakannya terhadap sisi eksatik dan metafisis sufisme dan lebih menyukai pengalaman secara ketat ketentuan-ketentuan syariat dan berupaya sekuat tenaga untuk menyatu dengan ruh nabi Muhammad sebagai ganti untuk menyatu dengan Allah.
8. Tarekat Syattariyah
Tarekat Syattariyah adalah tarekat yang pertama kali muncul di india abad XV M, tarekat ini dinisbatkan pada tokoh yang berjasa dan mem-populerkannya,yakni Abdullah Asy Syattar.
Sebagaimana hal tarekat-tarekat lain, Syattariyah menonjolkan aspek dzikir di dalam ajarannya.Dikenal 7 macam dzikir muqodimah sebagai peralatan/tangga untuk masuk kedalam tarekat Syattariyah, yang disesuaikan dengan 7 nafsu pada manusia. Dzikir ini hanya dapat dikuasai melalui bimbingan seorang pembimbing spiritual, guru/Syaikh.
9. Tarekat Naqsabandiyah
Pendirinya adalah Muhammad Baha’ Al Din Al Naqsabandi Al Bukhori (717-791 H / 1317-1388 M). Naqsabandiyah merupakan salah satu tarekat sufi yang paling luas penyebarannya. Terutama di wilayah asia .
Ciri menonjol dari tarekat ini ialah diikutinya syareat secara ketat, keseriusan dalam beribadah, menolak music dan tari budaya barat, lebih ngutamakan berdzikir dalam hati,namun tidak mengharamkan politik dan cenderung mau terlibat didalamnya .
10. Tarekat Kholwatiyah
Tarekat Khalwatiyah, tidak sebagaimana lazimnya tarekat pada umumnya yang diambil dari nama pendirinya. Penamaan ini justru didasarkan kepada kebiasaan sang guru pendiri tarekat ini syekh Muhammad Al Khalwati (w 717 H), yang seringkali melakukan kholwat di tempat-tempat sepi. Tarekat khalwatiyah merupakan cabang dari tarekat As Sahidiyah, cabang dari Al Abhariyah dan cabang dari Al Shrowardiyah yang didirikan oleh Syekh Syihab Al Din Abu Hafsh ‘umar Al Suhrowardi Al Baghdadi.
Ajaran dan dzikir tarekat Khalwatiyah menetapkan adanya sebuah amalan yang disebut Al Asma’ Al Sab’ah (tujuh nama) yakni tujuh macam dzikir /tujuh tingkatan jiwa yang harus dikembangkan oleh setiap salik.
Dzikir pertama melafadzkan kalimat : لا إله إلاالله , Dzikir kedua : الله ,Dzikir ketiga : هو (dia) ,Dzikir keempat : حقّ (maha benar) ,Dzikir kelima : حيّ (maha hidup) ,Dzikir keenam : قيوم (maha jaga) ,Dzikir ketujuh : قهار (maha perkasa).
Ketujuh tingkatan dzikir ini intinya bersumber dalam ayat AL Qur’an.
11. Tarekat Sammaniyah
Tarekat ini didirikan oleh syeikh Muhammad bin Abd Al- Karim Al Samman Al Madani Al Qodiri Al Qubaisi dan lebih dikenal dengan sebutan Syeikh Samman. Semula ia belajar toriqoh kholwatiyah dari damaskus,pada masa berikutnya beliau mulai mengajarkan pengajian yang berisi teknik berdzikir, wirid dan ajaran teosofi lainnya. Beliau menyusun cara pendekatan diri dengan Allah yang kemudian dikenal sebagai toriqoh sammaniyah, sehingga ada yang mengatakan bahwa toriqoh sammaniyah adalah cabang dari khalwatiyah.
Di Indonesia tarekat ini berkembang di sumatera Kalimantan dan jawa. Sammaniyah masuk ke Indonesia pada penghujung abad 18 yang banyak mendapat pengikut karena popularitas Imam Samman.
Ajarannya yang khas ialah memperbanyak dzikrullah dan shalat, lemah lembut kepada fakir miskin, tidak mencintai dunia, menukar akal masyariyah dangan akal robbaniyah dan mentauhidkan Allah dalam dzat, sifat dan af’alnnya. Pengaruh Sammaniyah di Indonesia diabadikan di dalam tariah ruda.


MANFAAT MENGAMALKAN TAREKAT
Telah diketahui bahwa Tarekat ada dua katagori.Tarekat pertama jelas merupakan keharusan bagi setiap umat Islam untuk selalu mencari jalan kepada Tuhannya.Dalam kitab Sulam Taufiq disebutkan bahwa :
فصل : يجب على كافة المكلفين الدخول فى دين الإسلام والثبوت فيه على الدوام والتزام مالزم عليه من الأحكام
“Setiap orang yang telah dewasa (mukallaf) wajib memasuki atau memeluk agama Islam secara kaffah dan tetap dalam agama itu untuk selama-lamanya serta melaksanakan segala kewajiban yang berkenaan dengan hukum-hukumnya , mencari jalan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala”.
Maka seseorang yang berupaya meniti jalan dalam rangka mendekatkan diri kepada-Nya,(bertarekat) hidupnya selalu dalam kedamaian (anti galau) dan dimudahkan segala persoalan (selalu mendapatkan pertolongan-Nya).Sebab ketika kita mendekat maka Tuhanpun memeluk erat.Kemudian balasan keselamatanpun hingga sampai di hari akherat.Maka jalanilah tarekat katagori apa saja,yang penting niatnya.Maka Pilihlah amalan tarekat yang sesuai dengan keadaan/kapasitas diri.
Sebagaimana kita berniat menuju sebuah titik kota tujuan,tentu ada berbagai sarana jalan untuk mencapainya.Ada jalan yang biasa,ada jalan yang sedang dan ada jalan yang khusus/tol.Jika kita tidak paham betul medan jalan yang akan ditempuh atau masih blank harus memilih jalan yang baik dan cepat yang mana,tentu kita seperti orang buta yang tak tahu arah kiri kanan.Sehingga waktu tempuh yang seharusnya dalam waktu singkat,ini sampai berhari-hari,bahkan berbulan-bulan atau bertahun-tahun.Oleh karena itulah kita memerlukan ahli pemandu,GPS,kompas,dsb.
Demikian pula seperti bertarekat dengan Tarekat organisasi,maka kita di beri bimbingan oleh seorang guru pembimbing untuk mencapai tujuan dengan jalan khusus/pintas.Sebab mereka para guru mursyid yang sebenarnya,telah mencapai derajat ilmu pengetahuan yang lebih luas dibanding kita,maka tentulah beralasan jika telah lebih banyak mengetahui cara maupun rahasia menuju jalan-Nya.
Contoh :
Suatu ketika kita sedang mendapatkan masalah atau cobaan berat,pelik dan membuat depresi.Sudah kesana kemari buntu tiada yang menolong dan tiada yang ahli dalam mengakhiri problematika.Maka daripada berlarut-larut persoalan yang menyesakkan tiada kunjung berakhir,cobalah “sowan” (berkunjung) mendatangi seorang Kyai atau guru spiritual atau guru tarekat.Kemudian sharing dan utarakan niatnya meminta bantuan agar masalah yang menimpanya dapat segera berakhir melalui media sang Kyai tersebut.Maka sang Kyai tersebut tentu akan membantu mendo’akan kita meminta kepada Allah SWT,yang secara lahiriahnya kadang dalam bentuk, dengan cara memerintahkan kita untuk melaksanakan amalan-amalan tertentu,melaksanakan qorban atau melaksanakan puasa sekian hari,dan sebagainya.Hal demikian sah-sah saja,sebab memang realitasnya banyak orang yang telah berhasil bangkit kembali atau berhasil keluar dari lilitan masalah kehidupan.


KEDUDUKAN/HUKUM BER-TAREKAT
1.Adalah fardhu a’in atau wajib atas umat islam yang telah mukallaf,bertarekat secara amaliah.Yakni ikutilah ajaran tarekat yang tidak menyimpang dan yang sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Jika menemui ajaran tarekat yang menyimpang dan tidak sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasullullah, tinggalkanlah.
Paling aman adalah ikuti saja cara yang sudah ditetapkan Rasulullah seperti membaca Qur’an secara rutin setiap hari dengan memahami maknanya, shalat sunah seperti sunah rawatib, tahajud, dhuha, puasa senin kamis, berzikir didalam hati ketika berdiri, duduk dan berbaring, dzikir setiap pagi dan petang hari, dzikir setiap selesai shalat.
(Melaksanakan amalan tarekat yang standar saja kesulitan, apalagi mengamalkan kegiatan ritual tarekat organisasi, yang begitu rumit dan melelahkan dengan keharusan mengamalkan wirid,tasbih ribuan kali setiap hari).
Namun,itu jalur biasa,buat orang biasa.Maka jika kita ingin meningkat ke derajat yang lebih eksklusive lagi dan mengetahui lebih dalam jalan menuju rahasia-Nya,silahkan masuk ke dalam dunia tarekat.Ajaran tasawuf dan tarekat merupakan pengembangan dari perintah Al Qur’an tentang dzikir mendekatkan diri pada Allah dan mengendalikan hawa nafsu,yang dipelopori oleh para sufi.Untuk bertarekat Bai’at maka ,Hanya cara dan pelaksanaannya harus memenuhi kaidah atau keadaan tertentu seperti telah terurai diatas.
2.Sunah mengikuti tarekat bai’at jika amalan tarekat standar telah dipenuhi.
3.Makruh mengikuti tarekat bai’at jika tarekat yang diikuti terlalu berat dan mengganggu kewajiban keluarga serta amalan yang wajib saja masih sering ditinggalkan.
4.Dilarang jika tarekat bai’at yang diikuti menyimpang dari aqidah Islam.


PRIA / WANITA YANG DAPAT BEBAS MENGAMALKAN TAREKAT BAI’AT
Adalah orang baik pria maupun wanita yang dalam kapasitas kehidupannya tidak mengabaikan fungsi dan tanggung jawab masing-masing dalam kehidupan rumah tangga maupun keluarga.
Bagi pria yang berkeluarga dalam menjalankan amalan tarekat bai’at seyogyanya telah mempersiapkan diri,mem-back up ekonomi bagi keluarganya sehingga ketika sering meninggalkan rumah tidak menelantarkan anak dan istrinya.


Maka bagi wanita bersuami dan ibu rumah tangga yang kapasitas dan tanggung jawabnya sangat dibutuhkan untuk keluarga,semestinya janganlah larut sibuk atau ikut menjadi anggota jama’ah Tarekat dengan sibuk mengamalkan ritual-ritual setiap harinya tanpa ijin dan kompromi dengan keluarga/ suami.Sebab jika hal demikian tetap dilakukan dengan alasan keyakinan/keimanan menurut prasangka pribadi sendiri,maka sungguh akan banyak mendapatkan mudharat daripada manfaat yang lebih besar.Ibarat menangguk air dengan keranjang bolong.


Kecuali wanita-wanita bebas seperti masih lajang,tidak bersuami/janda atau wanita bersuami namun telah diijinkan oleh suaminya bahkan mendorongnya karena suatu alasan tertentu,atau justru suami ikut mendampinginya bersama sama maka hal demikian adalah baik.


DEVIASI AMALAN TAREKAT (PENYIMPANGAN-PENYIMPANGAN YANG TERJADI PADA JAMA’AH TAREKAT)
Beberapa penyimpangan yang ditemukan antara lain :
1.Penghormatan pada guru secara berlebihan (Qultus individu/taqlid buta) hingga berani tidak mematuhi/taat suami,
2.Larut mengamalkan amalan perintah guru dengan mengabaikan kewajiban keluarga yang semestinya dilaksanakan.
3.Meminum bekas wudhu guru, berebut meminum air sisa guru dan lain sebagainya .
4.Berdzikir dengan suara keras sambil menari dan menghentakan kaki dan badan hingga mengganggu orang lain beristirahat, berdzikir dengan jumlah hitungan melampaui batas kekuatan fisik.
5.Memakai pakaian yang buruk tanpa memperhitungkan keadaan,
6.Membenci kehidupan dunia secara berlebihan, menyebabkan meninggalkan keadaan lemah pada keluarga.
7.Menyakiti diri , menjampi-jampi orang lain agar celaka.
8.Mencampur kegiatan ritual pada Allah dengan ritual untuk jin dan sihir,
Maka semua itu merupakan penyimpangan bertarekat yang tidak sesuai dengan ajaran Qur’an dan Rasulullah.


KESIMPULAN
Umat Islam dalam menjalankan ibadah ,mengabdi kepada Allah Ta’ala hendaknya dilakukan secara ikhlas tanpa pamrih.Ikuti tahapan ilmu agama secara berjenjang dan terarah.Tarekat hanya sebagian dari cara mendekatkan diri kepada-Nya,selain mengamalkan tarekat bai’at masih banyak jalan-jalan lain dalam mencari ridho Allah SWT.
Maka dalam hal sering terjadinya masalah dan penyimpangan penyimpangan dalam pengaplikasian pemahaman serta dalam menjalankan tarekat seseorang hanya ada dua katagori,yakni :
1.Karena gurunya yang salah mengajar,atau ajarannya memang salah,atau
2.Karena murid/jama’ahnya yang salah menerjemahkan ajaran sang guru.
Sekian,semoga bermanfaat dan sukses menjadi sufi .
Sekian,semoga bermanfaat.

Salam Cahaya-Nya,


Kelana Delapan Penjuru Angin,
Bukit Ciketing,15 Muharam 1436 H / 8 November 2014
CopyRights@2014


Reff:
-Risalatul Islam karya K.H. M.Syamsuddin – Prembun – Jawa Tengah.
-Kitab Sulam Taufiq
-http://www.fadhilza.com/2014/07/tadabbur/mengenal-ajaran-tarekat-dan-tasawuf.html
-http://www.metafisika-center.org/2012/06/beberapa-ajaran-tarekat-qadiriyah-wa_06.html
-Al-Qur’anul Karim Terjemah DEPAG RI
-Pengantar pemikiran Neoplatonis,Persaudaraan Kesucian (Ikhwan Al-Safa)-Ian Richard Newton